
Dini hari Stefano menerima telepon dari adik perempuannya.
" Papa meninggal "
Dua kata yang sewajarnya menciptakan badai emosi di dalam jiwa, namun bagi Stefano hal ini terbebas dari sandiwara "Keluarga Bahagia" yang selama ini dijalaninya selama bertemu dengan sang ayah.
Meskipun Stefani jarang mengunjungi ayahnya. " Kapan upacara pemakamannya ?" tanya Stefano. " Hari Kamis" jawab adiknya Cecilia. " Kau mau datang Kak ?"
Stefano menatap pemandangan indah diluar penthouse miliknya yang menghadirkan pemandangan yang begitu indah karena terletak di tempat yang sangat strategis dan untuk menemukan pemandangan indah diluar penthouse harus merogoh kocek yang sangat besar, namun bagi orang seperti Stefano hal itu bagaikan uang receh tiada artinya.
__ADS_1
Ia mengusap cambangnya yang belum bercukur dirahangnya sambil menghela napas panjang. Ayahnya memang selalu berhasil membuat Stefano jengkel dan menahan amarah, bahkan dengan meninggal dan pemakamannyapun dia telah berhasil mengibarkan perasaan berkecamuk di dalam benak Stefano yang sangatlah mengganggu.
Stefano berencana melamar kekasihnya Portia Briscue di akhir Minggu ini, setelah urusan bisnisnya selesai. Dia telah menyiapkan cincin, namun kini ia harus menunggu kesempatan lain melamar wanita itu.
Ia tidak ingin pertunangan dan pernikahannya dikenang dalam satu moment yang berkaitan dengan sang ayah, terlebih lagi kematiannya.
Amarah Stefano bangkit begitu mengenang sosok sang Mamanya yang begitu cantik dan harus terluka dengan pengkhianatan kejam yang menimpa Mamanya. Stefano yakin bahwa bukan penyakit kanker yang membuat Mamanya meninggal, namun pengkhianatan Papannya yang begitu menyakitkan. Perasaan saat mengetahui sang suami berselingkuh dengan pelayan yang dipekerjakannya, sementara Sang Mama menjalani rutinitas kemotrapi yang melelahkan telah membuat Mamanya putus asa dan patah hati.
Kemudian seolah masih ingin menambah penderitaan keluarga Stefano, dengan kurang ajar si pelayan dan putri bengalnya mengubah upacara Pemakaman Mamanya yang awalnya berjalan khidmat, menjadi panggung sandiwara murahan yang memalukan.
__ADS_1
" Aku akan datang " jawab Stefano singkat. Tapi baiknya anak pelayan murahan tersebut si jalang pemberang tidak turut hadir di upacara pemakaman Papanya.
Stefanopun langsung menutup dan memutuskan telepon dari sang adik, dan mencoba beristirahat. Karena berita meninggalnya sang Papa, membuatnya terkenang akan kejadian pahit manis yang dialaminya.
Stefano sangat menyayangi kedua orang tuanya, dan sangat dekat dengan sang Papa. Papanyalah orang yang pertama selalu memberikan supirt dan motivasi dalam kehidupan Stefano, Stefano begitu bangga dan kagum akan sosok Andreas Papanya yang begitu rendah hati, tampan dan sangat loyal terhadap siapapun terlebih lagi terhadap keluarganya.
Dulu Stefano merasakan kehidupannya sangat sempurna dan indah bagaikan, namun sejak kejadian itu, hidupnya bagaikan roller coaster terjungkir balik, pelayan penggoda dan anaknya yang tidak tahu malu menyebBkan luka dan perpecahan di dalam kehidupan Keluarga Bahagia Stafano, Papanya yang begitu diagungkan telah menorehkan luka yang sangat dalam bagi Stefano dan keluarganya.
Awan yang dulunya biru, cerah dan indah menjadi hitam dan menjadi badai dalam kehidupan keluarga bahagia tersebut. Masa lalu yang begitu memalukan, sangat memalukan. Papanya bodoh, dan sama sekali tidak mempertimbangkan segala konsekuensi sebelum melakukan tindakan fatal tersebut.
__ADS_1