
" Cara, " Stefano menggerutu, " kau benar-benar tidak sabaran. Kau sangat merindukan ku, ya ? "
Clara menyunggingkan senyum palsu nya, yang sengaja ia pamerkan pada resepsionis, " Sayangku, kau tak tahu betapa hari-hariku terasa hampa tanpa dekapanmu. Aku tergila-gila kepadamu. Rasanya sangat tersiksa tanpa ciumanmu, tanpa sentuhan mu, tanpa perlakuan mu yang begitu lembut saat ___ . "
" Nanti saja kau ceritakan saat kita hanya berdua." sela Stefano sembari tetap tenang.
Clara tersenyum kepada resepsionis yang kini menatapnya penuh minat. " Mungkin kau tak mengira jika hanya melihat penampilan luar Stefano, tapi dia memiliki sesuatu yang begitu besar dan ___ "
" Clara, " potong Stefano, " masuk keruangan ku, sekarang ! "
" Dia sangat mengagumkan, ya ? " ucap Clara sambil berlalu dihadapan si resepsionis sambil melambai genit.
Ruangan rapat sudah kosong ketika Clara memasuki nya. Di sana hanya ada Stefano yang menanti dengan wajah masam serta dikelilingi keheningan yang menegangkan.
__ADS_1
" Apa-apaan kau ? " tanyanya tanpa menunggu Clara menutup pintu. Clara melemparkan tatapan mata yang tajam, " Rupanya sekarang kita sudah bertunangan, " jawab nya, menyentak pintu hingga terdorong menutup. " Aku membaca nya di surat kabar. "
Stefano tampak terkejut. " Bukan aku yang membocorkan berita ke media. " Lalu dia menyusupkan jemarinya ke rambut. " Kau tahu kan, apa kata orang-orang tentang perempuan yang dikecewakan. "
Kedua alis Clara bergerak naik. " Jadi itu perbuatan Portia? Si perempuan sempurna ? Wow, aku yakin dia tidak mempelajarinya dari Buku Panduan Pergaulan Perempuan Ningrat. "
Kening Stefano berkerut. " Aku berencana melamarnya, " sanggah Stefano. " Dia berhak marah. "
" Oh hatiku hancur mendengarkan nya, " kata Clara sambil menghela nafas dengan gaya berlebihan.
Clara balas menatap Stefano sambil tersenyum manis. " Bajingan. "
Dan suasana di sana pun terasa semakin tegang. Stefano berjalan hilir mudik sambil menyisir kan tangannya di rambut. " Kita harus mencari jalan keluar dari masalah ini. " katanya. " Hanya butuh enam bulan, dan kita akan bebas, aku sudah memperhitungkan semua cara, memang tidak ada jalan keluar lain. Kita harus menjalani nya sesuai keinginan Ayah ku. Dan, kita akan mendapatkan keuntungan. "
__ADS_1
Clara menarik salah satu kursi kerja ergonomis, menduduki nya, lalu berputar ke kanan dan ke kiri sambil memperhatikan Stefano yang masih mondar-mandir. " Apa untungnya bagiku ? " tanya Clara.
Stefano menghentikan langkah dan menatap Clara, dahi lelaki itu semakin berkerut. " Apa maksudnya menanyakan keuntungan mu ? Kau akan mendapatkan setumpuk uang setelah sandiwara ini berakhir. "
Clara menatap tajam. mata hijau kecoklatan Stefano. " Aku ingin lebih. "
Bibir Stefano tampak kaku. " Berapa banyak ? "
" Bagaimana kalau dua kali lipat ? "
Sesaat rahang Stefano tampak menegang. " Seperempat. "
" Sepertiga. " Jawab Clara tanpa melepaskan tatapannya.
__ADS_1
Stefano melayang kan tinjunya ke meja, tepat di hadapan Clara, wajah mereka kini sangat dekat sehingga Clara bisa mengendus aroma kopi kualitas terbaik dari embusan nafas lelaki itu. " Dasar perempuan sialan, kau takkan mendapatkan lebih, " ucapnya. " Perjanjian kita berlangsung apa adanya, tidak ada tawar menawar. "
Hai readers, jangan lupa like, coment dan love ya plus koinnya juga. Author akan crazy update 20 episode jika tembus 1.000 like dan koint. Please...Iam waiting... Coment Positif ya guys, no coment negatif...hihihihi... selalu hidup dalam hal" yang positif. see you*