
" Apa yang akan kau katakan kepadanya, juga kepada semua pelayan mu tentang hubungan kita ? " tanya Clara.
" Alu tidak terbiasa bertukar cerita dengan pelayan-pelayan di rumah ku yang manapun. " Jawab Stefano lagi. " Mereka akan berfikir ini pernikahan biasa, seperti yang dilakukan pasangan lainnya. "
Clara mengernyitkan dahinya. " meskipun kita tidak tidur sekamar ? "
Jantung Stefano kembali berdetak kencang. Tidak ada yang lebih menggoda selain bermesraan di ranjang dengan Clara, saat tubuhnya mendekap erat tubuh perempuan itu, darahnya berdesir kembali dan denyutnya berpacu cepat / kencang ketika membayangkan kepuasan saat kebutuhan yang terpendam lama akhirnya terpenuhi. Ia hanya cukup melakukan nya satu kali. Setelah batas waktu enam bulan berakhir, ia akan pergi meninggalkan Clara. Ia akhirnya terbebas dari godaan perempuan itu. Bebas, kembali memiliki kendali atas dirinya.
" Orang-orang yang tinggal di villa sebesar milik ku bisa menempati kamar sendiri-sendiri. " Ujar Stefano. " Rasanya aneh jika harus berdesakan dalam satu kamar , sementara ada tiga puluh kamar kosong lain yang bebas ditempati. "
Mata Clara terbelalak. " Sebesar itu ? "
__ADS_1
"Lebih besar daripada rumah ayahku. "
Seulas senyuman tersungging di sudut bibir Clara. " Tentu saja. " ujarnya.
Stefano mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu kredit kepada Clara. " Ambil ini. " ucapnya saat mengeluarkan kartu. " Pergilah berbelanja, lakukan perawatan rambut dan kuku. Pergi minum kopi dan makan di restoran. Aku tidak pulang hingga larut malam, jadi tidak perlu menunggu ku. "
Clara mengambil kartu kredit tersebut tanpa menyentuh tangan Stefano dan langsung memasukkan ke tasnya. Ia bergegas menuju kepintu keluar dan melewati Stefano. Tubuh mereka tidak bersentuhan, namun cukup dekat untuk membuat sekujur tubuh Stefano meremang dan membuat pembuluh darah nya melebar serta berdenyut kencang. Ia baru hendak menghembuskan nafas yang ditahannya sedari tadi ketika perempuan itu tiba-tiba menghentikan langkah dan berbalik menatap nya. " Apa kau tahu akan alasan ini Ayahmu melakukan hal ini ? " tanya Clara.
Clara menggigit bibir bawahnya sejenak wajah nya tampak murung. " Ayah mu pasti sangat membenciku ... "
" Mengapa kau berfikiran demikian ? " tanya Stefano sambil menatap Clara. " Ini tidak ada hubungannya dengan mu, semua ini tentang diriku. Ayahku sangat membenciku seperti aku membencinya. "
__ADS_1
Keheningan tiba-tiba memenuhi ruangan itu.
" Sebaiknya aku segera pergi. " kata Clara sambil berputar-putar tersenyum lebar. " Aku hanya punya sedikit waktu. padahal ada begitu banyak yang harus dibeli. Ciao. "
Stefano segera menutup pintu begitu Clara berlalu, kemudian bersandar disana. Keningnya berkerut, setengah jam bersama Clara rasanya seperti terjebak di tengah badai dan hanya dilindungi payung kertas. Lalu bagaimana ia harus menghadapi enam bulan ?
Setelah berbelanja, Clara segera menyewa taksi untuk pergi kekediaman mewah Stefano di Toscana. Villa bergaya Renaisans ini terletak beberapa kilometer diluar wilayah Frenze dan berdiri di tengah perkebunan buah zaitun serta perkebunan anggur yang luasnya berhektar-hektar.
Bangunan ini terletak tepat di daerah Chianti, Toscana, yang terkenal dengan produksi minuman anggur nya. Semburat matahari sore bercahaya menakjubkan menyinari tanaman anggur merambat. Di dekat jalan masuk ada Villa, tergantung beberapa keranjang beso rangkaian bunga aneka warna berjuntai. Pemandangan menakjubkan ini tak perlu diragukan lagi.
Hai readers, jangan lupa like, coment dan love ya plus koinnya juga. Author akan crazy update 20 episode jika tembus 1.000 like dan koint. Please...Iam waiting... Coment Positif ya guys, no coment negatif...hihihihi... selalu hidup dalam hal" yang positif. see you*
__ADS_1