
Bianca tertegun Saat dokter Aji mengatakan bahwa Kondisi Henri semakin menurun dan kini keadaannya kritis.
Bianca khawatir terjadi sesuatu pada Ayahnya itu, sebelumnya keadaan Henri lebih baik namun malam kemarin Rudi datang menemui nya saat Lina tengah membeli sesuatu di kantin.
"Rudi, kau datang untuk melihat keadaan ku ?"
tanya Henri senang karena Rudi peduli terhadap nya, Rudi tersenyum miring lalu menyilang kan tangan nya.
"Seperti itu menurut mu ?"
Rudi tertawa kecil membuat Henri heran.
"Lalu mau apa ?"
"Aku ingin kau menandatangi surat surat ini, aku ingin semua aset perusahaan berganti nama ku !"
"kau gila, Sebagian milik Bianca !"
"oh begitu, kau tidak mau ?"
Henri menggeleng kan kepala nya.
"baiklah kalau begitu, aku akan mencelakai putri kesayangan mu itu sampai mati !"
Henri tercengang mendengar pernyataan itu.
Tak mengerti dengan pemikiran Rudi, padahal ia anak kandung nya tapi ia berlaku seperti orang lain.
"Aku tidak memberikan mu banyak waktu, kalau kau menolak maka aku akan secepatnya memberikan mu kabar gembira !"
Rudi terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Henri.
"jangan sakiti Bianca, kenapa kau menjadi musuh dalam selimut ?"
"jangan banyak bicara, sekarang cepat tanda tangan kalau kau ingin Bianca baik baik saja !"
Henri tidak menyetujui hal itu namun Rudi memaksa nya membubuhkan tanda tangan.
sejak saat itu henri terus memikirkan keadaan Bianca dan juga istri nya Lina.
bagaimana jika terjadi sesuatu pada nya ? Henri khawatir dengan kedua perempuan itu, Ia juga belum yakin dengan Zaki yang ternyata memiliki banyak topeng.
Keadaan nya semakin drop karena terbebani dengan berbagai macam pemikiran hingga membuat keadaan nya semakin melemah, Ia bingung dan tidak berdaya dengan keadaan nya.
Bianca tertegun saat Dokter aji terus memompa jantung sang ayah, detak jantung nya perlahan terhenti. Bianca terus memeluk sang ibu yang Terisak.
Aji menghelat nafas berat saat layar monitor menunjukkan bahwa detak jantung sudah berhenti tanda sudah tiada lagi kehidupan.
"Maafkan saya sudah berusaha tapi beliau sudah di jemput tuhan !"
Tangis Lina kian pecah, ia beranjak memeluk suaminya.
Zaki merengkuh Bianca yang langsung menangis tanpa suara.
__ADS_1
"Kamu sabar ya sayang !"
Bianca mengangguk mendekap erat tubuh Zaki.
Bima langsung mengurus semuanya untuk pulang ke rumah membawa jenazah.
Bianca mencoba untuk tabah dan menguatkan sang ibu karena semua sudah menjadi ketetapan sang maha pencipta.
Ia Harus ikhlas dan sabar dengan takdir Tuhan, Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya.
Rudi tersenyum senang saat mengetahui hal itu, Ia malah tidak perduli dengan keadaan ibu serta Bianca.
Jenazah di bawa ambulans ke kediaman Lina, namun saat sampai satpam melarang mereka membawa jenazah ke dalam rumah sesuai dengan perintah dari Rudi, Risa sendiri beralasan sibuk di rumah sakit padahal saat ini ia tengah berada di hotel bersama Wira.
Bianca dan Lina tertegun saat mereka di larang masuk ke rumah itu, Bianca tidak mengerti dengan maksud Rudi.
"ya sudah... Kita urus dulu jenazah ayah mu, bawa saja ke rumah ku dulu bi !"
Zaki langsung menyuruh supir ambulance membawa jenazah ke rumah nya.
Bianca termenung sendiri tak menyangka Rudi sejahat itu pada mereka, Padahal mereka kini tengah berduka. dimana hati nurani sang kakak ?
***
Sava dan Marwah berlari kecil saat mendengar suara ambulans masuk ke pekarangan rumah.
Mereka khawatir dengan keadaan sang kakak, keduanya menghela nafas panjang saat melihat Zaki keluar dari mobil bersama Bianca.
tanya Marwah mendekat melihat wajah Bianca tampak sembab.
"ayah kak Bianca ! jenazah akan bersemayam di rumah sampai acara pemakaman !"
ujar Zaki lalu meminta yang lain menyiapkan semuanya.
Sava dan Marwah hanya terdiam melihat beberapa orang masuk menggunakan pakaian Hitam.
beberapa kerabat mulai berdatangan saat Bianca memberi tahu mereka kalau Henri berada di rumah suaminya.
"Aku kira terjadi sesuatu dengan kak Zaki, syukurlah !"
ujar sava lalu masuk ke dalam kamar, sementara Marwah ikut membantu mereka menyiapkan keperluan untuk pemakaman.
Semua karyawan kantor datang melayat ikut berbelasungkawa atas kepergian pimpinan mereka meskipun sekarang Rudi sudah mengganti posisi Henri dan Bianca.
Acara pemakaman berjalan lancar, Henri sudah di kebumikan dengan layak. Kini hanya tinggal gundukkan tanah merah yang menjadi saksi tangisan Lina dan Bianca.
Rudi datang setelah acara selesai, bukan untuk melihat makam sang ayah tapi ia datang untuk memberi tahu Bianca tentang semua kekuasaan nya.
Bianca dan Lina menghentikan langkah nya saat Melihat Rudi berjalan ke arah nya, Zaki memindai Rudi tampak arogan.
"Gue datang cuma mau ngasih tahu kalau ayah sudah memberikan semua aset perusahaan dan rumah ke gue!"
"Tidak mungkin..."
__ADS_1
Sergah Lina tak percaya karena Ia tahu kalau Henri saat menyayangi Bianca.
"Untuk apa aku bohong ? di kertas ini ada tanda tangan ayah ! semua terjadi karena ayah khawatir kalau semua atas nama mu justru di kuasai oleh Zaki !"
Rudi menatap tajam ke arah Zaki yang tersenyum miring.
Bianca tertegun sejenak tidak percaya dengan hal itu, benarkah sang ayah berpikir seperti itu ?
"kau banyak membual, kau hendak menjadi kan aku sebagai kambing hitam atas keserakahan mu !"
jawab Zaki tak gentar, seperti nya ia Harus memberikan Rudi pelajaran lagi.
"Ya, itu semua pasti akal akalan Kak Rudi saja!"
ucap Bianca tak ingin tergoyahkan karena harta dunia.
"Terserah kau saja Bianca tapi aku tidak mau ibu pulang ke rumah ku...!"
Bianca menggelengkan kepala nya tak mengerti mengapa sang kakak begitu tega pada mereka.
"ya sudah ambil saja semua, kau harus tahu bahwa harta tidak akan kau bawa mati !"
Jawab Bianca lalu mengajak sang ibu dengan nya, Zaki mengajak mereka untuk segera pulang dan meninggalkan Rudi sendiri.
"Apa tidak apa-apa ibu ikut dengan mu, Bianca ?"
tanya Lina sungkan.
"Ya Bu, jangan sungkan ayo !"
Ajak Zaki membuka pintu untuk mertua dan istri nya, Bima berada di kemudi membawa mobil.
*
"Ibu tidak menyangka kakak mu begitu tega, di saat kita sedang berduka ia malah mengurusi warisan "
Lina membuka obrolan mengungkap rasa kecewanya.
"Ya Bu Bianca juga tidak mengerti akan hal itu, biarkan saja. Bianca yakin kalau ini semua karena pengaruh seseorang..."
jawab Bianca menoleh ke arah Zaki. suami nya itu paham maksud Bianca, Risa pasti menjadi dalang dari semua ini.
"Sudah lah Bu, kita tidak usah memikirkan hal itu, yang terpenting saat ini adalah kehidupan kita..."
ujar Zaki mencoba memberikan ketenangan pada kedua nya, kini ia lah yang harus melindungi mereka berdua, tentu zaki juga tidak akan tinggal diam dengan perlakuan Rudi.
bersambung..
......
...
....
__ADS_1