
Sebelum berangkat ke Singapura, Mike mengantar Aera terlebih dahulu ke rumah orangtuanya, sebelumnya Mike juga sudah memberitahu Mama Yuna dan Papa Leo perihal kedatangan mereka lewat sambungan telepon, dan Mama Yuna dengan senang hati menyambut mereka. Terlebih Mike akan jauh lebih tenang jika Bocah Kematian itu ada di bawah pengawasan orangtuanya, tidak dibiarkan sendiri.
"Hati-hati ya, nanti kalau udah sampai langsung kabarin Aera!" ucap gadis itu saat melepas kepergian Mike menuju bandara, pria itu dijemput oleh sekretarisnya, sengaja meninggalkan mobil BMW milik Aera yang mereka gunakan tadi.
"Paaa, Aera kangen!" ucap Aera sambil bergelayut manja pada sang Papa. Mama Yuna yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Gimana, Aera bahagia kan dengan pernikahan ini?" tanya Papa, ia membelai pelan kepala Aera yang bersandar di dadanya.
"Cukup bahagia, tidak buruk-buruk juga, Daddy memperlakukan Aera dengan baik, ya walaupun dia ngeselin tapi dia baik kok, peduli sama Aera!"
"Daddy?" ucap Papa dan Mama serentak.
"Iya, Suami Aera kan spek Sugar Daddy, jadi Aera manggilnya Daddy, hehehe."
Sekarang Papa Leo yang gantian geleng-geleng kepala. "Tapi Mike nggak keberatan, 'kan?"
"Enggak, kok, Pa. Malah dia lebih parah lagi dari Aera!" kesal Aera saat mengingat seberapa banyak panggilan aneh yang Mike berikan!
"Kenapa begitu?"
"Hmm, intinya dia aneh, ngeselin, tapi kadang juga perhatian, peduli, ya itu semuanya wajar-wajar aja sih, apalagi kita nggak saling kenal sebelumnya, iya kan, Ma?"
Mama Yuna tersenyum mengiyakan ucapan Aera.
"Syukurlah, Papa lega dengernya, kalau ada apa-apa langsung bicarain baik-baik, ya. Biar nggak bertengkar dan terjadi kesalahpahaman!"
Aera mengangguk paham. "Iya, Pa."
"Ohya, terus itu gimana ceritanya? Kata Kaela kamu mau kursus masak gara-gara goreng nugget sampai gosong?" tanya Mama sambil menahan tawa.
"Ish, emang ya Kaela ember!"
"Hahaha, nggak apa-apa, kok, Sayang. Mama ngerti banget sama posisi kamu, justru Mama bangga loh karena kamu mau usaha dan belajar jadi istri yang baik!"
Aera hanya merespon dengan cengir kuda dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dia juga bukan istri yang baik-baik, sebelas dua belas lah sama suaminya!
Diam-diam Mama Yuna dan Papa Leo tersenyum bahagia sekaligus bangga pada Aera, belum genap seminggu gadis itu menikah tapi sudah mulai terlihat perubahan darinya, termasuk dari segi pola pikir yang lebih dewasa dan bertanggungjawab, buktinya Aera rela melakukan hal-hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, ia mulai bertanggungjawab atas apa yang Mike minta, yang mana Papa dan Mama tau kalau itu bukanlah hal yang mudah bagi anak mereka!
******
Mama Yuna dibuat senyum-senyum sendiri ketika mendengar cerita Aera, gadis itu menceritakan semua pengalamannya selama menjadi pasangan suami istri dengan Mike. Mulai dari mereka yang sering berdebat karena hal-hal kecil sampai beberapa kejadian yang cukup menyentuh hati.
Keduanya sekarang sedang duduk di ruang keluarga, dengan Aera yang merebahkan kepalanya di pangkuan Mama, maklum anak Mama sedang ingin dan rindu dimanja-manja.
"Huh, Aera bener-bener kesel pas diceburin ke kolam, dingin banget, Ma! Sampai Aera menggigil kedinginan! Tapi Aera malah disogok, kan keselnya Aera jadi hilang!"
Mama Yuna terkekeh mendengar ucapan Aera.
"Mungkin itu cara Mike membangun kedekatan di antara kalian, jadi Aera jangan masukin ke hati, sama kayak Aera yang suka pukul dan gigit dia!"
"Ish, habisnya Aera kesel! Daddy kalau udah mode cuek, cueknya minta ampun, tapi kalau udah normal, ngeselinnya level full, siapa coba yang nggak kesel kalau kayak gitu!"
Mama menggeleng pelan.
"Terus lukisan itu? Aera udah bilang terimakasih, 'kan?"
"Em, udah," jawab Aera ragu. Dia sendiri lupa udah atau belum mengucapkan terimakasih pada Mike pasal lukisan yang Mike belikan!
"Kalau belum, bilang terimakasih nanti, apapun yang Mike lakukan, Aera harus hargai."
__ADS_1
Aera mengangguk paham.
Obralan Mereka yang membahas seputar Mike terus berlanjut, sampai tiba-tiba Kaela datang dan mengangetkan Aera.
"Udah nikah masih aja manja-manjaan sama Mama!" ledek gadis itu.
"Huh, iri? Bilang bos!"
"Dih!" cibir Kaela.
"Oleh-oleh buat aku mana!" lanjut gadis itu, menagih oleh-oleh yang sudah Aera janjikan.
"Tuh di kamar, ambil aja sendiri!"
"Nanti, masih males!" Kaela duduk di samping Mama Yuna, minta dimanja-manja juga.
"Jadi kapan mau balik? Katanya kemarin mau balik ke London!" ucap Aera sambil mendongak menatap Kaela yang bersandar di bahu Mama, tangan kiri Mama mengelus pelan kepala gadis itu.
"Besok, tunggu Kak Bara pulang dulu!"
"Emang kapan pulangnya?"
"Katanya hari Rabu."
"Sekarang hari apa?"
"Senin!" jawab Kaela sedikit kesal, bisa-bisanya Aera sampai lupa hari! Jangan bilang dia lupa tanggal juga?!
"Lah, kok ngamoook!" timbal Aera.
"Astaga, kalian berdua, jangan mulai-mulai lagi!" Mama Yuna menengahi sebelum perang saudara itu berlanjut.
"Kenapa?" sahut Aera tanpa mengalihkan pandangannya dari TV yang mulai menyala.
"Udah ML belum?"
"ML?" Aera diam sejenak, mencoba memahami ucapan Kaela.
"Belum," jawab gadis itu setelah paham apa yang Kaela maksud.
"Lah kirain kemarin pergi liburan buat itu! Ternyata nggak, ya?"
"Ish, udah jangan bahas itu, malu, ada Mama!"
"Lah, Mama aja biasa-biasa aja!"
Aera tak merespon lagi, pembahasan seperti itu terlalu sensitif baginya jika harus dibahas di depan orangtuanya.
"Jangan terlalu lama ya ditundanya, Mama pengen cepet-cepet gendong cucu!" ucap Mama Yuna secara tiba-tiba, membuat Aera yang sedang mengunyah coklat langsung tersedak.
"Uh." Gadis itu meneguk segelas air yang Mama Yuna berikan sampai habis, ucapan Mama benar-benar membuatnya kaget.
"Kamu nggak apa-apa, Sayang?" tanya Mama khawatir.
"Nggak apa-apa kok, Ma."
Aera kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Mama setelah merasa tenggorokannya lebih baik.
Huh, belum apa-apa Mama sudah kebelet pengen punya cucu aja!
__ADS_1
******
"Ah, akhirnya bisa tidur dengan leluasa!" Aera berguling ke kanan dan kiri di atas kasur kesayangannya, gadis itu benar-benar merindukan kamarnya yang cerah ceria! Tidak seperti kamar baru mereka! Gelap, tidak ada kesan bahagia di dalamnya!
Ngomong-ngomong tentang kamar, Aera jadi teringat ekspresi Mike saat pertama kali memasuki kamar gadis itu tadi pagi.
"Ini kamarmu?" tanya Mike dengan mata yang memperhatikan setiap inci kamar Aera, terkesan begitu feminim dan manis, berbanding terbalik dengan pemiliknya!
"Iya, kenapa, lebih cerah dan berwarna, 'kan?"
"Nggak cocok!"
"Apanya yang nggak cocok?!"
"Sama kamu!"
"Ish, sok tau banget!"
"Fakta!"
Aera yang mengingat perdebatan kecil mereka tadi pagi pun langsung bangun dari posisi rebahannya. Ia baru ingat sekarang kalau dia belum menerima kabar apapun dari Mike!
"Kebiasaan suka ilang kabar nih orang!" gerutu Aera sambil membuka layar kunci Handphone-nya.
Aera :
Daddy!
Main ngilang aja!
Gimana? Udah sampai, kan?
^^^My Sugar Daddy :^^^
^^^Udah.^^^
Aera :
Kenapa nggak langsung ngabarin?
^^^My Sugar Daddy :^^^
^^^Lupa.^^^
Aera :
Dih
Udah makan?
Udah selesai belum urusannya?
Kapan selesai?
Kapan pulang?
Sunyi. Tidak ada balasan apapun, hampir sepuluh menit Aera menunggu balasan dari pria itu.
"Mungkin masih sibuk?" gumam Aera, karena sudah ngantuk, Aera memutuskan untuk segera tidur dan tidak menunggu balasan dari Mike lagi!
__ADS_1