
Meski sudah berstatus baikan, tetap saja ada yang masih terasa ganjal di antara Mike dan Aera, lebih tepatnya pada sikap Aera yang tampak seperti orang ketakutan setiap kali Mike mendekat.
"Bodoh! Aku benar-benar membuatnya takut!" gumam Mike saat melihat reaksi Aera ketika Mike hendak mendekatinya di kasur. Bagaimana pun Mike masih mempunyai hati dan akal sehat, ia sadar atas semua perbuatannya dan sekarang sedang berusaha memperbaiki keadaan yang ia ciptakan!
"Jangan!" lirih Aera sambil menepis tangan Mike, pria itu membuang napas pelan, menatap wajah Aera yang terpejam. Mike tak bisa berbuat apa-apa, ia terpaksa tidur dengan posisi Aera yang memunggunginya. Mau mendekat pun yang ada malah mengganggu tidur Aera!
*****
Sebelum berangkat ke Thailand, Mike dan Aera menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Papa Leo dan Mama Yuna terlebih dahulu, berpamitan sekaligus melepas rindu Aera pada mereka.
Kini, Aera sedang bermanja sambil memeluk sang Mama. Dengan sepintar mungkin Aera menyembunyikan semua yang telah terjadi di antara dia dan Mike, bertingkah seolah-olah semuanya baik-baik saja!
"Mama Aera kangen parah tau sama Mama!"
"Mama juga, Sayang. Mama selalu kepikiran sama kalian, kalian baik-baik aja, kan?"
"Aman, Ma," bohong Aera.
"Terus nanti di Thailand sampai berapa hari?"
"Belum tau, Ma." Aera menyandarkan kepalanya pada bahu Mama Yola. "Ma?"
"Iya, Sayang?"
"Nanti kalau Aera hamil gimana?"
"Eh? Bagus dong kalau gitu! Kok malah gimana?! Mama dan Papa udah nungguin loh ini!"
"Aera takut, Ma. Aera takut jadi Ibu yang nggak baik."
"Sayang, kamu nggak boleh bilang gitu!" Mama Yola menangkup kedua pipi Aera. "Jika Tuhan memberikan kepercayaan itu pada kalian, Tuhan tau kalau kalian mampu."
"Aera takut, Ma."
"Sayang, denger Mama. Kamu nggak sendiri, ada Mike, ada Mama Papa, ada Papa Arga juga, kamu nggak sendirian buat hadepin semua rasa takut itu!"
Aera memeluk Mama Yuna, setidaknya apa yang Mama Yuna sampaikan sedikit membuatnya tenang.
"Loh, ada Aera di sini?"
__ADS_1
Suara Bara membuat Aera dan Mama Yuna menoleh secara bersamaan. Pria itu tersenyum manis, ia mendekat ke arah Aera dan Mama Yuna.
"Apa kabar, Ra?"
"Baik, Kak. Kak Bara Apa kabar?"
"Baik."
"Kalau gitu kalian ngobrol dulu, Mama mau samperin Mike dan Papa!"
Mama Yuna meninggalkan ruang keluarga, menyisakan Aera dan Bara di sana.
"Are you oke?" tanya Bara dengan tatapan yang begitu dalam. Aera tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Tadinya Kakak mau ambil berkas di Om Leo, tapi ternyata lagi ada tamu spesial hari ini!"
"Hahaha, Aera ke sini buat pamitan!"
"Hah? Emang kamu mau ke mana?"
"Thailand! Mau ketemu Bright!"
"Iya, ke Thailand, ada urusan!"
"Sama siapa?"
"Ya sama suami Aera lah! Sama siapa lagi, coba?! Emang Aera kayak Kak Bara? Jomlo! Sana, cari pacar makanya! Biar nggak sendirian terus!"
"Uuuu, pinter banget ya sekarang ngomongnya!" Bara mencubit pipi Aera gemas.
"Ish, sakit tau!"
"Mana yang sakit?" Bara mendekatkan wajahnya. Netranya dan netra Aera bertemu, saling menatap.
"Hmm." Aera dan Bara spontan langsung menoleh begitu mendengar ada suara berdehem dari seseorang.
"Oh, Mike. Silahkan duduk!" ucap Bara dengan senyuman tipis di wajahnya yang tak kalah tampan.
Tanpa permisi Mike duduk di sebelah Aera, begitu dekat. Suasana sempat hening beberapa saat, hingga akhirnya Mama Yuna dan Papa Leo masuk ke dalam ruangan diikuti oleh ART yang membawakan camilan dan minuman.
__ADS_1
Obrolan kembali berlanjut dengan Papa Leo dan Mama Yuna yang terus menerus menggoda Bara, menyuruh pria itu untuk segera menikah, didukung juga oleh Aera. Hanya Mike yang tampak diam dan sesekali menjawab apabila ada pertanyaan yang diajukan untuknya.
Di sela-sela percakapan, Aera beberapa kali melirik Mike, kadang bersandar pada bahu pria itu, kadang menepuk-nepuk pahanya atau bahkan mencubit-cubit lengan Mike!
"Sepertinya Mike sudah terbiasa menjadi sasaran empuk tangan usil Aera!" ucap Bara saat melihat Aera sedang asyik mencubit-cubit punggung tangan Mike.
"Hehehe." Aera hanya cengir kuda tanpa menghentikan kegiatannya, tidak perduli dengan tatapan Mama Yuna dan Papa Leo.
"Kamu yang sabar ya, Mike," ucap Mama Yuna sembari tertawa kecil.
"Nggak apa-apa, Ma. Udah biasa."
Papa Leo menggeleng pelan, ia bersyukur karena Mike bisa memaklumi sifat Aera. Papa Leo juga berharap kalau keputusan yang mereka buat ini tidaklah salah, berharap pernikahan ini akan membawa Aera dan Mike pada sebuah kebahagiaan yang mereka inginkan.
*******
Mike menatap wajah Aera yang sudah terlelap, Aera tampak terlihat sangat lelah setelah seharian beraktivitas, siangnya mereka makan siang bersama dengan Papa Leo dan Mama Yuna, lalu makan malam bersama Papa Arga!
Bahkan tadinya Aera mau langsung tidur tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu, tapi Mike tetap menyuruhnya untuk bersih-bersih agar lebih nyaman dan nyenyak!
Saat melihat wajah Aera, Mike kembali teringat dengan permintaan yang sempat Mama Yuna sampaikan padanya.
"Mike, Mama paham, nggak mudah buat kamu ngertiin Aera, sifatnya yang kadang masih kekanak-kanakan pasti sering menganggumu dan membuatmu tidak nyaman. Mama akui, Aera memang memiliki banyak kekurangan, tapi Mama harap kamu bisa menerima semua itu. Saling melengkapi satu sama lain. Jika Aera melakukan kesalahan, nasehati dia dengan cara yang lembut, jangan pernah menggunakan kekerasan, jiwa Aera terlalu lembut, dia tidak akan bisa menerima kekerasan dalam dirinya, tolong jaga Aera untuk kami, Mike. Hanya Aera yang kami punya, dia sangat berharga dan istimewa bagi kami."
Mike membelai pelan pipi Aera, "Maaf, karena telah menyakitimu, aku terlalu bodoh untuk menyadari betapa berharga dan istimewanya kamu di mata orang lain."
Mike memeluk tubuh mungil Aera pelan, berusaha memberikan kenyamanan, menggantikan rasa takut yang pernah ia ciptakan.
"Selamat malam."
******
Di tempat lain, Maudy menatap Anya dan Haider yang sudah tertidur pulas. Ada seulas senyuman yang muncul di wajah Maudy saat melihat Anya tertidur pulas seperti ini, Maudy tau apa yang ia rasakan pada Anya adalah sebuah kesalahan, bahkan sesuatu perasaan yang ditentang! Meski begitu, Maudy juga tau kalau dia tidak bisa menyingkirkan perasaan itu dari dirinya, yang bisa Maudy lakukan sekarang hanyalah memberikan batasan, agar perasaan itu tidak menjadi-jadi.
Maudy tidak mau Anya sampai mengetahui hal itu, terlebih lagi setelah Maudy mengetahui kalau Anya adalah orang yang menentang keras LGBT.
"Aku tidak akan melibatkanmu dalam perasaan ini lagi, Anya. Kamu pantas untuk bahagia dan kita masih bisa terus berteman untuk selamanya!"
Seminggu yang lalu Papa dan Mama Maudy meminta Maudy untuk pulang, ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan, terutama tentang masa depan Maudy!
__ADS_1
"Aku tidak tau, apakah perasaan ini sebuah kutukan atau penyakit?!"