Menikah Dengan Sugar Daddy

Menikah Dengan Sugar Daddy
Peringatan


__ADS_3

Selama acara peringatan berlangsung, Aera selalu berdiri di samping Mike, tidak pernah jauh, bahkan sesekali gadis itu menyentuh bahu Mike, pria itu diam, tidak mengucapkan apapun sedari tadi. Tak jauh berbeda dengan Mike, Papa Arga juga terlihat sama, tatapan mereka terlihat redup ke arah makam Mama.


"Ma, Mama udah tenang kan di sana?" lirih Mike saat menabur bunga di atas makam yang bertulisan nama Leanna Monata.


"Anna, ini Aera, menantu kita, dia cantik, sama sepertimu, kamu pasti sangat menyukainya!" ucap Papa Arga dengan senyum getir yang tersirat jelas di wajahnya.


"Dia yang akan menemani Mike saat aku menemuimu nanti--"


"Pa!" Mike menatap Papa Arga dengan tatapan tak terima.


"Lihatlah, Anna, dia masih sama, anak kesayanganmu tidak pernah berubah dari dulu!"


Aera yang mendengar percakapan anak dan ayah itu hanya bisa terdiam, perasaannya sendiri campur aduk sekarang, tidak tau harus menunjukkan ekspresi seperti apa!


"Mama yang tenang ya, Mike udah ikhlasin Mama."


Aera masih setia berada di samping Mike, di saat semua orang mulai melangkah pulang, gadis itu tak bergeming sebelum Mike bergerak juga! Bahkan di saat Mama Yuna dan Papa Leo pamit pulang, Aera hanya mengangguk pelan, meski sebetulnya Aera sangat ingin berbicara dengan kedua orangtuanya!


Papa Leo dan Mama Yuna datang beberapa menit setelah kedatangan keluarga Mike dari pihak Papa. Bukan hanya keluarga Mike saja yang datang, Aera juga sempat melihat Justin dan beberapa orang yang lain, meski sekarang orang-orang itu entah di mana! Aera tidak lagi melihatnya!


"Mama tahan dulu ya kangennya sama Papa, Mike belum cukup bahagiain Papa, Mike masih sangat membutuhkan Papa---"


Mike tertunduk. Pelan Aera menyentuh bahu pria itu, mengelusnya pelan.


"Semuanya berubah lagi, Ma, tidak ada yang pernah tau kalau akan seperti ini!"


Sampai pemakaman benar-benar sepi dan hanya tersisa mereka berdua, Aera masih setia di samping Mike, walau keduanya tak mengucapkan apa-apa.


"Ayo pulang!" Mike berdiri terlebih dahulu, berjalan mendahului Aera. Tanpa banyak tanya Aera langsung mengikuti langkah Mike, keluar dari area permakaman dan menaiki mobil hitam Mike yang melaju ke arah rumah Papa Arga.


Sampai di rumah Papa Arga, keduanya disambut oleh beberapa kerabat yang masih berdiam di sana. Tapi Mike malah menganjak Aera ke kamarnya, tidak bergabung dengan orang-orang di bawah sana. Mereka yang ada di sana juga tidak berani berkomentar, karena sudah menjadi kebiasaan Mike yang akan berdiam di dalam kamar setelah pulang dari makam Mamanya.


"Daddy, Aera lapar!" ucap gadis yang belum sarapan itu, sedangkan sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.


"Tunggu sebentar!" Mike keluar dari kamar, meninggalkan Aera sendirian di sana. Kurang dari setengah jam pria itu kembali dengan membawa sebuah nampan yang berisi banyak makanan dan dua botol air mineral.


"Makan di sini!" Mike meletakkan nampan tadi di atas meja, kebetulan di kamar Mike ada satu sofa panjang yang menghadap ke arah TV serta meja yang memiliki panjang hampir sama dengan sofa.


"Daddy nggak sarapan?"


"Nanti."

__ADS_1


"Em, kalau gitu duduk di sini, temenin Aera!" pinta Aera dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.


"Hmm."


Mike duduk tepat di samping Aera, tatapannya tertuju ke arah TV yang belum menyala.


"Daddy?"


Aera menawarkan potongan roti miliknya. Namun, Mike menolak dengan menggeleng pelan.


"Ayolah, makan dulu walaupun sedikit!"


Tetap saja Mike tidak mau, membuat Aera tidak berani memaksa pria itu. Setelah merasa cukup untuk mengganjal perutnya, Aera pun mengambil botol air mineral, minta dibukakan oleh Mike


"Nih, aku mau istirahat dulu, kamu bebas mau ngapain aja!" ucap Mike lalu beranjak dari sofa menuju kasur, pria itu merebahkan tubuhnya di sana dengan posisi terlentang.


Aera ikut bangkit setelah sedikit merapikan bekas sarapannya, gadis itu menatap wajah datar Mike yang mulai terpejam.


Entah dapat keberanian dari mana, tangan Aera tiba-tiba saja mengelus kepala Mike lembut, membuat Mike membuka mata.


"Tetap di sini!"


Mike mengubah posisinya, sekarang kepalanya berada di pangkuan Aera yang bersandar pada sandaran kasur, tangan gadis itu masih setia mengusap pelan rambut Mike.


Ibu jari Aera mengusap pelan pelipis dan juga alis Mike, gadis itu tersenyum, tapi bukan senyuman kebahagiaan, melainkan senyuman yang muncul untuk menutupi kesedihannya. Tak dipungkiri Aera merasa sangat sedih ketika melihat bagaimana ekspresi semua orang yang ia temui hari ini. Tidak ada yang bisa menyembunyikan kesedihan mereka, termasuk Mike! Pria itu sepertinya sangat terpukul dengan kepergian sang Mama yang membuatnya sampai harus konsultasi secara rutin ke Dokter Arnold!


******


Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, Aera yang sempat ketiduran pun sudah kembali membuka mata, ia tidak mendapati Mike lagi di pangkuannya. Namun samar-samar Aera mendengar suara air dari kamar mandi, mungkinkah pria itu sedang berada di dalam sana?


Dengan kepala yang masih sedikit pusing dan punggung yang sakit karena tidur dalam posisi bersandar, Aera melangkah turun dari kasur, duduk di sofa, di atas meja sudah ada beberapa hidangan makan siang dan entah kenapa untuk kali ini Aera tidak berselera makan!


"Makanlah!" ucap Mike yang baru keluar dari kamar mandi, pria itu kini menggunakan setelan koas lengan pendek berwarna putih dengan celena hitam selutut.


"Daddy nggak makan siang dulu?" tanya Aera pada Mike yang kembali rebahan di atas kasur.


"Nanti."


"Daddy belum makan loh dari pagi!"


Aera mendekat karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Mike.

__ADS_1


"Astaga, Daddy demam? Kita ke dokter ya?!"


"Nggak!"


"Tapi Daddy--"


"Aku hanya butuh istirahat!" potong Mike.


"Makan dulu ya, Dad!"


Mike menggeleng.


"Sedikit aja, ya?"


Tidak ada jawaban lagi dari Mike, membuat raut wajah Aera bertambah khawatir!


Tok... Tok...


Ketukan pintu itu membuyarkan lamunan Aera, dengan cepat ia berjalan mendekati pintu. Begitu pintu dibuka, sosok Papa Arga lah yang berdiri di depan sana.


"Kalian udah makan siang?"


Aera menggeleng pelan, ia sedikit bergeser agar Papa Arga bisa melihat ke dalam kamar, di mana Mike masih terbaring di atas ranjang.


"Kak Mike demam, Pa. Tapi dia nggak mau makan, nggak mau diajakin ke dokter juga!" adu Aera.


Terdengar Papa Arga menghela napas pelan. "Nggak apa-apa, dia hanya butuh istirahat, kamu makan ya, Nak. Jaga kesehatan, cukup temani Mike, nanti dia akan membaik dengan sendirinya."


"Tapi, Pa---"


"Udah, percaya sama Papa, ya. Sekarang kamu makan dulu, nanti kalau kondisi Mike belum membaik, biar Papa yang panggilin Dokter."


Aera mengangguk pelan. "Iya, Pa."


"Ya udah kalau gitu, maaf mengganggu waktu kalian." Papa Arga pun berlalu meninggalkan kamar Mike. Sementara Aera kembali menutup pintu kamar, menatap ke arah meja, dia benar-benar sedang tidak selera makan sekarang!


Alhasil gadis itu kembali ke kasur, memperhatikan Mike yang mulai terlihat gelisah.


"Kemarilah, Dad!"


Aera mendekat, ia membawa tubuh Mike ke dalam pelukannya. Cuaca di luar sana terlihat cukup panas, suhu AC juga tidak terlalu dingin, tapi Mike malah meminta Aera menutupi tubuhnya dengan selimut yang cukup tebal.

__ADS_1


"Astaga, sekarang aku yang malah kepanasan!" Batin Aera, Mike mendekap tubuhnya cukup erat, belum lagi selimut yang ikut menutupi sebagian tubuhnya! Aera benar-benar merasa gerah sekarang!


Tak ada pilihan lain, Aera bertahan dengan kondisi itu, ia tidak tega membangunkan Mike yang mulai terlelap di pelukannya!


__ADS_2