
"Kalian nggak kenapa-kenapa kan, Mike, Aera?" tanya Mama Yuna saat melihat keduanya duduk di meja makan tanpa suara, terlebih mata Aera yang seperti orang baru selesai nangis memancing kekhwatiran Mama.
"Nggak apa-apa, Ma. Aera lagi terharu aja karena kejutan dari Daddy!" jawab Aera, ia tidak berbohong, karena benar adanya, Mike memberikannya kejutan yang luar biasa sampai memancing emosi Aera!
"Benarkah?" Mama Yuna beralih menatap Mike, pria itu tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Iya, Ma, tidak terjadi apa-apa."
"Syukurlah, Mama pikir kalian habis berantem, kalau begitu silahkan lanjutkan sarapannya, makan yang banyak!"
Aera memicingkan matanya ke arah Mike. Urusan mereka masih belum kelar!
"Makan! Memangnya kamu bisa kenyang hanya dengan menatapku?!" ucap Mike, pria itu hobi sekali memancing emosi Aera!
"Ya, apalagi sampai bisa makan daging Daddy! Heum, pasti lezat dan akan membuat Aera kekenyangan!"
"Kumat!"
Aera berdecak kesal. Belum setengah jam yang lalu ia mendengar kata 'maaf' terus keluar dari bibir Mike, tapi sekarang pria itu kembali mengibarkan bendera peperangan!
"Mereka kenapa?" gumam Kaela yang sejak tadi memperhatikan keduanya, dua orang itu terus saling beradu tatap sambil mengunyah makanan mereka, seolah-seolah ingin saling memakan satu sama lain.
"Nggak suaminya, nggak istrinya, sama aja!" Kaela meninggalkan keduanya, membiarkan mereka melakukan apapun yang ingin mereka lakukan, terserah, Kaela tidak mau ikut campur, lebih baik dia keluar dengan Kak Baranya saja!
*******
Aera melirik Mike yang tengah fokus di meja kerjanya, setelah sarapan dan mengobrol sebentar dengan Papa dan Mama, Aera dan Mike pun pamit pulang, karena ada beberapa kerjaan yang harus Mike selesaikan hari itu.
"Kalau belum selesai, kenapa maksain buat pulang?" tanya Aera, gadis itu rebahan di atas kasur setelah selesai membersihkan kamar, sedikit merapikan dan menyapu lantai.
"Ada urusan mendadak!"
"Emang apa?"
Aera penasaran, karena sejak pulang dari Singapura bukankah Mike selalu ada bersamanya?
Pria itu tak menjawab, masih fokus pada laptop di hadapannya. Membuat Aera bungkam, ia tidak ingin menjadi pengganggu juga! Gadis itu pun mulai sibuk dengan handphonenya, membalas tumpukan chat yang tidak pernah ia buka, salah satunya chat dari Chef Yola yang akan menjadi guru kursus memasaknya.
Setelah basa-basi, Aera dan Chef Yola sepakat untuk memulai kursus memasak besok Lusa, dan Aera meminta agar semua proses belajarnya di lakukan di rumah, jadi Chef Yola yang akan mendatanginya!
Deal. Chef Yola menyetujui itu! Masalah bayaran, Aera sudah mendiskusikan itu sebelumnya dengan Mike dan pria itu tidak keberatan.
"Belum selesai?" tanya Aera yang sudah mulai bosan.
"Belum."
"Hmm, Aera keluar ya?"
"Ke mana?"
"Mau belanja! Pengen beli yang pedes-pedes!"
"Hmm, pulang sebelum jam 5!"
Aera reflek melihat ke arah jam tangannya, pukul empat lewat tiga menit.
"Oke. Tapi kalau macet bukan salah Aera!"
"Hmm."
"Mau nitip?"
__ADS_1
"Nggak."
"Dih, dasar nyebelin!" Aera sempat mencubit lengan Mike sebelum meninggalkan kamar, gadis itu hanya membawa dompet, handphone dan kunci mobil.
Namun langkah Aera yang sedang menuruni tangga pun tiba-tiba terhenti saat mendengar Mike memanggilnya!
"Penyu!"
Aera menoleh dengan tatapan tajam. "Kenapa?"
Mike tak menjawab, justru pria itu melangkah cepat mendekati Aera, lalu merebut kunci mobil secara tiba-tiba.
"Ayo!"
Aera yang masih kebingungan pun hanya mematung menatap punggung Mike yang berjalan mendahuluinya.
"Kura-kura!"
"Ish! Iya-iya! Tadi katanya belum selesai! Sekarang malah main jalan duluan aja!" gerutu Aera. Dengan kesal gadis itu mengikuti langkah Mike menuju halaman depan!
*******
Aera merenggangkan seluruh otot badannya, tubuhnya terasa remuk setelah seharian beraktivitas, yang tadinya keluar rumah hanya untuk berbelanja camilan saja jadi keterusan sampai malam. Tepat pukul sepuluh malam, barulah keduanya melajukan mobil untuk pulang, setelah makan malam terlebih dahulu di luar.
"Daddy?" panggil Aera pada Mike yang bersandar di kasur sambil memainkan handphone.
"Hmm."
"Kursus masaknya dimulai besok."
Mike hanya menanggapi dengan anggukan pelan, membuat Aera memutar bola matanya kesal. Gadis itu naik ke atas kasur, mengikuti gaya Mike yang bersandar sambil memainkan handphone.
Menyadari Aera yang mulai sibuk dan asik dengan handphonenya membuat Mike melirik ke arah gadis itu yang sedang senyum-senyum sendiri.
Aera tak menjawab, bahkan mungkin tak mendengar pertanyaan Mike. Hingga pria itu berdehem cukup keras.
"Hmm!"
Aera menoleh. "Daddy kenapa?"
"Nggak papa."
"Mau minum?"
"Nggak."
Dahi Aera pun mengerut saat tatapannya beradu dengan Mike. "Kenapa liatin Aera kayak gitu lagi?!"
"Kamu belum cerita!"
"Cerita?"
"Hmm."
"Cerita apa?"
"Apa yang kamu mau omongin saat aku masih di Singapura?"
"Eum, itu--"
"Apa?"
__ADS_1
"Daddy punya berapa mantan?"
"Nggak penting!"
"Tapi penting buat Aera!"
"Kenapa? Ada yang buat kamu ngerasa nggak nyaman?"
"Ya, beberapa hari terakhir ini ada yang buat Aera risih, ada yang komentar di postingan Instagram Aera, bahkan sampai ngirim pesan ancaman!"
"Mana?"
"Apa?"
"Instagram-mu!"
"Daddy mau apa?"
"Berikan!"
Aera diam sejenak, lalu memberikan handphonenya pada Mike.
"Log in!" titah Mike sembari menyodorkan handphonenya pada Aera, gadis itu ragu untuk mengambilnya. Namun, setelah mendapatkan tatapan tajam dari Mike ia pun segera mengambil benda pipih itu, memasukkan username dan kata sandi Instagram-nya.
"Kalau ada yang seperti itu lagi, jangan hanya diam! Ingat! Langsung cerita!"
Aera mengangguk paham.
"Daddy?" panggil Aera pelan, setelah suasana hening cukup lama.
"Kenapa?"
"Apakah Aera bisa menggantikan posisi wanita itu?" Aera memalingkan wajahnya setelah melontarkan pertanyaan tersebut.
Hening kembali tercipta. Aera tak berani menatap ke arah Mike yang ternyata terus menatapnya sejak tadi.
"Bukankah sekarang kamu adalah istriku? Lalu apalagi?"
"Hanya di atas kertas, nggak lebih!"
Mike terdiam mendengar jawaban Aera. Gadis itu masih memalingkan wajahnya, tak berani beradu tatap dengan Mike.
"Salah ya kalau Aera berharap lebih dari pernikahan ini?"
Perlahan tatapan Aera tertuju pada Mike, pria itu masih dengan wajah datar yang tidak bisa Aera tebak ekspresinya. Meski hatinya sedang diselimuti ketakutan, Aera tetap memberanikan diri untuk terus menatap wajah Mike, semakin lama, semakin membuat Aera tak kuat menatapnya. Alhasil, Aera kembali mengalihkan pandangannya.
"Maaf kalau Aera banyak maunya," ucap Aera karena Mike tak kunjung menjawab pertanyaannya, gadis itu mulai merebahkan tubuhnya membelakangi Mike, menarik selimut hingga ke dada.
"Lupakan saja, Dad. Selamat malam, selamat beristirahat."
Ada perasaan sakit yang tidak bisa Aera jelaskan, entah sejak kapan ia menaruh harapan lebih terhadap pernikahan ini? Atau bahkan tanpa sadar Aera sudah meletakkan harapan itu dari awal? Berharap Mike bisa menerima kehadirannya dan mereka bisa menjalani sebuah pernikahan seperti yang orang-orang dambakan. Hidup bahagia selamanya bersama orang tercinta.
"Bodoh, Aera, bodoh!" Batin Aera memaki kebodohannya, sehingga sesak di dadanya semakin terasa, membuat Aera menahan air matanya sekuat tenaga agar tidak menetes, Aera tidak ingin menangis lagi di hadapan Mike!
Tanpa Aera sadari, Mike terus memperhatikan punggungnya sejak tadi, hingga akhirnya pria itu mendekat, merebahkan tubuhnya tepat di belakang punggung Aera. Kedua tangannya memeluk tubuh Aera, tidak ada respon penolakan dari gadis itu.
"Selamat malam," bisik Mike yang membuat seluruh bulu kuduk Aera berdiri seketika, pria itu sepertinya lebih horor dari setan bagi Aera!
Bodoh! Bodoh! Bodoh!
Hanya satu kata itu yang terbesit di pikiran dan benak Aera. Aera tidak mampu menolak kehangatan yang Mike berikan dan tak mampu juga menagih lebih dari sekedar harapan! Aera dilema, sekarang ia mulai berperang dengan hati dan pikirannya sendiri!
__ADS_1
"Apakah aku sudah mencintainya?" Batin Aera, tak dipungkiri berada dalam dekapan Mike membuatnya merasa jauh lebih aman, damai dan tenang. Meski Aera tak tau apakah Mike merasakan hal yang sama? Atau malah sebaliknya?