Menikah Dengan Sugar Daddy

Menikah Dengan Sugar Daddy
Ego


__ADS_3

Sejak kejadian tak terduga yang terjadi di rumah Papa Arga, hubungan Mike dan Aera menjadi lebih renggang, tak sekali dua Aera menghindar dari Mike, bahkan dengan terang-terangan gadis itu menyatakan kalau dia tidak mau berbicara dengan Mike lagi!


Meski sadar semua ini terjadi akibat kesalahannya, Aera tetap saja tidak bisa menerima perlakuan Mike! Terlebih lagi gadis itu sekarang mulai cemas, dia belum siap hamil dan menjadi ibu! Sebab malam itu, Mike sama sekali tidak mendengarkan pernyataan Aera tentang ketidaksiapan Aera untuk hamil!


"Sumpah egois banget!" kesal Aera yang sudah dua hari berdiam diri di dalam kamar, hanya rebahan di atas kasur karena masih merasa tidak nyaman untuk bergerak, bagian sensitifnya masih cukup perih. Bahkan Aera sudah mengabari Chef Yola untuk libur kursus sampai beberapa hari kedepan!


Sedangkan Mike, semenjak kejadian itu dia terus-menerus berusaha membujuk Aera, meminta maaf dengan berbagai cara, tapi Aera masih kekeuh dengan pemikirannya! Sogokan belanja dan jalan-jalan benar-benar tidak mempan! Yang ada Aera terlihat tambah marah pada Mike!


"Aera--" panggil Mike yang sudah hampir menyerah, entah harus dengan cara apalagi dia membujuk Aera, pasalnya Aera terus-menerus memasang wajah cemberut dan tak mau berbicara, atau sekedar menatapnya, tentu itu sangat membuat Mike merasa tidak nyaman dan semakin dihantui rasa bersalah!


"Hei, mau sampai kapan kamu bertingkah seperti ini?" Mike mencoba naik ke atas kasur, mendekati Aera yang masih fokus dengan handphonenya.


"Oke-oke, sekarang aku nyerah, kamu bebas mau melakukan apapun, asal jangan seperti ini lagi!" bujuk Mike. Jika saja Mike mau menuruti egonya, ia pasti akan membiarkan Aera begitu saja! Tapi Mike juga sadar, kalau apa yang dia lakukan memang salah, tidak seharusnya bersikap seperti itu pada Aera, bahkan di saat momen sakral yang baru pertama kali bagi mereka! Sungguh, itu adalah ingatan yang benar-benar buruk!


"Seharusnya kamu tidak terjebak dalam pernikahan ini, Aera!"


Saat Mike hendak turun dari kasur, Aera tiba-tiba saja menarik lengan pria itu. "Daddy!"


Aera berhamburan memeluk Mike, mendengar Mike yang terus meminta maaf dan menyesali perbuatannya tentu membuat hati Aera terketuk, terlebih lagi ia teringat dengan pesan Dokter Arnold, kalau Aera tidak boleh membuat Mike merasa terbebani karena itu akan memberikan tekanan yang cukup keras pada kesehatan mentalnya! Sebaiknya Aera sedikit menurunkan egonya!


"Maaf, aku menyakitimu."


Aera mengeratkan pelukannya. Dibalas kecupan lembut di pucuk kepala oleh Mike. "Maaf."


"Aera pikir nggak sesakit itu," lirih Aera.


"Masih sakit?"


"Hmm."


"Lain kali jangan memaksakan diri!"


"Aera kesel!"


"Kenapa?"


Aera diam sejenak, haruskah ia menceritakan tentang pesan yang ia terima di Instagram? Bukankah Instagram Aera juga log-in di handphone Mike? Apakah pria itu tidak sempat membacanya?


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa, Aera kesel aja!"


"Mau liburan?"


"Ke mana?"


"Ada urusan di Thailand, mau ikut?"


"Mau!" jawab Aera penuh semangat.


"Baiklah, besok lusa kita akan berangkat!"


"Yes, bisa satu negara lagi sama Phi-phi aku yang tampan rupawan! Kira-kira bisa ketemu sama artis Thailand nggak sih?"


"Mau ketemu siapa?"


"Win metawin, Ohm Pawat, Papi Off, Gufi, si cantik Gun, dan yang terpenting pengen ketemu Bright!!"


"Mereka semua aktor Thailand?"


"He'em!"


"Yang sering kamu tonton?"

__ADS_1


"Yaps!"


"Gay semua?"


"Hehehe."


"Sesat!"


"Ish, syirik amet!"


"Pedang ketemu pedang, mana seru!" cibir Mike.


"Setidaknya mereka saling mencintai dan menjaga satu sama lain!" sindiran mulai dikeluarkan.


"Cih, pembelaan!"


"Daddy niat nggak sih minta maafnya?!"


"Eh?"


"Bikin Aera kesel mulu!"


"Mau es krim nggak?"


"Penyogokan!"


"Mau nggak?"


"Mana?"


"Ayo ke bawah!"


"Gendong ya?" rengek Aera.


"Hmm."


"Aera berat nggak, Dad?"


"Gak."


"Eh? Sejak kapan ada lemari es krim di sini?" gumam Aera saat mereka memasuki dapur.


"Sejak si pembuat rusuh jadi mayat hidup dalam kamar!"


"Cik!"


Mike membuka lemari es krim yang sudah di isi full dan siap dieksekusi oleh Aera tanpa menurunkan Aera dari gendongannya!


"Mau yang pink!" Aera menunjukkan es krim rasa strawberry yang berbentuk love. Mike mengambil dan memberikan pada Aera, sebagai bentuk permintaan maafnya.


"Ini semua buat Aera?"


"Ya."


"Ini juga?"


Yang Aera tunjuk sekarang adalah bibir Mike!


"Mau?"


Aera menggeleng. "Daddy jahat! Aera nggak berani!"


"Cik!"

__ADS_1


Mike mendudukkan Aera di atas meja makan, membiarkannya menikmati es krim yang bertaburkan kacang almond.


"Daddy mau?"


"Kamu aja!"


Aera memperhatikan Mike yang sedang membuka kulkas, mengambil beberapa camilan dan juga minuman lalu duduk di kursi yang tepat berada di samping Aera yang masih duduk di atas meja makan!


"Kita udah baikan, kan?" pertanyaan konyol itu keluar dari bibir Mike, entah apa yang mendesaknya untuk bertanya seperti itu!


"Em, boleh, eh tapi bukan berarti Daddy bisa semena-mena lagi ya!!"


"Ya, ya, ya!"


"Aera belum siap hamil! Gimana nanti kalau---"


"Susst, udah jangan pikirin itu dulu, apapun yang terjadi nanti aku akan menanggungnya!"


"Tapi--"


"Sudahlah, lagian kamu juga Istriku! Tidak ada yang aneh jika sampai kamu hamil!"


"Aera belum siap jadi ibu! Itu masalahnya!"


"Terus mau apa sekarang, hmm?"


"Kita tunda dulu yaaa?"


"Hmm."


"Daddy nggak marah, kan?"


"Nggak."


"Aera cuman mau kasih yang terbaik buat calon anak Aera nanti, Aera nggak mau dia punya ibu seperti Aera yang belum mengerti apa-apa!"


"Terlebih lagi dia harus memiliki seorang Ayah yang belum mencintai Ibunya." lanjut Batin Aera.


Keduanya sempat terdiam sebelum akhirnya Aera kembali sibuk menikmati dan mencoba beberapa jenis es krim lagi! Mike yang melihat itupun menghela napas pelan, setidaknya trik minta maafnya kali ini berhasil, tidak sia-sia ia memaksa Justin untuk mengangkut lemari es krim sebesar gaban itu!


******


Maudy menatap Anya yang tampak gelisah, sudah tiga hari ini Haider demam dan terus bergumam ingin bertemu dengan Papanya, sementara Lucas hilang tanpa kabar, tidak bisa dihubungi!


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Anya gelisah, suhu tubuh Haider tak kunjung turun, meski sudah mendapatkan perawatan medis!


"Apakah aku harus menemui Lucas?" tanya Maudy pelan.


"Jangan!"


"Tapi Haider membutuhkannya sekarang--"


"Jangan, dia tidak pantas lagi untuk melihat Haider! Dia tidak punya hak untuk itu!"


"Bagaimana jika kehadiran Lucas membuat kondisi Haider membaik?"


"Dia tidak akan datang, Maudy! Cukup, jangan mengemis lagi untuk kami!"


"Hei, aku hanya ingin melihat Haider pulih, tidak bermaksud seperti itu!" Maudy memeluk Anya yang mulai terisak, entah takdir seperti apa yang sedang ia jalani sekarang!


"Maaf, aku akan memikirkan cara lain, jangan menangis lagi."


Maudy menyeka setiap tetes yang membasahi pipi Anya. Wanita itu tersenyum, seolah-seolah menyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Kamu makan dulu ya, jangan sampai sakit seperti Haider!"


Anya mengangguk, ia menerima suapan yang Maudy berikan.


__ADS_2