
Rumah Sakit.
Tanpa menunggu antrian, Mike dan Aera langsung dipersilakan masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, karena Aera yang tau mau sendirian, jadilah Mike ikut masuk dan selalu berada di dekatnya, sekalian juga Mike ingin mengecek kesehatan fisiknya, mulai dari tekanan darah, suhu tubuh, tinggi badan, berat badan, sampai pada pemeriksaan detak jantung, paru-paru, kulit dan mata.
Keduanya juga disarankan untuk melakukan cek laboratorium darah dan urine, yang meliputi gula darah dan protein dalam urine. Semua jenis cek kesehatan fisik akan Mike dan Aera lalui untuk memastikan kalau kondisi fisik keduanya benar-benar sehat. Dan setelah itu mereka akan melakukan cek kesehatan mental juga.
Saat sedang menunggu hasil pemeriksaan, Aera dan Mike dikejutkan dengan Dokter Hanna yang tiba-tiba saja muncul dengan wajah dan senyuman yang begitu cerah ke arah mereka.
"Congratulations on your pregnancy, Mrs. Aera," (Selamat atas kehamilan Anda Nyonya Aera) ucap Dokter Hanna yang membuat Mike dan Aera saling menatap.
"Hamil?" Aera menatap Mike dengan tatapan yang tak bisa Mike artikan. Meski begitu Mike malah menunjukkan respon yang berbeda, pria itu memeluk Aera erat dan cukup lama.
Dokter Hanna menyerahkan hasil tes urine milik Aera pada Mike, yang menunjukkan kalau Aera sedang hamil dengan usia kehamilan yang baru memasuki minggu ke empat.
"Dad? Aera beneran hamil?" tanya Aera dengan mata yang berkaca-kaca setelah melihat hasil tes yang berada di tangan Mike.
"Are you happy?"
Aera tak menjawab bertanya Mike, ia menunduk menatap perutnya yang masih rata, mengelusnya pelan.
"Terimakasih, Tuhan, karena telah memberikan kepercayaan ini padaku, tapi aku masih bingung harus merespon seperti apa? Apakah aku harus merasa bahagia atau sebaliknya? Aku belum siap menjadi seorang Ibu, aku belum siap untuk peran baru itu, bahkan jadi seorang istri saja aku belum bisa melakukanya dengan benar," batin Aera.
Mike kembali memeluk Aera, mengelus pelan punggung Aera sembari berbisik. "Aku akan selalu ada di sisimu, kamu tidak sendiri, kita akan melewati semua ini sama-sama, aku mohon, terimalah kehadirannya dengan bahagia."
Dokter Hanna yang melihat itu hanya bisa tersenyum lalu kembali meninggalkan ruangan untuk mengambil hasil cek kesehatan fisik yang lainnya. Karena benar-benar diluar dugaan, kalau ternyata Aera sedang dalam kondisi hamil sekarang!
__ADS_1
"Aera bisa nggak ya jadi Ibu yang baik nanti?" lirih Aera.
"Bisa, kamu pasti bisa!"
"Aera takut, jangan tinggalin Aera ya, Dad."
"Nggak akan, aku nggak bakal ninggalin kalian!"
"Daddy bahagia?"
"Dia anakku, bagaimana mungkin aku tidak bahagia, Aera?"
Ucapan Mike berhasil membuat Aera diam seribu bahasa, sekaligus merenung, kenapa dia sendiri sampai bingung harus menunjukkan respon seperti apa? Padahal jelas-jelas ini adalah darah dagingnya!
"Mulai sekarang kamu harus janji buat jaga kesehatan, makan yang teratur dan nggak ngelakuin apapun yang bisa membahayakan kalian berdua, janji?!"
"Iya, Aera janji!"
"Pintar! Sini peluk!"
Keduanya kembali berpelukan untuk waktu yang cukup lama, sama-sama menyalurkan kebahagiaan mereka.
"Kapan kita bisa balik ke Indonesia? Aera mau kasih kejutan ini buat Mama, Papa dan Papa Arga! Mereka juga pasti bahagia, kan?"
"Tentu, aku akan usahakan kita bisa balik secepatnya! Bersabarlah!"
__ADS_1
"Terimakasih, Dad."
"Sama-sama. Mau lanjut pemeriksaan hari ini atau mau pulang dan istirahat dulu?"
"Kita belum bisa pergi jalan-jalan, ya?"
"Kondisinya belum stabil, banyak kemungkinan yang bisa membahayakan kita!"
"Em, kalau gitu kita balik ke hotel lagi, ya, Dad?"
"Boleh, kalau itu yang kamu mau!"
Sesuai apa yang Aera minta, mereka tidak jadi melakukan cek kesehatan mental, Mike hanya tidak ingin memaksa Aera melakukan apa yang yang tidak mau Aera lakukan, terlebih lagi setelah mengetahui kalau di dalam tubuh Aera sekarang juga ada janin kecil yang membutuhkan banyak perhatian dan kasih sayang, serta juga perlu diperhatikan kesehatannya, besok atau di lain waktu, Mike akan mengajak Aera lagi untuk melakukan cek kesehatan mental, karena bagaimanapun itu penting bagi Aera.
Untuk sementara waktu, Mike dan Aera memutuskan untuk merahasiakan kehamilan Aera, hal itu mereka lakukan demi keselamatan Aera dan janin yang ada di dalam kandungannya, jangan sampai hal itu yang menjadi pemicu bahaya bagi keduanya nanti, jika keadaan sudah stabil, Mike dan Aera pasti akan menyampaikan kabar gembira itu.
*******
Di tengah usaha para polisi untuk menyelediki satu persatu orang-orang yang masuk ke dalam list tersangka, tiba-tiba saja polisi mendapatkan sebuah petunjuk baru dari tetangga Tuan Kob Sinn, yang baru saja menemukan sebuah tas misteri yang berisikan banyak kertas ancaman yang ditujukan untuk Tuan Kob Sinn dan rekan-rekan bisnisnya, salah satunya, ancaman kalau sampai kurang dari satu bulan Tuan Kob Sinn tidak menutup pusat perbelanjaan mereka, maka nyawa mereka semua akan dalam bahaya!
Mendapatkan pesan ancaman tersebut, polisi pun memanggil semua orang yang bersangkutan untuk diajak diskusi dan membicarakan solusi untuk kasus ini, karena jelas saja polisi tidak bisa terus memantau keamanan mereka semua dalam jangka waktu yang panjang, terlebih mereka semua dari negara yang berbeda-beda dan hanya Tuan Kob Sinn dan istrinya lah menjadi warga negara Thailand.
Menutup pusat perbelanjaan yang baru saja resmi dibuka juga bukanlah solusi yang mudah bagi mereka, mengingat berapa banyak waktu, biaya dan tenaga yang mereka habiskan untuk mendirikan semuanya, tapi hal itu juga tidak sebanding dengan keselamatan mereka dan orang-orang yang mereka sayangi.
Untuk itu, Tuan Kob Sinn dan Mike meminta waktu lebih lama lagi, agar mereka bisa mempertimbangkan semuanya, setidaknya mereka juga dapat mengetahui siapa dalang di balik semua ini?!
__ADS_1