
Aera mendongak, menatap langit malam yang terlihat begitu sepi tanpa kehadiran bintang-bintang dan sang rembulan, udara malam juga terasa lebih dingin dari biasanya, Aera merapatkan lagi kedua tangannya, mencoba untuk menghangatkan diri.
Berbeda dengan Aera, Mike terlihat begitu menikmati suasana, pria itu seolah-olah tidak memperdulikan udara dingin yang menyapa permukaan kulit.
"Mendekatlah!" ucap Mike tanpa mengalihkan pandangannya.
"Cepat!"
"Ish, iya-iya ini!" Aera langsung bergeser, merapatkan tubuhnya pada tubuh Mike, detik berikutnya tangan pria itu merangkul bahu Aera, membawa kepala Aera untuk bersandar di bahunya.
"Daddy?"
"Hmm."
"Daddy sering ke sini?"
"Ya."
"Sendirian?"
"Hmm."
"Sekarang jangan sendirian lagi ya? Aera ada."
Mike tak menjawab, tatapannya tertuju pada gedung-gedung yang memancarkan cahaya di bawah sana. Sekarang keduanya sedang berada di rooftop kantor Mike. Tempat yang biasa digunakan oleh Mike untuk sekedar menikmati suasana kota malam.
"Daddy percayakan kalau setiap luka pasti ada obatnya?"
"Entah."
"Kenapa?"
"Obat HIV belum ketemu!"
"Ish, maksud Aera nggak gitu juga!"
"Terus?"
Aera meraih tangan kanan Mike, "Izinin Aera jadi penawar buat semua luka Daddy. Ya meskipun Aera tidak tau apa-apa tentang Daddy, tapi Aera bersedia menjadi pendengar yang baik jika Daddy ingin berbagi cerita."
"Kamu tidak akan bisa melakukannya!"
"Kenapa? Apa karena Daddy menganggap Aera anak kecil yang nggak ngerti apa-apa?"
"Kamu nggak akan ngerti!"
"Aera ngerti kalau Daddy mau berbagi cerita! Tapi kalau Daddy terus-terusan nutup diri kayak gini, gimana Aera bisa kenal dan ngertiin Daddy?!"
Aera memberanikan diri untuk menatap wajah Mike, ada sorot kesedihan yang sempat Aera tangkap sebelum wajah itu berubah datar.
"Aera nggak tau luka seperti apa yang sudah Daddy alami sebelumnya, separah dan sedalam mana. Aera juga nggak mau Daddy terus terjebak di sana, kalau Daddy belum siap berbagi dengan Aera, nggak apa-apa, Aera ngerti kok, nggak semudah itu Daddy bisa terima kehadiran Aera, tapi setidaknya Daddy tau kalau Aera ada untuk Daddy, Daddy nggak sendiri di sini!"
"Ya."
"Aera boleh minta peluk?"
Melihat tidak ada jawaban apapun, dengan sisa keberanian yang Aera punya, gadis itu mendekap tubuh Mike, mencari kehangatan dalam dekapannya. Mike tak merespon, tapi ia juga tidak menolak.
"Besok kita jadi pergi ke rumah Papa, 'kan?" tanya Aera yang masih memeluk tubuh Mike.
"Hmm."
"Daddy nggak kedinginan?"
"Nggak."
"Aera haus."
"Minum!"
__ADS_1
"Haus kehangatan maksudnya!"
"Mau dibakar?"
"Ish, nggak dibakar juga!"
"Pintu neraka terbuka lebar!"
"Daddy!!" Aera memukul dada Mike lalu sedikit mencubitnya.
"Dasar bocah!"
"Iya-iya si paling tua!"
"Awww!" Aera menjerit pelan saat Mike mencubit pinggangnya, tak mau kalah gadis itu balas mencubit dada Mike.
"Entar dibales nangis!" ucap Mike dengan tatapan yang tertuju pada dada Aera! Spontan gadis itu langsung menyilangkan tangannya di depan dada.
"Jangan macem-macem ya! Jangan cabul!"
"Cih! Orang cabul teriak cabul!"
"Sini, sini, mau Aera cabuli?"
Mike membuang muka, membuat Aera semakin berani untuk menggodanya.
"Sini, Dad! Aera lecehin! Gratis loh!"
"Stress!"
"Nggak apa-apa stress yang penting cantik!" Aera mengibas rambutnya, berlagak seperti primadona.
"Cicak ajak nggak minat!"
"Iyakah? Tapi kemarin dia ngintipin aku mandi loh, Dad. Apa iya dia nggak minat?"
"Gila!"
Mike menggeleng pelan, sepertinya dia tidak akan pernah bisa mengalahkan bocil kematian di hadapannya ini!
Aera mendekat, gadis itu membelai pelan dada Mike, "Kalau berubah pikiran, kasih tau Aera ya--"
Kedipan mata genit tak lupa Aera layangkan. Walau sejujurnya hati Aera berdebar kencang, ini pertama kalinya Aera berani menggoda seorang pria!
Mike tak tinggal diam, ia menyentuh tangan Aera yang masih membelai pelan dadanya, lalu tangan kirinya menarik pinggang Aera, hingga tubuh Aera menabrak tubuhnya.
"Sayang sekali jika istri secantik ini hanya untuk didiamkan, bukan?" bisik Mike tepat di dekat leher Aera, membuat Aera menelan ludahnya kasar.
Aera terpejam saat hidung Mike mulai menyentuh telinganya, bersamaan dengan jantungnya yang semakin berdegup kencang serta bulu kuduknya berdiri saat hembusan napas pria itu menerpa kulitnya.
"Tapi aku masih belum berubah pikiran!"
Mike menjauhkan kepalanya dan melepas pinggang Aera, pria itu tersenyum samar saat melihat Aera membuka mata.
"Kenapa?" tanya Mike tanpa rasa bersalah sedikitpun!
"Suami sialan!" umpat Aera pelan. Gadis itu membuang muka, bisa-bisanya Mike mempermainkannya seperti ini! Benar-benar ya!
"Kalau kamu nggak bahagia, kamu bisa pergi!"
"Eh?" Aera menatap Mike, apa maksud pria itu?
"Nggak seharusnya kamu di sini, kamu berhak bahagia dengan pria yang mencintaimu, Aera."
"Kenapa Daddy bilang gitu? Apa maksudnya, Dad?"
Tanpa ba-bi-bu lagi, Aera langsung memeluk tubuh Mike dari belakang, memeluknya erat. "Nggak, Aera bakal tetap di sini sama Daddy! Aera bahagia!"
"Jangan nyesel."
__ADS_1
"Nggak, Aera nggak bakal nyesel!"
"Hmm."
"Daddy nggak sendiri, ada Aera di sini!"
"Ya."
Cukup lama Aera memeluk tubuh Mike, sampai pria itu menyentuh tangannya.
"Pulang!"
Aera melepas pelukannya, gantian memegang lengan Mike, menempel seperti cicak pada pria itu. Beruntung Mike tak menolak. Sampai di rumah gadis itu juga masih terus membuntuti Mike, bahkan tanpa tau malu ia memeluk tubuh Mike sampai tertidur lelap. Definisi anak dan ayah ketemu gede.
******
Masih pagi-pagi sekali Mike membangunkan Aera dengan menggoyangkan bahu gadis itu serta menepuk pelan pipinya, setelah sekian kali percobaan akhirnya Aera bangun dengan wajah yang masih terlihat sangat ngantuk!
"Cepat mandi!"
"Kenapa kita pergi sepagi ini?"
"Ada acara!"
"Emang acaranya jam berapa?"
"Cepat pergi mandi!"
"Ish, iya-iya, masih pagi udah galak aja!"
"Udah sana mandi!" ucap Mike karena Aera terus menatapnya dengan wajah cemberut baru bangun, lengkap dengan rambut yang berantakan!
"Boro-boro bilang selamat pagi Istriku! Yang ada malah ngomel-ngomel!" gerutu Aera.
"Jangan tidur lagi di kamar mandi!" teriak Mike.
"Iya! Bawel banget!"
"Cepetan!"
"Daddy!!!"
Aera berteriak sejadi-jadinya, pasalnya masih pagi tapi Mike sudah memancing sumbu kemarahannya! Di dalam sana Aera terus bergumam kesal, bahkan sempat berteriak lagi karena Mike menggedor pintu kamar mandi!
"Sumpah ya punya suami ngeselin banget!" gerutu Aera sambil merapikan rambutnya yang terurai.
Tatapan Aera kini tertuju pada Mike yang duduk di pinggir kasur, pria itu sudah terlihat rapi dengan pakaian serba hitam! Sedangkan Aera sendiri menggunakan drees berwarna peach yang memberikan kesan manis pada dirinya.
"Daddy?"
Mike menoleh, memperhatikan Aera dari atas sampai bawah.
"Kenapa? Aera salah kostum ya?"
"Hari ini acara peringatan kematian Mama."
Deg.
Aera tertegun, tak bisa mengucapkan apa-apa lagi.
"Maaf, Aera nggak tau, tunggu sebentar, Aera ganti baju dulu!"
Alhasil Aera mengganti dress yang ia gunakan dengan dress hitam panjang.
"Udah?"
"Iya," jawab Aera dengan nada yang begitu rendah, ia benar-benar merasa tidak enak pada Mike, sebagai seorang istri Aera benar-benar tidak tau apa-apa tentang suaminya!
"Tetap di dekatku, kita akan bertemu banyak orang hari ini!" pesan Mike, Aera mengangguk paham.
__ADS_1
"Aera di sini." Aera menggenggam tangan Mike, berusaha menyakinkan Mike kalau dia akan benar-benar ada di sisi pria itu dalam keadaan apapun!