
Mike yang melihat perubahan dalam diri Aera yang sangat drastis tentu khawatir dengan kesehatan Aera, belum lagi sampai saat ini Mike belum menerima laporan apapun tentang perkembangan penyelidikan kasus mereka, bahkan orang-orang suruhan mereka juga menemukan jalan buntu, seolah-olah para pelaku menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun.
Kekhawatiran bukan hanya datang dari Mike, melainkan dari Papa Arga, Papa Leo dan Mama Yuna, ketiganya bahkan sudah mengirim beberapa orang kepercayaan mereka untuk menjaga Mike dan Aera sampai keduanya dibolehkan pulang oleh pihak berwenang.
Karena takut terjadi apa-apa pada Aera, Mike akhirnya memutuskan untuk membawa Aera ke rumah sakit, untuk melakukan cek kesehatan fisik dan mental Aera.
"Daddy mau ke mana? Jangan tinggalin Aera sendiri!" Aera menarik tangan Mike yang baru saja berdiri dan hendak menuju kamar mandi.
"Aku nggak kemana-mana, mau ke kamar mandi sebentar, ya?"
"Cepetan!"
"Iya, tunggu sebentar, ya."
Mike berlalu menuju kamar mandi hotel, sementara Aera masih duduk bersandar di atas kasur dengan pandangan yang tertuju ke arah luar kaca yang menampilkan pemandangan kota yang begitu padat. Di luar sana banyak dari petugas keamanan yang berjaga, bahkan kamar-kamar yang mereka tempati dijaga dengan penjagaan yang begitu ketat, tidak sembarangan orang yang bisa sampai ke kamar mereka.
Terakhir Aera mendengar kabar tentang Nyonya Naya, dia sudah sadarkan diri dan memang memiliki riwayat gangguan kecemasan sehingga memang sering kejang-kejang dan pingsan apalagi terlalu tertekan. Atau tidak bisa mengontrol rasa takut dan cemas yang ia rasakan.
"Ma, Pa, Aera mau pulang!" lirih Aera, liburan yang ia sudah rencanakan tiba-tiba saja menguap entah ke mana, satu hal yang ingin Aera lakukan sekarang, yaitu pulang dan mendapatkan pelukan hangat dari kedua orangtuanya!
"Hei, kok bengong lagi?!" Mike membelai lembut pipi Aera yang sedang melamun hingga tak menyadari kedatangan Mike.
"Nggak apa-apa. Dad, kita jadi pergi ke rumah sakit?"
"Em, iya, kamu mau, kan?"
Aera mengangguk pelan.
"Anak pintar, tapi sebelum ke rumah sakit, makan dulu ya, kamu nggak pernah makan loh dari kemarin, sarapan aja belum! Sekarang udah jam makan siang!"
"Suapin, ya?!"
"Iya, tunggu sebentar."
Mike menghubungi pihak hotel, meminta agar makan siang mereka diantar ke kamar.
Tak butuh waktu lama, makan siang mereka langsung diantar oleh utusan Papa Arga yang memang mendapatkan izin untuk berjaga langsung di sekitar kamar Mike dan Aera. Karena memang tidak diizinin seorang pelayan hotel untuk mengantarkan sampai ke kamar.
"Siapkan mobil, aku dan Aera akan pergi ke rumah sakit!" ucap Mike sebelum pintu kamar tertutup lagi.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Ekspresi wajah Mike yang tadinya datar langsung berubah 360° begitu di hadapan Aera, Mike tersenyum dengan wajah yang begitu tenang. "Makan, ya?"
"He'em."
Aera ikut duduk di samping Mike, memperhatikan Mike yang sedang membersihkan sendok dan garpu menggunakan tissue.
"Dad?"
"Iya?"
"Apa Aera berlebihan?"
"Eh, kok bilang gitu? Berlebihan kenapa?"
"Berlebihan karena kejadian kemarin, apa reaksi Aera berlebihan?"
"Sama sekali enggak, siapapun yang ada di situasi seperti itu pasti akan merasakan hal yang kamu rasakan sekarang, enggak ada yang berlebihan!"
"Daddy risih nggak sama tingkah Aera?"
"Enggak, udah jangan mikir yang aneh-aneh, sekarang buka mulutnya, aaaaa---"
Aera tersenyum lebar lalu membuka mulutnya, menerima suapan dari Mike.
"He'em."
"Habisin ya makannya?"
"Daddy nggak makan?"
"Nanti."
"Sekarang!" Aera mengambil sendok yang Mike pegang. "Ayo, buka mulutnya, aaaaaa--"
Mike menggeleng pelan dengan senyuman yang tertahan.
"Ayo, Dad!"
"Iya-iya--" Mike membuka mulutnya dan hap, satu suapan dari Aera memenuhi mulut pria itu.
Sejenak, Aera bisa melupakan rasa takut dan cemas yang selalu menghantuinya, dengan menikmati setiap detik, menit yang ia lalui bersama Mike saat ini.
__ADS_1
"Sebentar, jangan bergerak!"
"Kenapa?"
"Ada sesuatu--" Mike mendekat wajahnya ke wajah Aera, ibu jarinya menyentuh sudut bibir Aera, mengusapnya pelan, lalu--
cup
Sebuah kecupan yang membuat Aera langsung mematung dengan wajah memerah dan senyuman yang tak bisa ditahan.
"Dad!"
"Kenapa? Kurang?"
Arghhhhhhhhhhhhh. Batin Aera berteriak meronta-ronta.
"Mau lagi? Tapi habisin dulu makannya!" imbuh Mike lalu kembali menyuapi Aera, bak orang yang sudah terkena mantra Aera mengikuti ucapan Mike dengan patuh, menerima setiap suapan yang Mike berikan hingga tak terasa Aera benar-benar menghabiskan makan siangnya.
"Anak pintar!" Mike menepuk-nepuk pelan pipi kiri Aera, sembari menyodorkan sebotol air mineral. "Minum dulu."
"Mana?!" ucap Aera setelah menyerahkan kembali botol air mineral pada Mike.
Tanpa berpikir panjang dan seolah-olah mengerti apa yang Aera maksudkan, Mike langsung mendekat, memberikan sebuah kecupan lembut pada permukaan bibir Aera.
"Jangan takut lagi, ya. Aku ada di sini!" bisik Mike disusul oleh kecupan yang cukup lama di pipi kanan Aera.
Aera yang terharu dengan perlakuan Mike tak kuasa menahan air matanya, ia memeluk tubuh Mike erat, apa yang Mike lakukan benar-benar mengobati rasa takut yang terus menghantuinya.
"Siap-siap ya, kita tetap pergi cek kesehatan ke dokter!"
"He'em."
Mike membiarkan Aera mempersiapkan dirinya terlebih dahulu, terserah mau siap-siap seberapa lama pun akan Mike tunggu dengan sabar. Sementara menunggu itu, Mike mencoba untuk menghubungi kembali orang-orang suruhan mereka, dan ternyata hasilnya masih sama, belum ada petunjuk apapun yang mereka dapatkan!
Mengenai data pribadi mereka yang telah bocor dan diketahui oleh para pelaku, Mike memilih untuk merahasiakan hal itu dari Aera, ia tidak ingin Aera sampai merasakan ketakutan lagi! Dan Mike pastikan kalau Aera akan selalu dalam pengawasannya! Sehingga hal seperti ini tidak akan menimpa Aera lagi!
******
Sejak mendapatkan kabar tentang penyerangan yang didapatkan oleh Mike dan Aera, Bara tak kunjung merasa tenang, ia ingin memastikan langsung apakah Aera baik-baik saja di sana? Tapi sayangnya, Bara tidak mendapatkan izin untuk menyusul Aera, bahkan keberadaan Aera dan Mike tak ia ketahui lagi di mana! Itu karena Papa Leo dan Mama Yuna tidak ingin terjadi apa-apa lagi pada keduanya. Ataupun pada Bara.
"Ya Tuhan, lindungi Aera, jangan biarkan hal-hal buruk terjadi padanya, begitu juga dengan suaminya, karena itu pastikan akan menyakiti Aera juga," lirih Bara. Yang Bara inginkan sekarang hanyalah keselamatan Aera, ia sangat berharap masih bisa melihat Aera tersenyum seperti biasa!
__ADS_1
Untuk saat ini tidak banyak hal yang bisa Bara lakukan, selain bantu mendoakan keselamatan Aera dan semoga para pelaku dapat segera ditemukan dan mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka.