Menikah Dengan Sugar Daddy

Menikah Dengan Sugar Daddy
Debat


__ADS_3

Dengan pelan Aera membuka pintu kamar, begitu pintu itu terbuka, terlihatlah tubuh seorang pria yang terbaring di atas kasur dengan sprei berwarna pink milik Aera.


Aera tak berani mengeluarkan suara, ia berjalan pelan menuju lemari baju, bermaksud memakai baju terlebih dahulu sebelum menyapa Mike.


"Maling!"


Langkah Aera terhenti, ia melirik ke arah kasur. "Jangan liat ke sini dulu!" ucap gadis itu panik, buru-buru ia membuka pintu lemari, mengambil baju secara asal.


Mendengar adanya larangan dari Aera justru membuat Mike mengarahkan pandangannya pada gadis itu, Aera yang menyadari tatapan Mike pun langsung memutar tubuhnya membelakangi Mike, berlari secepat kilat menuju kamar mandi.


"Dasar cabul!" teriak Aera dari dalam sana.


"Nih orang kadang ngilang, kadang tiba-tiba muncul!" gerutu Aera, ia merapikan rambutnya sebelum keluar dari kamar mandi. Setelah memakai semua pakaiannya secepat mungkin.


Perlahan Aera mendekati kasur, di mana Mike masih merebahkan tubuhnya.


"Daddy?"


"Hmm."


"Kok tiba-tiba? Kenapa nggak ngabarin Aera kalau Daddy mau pulang cepat?"


Mike tak menjawab.


"Kenapa? Ada yang salah ya?" tanya Aera menyadari adanya keanehan pada Mike pagi ini.


Masih hening, pria itu tidak menjawab apapun selain tatapan matanya yang tajam, menusuk hingga ke ulu hati Aera.


"Dia kenapa?"


Aera semakin mendekat, duduk di pinggir kasur, tepat di sebelah kanan Mike. Gadis itu membalas tatapan Mike dengan penuh tanya, sebenarnya apa yang terjadi dengan pria ini?


"Kenapa Daddy menatapku seperti itu? Apakah ada yang salah?"


"Nggak ada."


"Terus? Kenapa menatap Aera seperti itu dari tadi?"


"Alismu botak!"


"Hah?"


Tanpa ba-bi-bu Aera langsung berlari menuju meja riasnya, memastikan kalau apa yang Mike katakan tidak benar!


"Ish, dasar penipu!" kesal Aera karena lagi-lagi pria itu mempermainkannya!


"Bukannya kamu?" sahut Mike.


"Aera? Maksudnya Aera penipu?!"


"Hmm."


"Excuse me, Daddy! Sejak kapan Aera nipu! Semua ini asli yaa!" Aera memegang seluruh bagian wajahnya, menunjukkan kalau semua bagian itu asli, bukan hasil operasi!


"Ini juga, walaupun kecil tapi asli!" ucap gadis itu membuat mata Mike otomatis melihat ke arah dadanya!

__ADS_1


"Ish, dasar cabul!"


Aera menyilangkan kedua tangan di depan dada, melayangkan tatapan tajam pada Mike!


"Jadi sekarang sudah jelas, kalau Daddy yang tukang tipu! Bukan Aera!"


"Mana ada maling mau ngaku!" pungkas Mike.


"Jadi ini maksudnya apa? Daddy pulang cuman buat ngajakin Aera berantem, hm?"


Mike tak menjawab lagi.


"Sini, kita perlu ngomong empat mata!" ucap Aera sok dewasa.


Akhirnya Aera ikut naik ke atas kasur, duduk di dekat Mike yang masih dalam posisi terlentang. "Bangun dulu!"


"Aku masih bisa mendengar!"


"Ish, bangun dulu!"


Aera menarik lengan kekar Mike, memaksa pria itu untuk bangun terlebih dahulu. Dan kini mereka duduk di atas kasur dengan posisi saling berhadapan. Masih pagi tapi sudah terjadi perdebatan yang cukup serius di antara mereka.


"Aera salah apa? Ayok bilang sekarang!" ucap gadis itu, meski sekarang hatinya sudah hampir copot karena tatapan Mike.


"Daddy marah karena Aera terlalu boros?" tebaknya. Hening, tidak ada jawaban.


"Ayok ngomong! Jangan cuman di---"


Detik itu juga mata Aera langsung melotot, tubuhnya kaku, jantung semakin berdegup kencang. Mike menarik tengkuk Aera dengan gerakan yang cukup cepat, hingga gadis itu tidak memiliki kesempatan untuk menghindar, bibir Mike menyentuh permukaan bibir Aera yang terkunci rapat.


"Gila! Dasar gila!" teriak Aera, gadis itu membersihkan bibirnya menggunakan punggung tangan, menatap Mike yang hanya memasang wajah datar!


"Benar-benar ya!" Dengan raut wajah yang tidak bisa Mike tebak artinya, Aera turun dari kasur, meninggalkan Mike yang masih diam seribu bahasa menatap kepergian Aera yang hilang di balik pintu kamar mandi.


"Apa yang sudah aku lakukan?"


Batin Mike. Pria itu terus menatap pintu kamar mandi, berharap Aera segera keluar dari sana.


Satu menit, dua menit, lima menit bahkan sampai lima belas menit Aera tak kunjung keluar, membuat Mike membuang napas kasar, pria itu turun dari kasur, melangkah mendekati kamar mandi.


"Aera?"


Untuk pertama kalinya, panggilan itu keluar dari bibir Mike, terdengar begitu lembut.


"Keluarlah."


Hening. Tidak ada jawaban apapun.


"Aera? Keluar---"


Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Aera dengan mata yang sudah sedikit bengkak berdiri menatap Mike tanpa mengeluarkan sepatah kata.


"Maaf."


Satu kata itu yang pertama kali Aera dengar. "Maaf, aku tidak bermaksud---"

__ADS_1


Aera mendekat, ia menjatuhkan kepalanya di dada bidang Mike, pria itu membeku. Mike bisa mendengar dengan jelas tangisan Aera.


"Kenapa? Apakah setidak pantas itu Aera menjadi seorang istri?" tanya gadis itu dengan suara yang bergetar.


"Maaf."


"Aera udah nungguin Daddy pulang sejak kemarin! Aera takut! Tapi Aera berusaha buat yakinin diri Aera kalau semua akan baik-baik saja! Aera nggak mau nambah beban pikiran Daddy! Tapi kenapa? Kenapa memperlakukan Aera seperti ini?!"


Aera memukul dada Mike dengan sekuat tenaga, Mike tidak menghentikannya.


"Apakah setidak pantas itu Aera untuk menjadi seorang istri?!"


Mike hanya diam, pikirannya buyar, ia tidak tau harus mulai bicara dari mana!


"Mundur atau hancur, apa yang harus Aera lakukan?" Dengan perlahan Aera mengangkat kepalanya, menatap Mike dalam.


"Apa maksudmu?"


"Apakah Aera harus mempertahankan pernikahan yang tanpa dilandasi cinta ini? Atau Aera harus mundur agar seseorang bisa kembali mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya?"


Mike menatap kedua mata Aera lekat, jelas ia bisa melihat adanya kesedihan, ketakutan, kemarahan dan kekecewaan yang menjadi satu dalam tatapannya.


"Apa yang sedang kamu bicarakan?"


Aera tidak menjawab apapun, ia mundur menjauhi Mike. Namun pria itu langsung menarik tangannya, membawa Aera ke dalam pelukannya.


"Tidak ada yang akan mundur, jangan simpan semuanya sendiri, katakanlah semuanya padaku, aku bertanggungjawab atas apapun yang terjadi padamu!"


Cukup lama Mike memeluk tubuh Aera, sampai ia tidak lagi mendengar isak tangis gadis itu. Mike menarik sebuah kesimpulan, kalau bukanlah ciumannya yang membuat Aera seperti ini, melainkan ada sesuatu yang Aera pendam sendiri, yang membuat gadis itu ketakutan, terlebih lagi Aera sedang datang bulan, pasti pikirannya sedang kacau dan ditambah kacau lagi dengan ciuman yang Mike lakukan dengan brutal.


"Maaf," bisik Mike lembut. Namun masih tak mendapatkan jawaban apapun dari Aera, tangan gadis itu masih memeluk tubuh Mike, erat.


"Aera terlalu kekanak-kanakan ya?" tanya Aera tanpa melepas pelukannya. Gadis itu mendongak menatap wajah Mike, menunggu jawaban, dan yang ia dapatkan adalah anggukan pelan.


"Ish! Ngeselin banget!" Aera melepaskan pelukannya, namun giliran Mike yang memeluk erat pinggang Aera.


"Bukankah sudah ada Daddy yang siap mengurusmu, Nak?"


Aera tertegun. Apakah itu artinya Mike sudah menerima kehadiran Aera dalam hidupnya?


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu mera---""


Aera berjinjit, ia mengecup bibir Mike sekilas, lalu memalingkan wajahnya. Terlalu singkat sampai Mike tidak menyadarinya.


"Anggap saja kita imbas!" ucap Aera membuat segaris senyuman muncul di wajah datar Mike, tapi sayang, Aera tidak sempat melihatnya.


"Sekarang lepas! Aera lapar belum sarapan!"


"Sama."


"Ya udah lepasin dulu! Katanya nggak minat!"


Senjata makan tuan! Mike akhirnya melepaskan pelukannya. Kedua tangan pria itu menyentuh pipi Aera, membersihkan semua jejak air mata yang tersisa.


"Mulai sekarang, apapun yang terjadi kamu tidak boleh menyembunyikannya dariku! Ingat itu!"

__ADS_1


__ADS_2