Menikah Dengan Sugar Daddy

Menikah Dengan Sugar Daddy
Keluarga


__ADS_3

Aera menatap pantulan wajahnya di cermin, tangan kanannya memegang kalung pemberian Papa Arga, kalung itu terlihat cantik di leher Aera dengan liontin berwarna biru muda, sangat cocok dengan kulit putih Aera.


"Suka?" tanya Mike karena Aera terus-menerus berdiri di depan kaca untuk melihat lehernya.


"Suka banget!! Papa Arga emang yang terbaik! Kapan kita berkunjung lagi ke rumah Papa?!"


"Minggu depan, ada acara keluarga!"


"Acara apa?"


"Liat nanti saja!"


"Baiklah, Aera mau ucapin terimakasih secara langsung ke Papa!"


"Hmm."


"Daddy?"


Mike yang sedang mengancing lengan kemeja pun menoleh. "Kenapa?"


"Nanti habis kursus Aera mau pergi!"


"Ke mana?"


Gadis itu diam sejenak. "Ada urusan!"


Mike memicingkan matanya menatap Aera yang tampak sedang menyembunyikan sesuatu dari Mike.


"Pergi sama siapa?"


"Sendiri!"


"Yakin?"


"Iya!"


"Hmm. Pergilah dan pulang sebe---"


"Pulang sebelum jam lima!" potong Aera.


"Ya."


Gadis itu terlihat begitu senang, sangat jelas dari raut wajah dan senyumnya.


"Nanti Daddy pulang jam berapa?" tanya Aera yang mengekor di belakang Mike yang sudah menggunakan setelan pakaian lengkap, sebelumnya Mike sudah meminta Aera untuk membuatkan segelas susu hangat, saat Aera menawarkan yang lain, pria itu menolak.


"Sore."


"Kalau gitu, hati-hati ya. Semangat cari uangnya, My Sugar Daddy!" Aera melambaikan tangannya melepas kepergian Mike, gadis itu lalu kembali ke dapur untuk menghabiskan sarapannya dan merapikan dapur serta kedua kulkas mereka, sembari menunggu kedatangan Chef Yola.


"Selamat pagi, Nyonya."


"Pagi, Bibik. Bik Husna udah sarapan?"


"Sudah, Nyonya. Saya ke sini mau izin masuk ke kamar Nyonya dan Tuan untuk menaruh pakaian bersih."

__ADS_1


"Silahkan, Bik. Kamarnya nggak dikunci kok."


"Terimakasih, Nyonya. Maaf mengganggu waktu sarapan Anda."


"Nggak apa-apa, Bik, sante aja."


"Mari, Nyonya." Bik Husna tersenyum sebelum akhirnya pamit undur diri untuk melakukan pekerjaannya.


Hari itu Aera dan Chef Yola memasak sup iga, menu kesukaan Mike yang Aera ketahui dari Papa Arga, terbukti juga Mike sering memesan menu itu untuk makan siang ataupun makan malam.


Selama masih ada Chef Yola semuanya pasti bakal terselamatkan, walaupun melewati banyak rintangan, akhirnya sup iga itupun jadi, dan tidak terlalu mengecewakan untuk ukuran pemula.


"Nggak apa-apa, untuk pemula ini semua sudah luar biasa!" ucap Chef Yola menyemangati Aera. Masalahnya Aera sempat teriak ketika menumis bumbu sup karena tangannya terkena percikan minyak saat memasukkan bumbu ke dalam wajan.


"Chef yang sabar ya ngajarin Aera," ucap gadis itu, ia merasa bersalah karena terlalu sering membuat Chef Yola kaget oleh tingkahnya.


"Saya akan bantu kamu sampai bisa, sekarang istirahat dan bersih-bersih lah terlebih dahulu."


"Iya, terimakasih ya, Chef untuk hari ini."


"Sama-sama."


Setelah Chef Yola pamit pulang, disitulah Aera mulai heboh melihat sekujur tubuhnya, terutama wajah, memastikan tidak ada bagian yang lecet.


"Huh, syukurlah nggak sampe berbekas!" ucap Aera lega. Gadis itu buru-buru membersihkan dapur yang berantakan akibat kehebohannya, sebenarnya sebagian sudah dibersihkan juga oleh Chef Yola, Aera membersihkan sisanya.


Setelah membersihkan dapur dan membilas tubuhnya, Aera pun segera meninggalkan rumah dengan mengendarai mobil BMW hitamnya menuju salah satu restoran di pusat kota, berencana untuk makan siang terlebih dahulu di sana.


Tadi pagi Aera sudah bertanya pada Mike mengenai makan siang, dan pria itu menjawab akan makan siang di kantor seperti biasa, nanti kalau Aera sudah lebih mahir barulah gadis itu yang akan mengantarkan makan siang untuk Mike, begitu jawaban yang Mike berikan.


Aera juga memesan beberapa menu untuk dibawa pulang. Setelah selesai dengan urusan makan siang dan pembayaran, gadis itu kembali menancapkan gas menuju arah barat, terus melaju kencang hingga berada di pinggir kota, memasuki kawasan yang jarang dijamah oleh orang-orang kota seperti Aera.


Begitu mobil Aera berhenti di sebuah rumah yang sedang dalam tahap renovasi, seorang remaja pun berjalan mendekati mobilnya, menyambut kedatangan Aera.


"Kak Aeraaa!" seorang gadis dengan wajah yang mirip dengan remaja yang berdiri di samping Aera itu berteriak sambil berlari menghampiri Aera, tanpa canggung gadis itu mendekap tubuh Aera, erat.


"Apa kabar?"


"Baik, Kak Aera apa kabar?"


"Baik juga, Kak Aera bawain makan siang buat kalian!"


"Wah, terimakasih banyak, Kak!"


"Kak, selamat ya atas pernikahannya," ucap Nino. Remaja itu tersenyum tulus pada Aera.


"Ya, terimakasih, bagaimana dengan sekolah kalian, lancar?"


Nino dan Nina mengangguk secara bersamaan, "Lancar, Kak."


"Syukurlah, Kak Aera senang mendengarnya!"


"Kak Aera datang sendiri?" tanya Nina, karena berpikir Aera datang dengan suaminya.


"Iya, kenapa?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Nina pikir Kak Aera datang sama suami Kakak, Nina ingin berkenalan dengannya."


"Eum, kapan-kapan, ya, Kak Aera ajak dia mampir ke sini!"


"Beneran, Kak?"


"Iya, kita lihat nanti, udah-udah, sekarang ayo masuk, kalian pasti belum makan siang, kan?"


Nino dan Nina, dua remaja kembar yang tak sengaja Aera temui sekitar 1 tahun yang lalu, saat itu, Aera baru saja pulang jalan-jalan bersama teman-temannya dan jalanan benar-benar macet karena terjadi kecelakaan di depan sana.


Di tengah situasi yang cukup genting itu, tatapan Aera tertuju pada seorang gadis yang berdiri mematung tak jauh dari lokasi, Aera yang merasa terpanggil pun mendekat.


"Hai, kamu kenapa?" tanya Aera.


Gadis yang masih menggunakan seragam SMP itu terdiam, dengan air mata yang berjatuhan.


"Kemarilah." Aera merengkuh tubuh gadis itu, hingga isak tangisnya mulai terdengar.


"Kakak dan Ayahku, Kak! Mereka baik-baik saja, kan?"


"Kakak dan Ayahmu?"


"Iya, apakah mereka baik-baik saja?"


Aera terdiam, ia menoleh ke tempat di mana korban kecelakaan tadi diamankan.


"Mereka adalah keluargamu?"


"Iya."


"Kalau begitu ayo ikut Kakak!" Tanpa ragu Aera mengajak gadis itu untuk ikut masuk ke dalam mobilnya, mengikuti laju mobil ambulans yang membawa para korban.


Hari itu, Aera menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tangisan gadis yang ia ketahui bernama Nina saat mengetahui bahwa Ayahnya sudah meninggal dunia dan Kakak laki-lakinya harus dirawat karena mengalami luka yang cukup parah.


Beruntung pelaku penabrakan tersebut mau bertanggungjawab dan akan membiayai semua tagihan rumah sakit selama korban dirawat.


"Keluargamu yang lain mana? Bibik? Atau pamanmu?" tanya Aera, saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, dan Aera harus segera pulang.


"Nggak ada, Kak. Kami tidak memiliki kerabat ataupun keluarga dekat di sini."


"Ya Tuhan."


Aera yang mendengar itu benar-benar tersentuh, ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika dia yang berada di posisi Nina sekarang. Mulai sejak itulah Aera secara rutin menjenguk dan memperhatikan keadaan Nino dan Nina, mereka benar-benar tinggal berdua, tanpa siapapun.


Yang paling menyayat hati Aera adalah, Nina yang ingin putus sekolah dan berkerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, tentu saja Aera tidak membiarkan gadis belia itu untuk melakukannya, diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun Aera menggunakan beberapa uang tabungannya untuk memenuhi kebutuhan Nina dan Nino selama ini, bahkan sampai membayarkan uang SPP sekolah mereka yang tak seberapa, bahkan mungkin uang itu bisa digunakan oleh Aera dalam sekali makan.


Aera tersenyum saat melihat Nino dan Nina makan dengan lahap, Aera memang tidak memiliki kepandaian yang menonjol dalam bidang apapun, tapi kalau masalah hati, ia memiliki hati yang dipenuhi oleh kasih sayang terhadap orang-orang di sekitarnya, meski Aera tak pandai menunjukan hal itu, tapi dia benar-benar akan melakukan apapun untuk orang-orang yang membutuhkan bantuannya.


Selama ini, Aera belum menceritakan tentang Nino dan Nina pada siapapun, bahkan pada Kaela, Mama dan Papa.


"Setelah ini siap-siap lah, Kak Aera akan mengajak kalian untuk jalan-jalan!"


"Yes, jalan-jalan!" Nina terlihat begitu bahagia, setidaknya kedatangan Aera dalam hidup mereka membuat mereka tak merasa sendiri menghadapi dunia, bahkan Nino dan Nina berjanji, jika mereka sudah besar dan sukses nanti, Aera adalah orang pertama yang akan mereka cari! Karena mereka adalah keluarga!


Hari itu mereka menghabiskan waktu bersama dengan bermain di Mall, Aera juga membelikan beberapa setelan baju baru untuk keduanya, dan membelikan semua barang yang mereka inginkan. Tanpa Aera sadari, Mike dari tadi memantau pergerakan mereka dengan melacak GPS yang terpasang di mobil Aera!

__ADS_1


"Apakah dia benar-benar pergi sendiri?" gumam Mike, pria itu menatap jam tangannya, jam empat sore, itu artinya Aera akan segera pulang ke rumah. Dan benar saja, pergerakan mobil Aera sedang dalam perjalanan menuju ke perumahan tempat tinggal mereka!


__ADS_2