
Aera tak berani berkutik begitu mendapatkan tatapan datar dari Mike yang sudah menunggu kepulangannya di depan penginapan. Bahkan sampai Rut sendiri langsung kabur, entah dia pergi ke mana sekarang!
"Daddy kenapa liatin Aera kayak gitu?"
Hening. Tak ada jawaban. Namun, kedua mata Mike masih menatap ke arah Aera, datar.
"Masuk!"
Mike melangkah terlebih dahulu memasuki kamar, dengan jantung yang berdebar kencang Aera mengikuti langkahnya.
"Ada yang salah dari Aera?"
"Tadi ketemu sama siapa?" Mike balik bertanya, masih dengan wajah datar.
"Ketemu siapa?" lirih Aera, mengingat kembali siapa orang yang ia temui tadi. "Em, tadi nggak sengaja ketemu sama temen Kak Bara di Swensen’s!"
"Cowok?"
"Iya, cowok, namanya Kak Yuda, kita sering main bareng dulu," jawab Aera takut-takut.
"Hmm."
"Kenapa? Daddy nggak suka? Oh, atau jangan-jangan Daddy lagi cemburu yaaa?"
"Nggak."
"Terus? Kalau nggak cemburu? Kenapa harus segitunya natapin Aera?" Aera mencondongkan tubuhnya menggoda Mike. "Iyakan? Daddy lagi cemburu, kan?"
Mike tak menjawab, bahkan raut wajahnya tidak berubah sedikit pun sejak tadi.
"Astaga, Daddy! Ini beneran Daddy nggak mau ngaku? Atau Aera yang kepedean ya, nggak mungkin lah ya Daddy cemburu sama Aera, secara Aera kan---"
Dengan gerakan yang begitu cepat Mike menarik pinggang Aera, hingga tubuh Aera benar-benar menabrak tubuh Mike cukup keras.
"Kamu istriku!"
Uhuk. Aera hampir tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar ucapan Mike, tak sampai disitu, Aera benar-benar dibuat mati kutu ketika Mike mencium pipi kanannya dengan lembut. Hingga pipinya terasa begitu panas!
"Jangan kecewakan aku!" Hembusan napas Mike menerpa permukaan kulit wajah Aera, membuat Aera semakin membeku dengan jantung yang menggebu-gebu.
"Jadi Daddy beneran cemburu nih?"
"Hmm."
"Hahaha, masak iya cemburunya sama Kak Yuda! Jauhlah, Dad levelnya! Kak Yuda itu sama kayak Kak Bara! Nggak mungkinlah Aera suka dan ada hubungan lebih sama mereka!" ucap Aera berusaha mencairkan suasana.
"Hmm, banyak ya ternyata!"
"Eh?" Aera yang awalnya sudah berani tertawa kembali terdiam seketika itu juga.
__ADS_1
"Siapa lagi selain mereka berdua?"
"Daddy kenapa sih? Kok tiba-tiba kayak gini?!"
"Jujur aja, lebih baik aku tau dari sekarang, kan?"
"Nggak ada! Hidup Aera hanya seputar Mama Papa, Kaela dan Kak Bara!"
"Yakin?" Mike kembali merapatkan tubuh mereka.
"Iya! Daddy sendiri, ada hubungan apa sama cewek yang tadi pagi, hah? Sampai ninggalin dan nolak buat cium Aera!"
Cup.
"Udah," ucap Mike dengan enteng setelah memberikan kecupan ringan di bibir Aera.
"Ish, Daddy curang! Aera kan ceritanya lagi marah!"
"Aku nggak punya hubungan dengan siapapun selain kamu!"
"Kalau dia ternyata suka sama Daddy gimana?"
"Bukan urusanku!"
"Dia jauh lebih cantik dan seksi loh dibanding Aera!"
"Bara juga lebih baik dibanding aku!"
"Kamu yang duluan!" balas Mike tak mau kalah.
"Ya tapi kan, Aera sama Kak Bara cuman Kakak dan Adek sepupu aja, nggak lebih!" tegas Aera.
"Nggak ada yang tau gimana perasaan Bara ke kamu!"
"Nggak mungkin, Dad. Itu nggak mungkin terjadi!"
"Nggak ada yang nggak mungkin!"
"Nggak! Tetap aja nggak! Aera sama Kak Bara nggak lebih dari adek kakak!"
"Hmm."
"Jadi sebenarnya Daddy lagi cemburu sama siapa? Kak Yuda atau Kak Bara?" Aera menetap Mike lekat. Mike masih tidak menjawab seperti sebelumnya, seolah-seolah tidak ingin mengakui kalau dia memang sedang cemburu dengan dua pria itu.
"Sialan, aku terpaksa melakukan ini!" Aera berjinjit dan sedikit meraih tengkuk Mike, ia mengulum bibir bawah dan atas Mike secara bergantian. Terkesan begitu liar.
"I'm yours and you're mine, Daddy!"
"Bocah nakal!" Mike membalas dengan memberikan gigitan kecil pada bibir bawah Aera. Tanpa keduanya sadari mereka sama-sama melepaskan hasrat yang sudah cukup lama tertahan.
__ADS_1
"Boleh?" tanya Mike dengan tatapan teduh. Aera mengangguk pelan. Mike yang sudah berusaha menahan diri akhirnya lepas kendali juga, sejak kejadian di rumah Papa Arga, Mike selalu berusaha sekuat mungkin untuk mengontrol emosi dan pikirannya jika berhadapan dengan Aera, Mike tidak ingin hal yang sama terulang untuk yang kedua kalinya!
"Eum, Dad!" lenguh Aera tertahan. Kali ini berbeda, tidak ada paksaan atau cara yang kasar, sehingga Aera benar-benar menikmati setiap sentuhan yang Mike berikan.
*************
Aera yang duduk di tepi kasur memalingkan wajahnya begitu Mike keluar dari kamar mandi, melihat Mike membuat wajah Aera memerah seketika, malu rasanya setelah apa yang terjadi di antara mereka, padahal itu bukanlah kali pertama!
"Malu banget." Batin Aera, karena jelas-jelas Aera melakukan semuanya dalam keadaan sadar dan tanpa penolakan, bahkan atas dasar sama-sama mau. Momen gila yang tidak akan pernah Aera lupakan!
"Aera?"
"I-iya?" jawab Aera tanpa membalas tatapan Mike.
"Ayo, makan! Katanya lapar!"
Mike membuka makan malam yang mereka pesan sebelumnya, masih hangat. Beruntung pelayan yang mengantarkannya ke kamar mereka adalah seorang wanita, jadi Aera tidak malu untuk mengambilnya!
"Kenapa malah bengong? Makan!"
"Iya-iya ini makan!" Aera menyuap makanannya dan mengunyah dengan pelan, matanya menatap ke sembarang arah, asal jangan sampai tatapannya bertemu dengan Mike!
Mike yang menyadari hal itu tentu merasa tidak nyaman. "Aera? Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa, Dad."
"Liat sini!"
Bukannya menurut Aera malah membuang muka. "Aera beneran nggak apa-apa!"
"Terus kenapa ngehindarin kontak mata dari tadi?" tanya Mike tak peka! Dia tidak saja kalau Aera sedang menyembunyikan rasa malunya!
"Kamu beneran nggak kenapa-kenapa, kan?"
Aera mengangguk cepat. Terdengar Mike menghembuskan napas pelan.
"Ya udah kalau gitu makan yang banyak!"
"Aera lagi diet!"
"Oh, lagi diet ya?" Mike mengangguk-angguk pelan, pasalnya apa yang Aera ucapkan tidak sesuai dengan tindakannya yang sudah menghabiskan hampir setengah menu makan malam mereka!
**********
Bara menghembuskan napas pelan, ia kembali meletakkan bingkai yang berisi foto masa kecil mereka, di mana Bara berdiri di tengah-tengah dua gadis kecil yang sedang berebutan ingin menggandeng tangannya. Aera dan Kaela, dua gadis yang sudah mengisi hampir setiap hari yang Bara lewati, tumbuh bersama, hingga tanpa Bara sadari sudut pandangnya pada salah satu gadis itu mulai berubah.
Bukan lagi sekedar kasih sayang kepada seorang adik perempuan, tapi pada seorang gadis yang sudah berhasil mendobrak hatinya, tingkah manja yang selalu menempel pada Bara membuat perasaan itu kian kuat dan bertambah.
Aera, gadis yang memiliki wajah cantik dan manis dengan senyum cerianya, tidak ada yang bisa menolak pesona itu, termasuk Bara. Selain kecantikannya, ada satu hal yang membuat Bara begitu jatuh pada pesona Aera, yaitu kelembutan hatinya, hati yang selalu menebar kasih sayang pada orang di sekitarnya, yang peduli pada siapapun tanpa pernah memandang rupa.
__ADS_1
Bohong jika Bara katakan kalau dia sudah bisa menerima semua fakta ini, fakta kalau Aera sudah tak lagi ada di sisinya seperti dulu, fakta kalau Aera sudah jatuh pada pelukan orang lain, fakta kalau bukan dia lagi yang akan Aera cari di saat suka dan dukanya nanti.
"Yuda benar, tidak akan pernah ada kemenangan bagi seorang pecundang!"