
Saat Aera bangun, Aera tidak mendapati Mike lagi di sisinya, handphone pria itu juga tidak ada di atas meja, padahal jam masih menunjukkan pukul enam pagi.
Gadis itu termenung cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi dan akan turun untuk sarapan.
Saat Aera hendak mengambil baju ganti, saat itulah dia sadar kalau keranjang pakaian kotor mereka sudah kosong dan di saat itu juga Aera mengingat ucapan Mike semalam saat mereka sedang makan malam, kalau mulai hari ini akan ada ART yang akan membantu Aera menyelesaikan pekerjaan rumah.
Aera tersenyum, setidaknya sekarang dia memiliki temen untuk sekedar mengobrol selama Mike sibuk dengan urusan pekerjaannya!
"Selamat pagi, Nyonya," sapa seorang wanita yang Aera perkiraan masih berumur 39-43 tahun, wanita itu tersenyum ramah ke arahnya, terlihat begitu tulus.
"Selamat pagi juga, panggil saja Aera," ucap Aera canggung.
"Tidak, Nyonya, Anda adalah istri Tuan Mike, jadi saya juga harus menghormati Anda. Sebelumnya, perkenalkan nama saya Husna, Tuan Arga yang meminta saya untuk melayani Anda. Kalau Nyonya butuh apa-apa, saya ada di belakang."
"Terimakasih, kalau begitu apakah boleh Aera memanggil dengan panggilan Bibik?"
"Tentu saja, Nyonya. Saya akan menyiapkan semua kebutuhan Tuan dan Nyonya, kecuali memasak, maaf, Tuan Mike sendiri yang memintanya."
"Iya, nggak apa-apa, Bik. Itu sudah menjadi kesepakatan kami."
Bik Husna dan Aera mengobrol cukup lama, dari percakapan itu juga Aera mengetahui kalau Bik Husna bekerja untuk keluarga Mike cukup lama, kurang lebih dua belas tahun dan selama ini dialah yang mengurus semua keperluan Mike, sehingga tidak sulit baginya untuk mengetahui semua hal yang berkaitan tentang Mike.
"Nyonya tenang saja, Tuan Mike aslinya baik sekali, dia pria yang memiliki tanggungjawab yang luar biasa dan memang sedikit cuek. Saya ikut bahagia ketika mendengar Tuan Mike akan menikah dengan Anda."
Aera tersenyum mendengar penuturan Bik Husna. Setelah merasa tidak ada lagi yang ingin Aera tanyakan, Bik Husna pun pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya, begitu pun dengan Aera yang melangkah menuju dapur, hendak membuat sarapan.
"Buatin Daddy juga nggak ya?" gumam Aera saat memoleskan selai pada roti tawar yang menjadi menu sarapan andalannya.
"Buatin aja dulu, siapa tau lagi lari pagi, nanti kalau dia nggak pulang-pulang, biar aku yang makan, hihihi!"
Aera juga merebus empat butir telur, lalu mencuci beberapa buah, sebelum dikupas dan dipotong-potong, tak lupa membuat dua gelas susu hangat seperti biasa.
Tak butuh waktu lama semua sudah terhidang dan tertata rapi di meja makan, bersamaan dengan itu Aera juga mendengar langkah kaki seseorang yang berjalan mendekati dapur. Benar saja dugaan Aera, Mike baru pulang lari pagi, hal itu terlihat jelas dari pakaian yang ia gunakan, serta keringat yang membasahi tubuhnya.
"Sarapan di belakang aja!" ucap Mike saat tatapannya beradu dengan Aera, pria itu juga membantu membawakan dua piring yang berisi potongan buah yang terlihat begitu segar dan roti tawar yang sudah diolesi selai. Alhasil keduanya sarapan bersama di tepi kolam renang.
Tidak, lebih tepatnya Aera yang sarapan duluan, sedangkan Mike masih asik di dalam kolam.
Tatapan Aera yang tadinya tertuju pada kolam renang kini teralih saat handphone Mike tiba-tiba saja berdering, ada panggilan dari nomer yang tak dikenal.
"Daddy! Ada yang nelpon!"
__ADS_1
"Siapa?"
"Nggak tau, nomer asing!"
"Biarin aja!" jawab Mike santai, pria itu naik setelah merasa puas berendam.
"****!" Aera langsung membuang muka saat melihat Mike naik dari kolam, pasalnya pria itu naik hanya dengan menggunakan boxer hitam, baju dan celananya entah dibuang kemana!
Dengan lilitan handuk di pinggangnya Mike pun mendekat dan duduk di samping Aera, dengan wajah santai ia meraih susu yang masih hangat, meneguknya hingga setengah, lalu mengambil roti tawar dengan selai coklat. Tanpa memperdulikan handphonenya yang kembali berdering.
"Kenapa nggak diangkat? Siapa tau penting!"
"Nggak."
Mike malah mematikan handphonenya dan kembali mengambil roti tawar yang tersisa di atas piring.
"Mau Aera ambilin lagi?"
Mike menggeleng. Sementara Aera dengan susah payah menjaga matanya agar tidak terus menerus menatap dada Mike yang terpampang jelas, sialnya semakin Aera menghindar, semakin matanya tertuju ke sana, seolah-seolah dada bidang itulah yang memanggil-manggil Aera untuk terus melihat ke arahnya.
"Mau pegang?" tanya Mike membuat Aera gelagapan. Sial! Pria itu ternyata menyadarinya!
"Nggak minat!"
Tangan Mike yang dingin tiba-tiba saja meraih tangan Aera, meletakkan tangan gadis itu tepat di dadanya.
"Peganglah, mumpung aku sedang berbaik hati!"
glek.
Mike menahan tangan Aera, membuat Aera kesusahan untuk menelan ludah dan bernapas dengan normal, hingga saat tangan gadis itu menyentuh perutnya, Mike tiba-tiba saja melepaskan genggamannya pada tangan Aera.
"Dasar cabul!" ucap Mike membuat Aera langsung menjauhkan tangannya, pria itu tertawa kecil karena berhasil mengerjai Aera.
"Sumpah, nyebelin banget!"
"Mau lagi? Atau mau pegang yang lebih?"
"Nggak! Nggak minat! Nggak mau juga!"
"Yakin?"
__ADS_1
"Iya!!" Aera bangun, ia menatap Mike tajam. "Awas ya! Tunggu pembalasan Aera!"
"Iya-iya, ditunggu!"
"Ish! Dasar suami cabul ngeselin!"
Aera hendak memukul bahu Mike tapi pria itu terlebih dulu menahan tangannya, membuat tatapan mereka kembali beradu.
"Lepasin!" teriak Aera cukup keras, mau tak mau Mike melepaskan pergelangan tangan gadis itu, daripada nanti Aera berteriak lebih keras lagi, yang ada Mike dikira melakukan kekerasan dalam rumah tangga padanya!
"Sarapanmu!" teriak Mike pada Aera yang melangkah cepat meninggalkan halaman belakang.
"Habisin aja!"
"Dasar bocah!"
Tapi benar saja, Mike menghabiskan semua buah yang sudah Aera potong-potong hingga tak tersisa apapun lagi, bahkan telur rebus itupun lenyap seketika.
*****
Tepat pukul sepuluh pagi, Chef Yola mendatangi kediaman Aera, sesuai permintaan gadis itu semua proses belajar memasaknya akan dilakukan secara rutin di rumah, dari jam sepuluh hingga jam dua belas nanti. Untuk hari pertama, Chef Yola akan memperkenalkan semua bagian dapur terlebih dahulu, mulai dari alat-alat dan bahan-bahan, apa saja nama dan fungsinya.
Aera yang memang tidak memiliki skill memasak terlihat begitu serius menyimak penjelasan Chef Yola, meski salah berulang kali dalam menyebutkan nama bumbu-bumbu dapur, tak membuat Aera menyerah, ia terus mencoba sampai mengenal dan bisa membedakan semuanya.
Walaupun Aera tak memiliki dasar apapun, tapi Chef Yola tidak kesulitan dalam mengajar, bahkan Aera terlalu sering meminta maaf jika dia terus meminta Chef Yola untuk mengulangi ucapannya.
Setelah satu jam berkenalan dengan dapur dan isinya, Aera pun meminta Chef Yola mengajari bagaimana cara membuat omelet atau telur dadar yang benar.
Untuk hari pertama cukup memuaskan, Aera sudah cukup memahami dasar-dasar untuk memasak. Awal yang bagus untuk Aera. Selain itu, Chef Yola juga memberikan buku menu dan resep memasak yang lengkap dengan cara dan bahan-bahan, Chef Yola meminta Aera untuk memilih satu menu yang akan pelajari besok, untuk semua bahan akan disiapkan oleh Chef Yola!
"Huh, capek juga ya!" Aera menyandarkan punggungnya pada sofa, di atas meja ada minuman dingin yang baru ia ambil dari kulkas, setelah selesai mengajari Aera, Chef Yola langsung pamit undur diri.
"Si Daddy mana ya?" gumam Aera, ia menatap ke arah tangga, gadis itu terlalu fokus dan bersemangat tadi sampai tidak menyadari apakah Mike keluar rumah atau tidak sejak tadi?
Untuk memastikan, Aera pun naik ke lantai dua, sekalian juga ia ingin mandi dan istirahat siang.
Saat pintu kamar terbuka, Aera tidak menemukan siapapun di sana. Bahkan laptop yang biasa Mike pakai tidak ada di tempatnya.
"Apa dia pergi bekerja?"
Aera mengecek handphonenya, Mike ternyata tidak meninggalkan pesan apa-apa.
__ADS_1
"Kebiasaan suka ngilang tanpa kabar!"