Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 10: Kebetulan?


__ADS_3

Alena jelas merasa sangat kaget ketika dirinya mendapatkan sebuah ciuman yang tiba-tiba itu, dirinya jelas tidak tinggal diam dan segera mencoba mendorong pria yang ada di depannya itu.


Sean, tentu saja cukup gigih untuk melanjutkan ciuman itu, sampai Alena segera mengibaskan tangannya untuk mendorong pria itu dengan keras hingga jatuh.


Sean, yang jatuh itu segera mencoba bangun dia jelas merasa kesal dan berkata,


"Alena! Kamu berani mendorongku!!"


Namun bukannya mendapatkan jawaban, kali ini Sean langsung kena tampar di pipinya.


"Dasar brengsek! Jangan berani untuk menyentuhku!!"


Sean yang mendapatkan tamparan itu, jelas menjadi marah lagi.


"Cih, apa-apaan itu, Kenapa kamu sok jual mahal sekali padaku? Padahal aku lihat kamu sepertinya juga suka bermain-main dengan Pria lainnya,"


Alena yang mendengar itu, jelas segera marah lagi, benar-benar tidak bisa menahan emosinya di depan pria kurang ajar itu.


"Kamu jangan bicara sembarangan soal aku!"


"Aku melihat bagaimana kamu tadi dekat dengan seorang Pria,"


Alena jelas menjadi heran, dengan apa yang dikatakan oleh pemuda yang ada di depannya itu.


"Sungguh itu bukan urusanmu aku akan dekat dengan siapapun!"


Sean yang mendengar itu, segera memojokan Alena di pintu, dan memengang tangannya dengan kasar.


"Apakah kamu lupa? Saat ini Aku adalah Suamimu!"


Alena yang tiba-tiba diingatkan dengan status mereka berdua itu, jelas merasa tidak nyaman.


"Kita hanya suami istri di atas kertas, Kamu sendiri yang harusnya paham soal itu,"


"Lalu? Ada apa dengan itu? Bahkan walaupun itu hanya di atas kertas, kamu tetaplah Istriku, kamu seharusnya tidak bisa bermain-main dengan Pria lain, setidaknya selama pernikahan kita,"


"Kamu tidak memiliki hak untuk mengaturku!"


"Sungguh, Kenapa kamu itu sangat menyebalkan?"


"Kamu itu yang menyebalkan!! Kamu bahkan melakukan pelecehan barusan padaku!"


"Pelecehan apa? Ciuman itu? Itu jelas tidak termasuk pelecehan, bahkan itu malah sah-sah saja, mau bagaimanapun kamu tetaplah Istriku, tentu aja aku berhak atas kamu termasuk menciummu, kamu bahkan memiliki kewajiban yang harus kamu lakukan sebagai seorang Istri bukan?"


Alena yang mendengar ucapan pria yang ada di depannya itu semakin tidak masuk akal jelas menjadi tidak mengerti.


"Aku sungguh tidak sudi disentuh sedikitpun oleh pria brengsek sepertimu!! Dan lagi kenapa kamu tiba-tiba menjadi seperti ini padaku? Jangan bilang kamu jatuh cinta padaku? Astaga, Aku tidak mengira Jika kamu segampang itu," kata Alena dengan nada santai sekaligus tertawa setelah mengatakan itu.


Sean yang mendengar tuduhan itu, jelas merasa tambah kesal.


"Mana mungkin aku jatuh cinta pada gadis menyebalkan sepertimu? Akkhh, lupakan saja soal hal-hal barusan, yang jelas lama kamu masih menjadi Istriku Jangan berharap kamu bisa berhubungan dengan Pria manapun!"


Setelah mengatakan itu, Sean segera pergi dari tempat itu, meninggalkan Alena dalam kebingungannya.


Alena benar-benar tidak mengerti dengan tingkah menyebalkan dari pemuda itu.


Hal-hal yang di katakan oleh Pemuda itu benar-benar cukup konyol untuk Alena.

__ADS_1


Dirinya hanya berharap tidak lagi bertemu dengan pemuda itu dalam waktu dekat.


Namun mana tahu begitu dirinya memasuki kelas, diantara deretan para mahasiswa, dirinya melihat wajah familiar yang sangat menyebalkan.


Sungguh dirinya merasa memiliki keberuntungan yang sangat buruk bisa-bisanya harus satu kelas dengan pemuda itu, padahal biasanya mereka jarang ada di kelas yang sama, bahkan walaupun mereka dari satu jurusan.


Tatapan mereka berdua segera bertemu.


Jelas, Alena juga merasakan tatapan tidak suka dari pemuda itu.


Siapa lagi kalau bukan Sean Xavier Dirgantara?


Hah, dirinya mengenal orang bermana Xavier yang lain, yang benar-benar memiliki kepribadian yang sangat terbalik daripada pemuda yang ada di kelasnya itu.


Lalu, Alena segera menyapa beberapa temannya yang lainnya, memutuskan untuk mengabaikan pemuda menyebalkan itu.


Kemudian kelas itu pun segera dimulai dengan beberapa pengenalan singkat dari Dosen.


Karena ini mahasiswa semester enam, tidak perlu terlalu banyak pengenalan, Dosen itu langsung membahas soal materi-materi apa yang akan mereka bahas selama satu semester kedepan.


Sampai bahasan tertuju pada kegiatan presentasi yang akan diadakan selama satu semester kedepan.


Jadi setiap minggunya, akan ada satu kelompok yang presentasi.


Dan sekarang adalah saatnya untuk pemilihan kelompok yang dilakukan secara random.


Dengan cara mulai berhitung, satu sampai 13.


Mana tahu, kesialan lagi-lagi Alena rasakan.


Kali ini, ketika kelompok mulai berkumpul sesuai nomor yang didapatkan, Alena melihat bagaimanapun Sean mendatangi kelompok yang sama dengan dirinya.


Alena sekali lagi hanya menghela nafas ketika menatap pemuda itu yang sekarang mulai duduk di sampingnya karena tempat duduk lain di sekitar kelompok mereka sudah penuh.


"Wow, untuk berpikir dua orang mahasiswa terbaik di Jurusan kita bisa satu kelompok, ini benar-benar sangat beruntung,"


Itu adalah kata-kata dari mahasiswi yang tidak tahu hubungan antara Alena dan Sean yang bermusuhan.


"Semoga semuanya berjalan dengan baik satu semester kedepan di kelas ini, mohon bantuannya semuanya," kata Alena bersikap sopan.


Sean, hanya melirik sekilas ke arah Gadis itu dan tidak mengatakan apapun.


Untuk orang-orang yang tahu betapa buruknya hubungan antara dua orang itu mereka hanya bisa menghela nafas, semoga saja tidak terjadi hal-hal tidak enak selama satu semester ini.


Baik Sean atau Alena, dua-duanya memilih untuk tidak menatap satu dan mengabaikan satu sama lainnya.


Alena hanya berpikir setidaknya dirinya cukup menahan satu kelas dengan orang menyebalkan itu.


Ya, ini hanya satu kelas dan satu kelompok di mata kuliah itu harusnya tidak apa-apa selama di tempat lain tidak bertemu dengan pemuda itu.


Mana tahu, ketika Alena memasuki kelas yang lainnya, lagi-lagi dirinya bertemu dengan sosok wajah yang familiar.


Alena kali ini datang cukup terlambat untuk memasuki kelas itu sehingga sebagian kursi penuh.


Hanya ada satu tempat duduk disana yang tersisa, yaitu di samping Sean.


Sean yang menatap ke arah Alena hanya bisa menghela nafas karena merasa sial harus bertemu dengannya.

__ADS_1


Alena pasrah, untuk duduk di sana.


Sangat beruntung, jika kelas itu setidaknya tidak ada acara pembagian kelompok, setidaknya Alena merasa aman, dan tidak mungkin akan satu kelompok dengan Pemuda menyebalkan itu.


Namun sayangnya, harapan hanya sebuah harapan.


Kali ini, untuk ketiga kalinya hari itu, Sean dan Alena memasuki kelas yang sama.


Karena ini merupakan kelas yang ketiga, Alena yang merasa kesal segera mendatagi tempat duduk Sean.


"Apakah kamu memang sengaja memilih kelas yang sama denganku untuk membuatku kesal?"


Sean yang mendengar kata-kata itu hanya berkata dengan nada tidak kalah kesal,


"Kamu pikir aku sekurang kerjaan itu sampai repot-repot melihat jadwalmu? Aku pikir kamu yang ingin mengikutiku masuk kekelas,"


"Kamu pikir aku sudi?"


Setelah mengatakan itu, Alena segera pergi dari kursi Sean, mencari tempat lain yang kosong untuk duduk, untunglah kali ini masih banyak tempat kosong.


Namun sangat sial, di pembagian kelompok kali ini, Alena satu kelompok lagi dengan Sean.


Dua-duanya saling melotot satu sama lainnya, hanya merasa jika hal-hal ini sangat tidak wajar.


Namun, baik Sean dan Alena, tidak tahu harus memulai dari mana soal ketidakwajaran ini.


Kali ini, Alena segera bertanya soal jatwal Sean.


"Kamu bertanya?"


"Kenapa tidak segera tunjukkan saja jadwalmu? Aku hanya tidak ingin melihatmu di setiap kelas yang aku masuki,"


Sean lalu segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan jadwal kelasnya kepada Alena.


Dan gilanya, jatwal Alena sama persis dengan jatwal milik Sean, hanya ada satu kelas saja yang mereka berdua tidak sama.


"Kamu jelas-jelas meniru jadwalku!" Protes Alena.


"Cih, Aku seharusnya yang bilang padamu seperti itu!"


"Lalu kenapa bisa jadwal mu itu sangat mirip dengan jadwalku? Kalau hanya satu atau dua mata kuliah Aku cukup maklum, namun ini hampir semua mata kuliah jadwal mu sama dengan jadwalku,"


Sean hanya mengelengkan kepalanya, karena dirinya juga tidak tahu kenapa jadwal ini bisa mirip.


Awalnya, jatwal kuliah miliknya saat masa pendaftaran mata kuliah, jatwal miliknya tidak seperti ini.


Namun di hari terakhir, jatwal miliknya tiba-tiba berubah menjadi seperti ini.


Ketika dirinya sadar, waktu pendaftaran mata kuliah sudah berakhir, jadi dirinya tidak bisa apa-apa atau mencoba merubah jadwal.


Hah, namun ini gila...


Untuk jatwal ini bisa sama dengan punya Alena?


Apakah ini benar-benar kebetulan?


Sean, benar-benar merasa tidak tahu lagi, karena hal-hal ini begitu gila jika dirinya memikirkannya.

__ADS_1


__ADS_2