Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 26: Haruskah Percaya?


__ADS_3

Alena jelas merasa cukup kaget dengan hal-hal yang barusan dirinya dengar, jika Pemuda yang ada di hadapannya ini seseorang yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Sean, bukanlah Sean, namun merupakan saudara kembar Sean.


Alena rasanya mustahil untuk mempercayai omong kosong apa yang ada di depannya itu, bisa saja Sean ingin menupunnya?


Dirinya tidak pernah dengar jika Sean memiliki seorang saudara kembar.


"Aku tahu mungkin kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan, namun Aku memang saudara kembar Sean, kami berdua kembar identik, bukankah kamu sendiri memiliki saudara kembar?


Alena yang mendengar itu segera mundur ke belakang masih benar-benar tidak mempercayai dengan hal-hal yang baru saja didengarnya.


Semuanya masih terasa tidak masuk akal.


Sean memiliki saudara kembar?


"Bagaimana bisa?"


Pemuda yang ada di hadapan Alena itu hanya segera menghela nafas lalu menunjukkan ekspresi sedih.


"Kamu tahu, Keluarga Dirgantara memiliki struktur keluarga yang cukup rumit,"


Ada nada kesedihan ketika pemuda itu mulai mengatakan itu, namun dia tetap melanjutkan kata-katanya,


"Aku berbeda dengan Sean yang diakui oleh Ayah Kami, Aku tidak sepintar ataupun sehebat Sean untuk bisa dibanggakan oleh Keluarga, keberadaanku bisa dibilang merupakan sebuah aib untuk keluarga, itulah kenapa, keberadaanku tidak dipublikasikan ke Publik, yang Keluarga Dirgantara butuhkan adalah seorang calon Pewaris yang pintar, berkarisma, berbakat dan hebat. Keluarga ini sudah memiliki Kak Arthur Dirgantara, Kakak tertua kami, dan Sean, mereka berdua sangat berbakat dan juga hebat, bersaing demi menjadi calon pewaris berikutnya, tidak ada tempat untuk orang sepertiku yang tidak berbakat dan tidak pintar seperti mereka berdua,"


Seolah ada sebuah nada terputus asaan ketika pemuda itu mengatakan semua cerita itu.


Alena yang mendengarnya tentu saja cukup terkejut, dirinya sebelumnya pernah mendengar cerita jika Sean lahir di Luar Keluarga Dirgantara anak di Luar Nikah, baru ketika berumur 9 atau 10 tahun anak itu dibawa kembali masuk ke dalam Keluarga Dirgantara.


Alena teringat juga cerita dari Papa dan Mamanya tentang Keluarga Dirgantara itu seperti apa, mereka adalah sebuah keluarga yang memiliki reputasi yang cukup buruk dan memiliki hubungan dengan bisnis gelap di dunia bahwa.


Banyak misteri tentang keluarga mereka dan semua hal soal mereka, hal-hal yang tidak dipublikasikan tentu semua orang tidak akan tahu.


Sebenarnya cukup masuk akal jika keluarga semacam itu memiliki anggota keluarga atau anak tersembunyi yang tidak dipublikasikan ke publik.


Keluarga itu merupakan keluarga yang cukup keras, jahat dan kejam jadi siapa yang tahu tentang bagaimana mereka yang sebenarnya di balik layar, dan dengan cara seperti apa mereka membesarkan calon pewaris mereka.


Kepala Keluarga Dirgantara yang sekarang, yaitu Ayah Sean, Geovanni Dirgantara adalah seorang yang sangat licik.


Namun bagaimana dengan putranya Sean?


Alena juga merasa jika Sean itu licik.


Hal-hal soal Pernikahan antara mereka berdua siapa yang tahu jika itu hasil rekayasa dari Sean?


Lalu soal Xavier...


"Lena, satu hal yang harus kamu tahu aku sangat mencintaimu, hanya ini yang bisa aku katakan pada aku harap kamu mempertimbangkan aku," kata pemuda itu, lalu terlihat hendak pergi dari sana.


Alena saat ini masih terdiam karena tidak tahu harus merespon seperti apa apakah dirinya harus percaya jika pemuda itu bukan Sean?


Atau dia Sean?


Namun mereka berdua memang terlihat cukup berbeda...

__ADS_1


Namun bagaimana jika perbedaan yang mereka buat itu adalah hal-hal yang di segaja?


Lalu apa yang harus dirinya lakukan jika memang Sean adalah Xavier?


Alena lalu menatap ke arah pemuda itu yang saat ini membalikkan punggungnya dan terlihat akan pergi dari sana.


Ketika menatap pemandangan itu, entah kenapa Alena menjadi begitu sedih, merasa jika dirinya tidak mempercayai pemuda itu, seolah pemuda itu benar-benar akan pergi dan mereka tidak akan pernah bertemu kembali.


Seperti bagaimana pemuda itu pergi dan menghilang secara tiba-tiba dulu, perasaan kehilangan penyesalan karena tidak bisa melihatnya lagi benar-benar terasa sangat menyedihkan.


Alena sejujurnya tidak ingin merasakan sesuatu seperti itu lagi.


Dari sini, Alena mulai menyadari tentang perasaannya yang sesungguhnya bahwa pemuda itu mungkin sudah memasuki hatinya lebih daripada yang dirinya kira.


Cinta yang dirinya rasakan pada pemuda itu begitu dalam...


Namun bagaimana jika dia benar-benar Sean?


Tidak, mari pikirkan jika Pemuda itu benar-benar orang yang berbeda dengan Sean, jika dirinya membiarkan pemuda itu pergi seperti ini begitu saja...


Alena merasa dirinya akan menyesalinya...


Dirinya masih tidak tahu apakah ingin mempercayainya atau tidak.


Namun yang paling penting saat ini dirinya tidak bisa melihat pemuda itu pergi seperti itu begitu saja.


Jadi untuk saat ini dirinya akan memilih untuk menjeda untuk percaya dan akan menyelidiki hal ini lebih lanjut nanti.


Hanya, saat ini dirinya tidak bisa melihat dia pergi...


"Kamu jangan pergi seperti ini seolah-olah aku tidak bisa melihatmu lagi,"


Pemuda itu yang saat ini sudah melepaskan kacamatanya segera berbalik ke arah Alena, dan mempererat pelukan itu.


"Apakah kamu sekarang percaya padaku?"


"Aku masih tidak tahu,"


Pemuda itu sekarang mulai melepaskan pelukannya dan menatap Alena.


"Namun apakah tidak apa-apa dengan wajah ini? Aku pikir kamu akan tidak menyukai penampilanku yang seperti ini,"


Alena yang ditatap itu, tiba-tiba merasa sedikit aneh.


Ya, mau dilihat dari segimanapun, pemuda yang ada di depannya ini memiliki wajah yang hampir sama dengan Sean, terlalu mirip dan hampir membuat mereka berdua seperti satu orang.


Alena lalu dengan sedikit memikirkan tentang bagaimana mereka berdua juga memiliki tinggi yang sama.


Hanya sekarang ketika menatap wajah itu yang terlihat tersenyum dan ada dalam jarak yang begitu dekat rasanya masih sangat aneh.


Alena tanpa sadar segera menyentuh wajah itu, meraba pipi pemuda yang ada di hadapannya itu dengan tangannya.


Alena menatap wajah itu lekat-lekat sambil memegangnya dengan jarak yang cukup dekat.

__ADS_1


Menatap mata indah itu dari dekat, dan Alena sekarang juga bisa melihat bulu mata lentik yang terlihat ketika di tatap dari dekat, Alena lalu mulai menyentuh salah satu kelopak mata itu dengan tangannya.


Alena cukup mengakui jika wajah ini tampan, seolah seperti mahakarya Sang Pencipta yang sangat indah.


Namun dirinya tidak ingin mengakui itu karena yang memiliki wajah itu adalah orang yang menyebalkan.


Namun setelah memikirkan bahwa yang memiliki wajah tampan adalah 'Xavier'nya, Alena entah kenapa merasa wajah ini memang terlihat tampan.


"Kamu tidak menyukainya Lena?"


Alena segera menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu meletakkan tangannya di kepala bagian belakang pemuda itu, dan menariknya dengan cepat agar dirinya bisa mencium pemuda itu.


Itu adalah ciuman yang singkat, saat Alena melepaskannya, dilihatnya lagi wajah yang terlihat cukup familiar namun di sisi lain juga tidak begitu familiar.


"Kamu menyukai wajah ini, Lena?" tanya pemuda itu dengan ekspresi penasaran.


"Itu tergantung siapa yang memilikinya,"


"Pfff... Kamu aneh..."


"Aku juga merasa Aku aneh, namun ini tidak begitu buruk seperti yang Aku kira,"


Ya, Alena sempat berpikir, jika berciuman dengan pemilik wajah ini akan buruk dan menjijikan seperti terakhir kali Sean dengan paksa menciumnya dulu.


Namun ketika dirinya memikirkan jika yang dirinya cium adalah 'Xavier' ciuman ini terasa tidak buruk sama sekali, dirinya cukup menyukainya bahkan setelah melihat wajah ini...


Tidak...


Jika ini Sean, apakah benar-benar terasa buruk?


Alena tiba-tiba mulai meragukan tentang dirinya sendiri.


Kenapa dirinya begitu mudah menerima wajah ini?


Ini masih wajah yang mirip Sean yang menyebalkan.


Namun pemuda yang ada di hadapannya ini sangat lembut dan baik berbeda dari beberapa pemuda kasar yang menyebalkan itu.


Dirinya selalu berpikir jika, sangat sia-sia wajah tampan seperti itu di miliki oleh orang menyebalkan seperti Sean.


Alena tentu saja tidak bisa mengelak jika dirinya memiliki selera yang cukup tinggi untuk seorang pria, terutama setelah dirinya memiliki Kakak setampan Alexander Smith.


Jika dirinya menyukai seorang Pria, mungkin alangkah lebih baik jika memiliki level ketampanan seperti kakaknya itu atau setidaknya seperti itulah.


Sean memang setampan itu, namun sangat menyebalkan.


Jadi ketika memikirkan jika ada orang setampan itu dan memiliki sikap ramah dan tidak menyebalkan seperti Sean, ini adalah hal yang baik.


Kembaran Sean, memiliki wajah yang sama dengannya namun memiliki kepribadian yang seolah benar-benar sangat berbeda dengannya.


Jadi apakah dirinya harus benar-benar percaya jika orang yang ada di hadapannya ini benar-benar berbeda dari Sean?


Bahwa dia benar-benar Saudara Kembar Sean?

__ADS_1


Alena terlalu pusing untuk memikirkan itu, namun segera sebuah ciuman hangat mendarat di bibirnya, Alena memilih untuk menikmatinya saja daripada terlalu banyak berpikir.


__ADS_2