Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 18: Mereka Dekat?


__ADS_3

TMPS Chp 18


####


Chapter 18: Penghiburan


####


"Kak Natasya benar tidak ada yang baik untuk memikirkan hal-hal tentang orang menyebalkan itu, bagaimana jika kita pergi ke salah satu restoran untuk mencari makan saja? Aku sebenarnya cukup lapar," kata Alena mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dirinya benar-benar tidak ingin untuk memikirkan soal masalalu Sean, jika kakak iparnya ini membicarakan lebih banyak mungkin rasa ingin tahu kecil yang ada di hatinya akan semakin tumbuh, jelas itu bukan merupakan hal yang baik.


"Tentu, Mari kita pergi ke restoran Ayam goreng, aku tiba-tiba ingin makan di restoran ayam goreng yang ada di lantai bawah,"


"Baiklah, Mari kita berdua segera kesana,"


Mereka berdua segera menuju ke lantai bawah, didampingi oleh dua orang pengawal yang memang mengawal keamanan mereka berdua dari tadi, yang juga membantu membawa barang belanjaan mereka.


Makan siang itu, berjalan dengan tenang dan mereka menikmati makan siang itu, sampai kemudian di tengah-tengah waktu makan mereka ada wajah-wajah yang familiar memasuki restoran itu.


Kebetulan Alena Dan Natasya duduk di dekat pintu masuk jadi begitu seseorang masuk tentu saja melihat ke arah mereka berdua.


Itu adalah Neila dan Sean yang masuk, Neila yang melihat wajah yang dikenalnya itu jelas segera menyapa mereka berdua.


"Kak Natasya? Kebetulan sekali kita bertemu disini,"


Natasya yang di sapa itu sedikit merasa canggung, namun segera menatap ke arah Alena Yang sepertinya tidak keberatan jika menyapa mereka berdua.


"Ya, Neila lama tidak bertemu. Aku dengar kamu kuliah di luar negeri? Aku cukup terkejut melihatmu di sini," kata Natasya dengan sopan.


"Aku kebetulan sedang mengikuti program tukar studi di sini jadi untuk beberapa bulan aku akan berada di negara ini, juga aku di sini untuk mengatur acara Pertunanganku dan Sean dua minggu lagi saat hari Ulang Tahunku, benar bukan sayang?" kata Neila sambil merangkul mesra ke arah Sean, mencoba untuk mencari persetujuannya.


Tatapan mata Sean bertemu dengan tatapan mata Alena sekilas, jelas sekali ada kecandungan di antara mereka.


Sean yang melihat tatapan mata arena itu tiba-tiba sedikit merasa bersalah, rasanya seperti dirinya tiba-tiba kepergok selingkuh.


Sean baru saja sadar, jika pikirannya barusan cukup kacau selingkuh apa mereka berdua atau benar-benar tidak memiliki hubungan?

__ADS_1


Alena saja tempo hari pergi bersama seorang pria terang-terangan di depannya, jadi apa yang salah jika dirinya bersama dengan Neila?


"Itu benar," kata Sean sambil tersenyum.


"Kak Natasya harus datang nanti jika tidak keberatan,"


"Ya kita lihat saja nanti," kata Natasya terlihat tidak menjanjikan apapun.


Pandangan Neila lalu segera menuju ke arah seorang gadis yang bersama dengan Natasya yaitu Alena.


"Kalau, siapa itu yang bersama dengan Kak Natasya?"


Natasya jelas merasa sedikit canggung ketika ditanya itu namun segera mencoba memperkenalkan adik iparnya itu.


"Ini adik Iparku, Alena Smith,"


Alena hanya menganggukkan kepala mencoba bersikap sopan kepada gadis bernama Neila, walaupun hubungan keluarga mereka namun bukan berarti dirinya harus bersikap tidak sopan, anggap saja ini sebagai semacam formalitas.


Neila segera menunjukkan ekspresi terkejut, karena dia berada di luar negeri dan fokus dengan studinya tentu saja dia tidak begitu tahu dengan informasi atau kabar-kabar yang ada di sini.


"Begitulah,"


Sean sendiri merasa jika dirinya menjadi semakin tertekan dan canggung jika terus ada di sana, jadi dirinya mencoba untuk mengajak Neila pergi.


"Neila, Mari kita segera mencari tempat duduk saja tidak enak untuk mengganggu Kak Natasya dan Saudari Iparnya itu,"


"Astaga, Sean sayang? Kenapa kamu begitu buruk dulu aku rasa tidak masalah untuk mengobrol dengan kalian berdua bukan?" kata Neila lagi.


"Neila sudahlah, bukankah kamu tadi yang bilang ingin berkencan berdua denganku saja?"


Neila yang mendengar itu segera menunjukkan ekspresi sedikit malu.


"Berhenti bicara omong kosong yang membuatku malu," katanya sambil mencubit pipi Sean.


"Aw, sakit, kenapa kamu dari dulu sangat suka mencubit pipiku? Kamu benar-benar tidak berubah walaupun umurmu bertambah,"

__ADS_1


"Karena kamu sangat lucu,"


Alena lalu melihat kepada pasangan itu yang terlihat sekali sangat dekat terlihat dari bagaimana mereka berinteraksi dan akrab satu sama lain.


Jujur, dirinya tidak pernah melihat Sean benar-benar terlihat begitu akrab dan dekat seperti itu dengan seorang gadis, seolah-olah benar-benar menunjukkan sisi lain yang jarang dia tunjukkan pada orang lain.


Sean biasanya menunjukkan rasa sombong dan arogan tertentu jika bersama orang lain termasuk dengan beberapa gadis di masa lalu yang sering diajak pergi.


Namun suasana ketika dia bersama dengan gadis bernama Neila ini benar-benar adalah hal yang berbeda.


"Hehe, salam kenal Alena, Aku Neila Aderson. Mari kita ngobrol-ngobrol lagi lain kali, benar Kak Natasya? Aku dan Sean akan permisi pergi dulu,"


"Tentu saja, sampai jumpa lagi," kataa Natasya segera melambaikan tangannya pada dua pasangan itu.


Dan sekarang setelah siang dan Neila pergi kembali hanya ada dua orang di meja.


Alena yang melihat mereka berdua pergi lalu segera berkata,


"Mereka berdua terlihat sangat dekat,"


Natasya yang mendengar komentar itu segera menjadi terkejut,


"Apa? Aku cukup terkejut kamu mengomentari hubungan seseorang seperti itu,"


Alena tiba-tiba merasa sedikit malu, tentang omong kosongnya barusan yang malah terlihat seperti cemburu.


Jelas dirinya tidak cemburu sama sekali, buat apa pula cemburu dengan sampah seperti itu?


Lagipula dirinya memiliki orang lain yang suka dirinya sendiri.


Seorang pemuda tertentu yang biasa dirinya temui di Perpustakaan.


Hal-hal ini tiba-tiba membuat dirinya merasa rindu padanya.


Mungkin setelah ini dirinya akan mengirimkan pesan padanya barangkali mereka berdua akan bisa segera bertemu.

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya sedikit penasaran saja dengan mereka berdua, sudahlah, aku juga tidak mau ribut-ribut untuk memikirkan mereka,"


__ADS_2