Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 48: Tidak Bisa Kehilanganmu


__ADS_3

Alena yang mendegar kata-kata Sean jelas saja menunjukkan keterkejutan tidak pernah mengira jika pemuda yang ada di depannya itu akan mengatakan hal-hal semacam itu. Alena bisa melihat nada keputus asaan di balik kata-kata itu seolah-olah tidak masalah jika dia menghilang.


Namun sekarang, ketika Alena sudah mengenal tentang pemuda yang ada di hadapannya lebih dalam dan mendengar bahwa pemuda yang ada di hadapannya itu ingin menghilang perasaan Alena menjadi begitu sakit hanya dengan mendengarnya.


Ya, sama seperti bagaimana Alena merasa tidak senang melihat bagaimana Xavier ingin menghilang hingga Alena tersadar tentang perasaan yang dirinya miliki. Dan mungkin ternyata perasaan yang dirinya miliki pada Sean, tidak jauh berbeda dari ini. Waktu yang mereka habiskan benar-benar nyata bahkan walaupun Sean cukup buruk dan menyebalkan, Alena merasa begitu sedih ketika memikirkan jika Sean akan menghilang. Ya, karena Sean ternyata juga sudah memasuki hatinya, lebih dari yang Alena kira, perasaan cinta dan benci yang Alena rasakan pada pemuda itu terlihat cukup rumit.


Karena pada dasarnya, Sean dan Xavier adalah satu orang yang sama dan saling melengkapi satu sama lain, tidak mungkin untuk membiarkan salah satu dari mereka hilang. Ini mungkin terdengar aneh namun Alena begitu menyukai keberadaan dari mereka berdua.


"Sean, kamu jangan bicara sembarangan seperti itu! Bisa-bisanya kamu bilang kamu ingin menghilang saja.."


"Tapi bukankah yang kamu butuhkan hanya Xavier? Aku hanyalah sesuatu ekstra tambahan yang terpaksa untuk kamu terima aku tidak benar-benar kamu inginkan dan kamu juga tidak membutuhkan aku,"


Alena yang mendengar itu jelas adanya merasa sakit melihat bagaimana pengusaha dihadapannya itu benar-benar menjadi lebih putus asa daripada yang Alena kira, Alena lalu segera memegang kedua pipi Sean. Ada cara terbaik untuk mengungkapkan ini lebih mudah dari kata-kata apapun.


"Sean, aku hanya mengatakan ini satu kali jadi dengarkan baik-baik,"


"Apa?"


Alena segera berkata dengan nada cepat setelah berhasil menenangkan dirinya,


"Aku juga menyukaimu, Sean... Jadi jangan pernah berharap kamu menghilang yang aku sukaiadalah semua bagian darimu, baik kamu Sean atau dirimu yang lain, Xavier aku menyukai kalian berdua, aku tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku namun yang jelas aku menyukaimu jadi jangan pernah berharap kamu mencipta berkata untuk menghilang atau menceraikanku karena aku begitu mencintaimu dan aku tidak sanggup untuk kehilangan kamu,"


Sean yang mendengar kata-kata itu jelas menjadi terkejut tidak akan pernah mengira jika gadis yang ada di hadapannya itu akan mengatakan hal-hal itu padanya.


"Kamu tidak mencoba berbohong padaku bukan?"


Alena ekspresi cemberut lalu segera mulai mendekatkan wajahnya pada Sean, dan memberikan ciuman ringan di bibir Sean.


"Aku sebenarnya menginginkan kamu, aku tidak ingin kamu menghilang, apakah sekarang kamu percaya padaku? Aku ada di sini benar-benar membutuhkanmu, Sean..."


Sean yang mendengar itu segera mulai menangis, mungkin karena tidak pernah mengira jika gadis yang ada di hadapannya itu menganggap dirinya berharga.


"Aku juga, Alena Aku sangat menyukaimu, namun aku takut Aku adalah seseorang yang tidak layak untukmu,"


"Tidak, Sean... Aku akan menerimamu apa adanya jadi jangan menagis lagi,"


Dua orang itu segera saling berpelukan satu sama lain benar-benar mencoba menyampaikan kasih sayang yang mereka miliki.


Cukup lama, sampai dua orang itu saling berpelukan, seolah-olah tidak menginginkan untuk melepaskan sebuah pelukan hangat itu terutama Sean, yang masih tidak mengira jika Alena menyukainya.

__ADS_1


Namun jelas masih ada banyak masalah yang mereka berdua miliki.


Sean disini mulai menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi, tentang Keluarganya, dan tentang kebimbangan yang Sean miliki.


Alena yang mendengar itu entah bagaimana menjadi begitu marah.


"Mereka bahkan menyuruhmu untuk melakukan semua itu?"


"Ya,"


"Apakah mereka benar-benar orang tua? Bisa-bisanya menyuruh Putra mereka melakukan hal-hal jahat semacam itu,"


"Mereka memang selalu seperti itu,"


Alena juga tidak tahu harus berkata apa, namun Alena tiba-tiba tidak merasa senang tentang bagaimana pemuda yang ada di depannya itu dimanfaatkan habis-habisan oleh orang tuanya sendiri. Alena merasa, Sean ini sebenarnya adalah sosok yang baik Namun karena lingkungan yang begitu buruk dan nasib yang malang dia menjadi seperti ini.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"


Sean yang ditanya itu segera terdiam Namun sayang sudah memutuskan Apa yang harus dilakukan ini adalah saatnya untuk memilih dan tidak boleh ada keraguan. Apalagi melihat didepannya, ada seseorang yang benar-benar mencintainya.


"Aku akan memilih bersamamu, dan meninggalkan Keluargaku,"


"Itu bagus itu merupakan sebuah keputusan yang sangat baik memang seharusnya seperti itu Jadi mari sekarang kamu ikut denganku,"


Sean yang mendengar itu jelas terkejut.


"Apa maksudmu, Alena?"


"Sean, coba datang ke Rumahku, dan dapatkan restu dari Keluargaku, dari Papaku, Mamaku, Kakakku, Jika kamu datang dengan niat tulus aku yakin mereka akan setuju pada akhirnya,"


Sean yang mendengar itu tentu saja menjadi sedikit ragu masih ada sedikit rasa takut di hatinya jika nanti dirinya ke sana dirinya malah akan dipisahkan dengan Alena, apalagi mengingat hal-hal yang telah dirinya lakukan.


"Tapi aku sudah memiliki banyak hal yang buruk yang telah aku lakukan pada keluargamu terutama pada Kakakmu,"


"Minta maaflah pada mereka, keluargaku benar-benar orang yang baik, percayalah padaku jika cinta kita pasti akan bisa meluluhkan mereka yang dibutuhkan hanyalah pembuktian, jadi apakah kamu mau?"


Sean yang mendengar pertanyaan itu dan melihat bagaimana gadis yang ada di hadapannya percaya padanya lalu segera tersenyum, ya pada akhirnya setelah memilih keputusan ini dirinya tidak bisa mundur.


"Baik, Aku akan kesana, menemui Keluarga mu,"

__ADS_1


####


Suasana Rumah Keluarga Smith saat ini dalam keadaan tegang, ini tentu karena di Ruang Tamu Keluarga itu, ada seorang tamu yang tidak diundang. Ya, dia adalah Sean Xavier Dirgantara yang saat ini berada di ruang tamu dan seluruh Keluarga Smith juga ada disana.


Sean tentu saja merasa cukup tegang ketika menghadapi seluruh keluarga Alena itu.


Kakak Alena, yaitu Alex adalah orang pertama yang mulai membuka topik pembicaraan di sini.


"Coba katakan padaku Apa tujuan si brengsek ini datang kemari?" Tanyanya pada Alena.


Sean yang mendengar respon buruk itu juga sudah menduga hal-hal ini mungkin terjadi, Sean mencoba menarik nafas dalam-dalam mencoba memikirkan tentang apa yang akan dirinya katakan. Sean lalu segera berdiri dari tempat duduknya, dan berlutut disana.


Hal-hal itu, bahkan mengejutkan Alena yang ada disana.


"Aku di sini ingin meminta maaf pada semua hal yang telah aku lakukan kepada kalian, Khususnya Kak Alexander, Aku tahu perbuatanku tidak bisa dimaafkan, tapi aku juga tidak bisa merubah hal-hal yang sudah terjadi,"


Alex yang mendengar itu segera saja marah dan mendatangi Sean, menarik kerahnya, langsung memukul wajah Sean. Alena berniat mencegah Kakaknya itu, namun Sean memberikan kode agar Alena tetap diam.


"Kamu berkata maaf Apakah kamu pikir ini mudah? Aku hampir saja berpisah dengan Seluruh keluargaku gara-gara kamu!!"


"tidak ada yang bisa aku katakan atau alasan yang bisa aku buat aku hanya bisa meminta maaf, bahkan walaupun Kakak tetap membenciku, Aku hanya berharap Kakak bisa merestui hubungan antara Aku dan Alena,"


Alex yang mendengar itu hatinya segera dipenuhi dengan rasa kemarahan yang dalam berani-beraninya pria brengsek yang ada di depannya itu ingin bersama dengan adik perempuannya satu-satunya?


Sekali lagi, tinju Alex mengenai Pipi Sean namun pukulan alat tidak cukup sampai di sana dia juga memukul perut Sean. Jelas saja, Sean juga merasakan sakitnya pukulan itu namun dia mencoba menahannya Setelah semua ini tidak sebanding tentang hal-hal yang dirinya lakukan kepada pria yang ada di depannya ini. Ya, Sean paling bersalah pada Alexander setelah semua.


Alex yang marah benar-benar melampiaskan rasa marahnya pada Sean, namun Sean tidak membalas. Hanya diam menerima semua pukulan itu.


"Jika dengan memukulku itu bisa meredakan sedikit amarah Kak Alex, Kakak bisa melakukannya,"


Alex yang mendengar itu menjadi semakin emosi lalu mulai menendang Sean. Ya, wajah Sean sudah lebam dan ujung mulutnya sedikit berdarah. Alena yang dari tadi diam saja jelas saja merasa tidak senang, untuk melihat orang yang paling dicintainya itu diperlakukan seperti itu dan dipukuli walaupun itu tidak akan membahayakan nyawa Sean, namun tetap saja.


"Kak Alex! Cukup... Jangan pukuli Sean lagi!" Kata Alena mencoba untuk mendekati Sean membantunya berdiri dan merangkulnya.


"Alena!! Bagaimana bisa kamu membela si brengsek ini?"


"Kak Alex, aku sudah pernah bilang sebelumnya jika aku sangat mencintai Sean, Jangan berharap untuk bisa membuatku berpisah dengannya!"


"Alena Kenapa kamu itu keras kepala sekali!"

__ADS_1


__ADS_2