Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 43: Bimbang


__ADS_3

Saat ini di sebuah restoran terlihat ada dua orang sedang menikmati makan malam dengan tenang, namun terlihat hanya Neila yang menikmati makan malam itu tidak dengan Sean yang dari tadi terlihat melamun.


"Sean? Ada apa denganmu kenapa kamu dari tadi memiliki ekspresi yang begitu buruk?"


Sean yang mendengar suara itu segera mulai tersadar dari lamunannya, dan berkata,


"Bukan apa-apa,"


"Kamu benar-benar terlihat aneh, sudah lama sejak kita makan malam bersama seperti terutama sejak acara pernikahan kita batal namun kamu malah memiliki ekspresi tidak nyaman seperti itu benar-benar membuatku kesal,"


Sean akhirnya ingat tentang bagaimana pertunangannya batal, itu sebenarnya adalah sebuah masalah serius.


Awalnya, Sean berniat menerima perjodohan itu dengan gadis yang ada di depannya karena permintaan keluarganya, namun sekarang rasanya tidak nyaman untuk mengikuti perjodohan itu, walaupun itu hanya kesepakatan antara dirinya dan Neila.


"Sayang sekali hal-hal tidak terduga terjadi,"


"Tah itu sudah lewat tidak perlu terlalu memikirkannya, Sean. Kita hanya perlu memikirkan untuk pertunangan kita berikutnya," kata Neila sambil tersenyum terlihat senang.


Ketika memikirkan itu, Sean segera merasa tidak nyaman.


"Hanya... Bukankah kita masih cukup muda? Mari pikirkan itu di masa depan saja, toh itu hanya perjodohan keluarga dan kesepakatan bisnis aku rasa tidak perlu buru-buru soal itu,"


Neila yang mendengar itu segera memiliki ekspresi yang buruk dan berkata dengan wajah cemberut,


"Sean, apakah menurutmu hubungan kita ini hanya sebatas perjodohan keluarga kita?"


Sean yang ditanya itu segera menunjukkan ekspresinya,


"Bukannya memang begitu?"


"Sean, kenapa kita tidak benar-benar menjadi pasangan?"


"Apa maksudmu, Neila?"


"Kenapa responmu seperti itu? Bukankah itu wajar jika aku menginginkan sebuah hubungan yang benar-benar berdasarkan cinta daripada hanya sebuah kesepakatan,"


Sean yang mendengar itu segera terdiam karena dirinya jelas merasa jika dirinya tidak bisa memiliki hubungan yang lebih dengan Neila.


"Sean? Kenapa kamu memasang wajah buruk seperti itu? Walaupun ini sebuah perjodohan bukankah akan nyaman jika kita juga saling menyukai satu sama lain?"


"Aku tidak bisa,"

__ADS_1


Mendegar jawaban langsung itu, Neila segera terdiam dan berkata,


"Kenapa?"


Sean yang ditanya itu segera bingung untuk membuat alasan karena tidak mungkin juga dirinya mengatakan bahwa ini semua tentang hubungan antara dirinya dan Alena yang rumit.


"Aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku yang berharga aku tidak merasa bisa memiliki perasaan yang lebih padamu, bukankah kamu juga begitu?"


"Kamu hanya belum mencobanya cobalah untuk mencintaiku apakah itu begitu sulit?"


"Neila, aku tidak bisa,"


"Sean, kenapa kamu jadi menyebalkan seperti itu? Jangan bilang kamu sedang jatuh cinta dengan wanita lain?"


Sean yang mendengar itu ekspresinya segera menunjukkan keterkejutan dan segera mencoba mencari alasan karena tidak ingin Neila tahu setidaknya sekarang bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal itu.


"Bukan seperti itu. Lagi pula bukankah kamu sendiri tidak menyukaiku? Kamu dulu pernah bilang seperti itu padaku,"


Neila segera menarik nafas mencoba menstabilkan dirinya seolah-olah sedang mencoba mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan hal penting berikutnya,


"Bagaimana jika Aku menyukaimu?"


Sean sekali lagi menjadi sangat terkejut dengan kata-kata gadis yang ada di depannya.


"Sudahlah, lupakan saja kata-kataku barusan Mari kita menikmati makan malam ini dengan benar setidaknya aku ingin menikmati makan malam denganmu,"


Sean sendiri, merasa tidak tahu harus berkata atau merespon seperti apa jadi ketika Neila mencoba mengalihkan pembicaraan Sean setuju-setuju saja.


Mari pikirkan hal-hal itu kapan-kapan, hanya Sean masih terlalu pusing untuk memikirkan bagaimana hubungan antara dirinya dan Alena.


Sean merasa jika dirinya seharusnya tidak boleh memiliki perasaan apapun kepada Alena, namuan kenapa sekarang dirinya jadi ragu?


Ini pasti karena dirinya yang lain, 'Xavier' yang menyukai Alena, hal-hal ini benar-benar sangat mengagu dirinya. Apalagi, Sean juga menyadari sudah sejauh mana hubungan antara Alena dan dirinya yang lain, mereka sempat menghabiskan malam bersama, bahkan walaupun ini dengan dirinya yang lain, namun secara makna jelas sama saja.


Itu Malam Pertama mereka, jadi Pernikahan antara dirinya dan Alena sudah benar-benar sah dan resmi, tidak hanya sebatas di atas kertas aja.


Apa yang sebaiknya dilakukan mulai dari sekarang?


Apalagi, Ibu Alena sudah tahu soal Pernikahan mereka.


Sean benar-benar menjadi pusing memikirkan semua itu.

__ADS_1


####


Dan hari berlalu dalam sekejap mata, Sean mencari alasan untuk tidak datang ke kampus dulu dan mencoba bekerja di Perusahaan Ayahnya, masih mencoba menghindari Alena, toh karena semester ini juga ada kegiatan kerja magang mulai Minggu ini.


Hari itu, Sean mencoba memfokuskan dirinya dalam mempelajari perusahaan dan proyek-proyek yang Ayahnya kerjakan, untuk mengalihkan pikirannya dan tidak lagi memikirkan hal-hal rumit.


Sampai, sore itu, Sean mulai dipanggil oleh Ayahnya.


"Ya, Ayah tumben memanggilku ada apa?"


Geovanni tersenyum menatap kearah putranya itu.


"Aku memiliki beberapa tugas untukmu,"


Sean yang menatap senyuman itu segera memiliki perasaan tidak nyaman, jika Ayahnya tersenyum itu sepertinya jelas bukan hal yang baik.


"Apa itu, Ayah?"


Geovanni lalu segera memberikan beberapa dokumen kepada Sean, Sean menatap dokumen itu, membacanya sekilas dan ekspresinya segera buruk.


"Ini.... Rincian Proyek milik Alexander Smith?"


"Itu benar, aku sudah susah payah mengumpulkan semua informasi ini, andi sinilah aku memberimu sebuah tugas, tolong sabotase salah satu Proyek miliknya, bukankah kamu masih memiliki beberapa hutang dengan orang itu? Kamu sempat kalah dalam Tender dengannya beberapa bulan lalu,"


Sean yang tiba-tiba mendapatkan perintah semacam itu segera jatuh dalam kebingungan dan kepanikan.


Terutama, sekarang Sean menjadi bingung tentang apa yang harus dirinya lakukan.


Ya, itu karena sudah bukan rahasia jika Perusahaan Ayahnya memiliki persaingan buruk dengan Perusahaan milik Keluarga Alena.


Dan sekarang, ketika dirinya tiba-tiba disuruh untuk melakukan hal-hal buruk ini, Sean tiba-tiba merasa tidak enak.


Terutama, ketika Sean mulai mengigat Alena...


Jika Alena tahu....


Sean benar-benar sedang bimbang sekarang.


"Sean? Kenapa kamu diam saja? Aku hanya memberimu beberapa pekerjaan simple harusnya itu tidak sulit bukan? Kamu sudah mengecewakan ku sebelumnya setidaknya kali ini kamu tidak bisa mengecewakan ku lagi, sudah Pertunangan mu batal, lalu kamu sempat gagal dapat Proyek, seberapa banyak rasa malu yang kamu berikan kepadaku? Kamu jelas harus menebusnya,"


Kata-kata itu terdengar dingin, dan membuat Sean merasa sedikit merinding.

__ADS_1


Sean saat ini benar-benar jatuh pada sebuah dilema.


Apa yang harus dirinya lakukan sekarang?


__ADS_2