Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 44: Semakin Rumit


__ADS_3

Siang itu, ketika Alena mulai memasuki ruangan kuliah akhirnya dia melihat wajah familiar yang sudah lama tidak dilihatnya, yaitu Sean.


Tatapan mereka segera bertemu ketika Alena memasuki ruangan kelas itu terutama karena Alena sepertinya akan duduk di samping Sean, namun Sean yang ditatap itu segera mengalihkan pandangannya entah kenapa merasa tidak bisa menatap ke arah Alena.


Ya, saat ini Sean jelas saja mulai dihantui rasa bersalah, karena rencana sabotase pada salah satu Proyek Kakak Alena itu entah kenapa malah berhasil, padahal dirinya sudah yakin untuk membuat rencana itu setengah-setengah dan membuat anak buahnya jelas akan gagal, namun rencana yang setengah-setengah itu entah kenapa malah berhasil.


Tidak, lebih tepatnya rencana itu bisa berhasil karena ada seseorang yang membuat rencana itu sukses, itu adalah Viktor Ayah Neila sekaligus teman Ayahnya. Dan disisilah Sean sekarang, dihantui rasa bersalah karena membiarkan rencana dan skema licik itu berjalan dengan lancar dan dirinya tidak bisa menghentikannya karena tidak mampu.


Alena melihat bagaimana pemuda itu terlihat menghindari tatapannya jelas merasa kesal, terutama sejak hari itu mereka tidak bertemu itu lebih seperti pemuda itu menghindari dirinya.


Dan sekarang ketika Alena melihatnya, Alena jelas tidak akan membiarkan pemuda itu pergi ke mana-mana, Xavier juga belum muncul belakangan setelah hari itu. Mungkin ini ada hubungannya tentang bagaimana Sean mulai menyadari kepribadiannya yang lain itu dan Xavier jadi semakin terbatas untuk bisa muncul.


Alena segera menarik tangan Sean, dan berkata,


"Sean, setelah ini aku ingin berbicara padamu,"


"Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan,"


Alena yang melihat bagaimana pemuda di hadapannya itu masih mencoba menghindar jelas menjadi marah.


"Kamu itu, sampai kapan ingin mencoba menghindariku terus? Itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah,"


Sean yang mendengar kata-kata itu juga menjadi frustasi lalu segera mencoba menanyakan hal-hal yang ingin sangat dirinya tahu.


"Bagaimana soal Keluargamu yang tahu?"


"Hanya Mamaku yang tahu, saat ini keluar ku yang lain belum tahu terutama ayah dan kakakku jadi aku rasa tidak akan ada masalah untuk sementara ini kita masih bisa dengan aman menyembunyikannya tanpa terlalu banyak masalah,"


Sean yang mendengar itu entah bagaimana merasa sedikit lega ya bahkan walaupun sedikit setidaknya mereka berdua masih bisa merahasiakan ini.


"Itu bagus, aku sejujurnya juga belum siap jika hal-hal ini segera terungkap,"


"Ya, kamu ada benarnya, sungguh menghadapi Papa dan Kakakku Alex adalah hal yang paling sulit sekarang,"


Pada akhirnya hari itu, Alena menghabiskan waktu dengan Sean, lalu juga Xavier yang muncul, tidak banyak hal yang mereka lakukan hanya menikmati masa-masa damai sementara ini, tanpa terlalu memikirkan begitu banyak masalah.


####


Disisi lainnya, saat ini Viktor sedang menerima laporan dari beberapa anak buahnya soal hasil sabotase sebelumnya.


"Apa? Kamu menemukan hal yang aneh tentang apa itu?"


'Orang-orang yang disuruh oleh tuan muda Sean sepertinya tidak melakukan kesalahan,'


"Tidak salah bagaimana jelas-jelas mereka salah sampai rencananya hampir berantakan dan gagal jika kalian tidak membantu pasti itu akan menjadi kegagalan,'


"Tapi Tuan Viktor, menurut mereka, mereka hanya menjalankan perintah sesuai dengan saran dari Tuan Muda Sean, dan saya lihat rencananya sedikit berbeda dengan rencana awal yang Tuan bilanh sebelumnya,'


Mendengar hal itu, ekpresi Viktor menjadi begitupun, sebuah keraguan dan kecurigaan mulai perlahan-lahan muncul kepada Sean.


Namun satu hal yang membuat Viktor penasaran, kenapa Sean sengaja membuat sebuah rencana yang jelas akan gagal?


Sebenarnya apa maksud dari anak itu?


Viktor benar-benar merasa tidak mengerti dengan semua itu, namun ternyata tidak begitu lama sampai dia menemukan jawabannya.


Itu adalah Putrinya, Neila yang tiba-tiba datang ke ruangannya, ekpresi Neila terlihat sangat buruk, terutama air mata yang muncul di wajahnya. Melihat putrinya satu-satunya itu memiliki wajah sedih, Viktor jelas merasa sangat tidak senang.


"Neila, Ada apa denganmu?"


Neila lalu mulai menangis sambil mengeluarkan sebuah buku tertentu dari tasnya, ini adalah salah satu barang yang secara kebetulan dirinya temukan ketika berkunjung ke apartemen Sean sebelumnya.


Dirinya tentu tidak langsung marah pada Sean, dan langsung memilih pergi dari sana karena hatinya merasa sangat tidak sanggup setelah menemukan hal-hal mengejutkan itu.

__ADS_1


"Sean... Dia ternyata sudah menikah di belakang kami, dia selama ini menipuku, dia bohong soal menerima rencana perjodohan kami... Dia penipu... Dia tidak memiliki sedikitpun perasaan padaku,"


Viktor jelas menjadi sangat kaget dengan kata-kata putrinya itu lalu segera menatap ke arah sebuah buku yang terlihat seperti sebuah buku nikah. Ekpresi Viktor segera menjadi sangat buruk ketika melihat isi dari buku itu terutama setelah tahu siapa nama wanita yang Sean nikahi.


"Alena Smith?"


Viktor tentu saja sangat mengenal nama ini, dan sekarang jawaban yang dirinya cari-cari akhirnya terungkap, alasan Sean sengaja membuat rencana Sabotase gagal, itu karena Sean ternyata adalah seorang penghianat yang diam-diam menikah dengan Putri keluarga musuh.


Viktor meremas buku yang ada di tangannya karena sangat marah yang lebih membuatnya marah adalah Sean yang berani membohongi putrinya sampai putrinya sakit hati seperti ini.


Dirinya jelas harus memberitahu Geovanni soal ini, sial atau ini salah satu rencana Geovanni?


Entahlah, dan lagi alasan pertunangan itu gagal, pasti itu bukan hanya sekedar kecelakaan biasa, hal-hal yang di sengaja.


####


Sore itu, tentu saja Alena masih menghabiskan waktunya dengan Xavier menikmati makan di Cafe bersama.


"Kita sudah lama tidak bertemu, kenapa kamu tidak muncul lagi belakangan?"


Xavier pertanyaan itu hanya segera berkata dengan santai,


"Aku hanya merasa sepertinya kamu lebih memiliki waktu untuk memikirkan semua ini bukan?"


"Kamu memang benar namun kamu tidak menghubungiku apa bahkan tidak merindukanku?"


Tangan Xavier sekarang meraih tangan Alena dan mencium tangan itu sambil berkata,


"Tentu saja aku sangat merindukanmu aku benar-benar ingin bertemu denganmu, aku selalu ingin bisa menghabiskan lebih banyak waktu denganmu,"


"Kamu sepertinya tidak terlihat serius dengan kata-katamu,"


"Lena, sekarang mungkin aku tidak bisa menahan diri aku bertemu denganmu terutama setelah kita..."


Alena yang mengingat kejadian hari itu wajahnya menjadi sedikit merah karena malu.


Saat ini mereka ada di sebuah ruang pribadi, untuk menghindari pandangan orang, dan ini jelas di manfaatkan Xavier dengan baik, dia mulai berganti tempat duduk, lalu mulai mencium Alena, Alena tidak menolak ciuman itu, mereka berciuman cukup lama untuk melampiaskan rasa rindu mereka satu sama.


Alena memilih untuk tidak terlalu memperhatikan nasehat dari Mamanya, mungkin karena rasa cinta di hatinya saat ini tengah membara.


Mereka berciuman cukup lama, beberapa kali, namun disalah satu sela ciuman, Alena merasakan ada yang aneh dengan tatapan pemuda yang ada di depannya.


Ekpersi yang terasa tidak nyaman, berbeda dari Xavier yang lembut, dan Alena segera menyadari seseorang yang baru saja akan dirinya cium.


Alena segera mendorong Pemuda itu menjauh dari hadapannya.


Sean yang tiba-tiba didorong menjauh itu segera berkata dengan kesal,


"Brengsek, kamu masih saja seperti itu padaku,"


"Kenapa pula tiba-tiba muncul di sana?"


"Ya, Aku mana tahu? Aku hanya tiba-tiba muncul itu saja, dan lagi, ternyata kelakuanmu di belakang benar-benar, Aku kira kamu gadis polos, namun ternyata... Kamu benar-benar memiliki keinginan yang tinggi," kata Sean sambil memegangi bibirnya, yang sekarang terasa sedikit bengkak.


Alena, segera memiliki ekspresi malu, karena dirinya terlalu terbawa suasana ciuman itu.


"Di... Diamlah!"


"Apa yang membuat mu malu? Kamu benar-benar aneh, Ah, dan rasa Vanilla ini terasa menjijikkan," kata Sean kesal, setelah merasakan rasa terlalu manis di mulutnya, dan menatap kearah meja dimana disana ada dua minuman Vanilla Cream.


"Dasar maniak kopi,"


Pada akhirnya dua orang itu hanya bercakap-cakap sebentar, lalu kemudian segera berpisah dengan canggung.

__ADS_1


Alena semakin kesini, merasa jika Sean tidak seburuk itu, Xavier juga memberi tahu Alena soal masa sulit Sean, yang membuat Sean tidak seburuk itu.


Saat perjalanan keluar cafe, Alena diam-diam menatap Sean entah kenapa, dan teringat kata-kata Kakaknya, jika dirinya harus menerima semua sisi itu.


Tidak ada seseorang yang sempurna terkadang memiliki sisi negatif positif.


Namun, Alena masih merasa tidak yakin dengan ini apakah dirinya benar-benar bisa menerima Sean?


####


Malam itu, Alena pulang cukup terlambat, jadi dia hanya segera mandi dan berniat ikut makan malam, Alena Tentu saja tidak tahu tentang apa yang terjadi hanya segera menatap heran ketika melihat suasana di meja makan terlihat sangat buruk, ada suasana tegang di sana.


Owh, dan tumben ada Kakaknya Alex yang juga makan makan disana bersama Natasya Istrinya.


Harusnya ini menjadi suasana makan malam yang menyenangkan, namun kenapa suasananya terlihat tidak bagus?


Alena yang segera duduk itu langsung bertanya,


"Emm? Kenapa dengan kalian yang memasang wajah buruk seperti itu?"


Julio tentu saja tidak tahu juga situasinya dia juga penasaran karena ketika sampai di sana wajah Ayah dan Kakaknya itu tegang.


Hanya tahu beberapa hal.


"Sepertinya salah satu Proyek yang Kak Alex urus mengalami beberapa masalah," kata Julio.


"Masalah? Apakah itu benar-benar sangat serius kak? Masalah apa itu?"


Alexander, yang ditanya itu segera menjawab dengan ekspresi lelah.


"Ini bukan masalah yang aku buat namun ada seseorang yang sengaja membuat masalah denganku, dia mensabotase Proyekku,"


Firasat Alena tiba-tiba menjadi buruk ketika mendengar itu dan benar saja firasat nya benar ketika mendengar Ayahnya, Antony berkata,


"Ini ulah si Kurang Ajar, Sean Dirgantara itu, Putranya Geovanni, Aku benar-benar tidak habis pikir dengan keluarga mereka, apalagi Sean itu, apakah mereka belum cukup mencoba mecelakaan Alex sebelumnya?"


Emelin, Ibu Alena yang tidak tahu semua kejadiannya jelas merasa bingung dan bertanya.


"Apa maksudmu? Kecelakaan Alex yang sebelumnya itu bukan hanya kecelakaan?"


Antony, yang merasa keceplosan itu tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya hanya mengatakan kebenaran soal insiden itu tentang ini rencana yang di buat Sean Dirgantara, mereka tidak memiliki bukti yang kuat namun, Alex mengingat kejadian itu sendiri tentang siapa yang mendorong mobilnya.


Ekspresi Emelin jelas menjadi syok, lalu segera menatap kearah Alena.


"Alena!! Kamu dengar itu? Sean Dirgantara itu jahat dan tidak baik, lihat kelakuannya ternyata sama dengan Ayahnya yang jahat itu, bagaimana bisa kamu jatuh cinta dan sampai menikah dengannya Hah?"


Ekpersi semua orang segera menatap kearah Emelin dan Alena, menjadi binggung.


Emelin yang sadar bahwa dirinya salah bicara, menjadi binggung tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.


Dan Alena, saat ini memiliki ekspresi wajah pucat ketika Ayah dan Kakak tertuanya itu, menatap kearahnya.


Ini...


Bagaimana ini...


Lalu, Sean apakah dia benar-benar melakukan hal itu lagi pada Kakaknya?


Membuat masalah pada Keluarganya?


Alena benar-benar pusing memikirkan semua ini tentang bagaimana harus menghadapinya...


Keluarganya...

__ADS_1


Sean...


Hal-hal menjadi lebih rumit daripada yang dirinya kira.


__ADS_2