Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 46: Pilihan Sean (Part 1)


__ADS_3

Hari-hari berlalu dalam sekejap, dan pada akhirnya Sean masih saja dikurung di rumahnya dan tidak boleh keluar bahkan sampai hari ini. Sean sepertinya masih sangat keras kepala, tentang keputusan yang dia buat. Namun, Sean juga tidak tahu harus bagaimana, dia bahkan tidak bisa untuk menghubungi Alena, karena ponselnya di sita.


Ditengah keputusan ini, pintu ruangan kamar Sean tiba-tiba terbuka, lalu Ada sesosok pria yang memiliki wajah familiar yang masuk. Sean jelas saja menjadi kaget ketika melihat wajah pria itu, itu tidak lain adalah Kakak Tertuanya, Arthur Dirgantara, mereka memiliki Ayah yang sama, namun memiliki Ibu yang berbeda. Sean tidak memiliki hubungan yang begitu akrab dengan Kakak Tertuanya itu.


Jadi jelas, alasan kenapa Sean menjadi bingung ketika melihat pria yang seharusnya tidak kesini itu, malah berada di kamarnya, jadi Sean yang penasaran itu segera bertanya,


"Kamu... Kenapa kamu ada di sini?"


Wajah Pria yang diajak bicara Sean itu segera menujukan ekpersi menghela nafas.


"Cukup panjang jika aku menceritakan ini padamu,"


"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud,"


"Aku akan langsung ke intinya Apakah kamu ingin pergi dari rumah ini?"


Sean yang tiba-tiba ditanya itu jelas menunjukkan ekspresi terkejut dan tidak mengerti,


"Maksudmu?"


"Benar-benar secara harfiah Pergi dari Rumah ini? Bukankah kamu memiliki masalah dengan Ayah?"


Sean yang tiba-tiba mendengar hal itu segera menunjukkan ekspresi tidak senang, apakah Kakaknya ini mencoba untuk memanfaatkan dirinya?


"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud,"


"Sean, Bukankah kamu benci berada di rumah ini dan terus saja menuruti Perintah Ayah?"


"Apakah aku merasa benci atau tidak itu jelas bukan urusanmu,"


"Aku sudah tahu masalah yang kamu miliki, Aku dengar ketika Ayah dan Kamu berbicara. Sean, sebagai Kakak Aku tahu ini bukan tempatku untuk mengatakan hal ini karena kita tidak sedekat Itu, namun sejujurnya tidak ada gunanya untuk tetap tinggal di rumah ini,"

__ADS_1


"Jadi kamu menyarankanku untuk kabur begitu?"


"Bukankah itu satu-satunya pilihan yang kamu miliki? Atau kamu benar-benar ingin untuk menuruti permintaan Ayah kita yang menjadi seseorang seperti dia? Sean, Aku akan memberimu sedikit nasehat walaupun kita adalah putranya bukan berarti kita harus menjadi seperti dia,"


"jangan bicara omong kosong kamu yang dibesarkan di dalam keluarga ini tidak tahu tentang posisiku!"


Arthur yang mendengar itu, hanya segera menghela nafas terlihat bingung juga Bagaimana cara mengatakan semua ini.


"Aku tahu apa yang kamu maksudkan, Kamu mungkin tidak tahu aku sebenarnya juga terjebak dalam tempat ini,"


"Jangan bertingkah seolah-olah kamu terjebak semua orang juga tahu bahwa kamu adalah Putra Kesayangan, Ayah!!"


Arthur yang mendengar itu, hanya segera tertawa, lalu lanjut berkata,


"Karena jika Aku ingin balas dendam, Aku memang harus menjadi Putra kesayangannya, posisiku memang tidak sama denganmu, Namun Ibu Kandungku... Yah, dia benar-benar memiliki nasip yang cukup malang, dia memiliki, Aku ketika dia tahu Kejahatan orang itu dan sikap kejinya dan berniat menceraikannya, namun dia hamil, yang membawa dia dalam nasib malang,"


Sean yang mendengar cerita itu tentu saja cukup terkejut, Sean tidak begitu tahu soal cerita tentang istri pertama Ayahnya, yaitu salah satu Wanita dari Keluarga Konglomerat Kaya, bernama Chintya. Wanita cantik dengan reputasi yang baik, namun Sean dengar dia sudah lama meninggal karena penyakit Kronis yang dia miliki ketika Arthur berumur 6 Tahun.


"Itu jelas tidak ada urusannya denganku!"


"Itulah Kenapa aku tidak berniat menjelaskan ini dari awal, Aku hanya ingin bertanya padamu Apakah kamu benar-benar ingin menghabiskan sisa hidupmu di dalam keluarga ini atau kamu ingin pergi dengan orang yang kamu cintai?"


Sean yang tiba-tiba ditanya itu jelas menunjukkan ekspresi tidak senang.


"Kamu sungguh tidak tahu apa-apa!! Aku tidak bisa pergi... Aku tidak bisa meninggalkan, Ibuku Disini,"


Arthur yang mendengar jawaban itu seolah sudah menduga, namun segera berkata lagi,


"Apakah dia benar-benar orang yang layak untuk membuatmu berkorban sebanyak ini?"


Sean yang tiba-tiba ditanya itu jelas merasa pertanyaan itu sangat tidak masuk akal, namun Sean juga merasa cukup ragu untuk memberikan jawaban.

__ADS_1


Mamanya, Isabella...


Sean sangat menyayangi, Mamanya satu-satunya itu, orang yang paling berharga dalam hidupnya, Sean pernah melihat bagaimana Mamanya memiliki hidup yang sulit, dan selalu ingin membuat Mamanya bahagia. Dirinya bahkan melakukannya sejauh ini, demi Mamanya...


Namun jika dipikirkan lagi apakah perasaan yang dirinya miliki ini benar-benar telah menyentuh hati Mamanya?


Apakah Mamanya memberikan sedikit cinta padanya?


Ketika memikirannya, Sean tidak benar-benar tahu jawabannya. Namun, Sean cukup yakin jika dirinya pergi, jelas Mamanya tidak akan memiliki nasib yang baik, hal-hal yang tidak bisa Sean abaikan.


Namun Apakah hal-hal ini benar-benar sepadan?


"Sean, Aku tahu kamu bingung Jadi kamu bisa memikirkannya nanti, kamu juga tidak harus langsung pergi seperti itu,paling tidak kamu bisa keluar dulu dari kamar ini mungkin ada seseorang yang ingin kamu lihat atau ingin kamu temui? Soal masalah apakah kamu benar-benar ingin pergi atau tidak, kamu bisa memikirkannya setelahnya,"


Arthur memberikan sebuah kunci di depan Sean, sepertinya kunci mobil yang disiapkan, lalu segera pergi dari ruangan itu, yang sudah tidak di kunci, dan tidak ada pula bodyguard disana.


Sean menatap kepergian kakaknya itu dengan ekspresi rumit karena tidak tahu harus bersikap seperti apa, jawaban apa yang harus dirinya berikan Dirinya belum tahu.


Alena...


Namun Alena tidak benar-benar mencintai dirinya, yang Alena inginkan hanya bagian dari dirinya yang lain...


Sean tiba-tiba kembali memasuki dalam sebuah Dilema, seolah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dirinya memiliki emosi yang begitu rumit tidak tahu harus berbuat apa.


Namun dari semua hal sekarang saat ini, Sean ingin bertemu dengan Alena, mungkin bertemu dengan gadis itu akan memberikan dirinya sebuah jawaban atas semua keraguan yang dirinya miliki. Jadi setelah terdiam untuk beberapa saat, Sean memutuskan untuk pergi dari rumah itu, sementara, hanya ingin bertemu Alena, dan untungnya Sean baru saja menemukan ponselnya juga yang sudah disiapkan oleh Arthur di mobil.


Setidaknya dirinya bisa menghubungi Alena setelahnya, disana ada beberapa pesan dari Alena, yang mengatakan ingin bertemu, pesan itu sudah ada dari kemarin namun tentu saja tidak ada yang membalas.


Akhirnya, Sean mulai membalas, dan mengajak Alena untuk bertemu, disalah satu Cafe dekat kampus.


'Ya, Aku akan kesana, Ada Hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu,'

__ADS_1


Balas Alena dengan cepat, Sean lalu segera menutup ponselnya dan segera menuju ke lokasi tempat mereka janji bertemu, tentu saja Alena belum datang, karena Sean memang datang 1 jam lebih cepat daripada waktu janjian mereka.


__ADS_2