
Alena menatap kearah pemuda yang ada di sampingnya ini, sekarang telah menjadi Kekasihnya.
Ya, saat ini mereka berdua sedang duduk di bawah pohon, sedang bersantai untuk menikmati kebersamaan mereka berdua.
Alena masih merasa cukup ragu untuk bertanya namun karena sekarang status mereka sudah cukup dekat bukankah tidak apa-apa untuk langsung bertanya padanya?
"Xavier... Aku ingin bertanya padamu..."
Pemuda itu, lagu segera memalingkan wajahnya dan menatap kearah gadis itu.
"Apa yang ingin kamu tanyakan? Kamu bisa bertanya apa pun padaku,"
Alena jadi terdiam ketika menatap senyuman itu namun segera mengumpulkan tekadnya dan mulai bertanya,
"Nama lengkapmu..."
"Kamu ingin tahu bukan? Benar juga aku pernah berjanji padamu untuk memberitahukan identitasku, nama panjangku, Liam Xavier,"
Alena yang untuk pertama kalinya mendengar nama panjang itu setidaknya merasa sedikit lega.
Ya, itu bukan Sean Xavier.
Lagipula, kenapa dirinya tiba-tiba memikirkan jika dua orang itu sama?
Dirinya tiba-tiba merasa tidak masuk akal, ya mungkin karena dua orang itu memiliki nama yang hampir sama.
Hampir sama, sama-sama Xavier.
Lagipula, Sean bukankah saat ini berada di rumah sakit?
Dia retak tulang sampai di gips?
Dan ada cedera kepala...
"Liam Xavier?"
Pemuda itu lalu tersenyum dan mengangguk,
"Ya, Liam Xavier. Kamu boleh memanggilku seperti biasanya atau nama depanku, atau kamu bisa memanggilku, sayang?"
Pemuda itu terlihat menggoda Alena.
"A... Apa-apaan itu, Aku akan memanggilmu seperti biasa, Xavier..."
"Lalu, Aku akan memanggilmu sayang?"
Alena yang tiba-tiba di panggil sayang, tentu saja merasa cukup malu.
"Aku... Aku rasa ini sedikit terlalu cepat...."
"Tapi, Lena kamu sekarang adalah Kekasihku,"
Alena tentu saja belum terbiasa dengan status baru mereka hanya saja dirinya memang sangat senang, karena akhirnya, tahu nama panjang pemuda itu, juga jika rasa yang selama ini dirinya miliki dibalas oleh pemuda itu.
__ADS_1
Ini ternyata bukan hanya cinta satu arah.
Pemuda itu, yang saat ini di tatap oleh Alena segera berkata lagi,
"Lena? Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu tahu, ika kamu menatapku seperti itu ini membuatku tidak tahan untuk ingin menciummu,"
Alena yang menyadari dirinya terlalu banyak mengapa pemuda itu hanya memalingkan wajahnya.
Namun tiba-tiba rasa penasaran muncul, dirinya ingin melihat wajah di balik kacamata itu, hari ini dirinya tahu nama panjangnya bukankah terlalu berlebihan untuk mencoba meminta pemuda itu melepas kacamatanya?
Tidak, ini tidak berlebih-lebihan, lagipula sekarang pemuda itu adalah Kekasihnya.
"Aku akan membiarkanmu menciumku jika kamu mau membuka kacamata mu,"
Ketika Alena berkata seperti itu, pemuda itu terlihat merubah ekspresinya menjadi panik.
Dan segera mengalihkan tatapannya dari Alena.
"Hahaha... Aku tidak tahu jika kamu begitu berarti,"
Alena game melihat tentang pemuda itu yang tiba-tiba sepertinya ingin mengalihkan pembicaraan.
Kenapa dengan kacamatanya?
Apakah tidak bisa untuk dirinya melihat wajahnya?
Tapi kenapa?
Dirinya ingat apa nasehat dari Kyla sebelumnya.
Bukannya dirinya curiga hanya saja dirinya ingin tahu lebih banyak...
Jika dirinya memaksa, mungkin pemuda itu tidak akan mau untuk membuka kacamatanya, entah alasannya apa karena dari dulu memang seperti itu.
"Xavier..."
Pemuda itu, yang namanya terpanggil segera mengalihkan pandangannya kembali menatap Alena.
"Apa?"
Namun kali ini, Alena tidak menjawab, Alena segera mendekatkan wajahnya pada pemuda itu.
Alena memastikan pemuda itu cukup lengah, Alena mencium singkat bibir itu dengan kejutan.
Pemuda itu jelas membalas ciuman kecil itu..
Alena tahu, jika sekarang pemuda yang menciumnya ini, mulai menurunkan penjagaannya.
Dari sini, Alena mencoba menarik kacamata yang pemuda itu pakai.
Namun tangannya, bertemu dengan tangan pemuda itu, yang saat ini memegangi kacamatanya juga.
"Lena, kenapa kamu menjadi sedikit nakal?" Kata pemuda itu, setelah melepaskan ciumannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu begitu pelit?" Kata Alena jelas, tidak melepaskan tangannya dari gangang kacamata yang ada di telinga pemuda itu.
Tangan mereka saling berebut, yang satu mencoba mempertahankan kacamatanya yang satu mencoba untuk melepaskannya.
"Lena... Jangan seperti ini..."
"Aku hanya ingin bertanya kenapa memangnya dengan itu? Kenapa tidak boleh? Apakah kata-kata cintamu hanyalah omong kosong? Kenapa aku tidak boleh melihat wajahmu?"
"Aku takut, kamu akan membenciku,"
"Kenapa aku harus membencimu? Kamu yang paling tahu, jika Aku sangat mencintaimu, sungguh Aku akan menerimamu... Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan?"
"Sesuatu yang mungkin akan kamu benci,"
Alena yang mendengar itu segera menjadi bingung dan minta kenapa hatinya terasa tidak nyaman.
Jadi pemuda ini, benar-benar menyembunyikan sesuatu dari dirinya?
Namun apa?
Hal itu, membuat Alena makin erat memegang kacamata itu, dua orang itu saling berebut, sampai Alena tidak sengaja tergelincir hampir jauh, untungnya pemuda itu berhasil menangkap Alena, dan sekarang kedua tangannya memeluk Alena.
Adegan itu berjalan dengan cepat, dan Alena akhirnya bisa melepaskan kacamata milik pemuda itu.
Alena meneliti sangat terkejut ketika melihat wajah yang sangat familiar ada dihadapannya...
Mata itu...
Wajah itu...
Itu benar-benar sangat mirip dengan seseorang begitu mirip hampir hampir tidak bisa dibedakan.
Alena jelas merasa syok setelah melihat wajah itu.
Dari semua kemungkinan dirinya tidak pernah mengharapkan kemungkinan yang paling buruk ini.
Alena segera mendorong pemuda itu, dan kacamata itu jatuh ketanah.
"Sean! Kamu!! Kamu menipuku!! Brengsek!!"
Alena kelas berapa dipermainkan ketika melihat wajah itu.
"Lena, dengarkan Aku, Aku bukan Sean...."
"Aku sudah melihat segalanya namun kamu masih mengelak? apakah menurutmu itu sangat menyenangkan mencoba mempermainkan hatiku? Kamu... Kamu begitu brengsek Sean... Kamu... Kamu...."
Alena sejujurnya tidak bisa berkata-kata lagi karena ada begitu banyak kemaren kesedihan dan kekecewaan dalam hatinya.
Dirinya benar-benar tidak pernah menyangka...
"Aku bukan Sean... Aku tahu, hal ini pasti akan terjadi jika kamu melihat wajah ku, namun percayalah, Aku bukan Sean... Maksudku, Aku adalah Saudara Kembar Sean, Liam Xavier Dirgantara. Aku masih lah berasal dari Keluarga yang kamu benci itulah kenapa Aku menyembunyikan wajahku, aku awalnya tidak bermaksud seperti itu karena memang penampilanku seperti ini, dan kita berdua bertemu dan segalanya menjadi seperti ini...."
"Saudara Kembar?"
__ADS_1