Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 28: Terlihat Berbeda?


__ADS_3

Teman-teman kelompok yang lain, yang melihat Alena dan Sean akhirnya mulai berdebat dan ingin bertengkar itu segera mencoba untuk menengahi.


"Ayolah, kalian berdua, saat ini kita di rumah sakit Kenapa kalian berdua malah bertengkar seperti itu? Sean, kamu itu, padahal Alena kan sudah berniat baik untuk menjengukmu Jadi kamu jangan terlalu kasar seperti itu, benar bukan Alena?"


Alena yang mendengar salah satu teman kelompoknya itu berbicara segera mengangguk dan berkata,


"Ya, kamu itu harusnya bersyukur Aku mau menjengukmu untuk memastikan kamu masih hidup atau tidak,"


Alena mengatakannya dengan ketus.


Sean memilih untuk tidak menanggapi kata-kata gadis itu, karena sepertinya tidak akan selesai jika berdebat terus dengan gadis itu.


"Baik, Aku berterima kasih kepada kalian semua karena sudah repot-repot menjeguk ku di Rumah Sakit,"


"Tentu saja, tentu saja, kami tentu saja khawatir dengan keadaanmu, maksudku, kami saat itu sedang menuju ke tempat kamu akan bertunangan dan mendengar tiba-tiba kamu kecelakaan,"


Sean yang mendengar itu, segera bertanya lagi,


"Kalian semua akan datang?"


Lebih tepatnya, Sean penasaran apakah Alena benar-benar akan datang ke acara Pertunangannya dengan Neila itu.


Yah, tidak mungkin pula Gadis itu berniat datang.


Namun jawaban yang diberikan oleh teman-temannya itu membuat Sean terkejut.


"Ya, kami semua datang, padahal kami juga sudah repot-repot membujuk Alena agar ikut, nanti bisa foto-foto bersama disana kan asik juga, malah ada insiden kecelakaan segala,"


Tatapan Sean lalu segera menatap ke arah Alena, yang saat ini malah Gadis itu memalingkan wajahnya seolah-olah tidak ingin bertemu dengan tatapan Sean.


"Sudahlah, sebaiknya kita tidak perlu lagi mengungkit-ngungkit soal pertunangan yang batal itu pastilah Sean juga sedih karena pestanya menjadi kacau karena kecelakaan itu," kata salah satu teman yang lainnya.


Lalu, salah satu teman juga segera memberikan sekeranjang buang pada Sean, yang sudah mereka bawa sebelumnya.


Salah satu anak perempuan mulai bertanya, pada Sean,


"Wow, tanganmu bahkan terluka? Kamu pasti akan kesulitan untuk memakan buah Apakah kamu ingin bantuan dari kami untuk mengupasnya?"


Mendengar tawaran dari teman-temannya itu, Sean tentu saja merasa sangat senang dan menerima bantuan mereka tanpa banyak berpikir.


Jujur, tangannya saat ini sangat sakit sekali.


Ini benar-benar salah dirinya yang lain, yang melukai diri sampai menumbuhkan luka yang parah di tangannya yang bahkan sampai saat ini belum pulih.


Ada berbagai macam buah di keranjang buah.

__ADS_1


Alena yang melihat teman-teman Perempuan yang lainnya mulai mengupas buah itu merasa sedikit tidak nyaman jadi dirinya ikut membantu mereka untuk mengupas buah bahkan walaupun dirinya tidak senang karena harus membantu Sean.


Alena segera menatap ke arah keranjang buah itu lalu segera menatap ke arah tertentu.


Disana ada buah Pir?


Dirinya ingat, kalau Xavier sangat benci makan buah Pir, dia bilang rasa buah itu tidak enak.


Jadi, Alena tentu saja ingin megetes saja, apakah Sean menyukainya atau membencinya.


Alena segera mengupas buah itu, cukup cepat daripada teman-teman yang lain karena sepertinya Alena sudah cukup terbiasa untuk mengupas buah.


Sean yang tiba-tiba mendapatkan satu piring kecil buah pir di depannya itu terkejut apalagi yang memberikannya adalah Alena.


Teman-teman lainnya, terlalu asik di Sofa dan bermain-main dengan buah dan mengupas buah itu jadi tidak terlalu memperhatikan tentang apa yang dua orang itu bicarakan.


Sean berbisik pelan pada Alena,


"Jadi apakah kamu sekarang mencoba untuk menjadi Istri yang baik yang memperhatikan Suaminya?"


Alena yang mendengar lelucon itu hanya segera memutar matanya dan berkata dengan sinis,


"Aku hanya melakukan ini karena aku masih memiliki hati nurani, tidak seperti kamu,"


"Pfff... Tapi kamu benar-benar mengupaskan buah kesukaanku, Aku hampir saja berpikir apakah kamu mencari tahu soal Aku,"


Alena yang mendengar itu segera cukup terkejut tidak mengira jika buah itu kesukaan pemuda yang ada di depannya itu.


Namun mendengar kata-kata penuh percaya diri itu membuat Alena kesal.


"Kamu pikir, Aku adalah orang yang kurang kerjaan untuk mencari tahu kamu itu seperti apa? Seolah waktuku bebas saja,"


Sean sendiri, terlihat asik untuk menikmati buah pir itu.


"Kenapa kamu tidak mulai mengupaskan buah pir lagi untukku?"


"Memangnya Aku pembantumu? Benar-benar merepotkan,"


Sean entah kenapa suka untuk menggoda dan membuat gadis yang ada di hadapannya itu marah.


Sean segera berbisik lagi dengan pelan,


"Tapi kamu adalah Istriku bukan? Kamu juga seharusnya senang melihat aku selamat dari kecelakaan itu, jadi kamu tidak cepat-cepat jadi Janda,"


Alena yang laki-laki mendengar kata 'Istriku' dari mulut Sean, jelas menjadi ingat soal mimpi menyeramkannya semalam.

__ADS_1


"Diamlah, dan jangan sebut-sebut soal hal itu! Bagaimana jika teman-teman ada yang mendengar? Hah, apakah kamu ingin semua orang tahu?"


Sean lalu segera berkata lagi,


"Jika memang iya kenapa?"


"Memangnya kamu berani? Kakakku yang akan megulitimu hidup-hidup setelahnya," kata Alena dengan nada sinis.


Sean lalu segera menunjukkan ekspresi berpura-pura takut,


"Awww... Kakak Ipar Alexander Smith pasti mengerikan, tapi dia pasti akan memanfaatkanku, karena tidak ingin melihat adiknya segera menjadi janda,"


Alena yang kesal, segera menumpuk kepala Sean dengan bantal yang ada disana.


"Astaga, kenapa kamu memukul kepalaku? Tidakkah kamu tahu jika kepalaku ini sedang terluka? Bagaimana jika nanti gagar otak?"


Alena yang mendengar keluhan itu segera tertawa dan berkata,


"Itu memang akan lebih baik jika kamu gagar otak mungkin otakmu yang saat ini sedang tidak benar dan konslet itu akan bisa membaik setelah kamu gagar otak,"


"Dasar gadis gila,"


"Dasar Pria Brengsek!!"


Pada akhirnya mereka bertengkar lagi, dan teman-teman yang lain yang melihat mereka berdua bertengkar segera mencoba untuk memisahkan mereka.


Dari sini, Alena tahu jika, Sean sepertinya benar-benar sakit cukup parah terutama di bagian kepala dan Kakinya.


Kemarin, Xavier bisa berjalan normal dan baik-baik saja kepalanya juga tidak ada benturan sedikitpun seperti luka yang ada di kepala Sean.


Lalu, hal-hal yang mereka suka dan benci, benar-benar kadang sangat berkebalikan.


Bagaimana, Sean menyukai Kopi, dan Xavier benci Kopi.


Sean yang suka Buah Pir, dan Xavier benci Pir.


Terlihat juga, Sean menyukai hal-hal pahit, dan Xavier lebih menyukai hal-hal manis seperti rasa vanila.


Alena mulai membuat kesimpulan jika sepertinya dua orang itu memang terlihat berbeda.


Ya, hanya wajah mereka saja yang mirip kepribadian juga sangat-sangat jauh berbeda.


Jadi...


Mereka berdua hanyalah orang yang beda bukan?

__ADS_1


__ADS_2