Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 22: Keinginan


__ADS_3

"Jadi menurut Dokter, alasan kenapa 'Dia' sering keluar karena dia mulai memiliki egonya sendiri?" Kata Sean dengan kaget.


Ya, saat ini Sean sedang berada di salah satu pusat rehabilitasi, untuk konsultasi pada salah satu Dokter Psikologis langganannya sejak lama.


"Ya, menurut pendapat saya ini lebih seperti dia mulai menginginkan sesuatu, sehingga dia lebih banyak mengambil alih tubuh Utama, Dila mulai mengembangkan keinginan yang lebih dari kemampuannya, Sebenarnya saya cukup khawatir jika ini dibiarkan semakin lama benar-benar mungkin bisa mengamil alih kepribadian utama,"


Sean yang mendengar itu jelas merasa cukup syok dan panik.


"Tidak, hal semacam itu jelas tidak bisa dibiarkan aku yakin aku cukup kuat untuk bisa menahannya, keinginanku lebih kuat dari pada miliknya, dia tidak akan pernah bisa mengambil alih ku,"


"Mungkin iya, Aku hanya mengatakan sesuatu yang sangat jauh di masa depan, hanya Jika dalam waktu dekat pemukiman hanya akan lebih mengganggu kegiatan sehari-hari anda karena dia akan lebih muncul karena keinginannya itu,"


"Jadi, menurut Dokter, apa yang harus aku lakukan agar dia tidak muncul lagi? Atau solusi terbaik yang bisa aku lakukan saat ini?"


"Seperti saran saya sebelumnya temukan, sebab dan alasan kenapa dia muncul, cari pemicunya, kenapa dia muncul, ini bisa sesuatu yang benar-benar random dan mungkin tidak akan pernah anda duga, keinginan yang membuat dia bahkan ingin mengambil alih, ini pastilah sebuah keinginan yang sangat kuat,"


Sean yang mendengar itu segera terdiam, seolah mencoba memikirkan juga soal pemicunya.


"Baik, Dokter. Aku pasti akan mencoba mencari tahu gerak-gerik nya,"


Dan setelah beberapa konsultasi itu, Sean akhirnya pergi dari tempat itu.


Saat ini pikirannya masih tertuju pada kata-kata dokter barusan...


Sebenarnya, dirinya yang lain sudah sangat lama muncul...


Hanya, tiba-tiba saat kejadian hari itu di hutan, itu adalah kejadian setelah sekian lama.


Dirinya tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba muncul.


Namun jika di pikir-pikir lagi, saat itu dirinya ada di penginapan dengan Alena ketika dirinya mulai sadar kembali.


Hanya...


Apa jangan bilang ini ada hubungannya dengan Alena?


Tidak, tidak, bagaimana juga jika Alena ada hubungannya dengan dirinya yang lain itu jelas tidak mungkin.


Mau bagaimanapun juga, tubuh yang di gunakan masihlah tubuh ini, Alena pasti hanya akan sangat benci jika melihat wajah miliknya ini.


Mungkin ini sesuatu yang lain?


Dirinya yang lain, sangat pintar untuk menyembunyikan sesuatu.


Dia benar-benar bisa menyembunyikan semua barang-barang miliknya di tempat yang tidak bisa dirinya temukan.


Sean menjadi pusing sendiri ketika memikirkan ini.


####


Dan begitulah hari-hari berlalu dalam sekejap mata.


Alena saat ini sedang menatap ponselnya, menunggu sebuah balasan email dari seseorang.


Namun terakhir kali indahnya dibalas itu adalah hari sebelum mereka berdua bolos kelas.


Sejak hari itu tidak ada lagi kabar dari pemuda itu, tidak ada satu email pun yang dia kirimkan.


Hal ini jelas sangat mengganggu Alena.

__ADS_1


Padahal sebelumnya pemuda itu sempat berjanji padanya di pertemuan berikutnya dia ingin mengatakan segalanya.


Namun jika dipikir-pikir lagi, kapan pertemuan berikutnya itu?


Ini sudah hampir satu minggu sejak pertemuan terakhir mereka namun tidak juga memiliki kabar.


Alena menjadi sangat takut, jika pemuda itu tiba-tiba menghilang salah seperti 3 tahun lalu.


Menghilang tanpa jejak seolah-olah pemuda itu tidak pernah ada di manapun.


"Sial, harusnya Aku mencari lebih banyak info soal dia,"


Alena sekarang mulai menatap kearah ponselnya yang dari tadi terus berbunyi. Di Grub Chat Kelompok yang dirinya ikuti, saat ini sedang ramai, jelas membahas soal rencana mereka untuk datang bersama ke Pesta Pertunangan Sean.


Salah satu anggota kelompok, bahkan secara pribadi mengirimkan pesan kepada Alena, agar Alena mau datang bersama mereka.


Alena jumlah sudah menolak ajakan itu namun dirinya terus di spam pesan oleh orang-orang.


Dan akhirnya tidak tahan lagi, dan mengirimkan pesan,


"Mari lihat nanti malam, aku mungkin akan datang,"


Ya, Alena jelas hanya mengatakan itu untuk membuat semua orang tenang, soal apakah nanti malam dirinya akan datang atau tidak, dirinya hanya kita bisa membuat alasan tiba-tiba mendadak sakit atau memiliki acara.


Siapa pula yang mau datang ke Acara Pertunangan Sean itu?


Hah, seolah Alena merasa kesal hanya untuk memikirkan datang ke sana saja.


####


Di tempat lainnya, saat ini Sean bukannya sibuk untuk menyiapkan acara pertunangan nya namun dia masih sibuk memikirkan soal dirinya yang lain itu, yang malah tidak muncul seminggu ini.


Padahal Sean sudah menyiapkan beberapa hal, untuk mencoba menyelidiki dirinya yang lain itu seperti memasang alat pelacak dan sebagainya.


Dirinya tidak tahu, kapan dan apa yang 'dirinya yang lain' lakukan, namun dirinya yang lain tahu dan melihat apa yang saat ini dirinya lakukan.


Sean sekarang mulai menatap kearah cermin seolah sedang mencoba berbicara dengan dirinya sendiri.


"Jawab Aku, aku tahu kamu disana kenapa kamu tidak keluar saja?"


Namun tidak ada jawaban di sana.


"Hey! Jawab Aku! Aku tahu kamu di sana!" Kata Sean lagi, sambil merasa sangat kesal ketika menatap kearah ke cermin, berharap mendapatkan jawaban dari dirinya yang lain.


Namun sekali lagi, tidak ada jawaban disana.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan?"


Namun kali ini, ada sedikit perubahan yang terjadi.


Sean mungkin mulai tidak sadar, namun tangannya mulai bergerak melukai ujung jarinya sendiri sampai berdarah dengan ujung alat pencukur yang ada di kamar mandi itu, lalu perlahan-lahan, jari yang penuh darah itu, mulai menulis di cermin kosong itu.


Itu hanya berlangsung beberapa menit, sampai Sean mulai mengembalikan kesadarannya.


Sean sekarang menjadi sangat kaget dengan tulisan yang ada di cermin.


Sesuatu yang ditulis dengan darah, dari sini Sean mulai merasakan tangannya yang terasa perih dan sakit, dan darah masih keluar dari ujung jarinya.


Tulisan itu, sedikit tidak jelas karena di buat dengan buru-buru.

__ADS_1


Sean, perlahan-lahan mulai mencoba membaca tulisan itu.


Dirinya, benar-benar menjadi kaget setelah tahu isi tulisan hidung.


"Batalkan Pertunangannya dengan Neila?"


Sean yang membaca itu benar-benar tidak bisa habis pikir.


"Permintaan ini benar-benar tidak masuk akal,"


"Kamu seharusnya juga tahu, apa yang penting dari pertunangan ini, ini demi memuaskan Ayah dan Ibuku, tidak lebih dan tidak kurang,"


Namun sekali lagi, tidak ada balasan berikutnya.


Namun hal berikutnya yang terjadi, Sean kembali tidak sadar.


Kali ini, tangan itu mulai memukul kaca itu sampai pecah, membuat tangan itu mulai terkena pecahan-pecahan kaca, dan darah dimana-mana.


Hal terakhir yang Sean ingat, hari itu adalah rasa sakit di pergelangan tangannya, dan dia yang kehilangan banyak darah, sampai Sean kali ini benar-benar kehilangan kesadarannya.


Akhirnya, hari itu Pesta Pertunangan itu di batalkan karena Sean masuk Rumah Sakit.


Alena, malam itu yang diseret oleh salah satu temannya yang berniat untuk datang, jelas menjadi kaget ketika dalam perjalanan.


"Apa? Pestanya tiba-tiba batal? Apa yang terjadi?" Kata salah satu anggota kelompok dengan panik.


"Di sini kabarnya, terjadi semacam Kecelakaan yang menimpa Sean, untuk ditanya, kami tidak tahu,"


"Kenapa bisa ada hal seperti itu terjadi?"


Alena sendiri, entah kenapa merasa cukup lega dan senang karena pestanya batal.


Bukan, seperti itu, Alena mencoba meyakinkan dirinya, dirinya senang pesta itu batal karena dirinya tidak perlu repot-repot datang ke pesta menyebalkan semacam itu.


Ketika Alena mencoba untuk mengalihkan pikirannya dan menatap kearah ponselnya.


Kali ini, mencoba untuk mengecek emailnya, sangat mengejutkan ternyata ada pesan yang dirinya tunggu-tunggu.


'Mari bertemu tiga hari lagi, di tempat biasanya,'


Pesan ini, kurang lebih di kirim kurang lebih satu jam lalu.


Alena yang membaca pesan itu jelas merasa sangat senang.


Sampai-sampai, Alena tidak bisa berhenti tersenyum, hal itu disadari oleh salah satu teman kelompoknya.


"Alena? Kenapa kamu malah tersenyum dari tadi? Jangan bilang, kamu senang Pesta Pertunangan Sean batal? Astaga, apakah sebenarnya kamu diam-diam memiliki...."


Alena yang sisa-sisa dituduh secara tidak masuk akal itu segera berkata dengan marah,


"Apa? Memangnya kalian mikir aku selalu untuk memiliki perasaan pada si gila itu? Aku hanya baru saja, menerima seberapa kabar aku selain dari seseorang, ini jelas tidak ada hubungannya dengan Sean,"


"Ah, apakah ini seorang Pria?"


Wajah Alena segera menjadi merah setelah temannya itu mengatakan itu, dan kemudian satu mobil menjadi heboh, membicarakan soal Alena yang mungkin sedang jatuh cinta itu.


"Kalian! Berhenti mulai bergosip aneh-aneh tentangku! Ini tidak seperti itu..." Kata Alena dengan kesal, jelas mencoba mengelak tujuan itu takut takut gosip ini malah menyebar dan sampai ke telinga Ayah atau Kakaknya.


Hal-hal yang sebaiknya, belum boleh mereka tahu.

__ADS_1


Alena kisah memikirkan ini jadi merasa semakin bersalah dirinya yang menyembunyikan terlalu banyak hal dari keluarganya...


Apakah ini tidak apa-apa?


__ADS_2