
Saat ini, di salah satu pemakaman terlihat seorang Pria cukup muda, dan seorang wanita yang terlihat cukup tua sedang berdiri di depan sebuah makam.
Mereka berdua terlihat baru saja memberikan karangan bunga pada makam-makam itu.
Sang wanita parubaya itu, lalu segera berkata pada pria di sampingnya itu,
"Vano, ketika kamu melihat makan ini kamu harus ingat tentang tragedi apa yang membuat Nenek dan Ibumu meninggal,"
"Ya, Tante. Aku tidak akan pernah melupakan soal hal-hal yang pernah Ibuku Alami, sampai dia meninggal,"
"Ya, Kakak sepupuku benar-benar memiliki nasib yang malang, dia dulu di paksa memasuki Rumah Sakit Jiwa, Hal itu benar-benar membuat dia kehilangan hampir kewarasannya, namun Ibumu begitu cantik, dan akhirnya dia di lecehkan oleh Petugas Rumah Sakit dan berikutnya... Vano, kamu harus tahu untuk Ibumu, Caludia memilikimu adalah hal yang paling sulit yang dia lakukan, Aku membantu mereka untuk membesarkanmu, agar kamu bisa balas dendam pada keluarga yang membuat Ibumu memiliki nasib yang malang seperti itu, Keluarga Smith,"
Pria muda itu yang mulai mendengar cerita lama itu segera menunjukkan ekspresi kemarahan yang jelas.
"Tante tenang saja, Aku pasti akan membalaskan dendam Ibuku pada mereka, Aku pastikan Aku akan merusak Putri Keluarga mereka, seperti bagaimana mereka merusak Almarhum Ibuku,"
"Itu bagus Vano, itu adalah tugasmu untuk balas dendam,"
Ya, Pria muda itu adalah Vano Vincent Celeste, Putra dari Caludia Celeste, musuh masalalu dari Ibu Alena, Emelin Smith.
Hal-hal masa lalu yang belum selesai kembali datang untuk menghampiri Keluarga Smith dari bayang-bayang.
####
Hari-hari segera terlalu dalam sekejap, dan Alena menikmati hari-hari damai tanpa melihat wajah Sean di kamous, karena masih ijin sakit.
Namun tentu saja, sesekali, Alena masih akan bertemu dengan Xavier, Alena saat ini sedang tidak lagi ingin memikirkan soal Sean dan Xavier apakah benar-benar saudara kembar atau tidak.
Alena cukup percaya dengan insting yang dimilikinya.
Dan sekarang adalah hari lain ketika Alena sedang menunggu pemuda yang sekarang menjadi kekasihnya itu di perpustakaan.
__ADS_1
Tentu saja, orang yang Alena tunggu tidak kunung datang.
Namun ada pemuda lainnya yang datang ke Perpustakaan itu,
"Kak Alena? Kebetulan sekali kita bertemu lagi di perpustakaan,"
Alena yang mengenali sosok pemuda itu lalu segera tersenyum dan berkata,
"Vano? Hari ini kamu di perpustakaan juga? Kita jadi sering bertemu,"
"Benar, aku tidak mengira jika kakak sering ke sini,"
"Aku memamg selalu suka untuk pergi ke perpustakaan sejak aku masih di SMA,"
Vano lalu secara natural segera duduk di kursi kosong di samping Alena, sambil mencoba terus melanjutkan topik pembicaraan.
"Wow, Kak Alena sangat rajin sekali untuk belajar pantas jika kamu selalu juara di kelas, banyak mahasiswa yang mengagumi Kak Alena, selain karena kakak begitu cantik kakak juga sangat pintar benar-benar Mahasiswi Idola kampus,"
Alena yang tiba-tiba dipuji itu jelas merasa cukup malu lalu segera berkata,
Vano yang mendengar itu segera tersenyum dan berkata lagi,
"Aku tidak berlebihan aku hanya mengatakan apa yang aku lihat, Aku juga salah satu pengagum Kak Alena, karena Kakak sangat cantik,"
"Ya ampun, Vano, kamu itu pintar sekali bukan untuk merayu seorang gadis?"
"Merayu apa? Aku benar-benar hanya bilang hal jujur, pasti Pria yang Kak Alena sukai adalah orang yang beruntung,"
Vano jelas sekali membuka topik ini, membahas soal Kekasih, ingin tahu apakah Alena memilikinya atau tidak terutama setelah melihat kedekatan Alena dengan pemuda aneh sebelumnya.
Karena jika sampai dua orang itu memiliki hubungan, rencana yang dirinya buat bisa saja gagal.
__ADS_1
Dirinya pertama harus mendapatkan hati gadis yang ada di depannya ini lalu berikutnya....
Ya, hanya baru satu langkah menuju balas dendam yang dirinya lakukan.
Namun ketika Alena bahkan belum sempat menjawab, ada seorang pemuda yang sudah datang ke tempat mereka berdua dan segera berkata,
"Tentu saja, Pria yang Lena suka adalah pria paling beruntung di dunia pasti sangat menyukai dan sangat senang dicintai oleh wanita cantik dan sepintar Alena,"
Alena memadang pemuda yang baru saja datang itu dengan ekspresi kaget.
"Xavier? Kamu disini? Kamu baru saja datang namun sudah mengatakan omong kosong,"
Pemuda yang datang itu, segera duduk di sisi kiri Alena, lalu memberikan minuman yang dibawanya.
"Apa? Aku hanya mengatakan kebenaran seperti hal-hal yang dikatakan oleh, Vano ini bukan? Ah, Aku terkejut melihat salah satu Junior begitu rajin ke perpustakaan, sepertinya setiap aku datang ke sini aku juga bertemu denganmu bukan, Vano?"
Vano yang bertemu dengan tatapan dingin dari pemuda itu jelas menjadi kesal.
Pemuda itu, yang selalu saja menggagalkan pendekatan yang dirinya lakukan pada Alena.
Sial, mungkin dirinya akan mencoba menyelidiki pemuda bernama Xavier ini lebih dalam, agar pemuda itu tidak bisa menggagalkan rencana yang dirinya miliki untuk bisa mendapatkan Alena.
"Kak Xavier? Aku juga cukup terkejut karena sering bertemu denganmu di perpustakaan, apalagi kamu sering bersama dengan kak Alena, apakah kalian sedang janjian atau sesuatu?" tanya Vano, jelas sambil menunjukkan senyumannya mencoba untuk menahan emosi.
"Ya, bagaimana jika memang aku dan Alena sedang janjian? Tidakkah kamu merasa jika keberadaanmu ini sangat mengganggu anatar Aku dan Alena?" kata Xavier dengan nada yang terlihat menyinggung pemuda yang ada di depan itu, seolah-olah benar-benar menegaskan bahwa Alena adalah miliknya.
Vano jelas saja kesal dengan provokasi itu namun saat ini tidak ada yang bisa dirinya lakukan.
Awas saja, Xavier!
Aku pasti akan menemukan Identitasmu!
__ADS_1
Ya, Vano tentu saja curiga pada identitas pemuda itu terutama karena pemuda itu tidak pernah menunjukkan dia dari fakultas mana, atau jurusan apa, bahkan wajahnya selalu tertutup kacamata dan tidak pernah dilihat orang seolah-olah benar-benar menyembunyikan wajahnya.
Terlalu mencurigakan jika dipikirkan.