
"Kyla, Apakah aku tidak salah lihat? Orang yang keluar itu Bukankah Sean Dirgantara?"
Kyla yang menatap bagaimana seorang pemuda baru saja keluar, seorang pemuda yang diwajah yang benar-benar cukup familiar.
"Sungguh? Itu benar-benar berani untuk menipu Kak Alena? Aku benar-benar tidak bisa membiarkan ini semua,"
Ada raut muka kemarahan ketika Kyla mengatakan itu, gadis itu benar-benar untuk melabrak pemuda yang baru saja keluar dari kamar mandi itu karena kemarahan yang dimilikinya.
Namun, Vano yang sedang memegang ponselnya merekam adegan di depan segera mencoba mencegah Kyla yang akan segera mengamuk itu.
"Kyla, kamu tunggu dulu jangan langsung segera ke sana,"
Kyla yang marah itu segera menatap ke arah Vano dengan heran,
"Apa maksudmu aku tidak bisa ke sana? Tidakkah kamu tahu bahwa si brengsek itu benar-benar menipu dan mempermainkan saudaraku Alena! Hanya memikirkannya saja membuat aku sangat marah dan kesal!"
"Aku jelas mengerti tentang perasaanmu namun aku merasa jika kamu datang Dan memarahinya seperti itu bukankah tidak berguna? Yang paling penting sekarang adalah bagaimana cara memberitahu Alena soal ini, bahwa dia telah ditipu,"
Kyla yang mendengar rencana ada yang ada di sampingnya itu segera mencoba untuk menenangkan dirinya dan mulai berpikir jika rencana yang dimiliki pemuda itu benar.
Yang paling penting sekarang bagaimana cara memberi tahu kakaknya itu jika dia selalu dibodohi dan ditipu oleh Sean.
"Kamu benar, Aku akan bertemu dengan Kak Alena,"
"Namun kita tidak bisa terburu-buru dalam mengatakan ini lebih tepatnya kita harus mengumpulkan cukup bukti untuk membuktikan itu agar Alena percaya,"
"Kamu benar mungkin dengan kata-kata ini tidak mudah untuk membuat Kak Alena percaya, namun sungguh aku benar-benar tidak menyangka jika si brengsek itu sudah merencanakan permainan ini sejak lama, bisa-bisanya dia mencoba mempermainkan Kak Alena? Coba dipikir lagi, apa sebenarnya salah Kak Alena? Aku tahu jika keluarga mereka memiliki hubungan yang buruk, dan masalalu yang panjang, namun bukankah jika dipikirkan lagi ini jelas tidak ada hubungannya dengan Kak Alena? Ini tidak seperti Kak Alena tahu apapun soal hal-hal dimasalalu, namun kenapa dia malah menjadi pelampiasan semacam itu?"
Kyla mengatakan semua itu dengan ekspresi sedih yang ada di wajah benar-benar merasa semua ini tidak masuk akal.
Vano yang mendengar kata-kata dari gadis yang ada di hadapannya itu tiba-tiba menjadi terdiam seolah tenggelam dalam pikirannya dirinya merasa jika dirinya juga di singgung dengan perkataan itu.
Mendekati Alena karena sebuah maksud tersembunyi seperti dendam masa lalu yang panjang kepada orang tuanya.
Namun Alena sebenarnya juga tidak tahu apa-apa soal masalah yang menimpa Almarhum Ibunya.
Hanya...
Vano tiba-tiba merasakan berapa keraguan yang ada di dalam hatinya soal rencana balas dendam yang seakan tidak masuk akal itu.
Hanya apa yang akan terjadi setelah rencana itu terjadi?
Tiba-tiba, senyuman Alena muncul dalam benak Vano, sebuah senyuman manis dan ceria dari seorang gadis muda, senyuman yang penuh dengan ketulusan dan kebaikan hati.
Jika ada yang salah bukankah itu, karena Alena putri dari Keluarga itu?
"Hah, semakin aku memikirkannya ini semua semakin tidak masuk akal, hah kenapa si brengsek Sean itu, melampiaskan amarahnya kepada Kak Alena dan menipunya?"
Kyla laki-laki mengatakan itu dengan penuh emosi dan kemarahan di hatinya dan kata-kata itu segera menyadarkan Vano dari lamunannya.
"Aku juga tidak tahu terkadang orang-orang selalu penuh misteri dan tidak tahu apa yang dipikirkannya,"
"Kamu benar, Mari kita membahas soal masalah ini dengan Kak Alena besok pagi," kata Kyla lagi.
"Ya, aku juga sudah merekam tentang bagaimana Xavier masuk ke kamar mandi, lalu dia terlihat mengganti semua bajunya dan keluar sebagai Sean,"
"Itu benar-benar bagus,"
####
Ini adalah sebuah hari baru, Alena saat ini berangkat ke kampus lebih awal karena Kyla, tiba-tiba ingin bertemu dengannya karena ingin mengatakan hal yang sangat penting.
Alena tentu saja menjadi penasaran tentang apa yang ingin dikatakan oleh saudaranya itu.
"Tumben sekali kamu ke kampus lebih awal hari ini?" kata Julio yang kebetulan memang jadi dia berangkat ke kampus lebih awal dan akhirnya pergi ke kampus bersama saudara kembarnya itu.
__ADS_1
"Kyla bilang dia ingin bertemu denganku pagi ini katanya sih ingin membicarakan hal-hal penting,"
"Kyla? Oh benar juga aku sudah lama tidak bertemu dengannya bagaimana jika aku ikut?"
Alena tentu saja tidak merasa keberatan, lagipula Kyla tidak bilang untuk dirinya hanya boleh datang sendiri.
"Tentu kenapa tidak? Namun bukankah kamu memiliki kelas pagi?"
"Ini hanya melajutkan Lukisan yang sebelumnya, teh aku sebenarnya sudah selesai dengan lukisan itu dan tinggal mengumpulkannya hari ini jadi aku rasa tidak terlalu masalah untuk datang sedikit terlambat,"
"Wow, Mahasiswa Fakultas Seni terlihat cukup santai bukan?"
Julio yang mendengar itu segera tertawa dan berkata,
"Santai bagaimana? Teman-teman Sekelasku, saat ini sedang kelabakan untuk menyelesaikan tugas itu bagaimanapun juga karena nanti hasil dari lukisan ini akan dipamerkan di Ulang Tahun Kampus tidak lama lagi jelas hanya orang-orang tertentu yang bisa terpilih untuk mengikuti pameran yang itu artinya ini semua salah satu cara untuk awalan mendapakan sponsor,"
"Namun kenapa kamu malah begitu santai begitu?"
"Apa? Aku cukup percaya diri lukisanku di pameran itu,"
"Cih, dasar sombong,"
Sepasang saudara itu tengah asik bercakap-cakap hingga waktu berlalu dengan cepat dan keduanya segera tiba di kampus.
Setelahnya mereka segera menuju ke salah satu taman, di mana di sana ada meja dan kursi yang biasa digunakan mahasiswa untuk mengerjakan tugas atau pertemuan dan di sanalah tempat Alena janjian dengan Kyla.
Sayangnya ketika melewati sebuah lorong keduanya bertemu dengan sosok familiar.
Itu adalah Sean yang saat ini memakai gips, yang membuat buku dengan cukup sulit.
Alena jelas ingin mengabaikan Sean, namun Julio jelas menjadi kepo dan segera ingin membuat Sean kesal.
"Astaga, ini Sean bukan? Sejak kapan tanganmu menjadi cacat seperti itu? Mungkin itu karena untukmu karena kamu selalu berbuat jahat,"
Sean segera menatap Julio yang terang-terangan sekali mengejeknya jelas membuat Sean kesal, lalu Sean mencoba tetap tenang dan berkata dengan beberapa sindiran.
"Cih, jangan memanggilku seperti itu, sungguh itu membuatku jijik di panggil Kakak Ipar seperti itu olehmu,"
"Tapi Kak Julio lah yang memberikan Restu pada pernikahan kami setelah semua, ini membuatku penasaran bagaimana jika sampai Ayah atau Kakakmu tahu? Jika kamu yang menikahkan kami, Kakak Ipar,"
Wajah Julio segera menunjukkan ekspresi pucat berkata dengan marah,
"Omong kosong! Aku jelas tidak ada urusannya dengan petaka kalian berdua jadi tolong jangan libatkan aku aku benar-benar tidak tertarik, bukankah lebih baik kalian bercerai secepatnya saja?" kata Julio marah.
"Tapi Kami tidak bisa bercerai, ini adalah sebuah janji suci dalam hubungan pernikahan, bagaimana kamu bisa bercerai dengan mudah?"
Julio merasa muak melihat wajah tersenyum di depannya itu lalu segera protes kepada saudara kembarnya yang dari tadi diam saja.
"Alena, itu urus suamimu, dia benar-benar menyebalkan,"
Alena yang dari tadi diam hanya segera melaksanakannya dan berkata,
"Sudah tahu dia menyebalkan, kenapa pula kamu mengajak bicara setan itu?"
Sean yang merasa dirinya dipanggil makin tidak sopan oleh Alena segera bekata dengan kekecewaan,
"Alena sayang, kenapa kamu bicara seperti itu pada suamimu ini? Kenapa sampai memanggilku setan,"
Alena tentu saja merasa kesal dengan godaan itu dan berkata dengan dingin,
"Owh, Aku ralat, Dia Iblis,"
Julio yang mendengar kata-kata dingin dari adiknya itu segera tertawa dan berkata,
"Ya, dia memang jermaan Iblis murni, rasanya aku hanya ingin mengakui wajahnya ketika melihat senyum munafiknya itu,"
__ADS_1
"Kenapa tidak Kak Julio pukuli saja dia? Aku mungkin cukup tertarik dengan pertunjukan pagi yang menyenangkan,"
Julio yang mendegar itu, segera teringat bagaimana dulu saat SMA pernah berkelahi dengan Sean, dan dipukuli pada akhirnya dengan menyedihkan, dan segera mengelengkan kepalanya.
"Owh, tidak, tanganku ini sangat berharga dan hanya aku gunakan untuk melukis sebuah karya seni yang indah, benar-benar tidak cocok untuk memukuli orang, Mari sebaiknya kita berdua pergi saja daripada melihat wajah yang merusak suasana indah di pagi hari ini,"
Alena memilih tidak berkomentar hanya segera pergi dari situ bersama Julio, Sean juga tidak terlalu peduli lalu mulai melanjutkan aktivitasnya.
Dan keduanya, segera tiba di lokasi tempat Alena janji bertemu dengan Kyla.
Alena jujur menjadi sangat terkejut ketika melihat ada pemuda tertentu yang duduk disamping Kyla.
"Kyla? Kamu mengajak Vano juga?"
Kyla hanya mengagauk, lalu segera menatap Julio dengan ekpresi kesal.
"Dan kenapa Kak Julio pakai acara ikut segala?"
"Astaga, Kyla kenapa kamu selalu kesal setiap melihat ku? Benar-benar sangat pilih kasih tentang kamu bagaimana kamu memperlakukanku dan Alena, padahal kami masih kembar,"
"Karena kamu itu sangat kepo dan berisik," kata Kyla lagi.
"Cukup, ayolah kenapa kalian selalu ribut setiap kali bertemu? Lihat, Vano jadi bingung melihat kalian berdua bertengkar seperti ini,"
Tatapan mereka bertiga lalu menetap ke arah Vano, yang mulai memperkenalkan dirinya di depan saudara Alena.
"Jadi, apa hal penting yang kamu ingin bicarakan?"
Kyla mengeluarkan ponselnya dan ingin segera menunjukkan video namun dirinya sedikit ragu, karena ada Julio disini.
"Apa? Kenapa kalian terlihat ingin merahasiakan sesuatu dariku? Benar-benar menyebalkan," kata Julio kesal.
Kyla lalu segera menghela nafas dan berkata,
"Baiklah aku akan langsung ke intinya saja, Aku pikir seharusnya semua orang yang ada di sini tahu pemuda bernama Xavier?"
Julio yang paling pertama berkata,
"Xavier siapa?"
Kyla lalu menatap Alena, dan Alina memberikan kode jika dia memang tidak pernah bercerita apapun pada saudara kembarnya yang sangat kepo itu.
Sudah Kyla duga, namun Alena terlihat tidak melarang Kyla untuk mengatakan hal-hal itu pada saudaranya.
Namun sebelum Kyla melanjutkan perkataanya, Julio yang terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu itu, segera berkata lagi,
"Apakah ini tentang Sean Xavier Dirgantara itu?"
Kyla berketa dengan panik,
"Jadi Kak Julio tahu juga soal orang itu?"
Alena kebetulan berkata dalam tempo yang sama dengan Kyla,
"Bukan, ini tidak ada hubungannya dengan Sean itu,"
Julio yang mendengar jawaban tidak sinkron itu jelas menjadi kaget.
"Astaga sebenarnya apa yang ingin kalian bicarakan?"
"Alena sebenarnya dekat dengan Pemuda misterius yang bernama Liam Xavier yang selalu memakai kacamata tebal, namun aku menemukan bahwa pria itu terlalu mencurigakan dan setelah aku menyelidikinya dia ternyata adalah Sean Dirgantara, yang mempermainkan Kak Alena,"
Alena jelas kaget begitu pula dengan Julio, dan Julio yang paling pertama merespon,
"Apa? Alena dekat dengan Sean? Jebakan apa? Jangan bilang soal Perni..."
__ADS_1
Alena segera membungkam mulut Julio takut saudaranya itu berbicara hal yang melenceng dan membongkar sebuah rahasia besar.
Tentu Alena masih sangat kaget dengan kata-kata Kyla bisa dibilang dirinya tidak mengerti.