Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 40: Tidak Adil


__ADS_3

Di depan sebuah gedung Apartemen, Alena saat ini bersama dengan Xavier, setelah beberapa keputusan dibuat itulah kenapa mereka berdua memutuskan untuk pergi kesini.


Ada sebuah keheningan ketika keduanya mulai memasuki gedung itu dan mulai naik lift.


Mungkin karena keduanya merasa sedikit canggung dan cemas tentang apa yang akan mereka lakukan hari ini.


Tepat ketika mereka sudah sampai di depan pintu kamar Apartemen, Xavier adalah seseorang yang bertanya lebih dulu.


"Lena? Apakah kamu yakin dengan keputusan yang kamu buat?"


Alena saat ini, memiliki wajah memerah, mungkin karena merasa malu dengan keputusan besar yang sudah dirinya buat dengan tergesa-gesa.


Namun, ketika sudah sampai sini, tidak ada kata mundur, Alena sudah siap untuk melakukannya lagipula, Pemuda yang disampingnya adalah Suaminya.


Alena paham, nenti pasti akan ada kekacauan sesudahnya, soal hubungan antara keluarga mereka, terlebih jika nanti 'Sean' muncul, hal-hal mungkin akan menjadi lebih rumit dan canggung.


"Tidak apa-apa, Aku akan melakukannya,"


Dua orang itu lalu segera memasuki pintu apartemen itu, pertama Alena menatap rasa keliling desain apartemen yang pertama dia masuki.


Memiliki desain yang cukup simpel, semua perabotan ditata dengan rapi dengan simetris, juga terlihat tidak ada debu sedikitpun.


Bahkan di ruang tamu, ada sebuah Rak Buku, yang berisi berbagai macam buku tertata rapi dan teratur berdasarkan judul dan nama buku.


"Namun apakah tidak apa-apa kita disini?" tanya Alena ragu.


Itu mungkin karena dua orang itu saat ini berada di Apartemen Sean, yang tidak begitu jauh dari Kampus.


"Tidak apa-apa, tidak ada orang yang biasanya apartemen ini. Sean biasanya tidak mengizinkan orang-orang memasuki apartemen ini dengan bebas, termasuk Keluarganya, mereka tidak kesini, biasanya Sean juga tidak begitu sering kesini, dia kadang masih tinggal di Rumah Keluarga Utama, bisa dibilang tempat ini adalah Tempat Pribadi Sean,"


Alena lalu kembali menatap sekeliling tempat itu yang memang terlihat seperti sebuah tempat yang jarang di huni, terasa sepi entah bagaimana, tanga Alena di gendeng oleh Xavier untuk menuju kamar utama di apartemen itu.


"Hanya, justru kerena ini tempat pribadi Sean? Apakah benar tidak apa-apa?"


Tetap saja Alena masih merasa ragu bagaimanapun juga jika ada keluarga Sean yang tiba-tiba datang ke apartemen itu hal-hal akan menjadi sangat buruk.


"Sudah aku bilang tidak apa-apa, tidak ada yang akan datang ke sini kamu tidak perlu khawatir, lagipula Aku merasa tidak nyaman mengajakmu ke Hotel, setelah semua ini adalah pengalaman pertama kita," kata Xavier dengan wajah sedikit malu, sambil mengelus pipi Alena.


Alena yang mendegar itu, juga segera merasa malu, stelah semua ini adalah pengalaman pertamanya.


Dua orang itu lalu segera duduk di tempat tidur utama di kamar itu saling menatap satu sama lain.


"Ya, ini pengalaman pertamaku, sejujurnya aku tidak tahu bagaimana harus memulai," kata Alena lagi, tangannnya tiba-tiba berkeringat, mungkin karena rasa gugup yang ada di hatinya.


Xavier yang mendengar itu hanya segera tersenyum dan berkata,


"Ya, ini juga adalah yang pertama untukku,"


Mendegar itu, Alena tiba-tiba menjadi kepikiran akan sesuatu lalu segera bertanya,


"Tidak, tapi sepertinya 'Pemilik Tubuh' itu sudah berpengalaman?"


Xavier yang mendengar itu lalu segera tertawa sambil mencubit ringan pipi Alena, merasa cukup gemas dengan pertanyaannya.


"Sean maksudmu? Dia memang terlihat seperti itu karena selalu di keliligi banyak gadis-gadis bukan? Tapi dia benar-benar masih perjaka, hmm itu mungkin tidak lebih dari pada sebuah ciuman?"


Alena yang baru saja mendengar hal itu jelas saja menunjukkan ekspresi terkejut karena benar-benar tidak pernah mengiranya, bagaimanapun juga, Sean yang Alena kenal memamg memiliki penampilan Badboy dan Playboy yang pastinya suka bermain-main, dan tentu mungkin sudah memiliki pengalaman, namun Sean itu benar-benar masih perjaka?


"Tapi dia bersikap sombong di depanku seolah-olah sudah memiliki banyak pengalaman,"


Xavier yang mendengar itu lalu kembali tertawa,


"Pfff... Ya, dia memamg selalu seperti itu, dia sebenarnya memiliki sikap pemalu yang tidak pernah kamu kira, dia selalu memiliki gengsi yang tinggi,"


"Dia? Pemalu? Aku benar-benar tidak mempercayainya,"


"Tapi sungguh, dia tidak begitu memiliki banyak pengalaman dengan gadis-gadis sebenarnya, lagi pula karena dia sebenarnya hanya fokus untuk belajar dan menaikkan prestasinya dia tidak memiliki waktu untuk hal-hal semacam itu,"

__ADS_1


Ketika membahas ini, rasa ingin tahu Alena tentang Sean mungkin menjadi lebih meningkat pasalnya karena orang yang ada di depannya ini mungkin lebih mengenal Sean dari siapapun, karena dia masih bagian dari Sean.


"Lalu bagaimana dengan Neila?"


Ya, masih menjadi misteri untuk Alena soal calon tunangan Sean ini, mungkin ini bisa menjadi masalah ke depannya.


Ketika ditanya hal itu, Xavier segera menjadi diam, lalu tatapannya berpaling dari Alena menatap ke arah lain.


"Dia adalah satu-satunya teman Sean? Hubungan mereka, sedikit rumit, namun Sean tidak pernah mengagap Neila lebih dari itu, namun Neila memamg seorang gadis penuh misteri aku juga benar-benar tidak tahu tentang apa yang ada di pikiran atau hati gadis itu, tapi yang jelas, Sean tidak memiliki perasaan semacam itu padanya jadi kamu tidak perlu khawatir,"


"Aku tidak khawatir, bukankah itu tidak penting untukku?"


"Kamu bilang ingin menjadikan Sean milikmu?"


Alena yang mendengar kata-kata itu segera merubah ekspresinya, dan berkata,


"Bukan seperti itu, yang ingin Aku miliki hanya kamu,"


Xavier kembali menatap gadis yang ada di sampingnya, memberikan beberapa ciuman ringan padanya.


"Kamu terkadang bisa bersikap lucu,"


Dua orang itu saling menatap satu sama lain seolah menginginkan satu sama lainnya.


Alena lalu menarik Pemuda dihadapannya itu, kembali menciumnya dalam ciuman panjang.


Dua-duanya sama-sama tidak memiliki pengalaman, jadi tidak tahu harus memulai darimana.


Keduanya hanya coba melakukan seperti biasanya namun harus lebih dari biasanya.


Keduanya salingberciuman dengan penuh keinginan, sampai beberapa saat, mulai tenggelam dan terbawa suasana.


Sampai saat ini, Xavier mendorong Alena ketempat tidur, membiarkan Alena ada dibawhanya, dan sekali lagi mulai bertanya untuk mencari kepastian dan keseriusan gadis yang ada di bawahnya itu,


"Lena, kamu benar-benar tidak apa-apa untuk melakukannya denganku?"


Ini adalah Xavier, namun juga Sean, rasanya masih sedikit sulit untuk menerima kenyataan ini.


Namun mungkin karena Alena pernah merasakan perasaan kehilangan ketika pemuda yang ada di hadapannya ini hilang dan tidak ingin lagi memiliki perasaan sedih dan menyakitkan itu lagi.


Jadi Alena memutuskan mengambil keputusan ini.


"Ya, tidak apa-apa,"


"Kamu tidak akan menyesalinya?"


"Tidak akan,"


Alena setidaknya merasa sangat yakin jika dirinya tidak pernah menyesalinya, setelah semua ini masih bsersama dengan orang yang diriya cintai, dan tidak tahu kapan Pemuda yang ada di hadapannya ini menghilang, jadi Alena pikir ingin lebih membuat banyak kenangan indah bersamanya.


Dan ini akan menjadi kenagan paling indah yang mereka miliki.


Malam Pertama mereka...


"Lena, aku begitu mencintaimu," bisik Xavier di telinga Alena, tangannya perlahan mulai membuka kancing kemeja Alena.


"Ya, Aku juga sangat mencintaimu, hari ini kamu miliku, dan Aku milikmu...."


####


Ini adalah Sore hari ketika Alena mulai kembali membuka matanya, mungkin karena perasaan lelah dirinya masih enggan untuk bergerak.


Alena yang membuka matanya itu, segera menyadari posisinya yang hanya terbalut selimut tanpa mengenakan apa-apa, dan disampingnya ada seorang pemuda yang memiliki situasi yang sama.


Jujur, Alena masih tidak menyangka jika dirinya benar-benar melakukannya dengan pemuda yang ada disamingnya itu.


Hanya...

__ADS_1


Ada beberapa perasaan rumit namun tidak ada penyesalan didalamnya.


Alena diam-diam mulai menatap wajah pemuda yang berada di sampingnya itu mengamati wajah tampan itu dari dekat.


Memori tadi siang masih sangat baru, dan Alena tiba-tiba merasa malu ketika memikirkan.


"Namun itu memamg menyenangkan..."


Ya, Alena tidak bisa mengungkirinya, itu jelas hal-hal yang menyenangkan.


Sampai beberapa saat, pemuda yang ada disampingnya itu segera membuka matanya.


Alena mungkin merasa kaget dan akhirnya merasa malu karena ketahuan menatap pemuda itu diam-diam dengan pikiran yang tidak senonoh, Alena mencoba menjaga jaraknya.


Pemuda yang baru saja membuka mata itu, menatap Alena dengan ekpresi kaget, benar-benar terlihat sangat syok dan tidak bisa memahami situasi.


"Alena? Why?"


Alena yang mendengar namanya dipanggil tiba-tiba itu segera menyadari tentang siapa sekarang yang ada di depannya itu.


Xavier memang pernah bilang sebelumnya padanya mungkin nanti ketika dirinya bangun yang dilihat bukanlah Xavier namun Sean akan kembali muncul, setelah semua Seanlah yang asli.


Tatapan Alena segera menjadi berubah dari ekspresi penuh cinta menjadi ekspresi kesal, lalu mulai membenarkan selimut yang dipakainya.


"Jangan dekat-dekat!!"


Sean tentu saja tidak bodoh, sejak Alena tiba-tiba menyebut-nyebut keberadaan Liam Xavier, dirinya langsung mengerti jika mungkin saja mereka memiliki semacam hubungan.


Namun sebelum Sean bahkan sempat memiliki pemikiran dan mengatakan hipotesisnya kesadarannya sudah menghilang dan disinilah sekarang ketika dirinya kembali sadar.


Dan dari posisi ini saja, Sean kurang lebih mengerti apa yang terjadi.


"Brengsek!! Apa yang kalian lakukan di belakangku?"


Alena hanya menatap bosan kearah Sean yang tiba-tiba marah itu dan berkata,


"Jangan seperti menuduh seseorang berselinghuh semacam itu,"


"Sialan!! Kamu... Alena kamu... Kamu benar-benar megijinkan si brengsek itu menyentuhmu?"


"Berhentilah menjadi begitu berisik!! Kenapa kamu menyebalkan sekali?"


"Fu*k, kamu bahkan tidak mengijinkan ku menciummu namun kamu mengijinkan si brengsek itu mengambil malam pertamamu, tidakkah itu tidak adil? Owh benar, kalian bahkan mengubakan tubuhku yang suci ini untuk melakukan hal-hal tidak senonoh!! Ini benar-benar tidak adil!! Dan Aku bahkan tidak ingat apapun, namun sekarang tubuhku sudah ternoda!"


Alena yang mendegar ocehan itu, segera menjadi marah dan melemparkan bantal pada Sean.


"Diamlah Setan!! Jangan mengatakan hal menyebalkan dan menuduhku sembarangan! Dan jangan bertingkah sok suci seperti itu!"


Sean yang malah mendapatkan perlakuan kasar itu entah kenapa merasa semakin tidak terima.


"Sialan, kamu Alena!! Aku merasa tidak terima seperti ini, tidakkah kamu harusnya memberikanku kopensasi?"


"Kompensasi apa? Sungguh, jangan berbicara omong kosong lagi!"


Sean segera mendekati Alena, baru hendak menyentuh tangan Alena, namun segera di tepis oleh Alena.


"Jangan menyentuhku, Bengsek!"


Sean yang lagi-lagi mendapatkan makian itu segera merubah ekspresinya menjadi semakin kesal.


"Kamu benar-benar sangat pilih kasih, sial, ini benar-benar tidak adil! Bukannya kamu harus melakukannya denganku juga?"


Ekpresi Alena segera menujukan wajah pucat.


Ini...


Ini tidak seperti yang di rencanakan.

__ADS_1


"Diamlah, dan jangan pernah berharap!" kata Alena pada akhirnya.


__ADS_2