Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 27: Terasa Aneh


__ADS_3

Sore itu, Alena masih bersama dengan pemuda itu disalah satu taman.


Alena itu jelas merasa tidak biasa untuk menatap wajah familiar dari pemuda yang ada di depannya.


Apalagi setelah beberapa ciuman, Alena tiba-tiba merasa sedikit canggung ketika menatap ke arah mata itu.


"Kenapa Lena?" tanta pemuda pada gadis yang ada di hadapannya itu yang sepertinya dari tadi masih saja menatap ke arah wajahnya.


"Hanya... Aku sedikit tidak terbiasa melihat kamu melepas kacamatamu seperti ini rasanya jadi sedikit aneh,"


Pemuda itu lalu segera mengambi kacamata yang sebelumnya terjatuh ke tanah dan mulai memakainya.


"Aku sudah menduga kamu mungkin merasa sedikit tidak nyaman untuk menatap wajah ini, sekarang apakah sudah lebih baik ketika Aku memakai kacamataku?"


Alena lalu segera menatap kembali ke arah pemuda yang ada di hadapannya yang sekarang memakai kacamatanya.


Alena baru sekarang menyadarinya jika wajah pemuda yang ada di hadapannya ini bahkan ketika memakai kacamata tebal itu memiliki beberapa kemiripan dengan Sean, misalnya hidung mancungnya, kulit putihnya atau mungkin bibirnya yang terlihat berwarna merah lembut.


Saat ini setelah menatap kembali wajah itu Alena benar-benar baru menyadarinya, hah ini membuat Alena merasa cukup syok kepada dirinya sendiri kenapa tidak menyadarinya selama ini, padahal kedua orang itu memang sedikit mirip, bahkan dengan kacamatanya, hanya saja memang perbedaannya cukup jauh ketika memakai kacamata tebal ini dan melepaskan kacamatanya.


Alena lalu segera melepaskan lagi kacamata yang dipakai oleh pemuda yang ada dihadapannya, dan masih melihat wajah Sean di balik kacamata itu.


"Kamu baru saja bersikap aneh dengan memandangku seperti itu, kamu bilang tidak membenci wajah ini?"


"Aku memang tidak membenci penampilan itu hanya saja aku masih belum terbiasa,"


Pemuda yang ada di hadapan Alena itu lalu segera tertawa dan berkata,


"Jadi mulai sekarang kamu harus terbiasa untuk melihat wajah ini?" katanya lalu sekali lagi mencium Alena.


Sore itu, sudah entah berapa kali mereka berdua berciuman, sampai dua orang itu cukup puas dan akhirnya berpisah.


Alena sendiri, tidak tahu kenapa dirinya begitu mudah untuk percaya kata-kata pemuda itu.


Hanya sekarang, karena ciuman-ciuman sebelumnya, Alena merasa dirinya mungkin tidak memiliki wajah lagi untuk bertemu atau berhadapan dengan Sean, karena Alena yang mengakui sendiri wajah Sean tampan.


Lagi pula karena dua orang itu kembar identik pula.


"Hah... Apakah aku harus benar-benar percaya?"


Pada akhirnya ketika dalam perjalanan pulang Alena terlalu sibuk dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Sampai ketika malam hari tiba dirinya mau tidur, Alena mendapatkan sebuah pesan dari temannya, ini adalah pesan dari salah satu teman kelompok, untuk mengajak Alena mengujugi Sean bersama ke Rumah Sakit.


Alena yang membaca salah satu pesan dari teman kelompoknya itu jelas segera menunjukkan ekspresi tidak senang segera berniat langsung bilang tidak.


Namun jari Alena segera berhenti sebelum mengirimkan pesan itu.

__ADS_1


Jelas, Alena masih merasa tidak senang dengan Sean, namun bukankah ini artinya dirinya bisa mulai menyelidiki apakah Sean dan Xavier adalah orang yang sama atau bukan.


Alena baru saja bertemu dengan Xavier, keadaan dia juga baik-baik saja tidak ada luka di dahinya, tangan atau gips di kakinya, benar-benar terlihat sehat.


Sean padahal saat ini berada di rumah sakit dan tengah dalam kondisi yang cukup buruk, dengan luka di kepala juga Kaki di Gips.


Mari ke rumah sakit saja untuk memastikan apakah itu kebenaran atau hanya pura-pura.


Namun Alena jelas tidak berani bertanya langsung kepada Sean, lagipula jika ini sebuah penipuan dari orang itu tentu saja orang itu akan menjawab memiliki kembaran.


Jadi setelah menghapus pesan tidak Alena segera mengirimkan emot ok pada temannya itu, yang malah membuat temannya itu menjadi heran karena tumben Alena mau?


Alena jelas beralasan kalau dirinya setidaknya memiliki beberapa hati nurani untuk menjenguk orang di rumah sakit.


Pada akhirnya, setelah diberitahukan bahwa mereka akan berkunjung besok sore, Alena memutuskan untuk segera tidur.


Malam itu, Alena tiba-tiba mendapatkan mimpi buruk.


Itu adalah sebuah mimpi ketika Alena berada di sebuah ruangan gelap, di sisi kiri, ada Sean yang membawa buku nikah mereka, dan di sisi kanan ada Xavier yang baru saja membuka kacamatanya dan menunjukkan wajah yang sangat mirip dengan Sean.


Kedua tangannya masing-masing ditarik oleh dua orang itu, yang terlihat sedang bertengkar.


'Lepaskan Lena ku, Sean! dia adalah kekasihku!'


'Apakah kamu tidak lihat buku nikah yang aku bawa ini? Alena adalah Istriku, bagaimana bisa kamu mencoba untuk merayu saudara iparmu sendiri?'


'Tapi Lena adalah miliku, dia mencitaiku, bukan kamu!'


Alena yang melihat hal-hal itu di dalam mimpinya jelas menjadi panik dan kaget terutama setelah melihat Sean mulai mengeluarkan sebuah pistol yang segera di tunjukkan pada pemuda yang memiliki wajah yang sama dengannya.


'Alena! Kamu berani sekali memiliki hubungan dengan saudara ku sendiri! Kamu harus melihat bahwa hal itu jelas tidak bisa dibiarkan, lalu aku tidak akan pernah membiarkanmu untuk bertemu dengan saudaraku lagi, kamu sebaiknya segera mengucapkan selamat tinggal padanya,'


Lalu seuah suara pistol terdegar, Alena melihat bagaimana dada Kekasihnya terkena tembakan.


Alena dalam mimpi itu jelas menjadi panik dan ketakutan ketika melihat kekasihnya itu akan ambruk dan kehilangan kesadaran.


Disana, disaat kekasihnya terbaring tidak berdaya dan Sean mulai tertawa arogan.


'Kamu tidak akan pernah melihat, 'Xavier'mu lagi selamanya...'


Tidak...


Tidak....


Alena yang menjadi panik dalam mimpinya itu segera terbangun sambil berteriak ketakutan.


Hingga Alena sadar, jika semua itu hanya ada dalam mimpinya.

__ADS_1


Namun tetap saja hal-hal yang ada di dalam mimpi itu terkesan sangat realistis dan nyata.


Hal-hal seperti itu jelas tidak akan terjadi.


Bagaimanapun mereka berdua Masih saudara bukan?


Tidak mungkin akan ada hal-hal semacam itu bukan?


Dengan panik, Alena lalu mulai membuka sebuah lagi rahasia yang ada di almarinya dan mengambil sebuah buku.


Itu adalah buku nikah antara dirinya dan Sean...


Di dalam sana, tentu saja ada sebuah foto dirinya dan Sean, walaupun foto itu diambil dengan buru-buru untuk segera di tempel di buku itu.


Ini adalah bukti pernikahan syah.


Alena yang memikirkan ini jadi takut jika hal-hal ini malah membuat perselisihan menjadi semakin buruk.


Belum termasuk Keluarga mereka yang saat ini saling bermusuhan, namun juga perselisihan antar saudara yang mungkin saja terjadi.


Alena segera menggeleng-gelengkan kepalanya dan memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan itu dan segera mencoba kembali tidur.


Namun pada akhirnya Alena tidak bisa tidur sepanjang malam.


Seharian di kampus, Alena tidak fokus sama sekali, bahkan ketika salah satu teman kelompoknya mulai menjemutnya dan mereka pergi bersama ke Rumah Sakit.


Dan sekarang, Alena yang sudah sampai di ruangan kamar tempat Sean di rawat, melihat bagaimana Sean saat ini berbaring di tempat tidur dengan perban di kepalanya juga kakinya di gips.


Menyadari ada orang yang berkunjung, Sean mencoba bangun, namun tatapannya segera bertemu dengan Alena, dan segera berkata,


"Hah? Alena? Aku tidak percaya bahwa kamu ikut menjengukku bersama teman-teman kelompok yang lain, apakah kamu di sini untuk menertawakanku?"


Sean mengatakan itu dengan nada penuh kemarahan dan kekesalan.


Dan sekarang ketika Alena dihadapkan dengan wajah yang mirip dengan kekasihnya itu dirinya tiba-tiba memiliki perasaan yang aneh.


Alena tiba-tiba teringat tentang bagaimana dirinya mencium seseorang yang memiliki wajah yang sama dengan orang menyebalkan yang ada di tempat tidur ini.


Alena merasa jika bibir itu, hangat dan lembut, sangat nyaman untuk di cium.


Lalu pakah bibir pemuda yang ada di hadapannya itu juga sama?


Keduanya memiliki wajah yang sama setelah semua.


"Kenapa dengan ekspresi yang menyebalkan yang kamu tunjukkan ketika menatap wajahku? Hal sialan apa yang kamu pikirkan hah?" kata Sean lagi dengan ekspresi kesal.


Alena yang tersadar dari lamunannya itu merasa ingin menampar dirinya sendiri karena baru saja memiliki pemikiran yang tidak masuk akal.

__ADS_1


Sial, sekarang dirinya menjadi cukup malu untuk menatap Sean...


Akhhh bagaimana ini?


__ADS_2