Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 16: Misteri Kalung


__ADS_3

Hari sudah menjelang pukul tujuh malam, Alena saat ini Masih bersama teman-teman kelompoknya untuk mendiskusikan soal topik dan tugas yang akan mereka kerjakan. Kira-kira sudah hampir 2 jam mereka berada di sana.


Itu sudah termasuk cukup lama untuk sekedar mendiskusikan sebuah topik, namun alasan sebenarnya kenapa hal-hal itu menjadi lama karena tidak ada kesepahaman antara Sean dan Alena.


Salah satu anggota kelompok yang pusing melihat dua orang itu dari tadi mempertemukan soal topik mereka, bahkan sampai memecah grup menjadi dua kelompok besar mengikuti masing-masing ide yang dua orang itu memiliki, ya karena ide itu cukup bertolak belakang diskusi menjadi lamban dan lama seperti ini.


"Aku pikir ini sudah jam segini sebaiknya kita segera pulang saja mari lanjutkan saja minggu depan soal tugas-tugas ini," kata orang itu.


Alena sendiri juga merasa cukup lelah untuk berdebat dengan pemuda menyebalkan bernama Sean.


"Aku juga melihat sepertinya itu ide yang bagus, Mari lanjutkan saja minggu depan,"


Sean yang mendengar kata-kata Alena itu segera mencibi,


"Kita ini juga menjadi lama gara-gara kamu Alena,"


Alena yang disindir itu, lalu segera tertawa dan menyindir balik pemuda yang ada di depannya,


"Untuk seseorang yang telat datang ke pertemuan masih bisa bilang begitu padaku?"


Salah satu anggota yang melihat dua orang itu kembali berdebat hanya bisa menghela nafas lalu berkata,


"Sudahlah kalian berdua berhenti saja mari kita segera bubar aku juga memiliki tugas lain untuk besok,"


Hal itu juga terlihat disetujui oleh orang-orang lain.


Dan akhirnya rombongan itu segera bubar, Alena sendiri segera menghubungi sopirnya untuk segera dijemput, Alena menunggu di depan cafe itu.


Ketika sampai di luar Alena cukup terkejut, melihat jalanan basah karena sepertinya habis hujan, mungkin karena tadi berada di dalam dan kedap suara tapi tidak tahu jika di luar hujan.


Alena awalnya menunggu di sana dengan cukup tenang, sampai sebuah mobil sport berwarna merah, lewat tempat di depannya dengan cukup kencang membuat genangan air yang ada di depannya mengenai baju Alena, membuat Alena jadi basah kuyup.


Alena hampir memaki pemilik mobil itu ketika pemilik mobil itu berhenti lalu membuka jendelanya,


"Upsss, Aku tidak sengaja, aku pikir tidak ada orang di situ kecuali sebuah orang-orangnya sawah yang jelek," kata Sean lalu menjadi tertawa setelah melihat penampilan Alena.


Setelah melihat si pemilik mobil ekspresi Alena jelas menjadi bertambah buruk, kekesalan dan kemarahan menjadi menumpuk dan dia segera berkata,

__ADS_1


"Dasar Sean Brengsek!!" sambil menujukan jari tengahnya pada Sean.


Sean yang mendapat sapaan ramah itu menjadi tertawa, tidak mengira jika gadis itu yang terkenal cukup sopan bisa mengatakan hal kasar dan mengunakan jarinya untuk mengejek seperti itu.


"Awww... Aku takut..." kata Sean sambil menunjukkan ekspresi pura-pura takut dan segera melanjutkan kata-katanya, "Aku tidak mengira jika Nona Alena ternyata bisa bersikap kasar juga,"


Alena jangan mendengar ejekan itu menjadi semakin kesal, namun dirinya juga tahu semakin dirinya kesal itu akan membuat senang pemuda bernama Sean itu.


Sabar, sabar untuk menghadapi orang kurang ajar itu dirinya harus tidak boleh menanggapi dan terlalu masuk dalam permainannya.


Sean yang kata-katanya diabaikan itu lalu segera membalas sapaan Alena sebelumya, dan menujukan jari tengahnya, lalu menutup pintu mobilnya, merasa sepertinya sudah cukup untuk bermain-main dengan gadis itu.


Alena sendiri jelas merasa tidak nyaman dengan rok dan sebagian bajunya itu basah oleh air berlumpur rasanya sangat tidak nyaman, Alena berniat menuju ke kamar mandi setidaknya untuk mencoba membersihkannya.


Mana tahu, dia malah bertemu dengan Vano yang saat ini bersama teman-temannya, yang sepertinya ingin pergi ke cafe itu.


"Huh? Kak Alena? Kenapa dengan baju Kak Alena?"


Alena yang ditanya itu hanya menjawab dengan seadanya,


Vano yang mendegar itu langsung bertanya lagi dengan kesal,


"Lalu orang itu langsung pergi begitu saja? Tanpa minta maaf?"


"Namanya juga orang brengsek,"


Vano sejujurnya menjadi cukup heran karena ini pertama kalinya dirinya melihat gadis yang ada di hadapannya itu terlihat begitu marah kepada seseorang.


"Sudahlah kakak tidak perlu memikirkannya, ini ambillah jaketku, mungkin Kak Alena akan kedinginan jika memakai sesuatu yang basah seperti itu,"


Alena lalu menatap jaket itu sekilas, memang cuaca begitu dingin dan bajunya yang sedikit kotor dan basah ini sangat bermasalah, jadi Alena menerima niat baik itu tanpa terlalu banyak masalah.


"Terimakasih, Vano Aku pasti akan segera mengembalikannya padamu," kata Alena sambil menerima jaket yang diberikan itu.


Vano yang melihat penawarannya itu diterima oleh gadis yang ada di hadapannya itu jelas menjadi senang lalu segera tersenyum,


"Tidak masalah kakak bisa mengembalikannya kapan-kapan,"

__ADS_1


Setelahnya Alena berpamitan dan berniat pergi ke kamar mandi.


Di kamar mandi, Alena mencoba untuk membersihkan sedikit kotoran di bajunya dengan sarung tangan namun tetap saja hal-hal itu tidak hilang.


Alena mulai menyerah dan memutuskan untuk memakai jaket itu saja.


Ketika Alena mencoba untuk memakai jaket itu tiba-tiba ada yang menyangkut di jaket itu, itu adalah sebuah kalung liontin yang Alena pakai.


Alena lalu segera teringat jika dirinya memiliki liontin semacam ini, ini merupakan mas kawinnya dari Sean.


Ketika Alena memikirkan tentang Sean, juga tentang dirinya yang memakai barang-barang dari orang menyebalkan itu, Alena merasa jijik.


Segera, Alena melepaskan kalung itu, dan menatap liontin kalung itu yang sekarang ada di tangannya.


Ini jelas bukan sesuatu yang bisa dirinya buang, tapi dirinya jelas tidak ingin memakai barang milik orang itu.


Apalagi, ketika Alena menatap ke arah kalung itu, di Liontin kecilnya, ada nama Sean yang diukir dalam bentuk huruf unik.


Liontin ini sebenarnya cukup lucu, mengingatkan dirinya pada sebuah liontin yang sama yang dipakai oleh pemuda tertentu, hanya saja nama Yang terukir berbeda.


Alena meraba ke arah kalung itu, yang ternyata liontin kalung itu bisa diputar, Alena tentu menjadi kaget lalu segera memutar liontin itu.


Namun ekspresinya menjadi bingung ketika melihat ada sebuah nama lain di balik liontin itu.


"Xavier?"


Ketika melihat ukiran nama itu Alina benar-benar merasa yakin jika ini sama seperti liontin yang selalu pemuda itu pakai.


Tapi kenapa bisa kalungnya sama?


Oh ini hampir membuat Alena ingat jika nama panjang Sean, Sean Xavier Dirgantara.


Mungkin ukiran di kalung ini hanya kebetulan saja, namun jika dilihat dari desainnya ini sepertinya bukan kalung desain khusus sepertinya hanya kalung liontin yang banyak dijual di luar sana.


Mungkin dirinya terlalu banyak berpikir saja?


Mari nanti saat dirinya bertemu dengan Xavier, dirinya akan mencoba bertanya soal kalung yang dipakainya.

__ADS_1


__ADS_2