
Saat ini, di sebuah kamar, Alena tengah terduduk di depan pintu kamarnya, karena tidak tahu harus berbuat apa, terutama setelah rahasia yang dirinya simpan akhirnya terbongkar di seluruh anggota keluarganya. Mereka semua sekarang tahu bagaimana dirinya dan Sean sudah menikah.
Dan benar, sesuatu dugaan Alena, baik Ayah dan Kakaknya Alex benar-benar tidak menyukai soal pernikahan itu dan marah pada Alena. sempat ada pertengkaran besar di sana dan tidak ada seorangpun yang membela Alena.
Dan begitulah kenapa Alena akhirnya dikurung di dalam kamarnya tidak boleh keluar untuk beberapa hari kedepan termasuk ke kampus, agar tidak bertemu dengan Sean. Mereka jelas meminta Alena untuk segera bercerai apapun resikonya karena mereka pikir tidak ada yang baik dalam diri Sean, dia hanyalah pria licik yang akan memanfaatkan Alena.
'Alena!! Bisa-bisanya kamu sampai memiliki hubungan semacam itu dengan Sean Brengsek dari Keluarga Dirgantara itu! Bahkan kamu sampai menikah diam-diam! Tidakkah kamu tahu apa perbuatan dari si brengsek itu?'
Alena masih teringat kata-kata Kakaknya Alex yang marah padanya, Alena ingin membantah, namun tidak ada kata-kata yang keluar.
'Alena, aku tidak pernah berpikir kamu benar-benar membuat kecewa keluarga ini bisa bisanya kamu menikah diam-diam semacam itu dengan Putra Keluarga Dirgantara? Apakah kamu memiliki otak? Tidak tahukah kamu berapa banyak hal buruk yang mereka lakukan?'
Ayahnya Antony, juga sangat marah padanya.
'Alena, kenapa dari semua orang yang kamu sukai adalah Sean itu? Mama benar-benar tidak mengerti apa yang kamu lihat dari pria sampah dan brengsek itu jelas ah tidak ada yang baik tentang dia namun kenapa kamu menyukai dia?'
Bahkan, Mamanya, Emelin tidak bisa membela Alena, karena cukup kecewa dengan pilihan Alena, yang masih memilih untuk mempertahankan pernikahan itu.
Apalagi perbuatan licik yang Sean buat belakangan ini yang membuat kacau project Kakaknya.
Alena ingin mencoba percaya pada Sean tapi...
Xavier...
Sean....
Pada akhirnya mereka berdua, adalah satu orang...
Tidak mungkin hanya mempertahankan satu sisi...
Tapi, Alena merasa jika Sean setidaknya sudah berubah, yah walaupun Alena tidak benar-benar memiliki bukti soal itu, ini hanya semacam sebuah firasat. Alena yakin dengan firasat yang dirinya miliki bahwa mungkin bukan Sean yang melakukannya?
Setelah semua keluarga Sean semuanya jahat bisa saja itu ulah ayahnya pamannya atau siapapun di keluarga itu yang memang berniat jahat, yang sengaja melibatkan Sean. Alena tahu dari Xavier, Bagaimana orang-orang di keluarga Sean memang sengaja memanfaatkan Sean untuk keuntungan mereka sendiri.
Sulit hidup sebagai Sean Xavier Dirgantara, dia yang selalu ditekan oleh berbagai sisi.
Namun, Alena tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semua ini kepada keluarganya tanpa Sean sendiri disini...
Orang-orang dalam keluarga saat itu hanya terlalu emosi dan marah memikiran soal pernikahan Alena dan Sean, Natasya Kakak Iparnya yang mencoba untuk menenangkan semua orang sampai akhirnya mereka semua memilih untuk mengurung Alena, sambil merencanakan soal hal yang berikutnya dilakukan. Ya, Alena setidaknya harus berterima kasih pada kakak ipar nya itu setidaknya masalah-masalah ini bisa tertunda
Di dalam kamarnya sekarang alina sedang memikirkan apa yang harus dirinya lakukan terlebih ponselnya juga saat ini, di sita oleh orang tuanya, jelas membuat Alena tidak bisa untuk menghubungi Sean.
Apa yang harus dirinya lakukan sekarang?
####
Ternyata situasi tidak jauh berbeda ketika mulai melihat ke reaksi Keluarga Dirgantara.
Saat ini, Sean baru saja di cambuk oleh Mamanya, Isabella setelah tahu kabar dari suaminya soal Pernikahan Sean dan Alena.
"Sean!! Bisa-bisanya kamu menikah dengan Alena anak ****** yang merusak hidup Mama!! Bisa-bisanya kamu!!"
__ADS_1
Sean tidak tahu bagaimana cara menenangkan Mamanya. Sean tentu sudah tahu soal masalalu Mamanya, hanya Sean tahu itu tidak adil, namun semua orang selalu memiliki prospektif sendiri-sendiri dari dimulai dengan siapa yang menyalakan api lebih dulu, tidak akan ada asap jika seseorang tidak menyalahkan api.
Tapi, Sean juga tidak bodoh, Sean tahu Keluarga Dirgantara seperti apa, jelas ini semua adalah masalah yang di mulai Keluarga ini dulu. Sean paham jika Mamanya membenci Keluarga Alena, namun apakah hal itu harus menerus pada dirinya?
Apakah dirinya benar-benar perlu, mewarisi dendam dan kebencian ini?
Ini terasa tidak masuk akal. Namun, Sean belum berani mengatakan apapun. Saat ini ayahnya belum pulang dan ini tinggal menunggu waktu sebelum ada badai yang lebih besar.
Apakah Ayahnya akan murka dan memukulinya?
Namun, ternyata tebakan Sean benar-benar salah, ketika Geovanni baru saja datang ke Rumah dia segera menghentikan Istrinya Isabella untuk memukuli Sean.
"Isabella, cukup! Kamu jangan lagi memarahi Putra kita ini,"
Isabella yang mendengar kata-kata suaminya itu jelas menjadi bingung, karena merasa suaminya itu menjadi tidak masuk akal.
"Apa maksudmu hah? Kamu sendiri tadi yang bilang Sean menikah dengan Alena itu kan? Dia dari Keluarga Smith yang menyebalkan itu!!"
Geovanni yang mendengar kata-kata istrinya itu segera menghela nafas dan mulai menjelaskan.
"Ya, aku awalnya begitu marah ketika mendengar kabar ini, namun ini juga bisa menjadi kabar yang baik, Aku baru saja memiliki beberapa rencana, bagaimana kita akan memanfaatkan Pernikahan Sean dan Alena,"
Sean yang mendengar kata-kata ayahnya yang saat ini sedang tersenyum itu jelas memiliki firasat buruk, ini bahkan terkesan lebih buruk daripada dirinya dipukuli oleh ayahnya.
Ayahnya Geovanni Dirgantara adalah orang yang licik. Tiap kali Ayahnya itu tersenyum, pasti selalu ada hal-hal buruk yang terjadi atau semacam rencana licik yang dia buat.
"Apa maksudmu?" Tanya Isabella binggung.
"Ya, karena Sean sudah terlanjur menikah dengan Alena, kenapa tidak langsung di manfaatkan? Ya, Sean sekarang Aku akan memintamu untuk merusak Alena, rusak dia sehancur-hancurnya, setidaknya buat reputasi dia hancur, agar dia bahkan tidak bisa menikah lagi setelah kamu ceraikan, kamu tahu maksudku bukan?"
Isabella yang mendengar itu, jelas merasa kaget, tidak mengira jika Suaminya ini memiliki ide yang sangat cemerlang. Ada berbagai cara untuk merusak seorang wanita, dan Isabella yang paling tahu betapa hancurnya itu di permalukan semacam itu, sampai membuat karirnya hancur.
Ya, Alena itu, setidaknya harus merasakan yang lebih buruk, karena dosa-dosa orang tuanya!!
"Ah, sayang kamu benar-benar sangat jenius, itu jelas ide yang sangat bagus. Jadi sekarang Putraku Sean, bukankah sebaiknya kamu mencoba memperbaiki kesalahan fatal yang kamu buat?"
"Benar, Sean. Kamu harus memanfaatkan ini dengan baik, atau jangan bilang dari awal kamu memang sudah memiliki ide ini? Benar, untuk membuat Keluarga Smith hancur, pertama buat Putri mereka hancur dulu, karena dia Istrimu, kamu bisa mulai menidurinya, buat beberapa video memalukan atau sesuatu tentang dia lalu sebarkan ke Publik, bila perlu buat dia sampai hamil dan kegugurkan, ulangi saja sampai dia tidak akan bisa hamil lagi,"
Geovanni mengatakan kata-kata itu dengan senyuman di wajahnya, seolah mengatakan hal-hal santai.
"Wow, itu benar-benar ide bagus, Ayahmu benar-benar hebat dalam membuat rencana, jadi Sean lakukan saja apa yang Ayahmu minta, Aku rasa ini mudah? Kamu juga akan dapat kesenangan dengan Istrimu itu,"
Sean yang mendengar semua itu, tiba-tiba hatinya di penuhi kemarahan.
Bagaimana bisa...
Bagaimana bisa orang tuanya memikirkan sebuah ide yang begitu gila dan jahat?
Merusak Alena katanya?
Bahkan Sean sendiri, tidak pernah terbesit sedikitpun ide gila semacam itu sejak dirinya menikah dengan Alena, tidak pernah terbesit sekalipun. Awalnya, itu memang Pernikahan karena terpaksa, dan dirinya pikir bisa merahasiakan ini, lalu mereka bercerai seolah tidak terjadi apapun.
__ADS_1
"Sean? Kenapa kamu diam saja cepat jawab, kamu pasti akan melakukan rencana yang aku buat bukan?" Kata Geovanni lagi pada Putranya itu.
Sean ketika ditanya itu, entah kenapa hatinya jelas terasa hancur, ya lebih dari sekedar keraguan, Sean yang tiba-tiba teringat Alena itu, tidak bisa untuk membayangkan Alena hancur semacam itu. Hanya memikirkan bahwa Alena hancur, membuat hati Sean terasa sakit.
Dari sini, Sean akhirnya tersadar...
Bahwa mungkin di balik kebencian yang dirinya miliki terhadap gadis itu, ada sedikit perasaan tersemat disana. Dimana Sean jelas tidak ingin melihat Alena benar-benar menderita.
Sean jelas sekali tidak menginginkan untuk menjalankan rencana itu.
"Tidak Ayah... Tidak!"
Ya, Sean jelas menolak gagasan gila yang dilontarkan oleh kedua orang tuanya.
"Sean kamu itu jangan keras kepala!"
Itu berakhir dengan Sean pada akhirnya di pukuli oleh Ayahnya lalu di kurung di kamarnya.
"Sean, coba renungkan kata-kataku di dalam sana dan mulailah berpikir jernih, jangan kamu tergoda oleh Alena itu, dia hanya seorang wanita biasa tidak secantik itu, di luar sana ada banyak wanita yang jauh lebih cantik, kamu sekarang mungkin sedikit tertarik, namun tidak apa-apa, Ayah sudah bilang bukan? Kamu bisa menikmati Istrimu itu sesukamu, jika kamu bosan kamu bisa langsung membuangnya, dengan mengikuti rencana ini, bukankah itu mudah?" Kata Geovanni dari luar Pintu.
Sean yang ada di dalam kamarnya, semakin merasa tidak senang dengan kata-kata sembarangan Yang dilontarkan Ayahnya itu. Namun Geovanni belum selesai bicara dan masih melanjutkan kata-katanya,
"Ini ide bangus bukan? Kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau dan keluarga ini juga akan mendapatkan apa yang kami mau ini adalah solusi Win Win. Lagipula apa yang kamu harapkan pula? Kamu mencintai gadis itu? Cinta hanya bentuk dari fatamorgana keinginan nafsu semata kepada lawan jenis, respon alami untuk membuat keturunan, owh benar kamu mungkin ingin memiliki seorang pewaris? Jika kamu benar-benar ingin memiliki satu anak dari Alena itu, tidak apa-apa, ambil satu dan besarkan, jauhkan dari Ibunya, itu harusnya juga cukup untuk membuat dia menderita? Buat anak itu benci Ibunya dan Keluarga Ibunya, astaga semakin memikirannya begitu banyak rencana bagus yang bisa dibuat, Kenapa aku tidak memikirkan ini dari awal,"
Semakin Sean mendegarkan, semakin hal-hal itu tidak masuk akal untuk Sean. Lalu, Sean mulai bertanya,
"Lalu, apakah Ayah pernah mencintaiku atau Ibuku?"
Geovanni yang tiba-tiba ditanyai itu segera memberikan jawaban yang cukup dingin,
"Apakah itu bahkan perlu? Yang Aku butuhkan hanyalah seorang Istri dan Anak, tidak lebih dari itu. Sean, Aku pikir kamu yang paling mengerti Aku? Bukankah kita sama?"
Jawaban itu cukup mengejutkan Sean, dan membuat Sean marah namun lebih dari segalanya, Sean merasa benci pada dirinya sendiri. Bahwa dirinya juga sempat memiliki pikiran yang sama, bahwa dirinya mungkin sama dengan Ayahnya yang berhati dingin.
Pernah merencanakan Pertunangannya dengan Neila, bahkan mungkin bisa menikahinya demi memenuhi tujuannya sendiri, tidak apa-apa karena yang dia butuhkan hanyalah seorang Istri nantinya yang biasa memuaskan di depan Keluarganya. Tidak terbesit untuk mencoba menyukai atau mencintai Neila, hanya ingin memanfaatkannya demi keuntungannya sendiri....
Menyadari hal ini, Sean tiba-tiba merasa hancur.
"Benar apa yang Aku katakan, Sean? Kita ini sama, karena kamu mewarisi darahku," kata Geovanni lagi.
"Diam!! Jangan samakan Aku denganmu!! Brengsek!!"
Namun tetap saja, Sean merasa marah untuk disamakan dengan Ayahnya, dirinya tidak sekejam Ayahnya yang berhati dingin itu.
"Wow, kamu mulai berani memakiku? Tidak apa-apa, kamu renungkan saja di dalam kamarmu sampai kamu puas,"
Setelah mengatakan itu, Geovanni lalu segera pergi, meninggalkan Sean yang ada di kamarnya yang dalam keadaan hancur itu.
Seolah tidak tahu harus berbuat apa.
"Alena.... Apa yang harus aku lakukan?" Guma Sean sendiri.
__ADS_1