
Sore itu, Alena sudah tiba di Kampus 1 jam lebih awal daripada jadwal yang dimilikinya.
Yah, karena memang dirinya mengagur setelah diajak oleh Kakak Iparnya pergi ke Mall.
Dan lagi terlalu malas di rumah membuat kepikiran yang macam-macam, terutama mengigat soal masalah Sean dan Tunangannya Neila itu, walaupun dua orang itu baru mau bertunangan sekitar minggu depan.
Tapi tetap saja...
Hah, Alena akhirnya memutuskan ke kampus lebih awal.
Jadi dirinya hanya mulai bertaruh, mungkin saja bisa bertemu dengan Xavier di Perpustakaan?
Dan benar saja, Alena ketika sampai di sana dia bertemu dengan sosok yang familiar itu sudah duduk di salah satu kursi.
"Kamu sudah lama disini?" Tanya Alena prasarana.
"Hmm, begitulah. Aku sudah membaca email mu, kebetulan karena aku memiliki waktu luang jadi aku ke sini,"
Alena lalu segera duduk di sana di samping pemuda itu.
"Aku kira kamu menjadi begitu seperti minggu lalu, membuat kita jadi jarang bertemu di sini,"
Alena hanya mengatakannya asal-asalan namun pemuda yang ada di depannya itu segera tersenyum ingin sedikit menggoda gadis yang ada di depannya.
"Jadi kamu ingin bertemu denganku setiap hari?"
Alena yang mendengar itu entah kenapa merasa sedikit malu.
"A... Apa? Tidak seperti itu,"
"Benarkah? Aku sebenarnya juga ingin melihatmu setiap hari sama seperti dulu,"
Mendengar kata-kata itu, Alena entah kenapa sedikit senang.
"Seandainya saja kita memiliki kelas yang sama,"
Pemuda itu lalu segera tersenyum misteri,
"Apa? Mungkin kamu akan bosan melihat wajahku jika kita benar-benar ada di kelas yang sama,"
"Tentu saja tidak aku malah senang jika bisa satu kelas denganmu,"
Pemuda itu lalu segera mengambil sesuatu dari kantong plastik.
Kali ini ada dua minuman di dalamnya.
"Ini untukmu, Caramel Coffee Jelly? Aku pikir kamu menyukai ini?"
Alena yang tiba-tiba mendapatkan minuman gratis di depannya ini cukup terkejut tidak mengira jika pemuda yang ada di hadapannya itu bahkan mengingat menu yang terakhir kali dirinya pesan ketika di cafe dengannya.
Yang menunjukkan bahwa pemuda itu cukup perhatian.
"Aku terkejut kamu ingat," kata Alena sambil mengambil minuman itu.
Dan tentu saja, minuman yang lainnya adalah Vanilla Crem kesukaan pemuda itu.
"Tentu, Aku akan mengingat semua hal tentangmu,"
"Huh, kamu ini benar-benar bermulut manis, pasti banyak gadis-gadis yang akan tersentuh dengan kata-kata manismu itu,"
"Aku sudah bilang sebelumnya bukan jika aku hanya akan mengatakan hal-hal manis padamu,"
Alena merasa sedikit kehilangan kata-kata, dan merasa sedikit malu jadi dirinya mulai memalingkan wajahnya dan Mulai mengambil salah satu buku random yang ada di meja.
"Apa? Kamu benar-benar aneh,"
Alena cukup senang, bertemu dengan pemuda itu, benar-benar sangat menenangkan hatinya, benar-benar memberikan suatu penghiburan untuknya.
Dirinya harap dirinya akan selalu bisa bertemu dengan pemuda itu.
__ADS_1
####
Sejak hari itu, Alena menjadi lebih sering untuk bertemu dengan pemuda itu di perpustakaan, sekitar dua atau tiga hari sekali, itu cukup lumayan sering.
Dan ini adalah hari baru yang lainnya, dimana siang itu Alena sedang di perpustakaan, namun kali ini dia bertemu seseorang yang berbeda.
"Eh? Vano? Kamu di sini?"
"Kak Alena? Ya, benar Aku sedang belajar di sini,"
"Ah, jadi begitu,"
"Bagaimana dengan Kak Alena? Apakah Kakak sedang menyiapkan bahan materi untuk kelas besok juga?"
Alena yang ditanya itu merasa sedikit canggung, sejujurnya dirinya pergi ke perpustakaan ini tidak memiliki niat sedikitpun untuk belajar.
Dirinya hanya ingin bertemu dengan seseorang.
Namun dirinya jelas cukup malu untuk menjawab jujur.
"Emm, begitulah."
"Di sini masih ada kursi yang kosong Kenapa kak Alena tidak duduk di sini saja?"
Alena yang mendapatkan tawaran itu menjadi sedikit ragu.
Namun sepertinya tidak apa-apa disana?
Lagi pula saat ini kursi di perpustakaan cukup penuh, dan hanya di deretan ini saja yang kosong.
Alena lalu segera duduk di samping Vano, namun Tas Alena yang di letakkan di kursi di sampingnya, memastikan nanti ada kursi kosong untuk Xavier.
Vano awalnya tidak terlalu memperhatikan soal tas Alena, hanya asik mengobrol dengan gadis itu.
Setelah beberapa oboran ringan, dua-duanya kembali fokus menatap ke arah buku-buku materi masing-masing.
Sampai kemudian, ada seseorang yang menepuk pundak Alena.
Alena hanya menurut saja, merasa cukup kagum, tentang bagaimana pemuda itu cukup peka.
Alena segera menyingkirkan tasnya dan tempat duduk di sampingnya diisi oleh pemuda itu.
Lalu, dua orang itu terlihat saling berbisik satu sama lain.
Vano awalnya tidak terlalu memperhatikan itu.
Sampai pandangannya menatap kearah Alena, yang saat ini sedang asyik berbisik dengan seseorang.
Ada seorang Pria yang sekarang duduk di samping Alena.
Bukankah sebelumnya tas Alena ditaruh di sana?
Vano lalu mulai memikirkan beberapa kemungkinan, jika dilihat-lihat gadis itu memang terlihat sedang menunggu seseorang.
Dirinya kira itu hanyalah salah satu teman perempuan Alena, tidak pernah mengira yang dia tunggu adalah seorang pria.
Vano entah kenapa merasa sedikit kesal ketika menatap dua orang itu.
"Emm, Hallo aku pikir kalian berdua saling?" Sapa Vano pada mereka.
Alena lalu segera memperkenalkan orang yang ada di sampingnya.
"Ah, Ya ini adalah teman lamaku ketika kami di SMA,"
Pemuda itu lalu segera tersenyum pada Vano, seolah menunjukkan dominasinya pada Alena, dan berkata,
"Ya kami berdua adalah teman lama, salam kenal. Aku Xavier,"
"Ah, jadi begitu. Aku Vano, aku kebetulan junior di sini satu angkatan di bawah kalian,"
__ADS_1
Mereka berbahasa basi sedikit, sampai Xavier lalu mengeluarkan Sebuah kantong plastik, yang berisi dua minuman.
"Ah, aku merasa tidak enak karena tidak membawa lebih karena aku pikir Alena sendirian," kata pemuda itu, lalu hanya memberikan minuman Caramel Coffee Jelly kesukaan Alena.
"Tidak masalah aku yakin Vano juga tidak keberatan, benar bukan?"
Vano melihat tentang bagaimana pemuda itu sepertinya terbiasa membelikan Alena sebuah minuman.
Dan Alena terlihat sekali sangat menyukai ketika dibelikan minuman oleh pemuda itu.
Perasaan Vano jelas menjadi kesal.
Sebenarnya ada hubungan apa antara dua orang ini?
Kenapa mereka terlihat sangat akrab sekali?
Apalagi, saat pemuda itu memberikan minumannya kepada Alena, dan tangan mereka tidak sengaja bersentuhan.
Keduanya terlihat saling menatap satu sama lain dan menikmati sentuhan kecil itu.
Hal-hal itu jelas membuat Vano merasa sangat terganggu Jika seperti ini rencana yang dimilikinya untuk mendekati Gadis itu bisa gagal.
Vano lalu mencoba mencari beberapa ide, dan ingat jika dirinya punya beberapa permen karamel.
"Alena, Kebetulan aku memiliki beberapa permen caramel Apakah kamu mau?"
Alena yang tadi sempat terbawa suasana dengan pria yang ada di sampingnya itu segera menatap ke arah Vano permen, itu adalah salah satu permen kesukaannya.
Namun sebelum Alena menjawab, Xavier sudah lebih dulu mengambil permen-permen itu ke tangannya.
"Wow, aku kebetulan menyukai permen juga Apakah tidak apa-apa jika aku yang mengambilnya?"
Ekpersi Vano segera menjadi gelap.
Alena sendiri, hanya menujukan sedikit ekpresi cemberut.
"Itu kan permennya banyak kenapa kamu mengambilnya semua?"
"Lalu kenapa dengan itu? Vano tidak keberatan bukan?"
Vano hanya bisa mencoba tetap tenang dan pura-pura tersenyum.
"Lain kali, Aku akan membawakanmu permen lebih banyak Alena tidak perlu khawatir,"
Xavier sendiri lalu segera membuka satu bungkus permen, namun daripada memasukkannya ke mulutnya dia segera memasukkannya ke mulut Alena.
Alena jelas menjadi begitu kaget ketika merasakan sesuatu yang manis di bibirnya itu.
Tangan hangat yang menyentuh bibirnya....
Membuat jantungnya hampir copot...
Astaga...
Xavier...
Kenapa dia tiba-tiba bersikap cukup agresif seperti ini?
Xavier sendiri, melihat Bagaimana ekspresi wajah Gadis itu sedikit memerah lalu segera tersenyum menunjukkan sebuah kemenangan pada seorang pemuda yang ada di samping kiri Alena.
Vano yang melihat wajah kemenangan itu entah mengapa merasa sangat kesal tentang bagaimana pemuda itu bersikap seolah-olah Alena adalah miliknya, dan dirinya tidak bisa mendekati gadis itu.
Apa-apaan itu?
Apakah kamu pacarnya?
Setahu dirinya Alena tidak memiliki pacar.
Sial, hal-hal ini jelas tidak bisa dibiarkan atau akan merusak semua rencana miliknya.
__ADS_1
Xavier...
Aku akan lihat siapa kamu sebenarnya!