Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 12: Tidak Terduga


__ADS_3

Alena mendengar kata-kata itu jelas merasa tersentuh dan malu, tidak pernah mengira jika ucapan pemuda yang ada di depannya itu terlalu manis dan membuat hatinya berdebar.


"Astaga, kamu baru saja mengucapkan omong kosong,"


Pemuda itu, hanya tersenyum dan berkata,


"Aku hanya mengatakan hal yang aku rasakan kepadamu,"


"Kamu itu sangat pintar sekali berbicara kepada seorang gadis, membuat rayuan dengan hal-hal manis seperti itu,"


"Aku hanya mengatakannya padamu,"


Mereka segera tertawa bersama dengan lelucon itu, sampai akhirnya menu yang mereka pesan sudah tiba.


Alena menatap minuman yang pemuda itu pilih, berwana putih pucat itu, sesuatu yang seperti Pemuda itu sukai, terlihat bagaimana pemuda itu meminumnya.


"Apakah ada sesuatu diwajahku?"


Alena yang terpergok itu jelas merasa malu, dirinya segera berpaling dan mencoba mencari alasan,


"Tidak, tidak ada apa-apa,"


"Namun kenapa kamu menatapku dari tadi?"


"Aku hanya penasaran dengan wajahmu, sesuatu apa di balik kacamata itu?"


Pemuda itu, segera menujukan senyum misteriusnya itu, sambil memegang kacamatanya seolah ingin melepaskannya,


"Kamu ingin tahu?"


"Apakah kamu akan membuka kacamata mu untuk ku?"


"Tapi mungkin kamu akan terkejut ketika melihat wajahku, hmm Aku takut kamu tidak menyukainya nanti,"


"Apa? Tentu saja tidak akan,"


"Aku sedikit malu untuk menujukannya,"


Hal ini membuat Alena berpikir, apa ada masalah dengan wajah di balik kacamata itu?


Misalnya semacam luka yang membuat pemuda itu tidak ingin menujukan wajahnya secara penuh?


"Ayolah, Aku benar-benar ingin tahu, sungguh, Aku tidak akan membuat keributan soal wajahmu,"


"Mungkin lain kali saja, Aku takut nanti malah terpesona dengan wajahku, lalu apa yang harus Aku kakukan?" katanya lagi sambil menurunkan tangannya, tidak lagi memegangi kacamatanya itu, terlihat sedang mengoda Alena.


"Apa-apaan itu?"


Pemuda itu hanya tersenyum, lalu kembali menikmati minumannya.


Ada keheningan canggung antara keduanya.


Alena sekarang binggung ingin mengatakan apa lagi, karena dirinya dari tadi hanya mengeluh soal Sean yang menyebalkan dari tadi.


Alena jelas tidak tahan dengan keheningan ini, mencoba mencari topik pembicaraan.


"Emm, apakah minuman itu enak?"

__ADS_1


Jawaban pemuda itu, membuat Alena cukup kaget,


"Kamu penasaran? Kenapa tidak mencobanya?"


Dia memberikan minumannya kedepan Alena, agar Alena mencobanya.


Alena yang di hadapan dengan hal itu, merasa sedikit ragu, apakah tidak apa-apa meminum minuman milik pemuda itu?


"Kenapa Lena? Kamu tidak ingin mencobanya?"


Alena segera membuang rasa ragunya, lalu mencoba untuk memimpin minuman yang ada didepannya.


Begitu, Alena menyesap minuman itu, dirinya merasakan rasa yang sangat manis.


"Kamu tidak menyukainya?"


"Ini sedikit terlalu manis,"


"Jadi kamu tidak menyukai hal-hal yang terlalu manis?"


"Tidak juga, apa kamu ingin mencoba milikku?"


"Mencoba milikmu?"


Alena merasa kata-katanya menjadi sedikit ambigu.


"Minumanku maksudku,"


Lalu Alena baru ingat jika pemuda itu tidak begitu menyukai kopi.


"Owh, benar kamu tidak suka kopi,"


Lalu, ada keheningan sejenak sekarang.


Waktu yang mereka habiskan sebenarnya tidak cukup lama, ini hanya setegah jam sejak mereka bertemu, namun pemuda yang ada di depan Alena itu segera menatap kearah jamnya, seolah-olah sedang menghitung berapa waktu yang dirinya miliki.


Ketika pemuda itu, menatap ke arah jam tangan itu itu mengingatkan Alena pada sesuatu.


Alena lalu, segera mengambil sesuatu dari tasnya, dan menyerahkan sesuatu kedepan pemuda itu.


"Apakah ini mungkin milikmu?"


Itu adalah sebuah gelang yang kebetulan dirinya temukan sebelumnya.


Pemuda itu, terlihat menatap gelang yang cukup familiar itu lalu segera mengambilnya.


"Ya, ini adalah milikku di mana kamu menemukannya?"


"Ketika kita bertemu sebelumnya di perpustakaan,"


"Ah, jadi begitu. Terima kasih telah menemukannya,"


Pemuda itu segera memakai gelang itu tanpa banyak berpikir.


Keduanya, sekarang mulai menikmati minuman masing-masing.


Sampai pemuda itu, sekarang segera berkata,

__ADS_1


"Itu... Aku sepertinya harus pergi sekarang,"


"Kenapa begitu cepat?"


"Maaf, Aku memiliki beberapa urusan lain mari kita bertemu lain kali,"


Mendengar itu, Alena hanya bisa setuju untuk berpisah dengannya.


Keduanya lalu segera kekasir dan hendak membayar, Alena awalnya baru saja mengeluarkan dompetnya, berniat untuk membayar namun sudah didului oleh pemuda yang ada di depannya.


Pemuda itu mengeluarkan sebuah dompet yang terlihat cukup bagus, lalu sebuah kartu berwarna hitam dikeluarkan dari dompet itu dan diberikan kepada kasir.


"Biar aku saja yang mentraktirmu kali ini,"


Dengan menatap itu saja Alena menjadi tahu tidak mungkin pemuda di depannya itu orang yang kurang mampu.


Namun kenapa pemuda itu tidak ingin memberikan dirinya nomor ponsel?


Alena ingin bertanya, namun rasanya itu bukan waktu yang tepat mungkin lain kali saja dirinya bertanya.


Dengan itu mereka berdua segera berpisah.


Alena hanya bisa menatap kepergian pemuda itu yang mulai melambaikan tangannya, dan menghilang masuk kedalam taksi.


Alena sekarang menatap jam yang belum jam 06.00, mungkin dirinya harus segera menyuruh supir untuk menjemputnya.


Alena memutuskan untuk duduk disana berniat menunggu.


Sampai Alena mendapatkan sebuah pesan dari sopirnya jika mobil tiba-tiba macet, jadi membutuhkan sedikit lebih banyak waktu untuk mengirimkan mobil lain.


Alena pada akhirnya kembali masuk kedalam cafe, memikirkan lebih aman menunggu di dalam daripada di luar.


Alena menunggu cukup lama disana, mungkin sekitar setengah jam, bukannya dirinya tidak ingin naik taksi, namun kata orang tuanya, ini demi keamanan agar Alena di antara jemput oleh supir Keluarga, jadi Alena tidak memiliki pilihan selain menunggu.


Sampai ketika Alena sampai di tempat parkir cafe itu karena sopirnya sudah menjempu, Alena malah tidak sengaja melihat sosok yang familiar.


"Bukankah itu Sean?"


Saat ini, pemuda itu terlihat baru saja menuruni mobilnya bersama seorang gadis, Alena entah kenapa langsung membuka ke arah mobilnya dan masuk ke dalam mobil.


Alena melihat bagaimana dua orang itu, melewati ke arah mobilnya sambil berbicara,


"Jadi ini Kak Sean? Cafe yang dekat kampusmu yang sering kamu kunjungi itu?"


"Benar, Neila, Aku cukup terkejut kamu baru saja pulang namun kamu sudah ingin mengajakku kesini,"


"Aku hanya ingin tahu Cafe mana yang sering Kakak kunjungi,"


Alena melihat dari dalam, Bagaimana dua orang itu terlihat berbicara dengan akrab.


Gadis bernama Nelia itu, terlihat sangat cantik, dan mengenakan sebuah gaun, yang cocok dan terlihat sangat elegan.


Neila...


Di mana dirinya pernah melihatnya?


Tunggu...

__ADS_1


Neila Anderson?


Bukankah itu nama tunangan Sean?


__ADS_2