Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 33: Cemburu?


__ADS_3

Alena benar-benar mulai mengeluh di depan kekasihnya itu soal bagaimana dia membenci Sean.


"Sungguh, Aku benar-benar sangat membenci dia yang sangat keji itu berani-beraninya dia sampai melakukan kejahatan semacam itu dan membahayakan nyawa kakakku Aku tidak akan pernah memaafkannya!"


Terlihat nada penuh kebencian ketika Alena mengatakan itu.


"Tapi, bukankah Kakakmu sekarang baik-baik saja?"


Ketika mendengar kata-kata santai dari Pemuda yang ada di hadapannya itu Alena entah kenapa merasa tidak nyaman.


"Itu adalah sebuah keberuntungan, Kakakku selamat, Awalnya kami pernah mengira jika kakakku meninggal,"


"Yang paling penting dia sekarang baik-baik saja bukan?"


Alena yang lagi-lagi mendengar kata-kata itu segera menunjukkan kekesalan,


"Apakah sekarang kamu mau mencoba membela saudaramu itu?"


Pemuda itu, segera menunjukkan ekspresi cemberut dan berkata,


"Kamu salah paham aku tidak membela siapa-siapa,"


"Lagi pula dia tetap saudaramu Setelah semua,"


"Ini memang hal-hal yang cukup sulit, Aku tahu kamu membenck Sean, hanya saja Aku mau bilang jika Sean tidak seburuk dan sejahat yang kamu kira,"


"Kamu bilang tidak membelanya? Kamu jelas malah memuji-muji dia di depanku seperti itu, Aku benar-benar benci Bagaimana kamu membicarakan soal saudaramu yang menyebalkan itu,"


"Baiklah, Alena Aku tidak mau terlalu memikirkannya, sudahlah. Mari kita bicarakan hal-hal lain saja,"


Mereka berdua, lalu kembali asik berbicara satu sama lainnya.


Alena juga, tidak terlalu mau membicarakan soal Sean yang menyebalkan itu, hanya membuat dirinya muak, dan lagi, Alena tidak suka bagaimana pemuda yang ada di hadapannya itu terang-terangan membela Sean.


Namun, memang dua orang itu, adalah saudara Setelah semua jadi tidak bisa dihindari jika keduanya dekat.


Ketika memikirkan hal-hal ini, Alena tiba-tiba merasa tidak nyaman.


Itu benar mau bagaimanapun juga pemuda yang ada di hadapannya ini masihlah saudara dengan orang yang dirinya benci.


Alena terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri membuat pemuda yang ada di hadapannya itu tidak senang, jadi dia mulai menarik Alena lebih dekat kearahnya, dan menciumnya.


Alena tentu saja menjadi sangat terkejut dengan ciuman tiba-tiba itu.


Namun, segera begitu menerima ciuman itu, Alena malah menjadi menikmatinya juga.


Ya, sampai-sampai membuat Alena tengelam kedalamnya, dan mulai menghilangkan kekhawatiran dalam pikirannya.


Alena lebih memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal rumit hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan orang yang begitu dirinya cintai.


Dua orang itu benar-benar sangat menikmati waktu mereka dan saling berbagi kasih.


"Ya, kamu tidak perlu memikirkan terlalu banyak hal rumit, kamu hanya perlu memikirkanku,"


Alena menatap wajah familiar yang dibencinya, ya ini masih wajah yang mirip dengan Sean, namun Alena tahu mereka masihlah orang yang berbeda.


"Ya... Kamu benar, aku juga tidak ingin membicarakannya,"


"Jadi apakah aku boleh lanjut?"


Alena mau bagaimanapun, masih seorang gadis muda, dan ketika dihadapkan dengan pria yang dicintainya, Alena juga ingin sedikit bersenang-senang.

__ADS_1


Ya, hanya ciuman tidak apa-apa?


"Ini hanya ciuman?"


"Tentu saja, Alena. Aku tahu batasku, aku akan memastikan jika aku tidak akan melakukan hal yang tidak tidak setidaknya sebelum kita menikah,"


Alena yang mendengar kata menikah itu entah kenapa menjadi merasa tidak nyaman.


Ya, karena saat ini dirinya ini masih Istri Sean...


Saudara dari Pemuda yang ada di hadapannya ini...


Sial, semakin Alena memikirkannya, Alena menjadi pusing...


Ini jadi terlihat seperti, dirinya baru saja berselingkuh dengan Saudara Iparnya!!


####


Jam sudah menunjukkan sore hari, Alena tentu saja sudah berpisah sejak satu jam lalu, dengan Kekasihnya, dan sedang bersiap menuju ke ruang kelasnya.


Masih ada kuliah sore, namun yang membuat Alena terkejut ketika dirinya sampai di kelas itu dirinya harus melihat wajah yang familiar lagi.


Alena hampir salah mengenalinya sebagai Kekasihnya, Xavier.


Jelas, Alena segera sadar jika itu Sean, terlihat dari ekspresi kesal dan marah di wajah pemuda itu, ketika menatap ke arahnya.


Alena, memilih untuk menghindari Sean, namun pada akhirnya mereka duduk bersebelahan karena mereka masih ada di sebuah kelompok yang sama.


Sean, yang duduk disamping Alena, diam-diam menatap Alena, yang dari tadi benar-benar terlihat diam dan penurut berbeda dari biasanya yang selalu banyak omong dan sering berdebat dengannya.


Apakah karena mereka jarang bertemu?


Alena jelas saja merasa tidak nyaman ketika dirinya merasa dipandangi.


Sean, yang ketahuan menatap itu segera mencoba mengalihkan pandangannya.


"Aku hanya merasakan tanganku masih sakit,"


Ya, Sean saat ini masih memakai Gips, sebenarnya Sean benar-benar merasa tidak nyaman dengan berpura-pura seperti ini, Namun karena sudah terlanjur jadi tidak memiliki pilihan.


"Kalau masih sakit kenapa kamu pakai ke kampus segala?"


"Hah, kamu benar-benar menyebalkan,"


Alena memilih untuk kembali fokus pada materi di hadapannya mengabaikan Sean yang ada di sampingnya.


Sean ingin mengalihkan tatapannya segera, namun segera Sean melihat sesuatu ada di leher Alena.


Ada tanda merah disana...


Tunggu...


Sean yang melihat itu, entah kenapa menjadi kesal.


Ada apa ketika dirinya tidak ada di kampus?


Apakah Alena ini, bermain-main dengan seorang Pria?


Bahkan sejauh itu?


Sean, yang memikirkannya menjadi kesal.

__ADS_1


Padahal, jelas Sean sudah memperingatkan Alena terakhir kali.


Untuk setidaknya, jangan memilih hubungan dengan Pria lain, selama pernikahan mereka!


Apakah ini perbuatan dari Pria yang tempo hari bersama Alena itu?


Sial.


Sean, yang memikirkannya saja merasa kesal.


Jadi, setelah Kuliah selesai, Sean segera menyeret Alena pergi bersamanya, ke salah satu ruangan kosong di kampus.


Alena yang tiba-tiba diseret itu jelas merasa tidak nyaman.


"Sean! Apa-apaan sih kamu! Kamu mau mengajakku ke mana!"


"Aku ingin berbicara empat mata denganmu!"


"Aku tidak mau!"


"Siapa pula yang meminta persetujuanmu?"


Alena benar-benar tidak mengerti dengan sikap pemuda itu, yang benar-benar sangat seenaknya sendiri dan kasar, Alena hanya segera berkata dengan marah,


"Kamu gila Sean!!"


"Apa? Walaupun begitu, Aku masih Suamimu!"


"Kenapa kamu malah lebih sering membahas soal status kita sekarang? Bukankah sebelumnya kita sudah membuat perjanjian jika tidak perlu untuk membicarakan soal pernikahan kita itu?"


Sean, yang mendengar itu segera berkata lagi,


"Owh, jadi begitu? Itulah alasan kamu sekarang benar-benar bermain-main di belakangku? Sampai membuat Pria lain menyentuhmu?"


"Apa maksudmu? Kamu jangan bicara sembarangan soal aku!"


Sean, lalu segera membawa Alena ke sebuah cermin di ruangan itu, menujukan leher Alena yang ada tanda merah.


"Apakah kamu masih mengelak?"


Alena juga kaget, dengan tanda merah di lehernya, hanya bisa berpikir apakah itu perbuatan Xavier?


Tadi, memang dia sampai mencium lehernya.


Alena, yang memikirkannya segera merasa malu.


Sean, yang melihat ekspresi gadis di hadapannya segera menjadi marah.


"Bener bukan? Kamu bermain-main dengan pria di luar sana?"


"Sean! Kenapa kamu mengurusi urusanku? Jelas itu terserah Aku, kamu saja akan bertunangan dengan gadis lain!! Jangan mengatakan seolah-olah Kamu itu merasa terkhianati atau di selingkuhi olehku atau sesuatu, Pernikahan kita, tidak lebih hanya di atas sebuah kertas kita berdua sama-sama tahu tidak memiliki hubungan apapun! Jadi kenapa kamu tiba-tiba membahas soal hal-hal semacam ini denganku? Seolah-olah, Kamu benar-benar terlihat sangat cemburu,"


Sean yang tiba-tiba mendengar kemarahan dari gadis yang ada di depannya itu segera tersadar.


Ya, kenapa dirinya marah tentang hal ini?


Sean sendiri tidak mengerti.


Hal-hal yang entah kenapa tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Hanya saja, Sean tiba-tiba merasa dirinya dipenuhi dengan kemarahan ketika melihat ada tanda itu di leher Alena...

__ADS_1


Memikiran Alena bersama dengan Pria lain, benar-benar membuat dirinya merasa tidak nyaman.


Sial, kenapa bisa seperti ini?


__ADS_2