
Alena masih melamun, bahkan ketika dirinya sampai di kelas.
Alena saat ini masih memikirkan soal kata-kata dari Kyla dan Vano.
Awalnya jelas dirinya tidak percaya karena mungkin saja dua orang itu hanya secara kebetulan melihat wajah Xavier, bagaimanapun juga pemuda itu memang kembaran Sean, dan memiliki wajah yang sama dengannya.
Namun, setelah melihat hasil video itu yang ditunjukkan oleh mereka, Alena menjadi sangat ragu dan tidak percaya.
Bagaimana bisa Sean dan Xavier adalah orang yang sama?
Alena sungguh, tidak bisa mengerti tentang fakta ini.
Hal utama yang membuat dirinya tidak percaya adalah tentang bagaimana dua orang itu walaupun memiliki wajah yang sama namun jelas memiliki sifat yang sangat berbeda.
Dan Alena, merasa sikap itu bukanlah sikap yang dibuat-buat.
Atau, itu benar-benar hanya sebuah akting yang sempurna?
Tapi tetap saja, Alena merasa jika dua orang itu tidak mungkin sama.
Bagaimana cara Alena membicarakannya?
Ini karena dirinya kurang lebih mengenal Xavier lebih banyak dari pada orang lain.
Dirinya juga kebetulan, mengenal Sean cukup baik, setidaknya tahu seberapa buruk pemuda itu.
Jadi untuk berpikir dua orang dengan kepribadian yang berbeda itu adalah orang yang sama...
Hal-hal ini benar-benar sulit untuk dipercaya.
Dan yang paling membuat Alena tidak percaya, masihlah tentang bagaimana Sean memperlakukan dirinya...
Bagaimana cara mengatakannya?
Ekpersi Sean...
Terutama saat terakhir kali, benar-benar seolah seperti seseorang yang benar-benar tidak tahu apapun tentang tanda itu.
Ciuman itu, sedikit terasa sama, namun di sisi lain benar-benar sangat berbeda.
Cara Xavier menciumnya, Itu adalah sebuah ciuman yang begitu hati-hati dan lembut, yang menunjukkan penuh cinta di dalamnya.
Namun ciuman Sean...
Seolah hal-hal itu sangat implusif, sangat langsung, agresif, nakal dan sangat kasar.
Dan lagi, Xavier tidak sekarang ajar Sean yang sampai tangannya ke mana-mana dan bersikap nakal seperti itu.
Dan lagi, bukannya Alena tidak pernah mencurigai tentang kemungkinan itu, hanya saja...
Alena tentu saja sudah menyelidiki tentang mereka, dua orang itu benar-benar memiliki kebiasaan bawaan yang cukup berbeda.
Seperti ketika di Kelas, Sean biasanya jika bosan dia akan mulai mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.
Lalu, jika itu Xavier, ketika dia bosan berada di perpustakaan, dia akan mengatakan kakinya.
Hal-hal itu seolah alami dan sebuah kebiasaan.
Tentu saja hal-hal Ini bisa dilihat jika memperhatikan keduanya dengan seksama.
Cara mereka minum sesuatu yang di benci juga terlihat, seperti bagaimana Xavier benar-benar tidak menyukai Kopi, dan Sean benar-benar menikmati kopi.
Jadi untuk satu orang bisa menunjukkan dua sisi yang benar-benar berbeda ini benar-benar tidak masuk akal.
Kecuali orang itu memiliki gangguan kepribadian atau sesuatu.
Hanya memikirannya saja, membuat Alena merasa pusing.
Tentu saja, kesimpulan terakhir itu adalah hal-hal paling tidak masuk akal dari semuanya, dan Alena memilih untuk tidak memikirkannya.
Lalu apa langkah yang harus diambil?
Namun memang ada hal-hal yang mengganggu pikirannya.
Seperti, bagaimana Xavier bilang, untuk tidak menanyakan keberadaannya kepada Sean.
Apakah itu hanya jebakan lainnya?
Ketika Alena sibuk berpikir, orang yang sedang dipikirkan itu segera datang.
Karena di kelas ini mereka kebetulan satu kelompok jadi jelas mereka terpaksa duduk saling berdekatan.
Alena bisa melihat bagaimana, Sean menatap kesal kearahnya, seolah benar-benar tidak suka untuk duduk di sampingnya.
Alena tanpa sadar, menatap Sean, mungkin karena dirinya masih merasa tidak percaya jika Xavier adalah Sean?
__ADS_1
Atau Video itu salah?
Atau Xavier berpura-pura menjadi Sean?
Orang kembar, jika kembar indentik terkadang memiliki beberapa alasan untuk bertukar tempat satu sama lain, hanya untuk iseng atau sesuatu.
Yah, Alena tahu Ini semua hanya pikiran untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Xavier dan Sean adalah orang yang berbeda.
Namun bagaimana jika mereka adalah orang yang sama?
Apakah dirinya benar-benar ditipu?
"Apa? Kenapa kamu dari tadi menatapku seperti itu? Apakah kamu mulai terpesona olehku?"
Alena yang mendengar kata-kata menyebalkan itu segera mengalihkan tatapannya.
Itu bener, bagaimana cara Alena mengatakannya?
Mau bagaimanapun juga, Sean ini sangat menyebalkan.
Bagaimana dia dan Xavier sama?
"Apakah kamu merasa malu karena ketahuan menatapku?"
Alena merasa tidak tahan dengan ocehan pemuda yang ada di sampingnya itu.
"Diamlah Brengsek!!"
"Wow, kamu masih sangat kasar seperti biasanya dasar gadis jelek," kata Sean dengan ekpersi kesal.
Kata-kata barusan, seolah-olah tumpang tindih dengan suara seseorang
'Alena kamu adalah gadis paling cantik yang pernah aku kenal,'
Alena ingat, Xavier pernah mengatakan hal-hal yang sama.
Sungguh?
Lalu bagaimana bisa dua orang itu sama?
Pada akhirnya, Alena tidak fokus pada kelas dan terus memikirkan semua kemungkinan ini sambil diam-diam menatap Sean.
Sampai kelas berakhir, Sean yang merasa terganggu karena dari tadi ditatap diam-diam itu segera bertanya pada gadis yang ada di sampingnya itu.
"Apa sih Kenapa kamu dari tadi menatapku?"
"Siapa yang menatapmu?"
"Sekarang jujurlah padaku ada apa? kamu seperti memiliki hal-hal yang ingin kamu katakan padaku?"
Alena terdiam ketika mendengar itu, dirinya sebelumnya belum siap untuk mendengar kenyataan.
Apakah dirinya akan marah?
Apa yang harus dirinya lakukan jika ini semua benar-benar hanya tipuan?
Apakah cinta yang dirinya miliki ini hanyalah sebuah halusinasi?
Bagaimana bisa dirinya merasakan cinta dan benci pada satu orang yang sama?
Kenapa hal-hal ini terasa sangat rumit?
"Ada berapa hal yang ingin aku tanyakan padamu namun aku rasa bukan disini tempat yang cocok untuk berbicara,"
Alena akhirnya mengajak Sean, ke daerah ujung taman yang cukup sepi untuk diajak berbicara.
Sean hanya mengikutinya tanpa banyak bicara, sampai ketika tiba di lokasi itu dia mulai protes.
"Apa-apaan Kenapa ada tempat semacam ini di kampus?"
Alena yang mendengar pertanyaan seolah heran itu hanya bisa menjadi tambah bingung.
Jelas, Xavier pernah kesini?
Bagaimanapun juga tempat ini adalah tempat berharga untuk dirinya dan Xavier, tempat mereka berdua menyatakan perasaan masing-masing.
"Seseorang memberitahuku tempat ini,"
"Orang yang memberitahu pasti orang yang benar-benar sangat aneh, karena bahkan tahu tempat sepi semacam ini di daerah Kampus,"
Alena memilih untuk tidak mengatakan apa-apa, ada keheningan sejenak disana.
"Kenapa kamu malah diam Apa yang ingin kamu katakan?"
Mungkin, Sean menjadi tidak sabar karena harus diseret ke tempat semacam ini.
__ADS_1
Alena masih mencoba menenangkan pikirannya mencoba mencari kata-kata yang pas yang ingin dirinya.
Sampai setelah beberapa saat, Alena segera berkata,
"Apakah kamu memiliki Saudara Kembar?"
Sean yang tiba-tiba diberikan suatu pertanyaan yang tidak masuk akal itu jelas merasa kaget dan bingung namun segera tetap menjawabnya dengan seadanya.
"Saudara kembar apa? Dari mana kamu bisa-bisanya memiliki pertanyaan tidak masuk akal seperti itu?"
Alena yang ditanya itu entah kenapa memiliki firasat tidak enak.
"Liam Xaviera Dirgantara,"
Sean yang mendengar nama yang sudah lama tidak didengarnya itu jelas menjadi sangat kaget.
"Sungguh? Kenapa kamu bisa tahu nama itu?"
"Siapa dia?"
"Kamu belum menjawabku dulu Dari mana kamu tahu nama ini?"
"Bukankah sebaiknya kamu harus menjawab dulu siapa nama ini?"
Sean yang ditanya itu tiba-tiba menjadi marah.
"Kamu yang tiba-tiba bertanya soal hal aneh lalu memunculkan sebuah nama aneh tidakkah aku yang harusnya tanya? Ada apa denganmu sebenarnya?"
"Aku hanya ingin bertanya, Siapa Liam Xavier Dirgantara?"
Sean sebenarnya ketika mendengar nama itu seolah-olah beberapa kepingan pertanyaan di dalam hatinya perlahan-lahan muncul.
"Dia adalah seseorang yang tidak ada,"
Alena yang tiba-tiba mendengar kata-kata itu jelas menjadi cukup syok.
"Kamu... Apakah selama ini kamu berpura-pura? Berpura-pura menjadi Liam Xavier Dirgantara di depanku?"
"Sungguh, Alena Aku tidak tahu apa yang kamu katakan,"
Mungkin karena Alena tiba-tiba menjadi terlalu marah ketika Sean bilang jika Xavier tidak ada, Alena segera menampar Sean.
Sean yang tiba-tiba mendapatkan tamparan itu jelas menjadi cukup syok, lalu mulai memegang tangan Alena,
"Apa-apaan sih kamu kenapa kamu mengatakan hal-hal yang tidak jelas?"
"Kamu.... Kamu selama ini berpura-pura bukan di depanku? Kamu menipuku bukan?"
"Astaga, Kenapa pembicaraanmu makin ngelantur?"
"Berhentilah berpura-pura di depanku dan jawab aku dengan jujur!!"
"Aku sudah mengatakan padamu Aku tidak tahu apa-apa,"
Ya, Sean lebih memilih untuk menyembunyikan beberapa hal, lagi pula ini menunjukkan kelemahannya yang paling fatal.
Sebuah Rahasia yang tidak bisa dirinya ungkapkan, dan tidak perlu pula untuk diungkapkan.
Bahwa dirinya memang memiliki Kepribadian lain yang bernama Liam Xavier Dirgantara, yang menyebut dirinya Xavier.
Sebuah Rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain karena ini kelemahannya.
Si Brengsek itu, apakah dia muncul di depan Alena?
Sean masih diliputi banyak pikiran.
Sean memilih untuk mencoba melarikan diri dari sana.
Alena mungkin saat ini diliputi kemarahan, hanya bisa menatap pemuda itu perlahan-lahan pergi.
Alena mungkin lebih ingin untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa atau mengingkari semua kenyataan ini.
Dirinya masih tidak mengerti, Siapa itu Xavier?
Apakah dia Sean?
Ketika Alina masih tenggelam dalam pikirannya, Sean yang tadi seharusnya pergi segera berbalik.
"Lena.... Aku pikir aku tidak bisa menyembunyikan kenyataannya sekarang,"
Alena segera menata pemuda yang ada di hadapannya yang sekarang seolah menunjukkan ekspresi yang familiar, cara dia memanggil namanya...
"Xavier.... Kamu... Sebenarnya siapa kamu?"
Pemuda dihadapan Alena, lalu segera berkata dengan ekspresi tenang.
__ADS_1
"Aku adalah seseorang yang tidak ada di Dunia ini,"