
"Kak Alena? Apakah kakak sudah selesai untuk mencari buku?"
Alena yang masih terdiam memandangi gelang itu, segera tersadar setelah mendengar suara Kyla, yang baru saja muncul itu.
"Iya aku sudah mendapatkan buku yang aku cari,"
"Mari kita cek cek dulu bukunya sandi duduk-duduk, aku juga sudah menemukan buku mana yang aku cari, Kakak bisa cek, apakah ini buku yang benar atau tidak,"
Alena lalu menatap tumpukan buku yang di bawah oleh Kyla.
"Tentu saja mari kita mencari tempat duduk,"
Mereka berdua lalu segera pergi dari deretan merak menuju ke arah deretan tempat duduk.
Namun bukannya semakin sepi tempat itu malah terlihat semakin padat, kebanyakan kursi sekarang sudah diisi adapun tempat yang kosong itu mungkin hanya muat untuk satu orang.
Dua orang itu segera menjadi kecewa.
"Astaga ini adalah hari libur kenapa semua orang begitu rajin kempus?"
"Itu jelas kakak tingkat yang sudah mentok dengan skripsinya,"
Dua orang itu segera tertawa ketika membicarakan soal itu, Tugas Akhir dari setiap mahasiswa yang sangat merepotkan.
"Mari kita berkeliling dulu barangkali ada tempat yang kosong," kata Kyla lagi.
Dua orang itu segera mencari-cari tempat duduk sampi kau ujung-ujung.
Sampai kemudian, Kyla melihat sosok wajah yang familiar, yang menyapanya.
"Huh? Kamu Pria yang tadi?"
Alena segera menatap seorang pemuda yang saat ini sedang duduk dan ditatap oleh Kyla.
"Vano? Kamu di sini?"
Kyla segera menatap kearah kakaknya itu dan bertanya,
"Kak Alena kenal dia?"
"Ya, ya kebetulan salah satu kenalan ku yang ada di salah satu organisasi kampus,"
Vano, yang di sapa itu segera berdiri untuk menyapa dua orang itu.
"Selamat siang Kak Alena sungguh sangat kebetulan bertemu di sini, emm dan kamu..."
__ADS_1
Vano menatap Kyla dengan binggung.
"Kamu yang baru saja menolongku saat aku mengambil buku tadi," kata Kyla kemudian.
Vano opera mengangguk karena teringat kejadian sebelumnya.
"Ah, benar juga. Aku tadi tidak terlalu melihat wajahmu jadi cukup pangling,"
"Tidak apa-apa, salam kenal, Aku Kyla," kata Kyla sambil tersenyum ramah.
"Salam kenal juga aku, Vano,"
"Vano itu, satu angkatan denganmu Kyla,"
"Sungguh? Aku kira kamu kakak tingkat sama seperti Kak Alena,"
"Tidak, tidak. Aku adalah Juniornya Kak Alena,"
"Benar-benar kebetulan kalian ada di angkatan yang sama," kata Alena lagi.
"Ah benar, Apakah kalian berdua ingin mencari tempat duduk? Kebetulan ada tempat duduk kosong di sekitar sini, kalian bisa duduk di sini," kata Vano sambil menuju ke arah dua kursi yang ada depan dan sampingnya.
Alena yang melihat kursi kosong itu segera merasa lega, menduduki salah satunya.
"Astaga, benar-benar kebetulan ada kursi kosong aku sudah sangat lelah berdiri dari tadi,"
Vano yang melihat kursi yang harusnya dirinya duduki itu, malah di duduki oleh Kyla, merasa sedikit kecewa.
Sayang sekali, dirinya lalu hanya segera duduk di sebrang Alena.
"Buku-buku apa yang Kakak cari itu?" Tanya Vano pada Alena saat ini sedang menatap kearah banyak ku di depannya.
"Ini adalah materi-materi untuk semester depan,"
"Wow, Kak Alena rajin sekali,"
"Tidak seperti itu aku hanya kebetulan memiliki waktu luang. Lalu bagaimana denganmu sendiri?"
"Aku hanya bosan di Rumah, lalu Wi-Fi an di kampus," kata Vano sedikit malu sambil menatap kearah laptopnya itu.
"Jadi begitu, Aku kira kamu sedang sibuk membuat laporan kegiatan organisasi terakhir itu,"
"Aku tidak serajin itu, lagipula aku masih sedikit bingung untuk membuat laporannya, apakah Kak Alena mau membantuku? Aku dengar kakak sebelumnya yang menjabat posisi Sekertaris,"
"Tentu saja kamu bisa selalu bertanya padaku kapan saja,"
__ADS_1
"Kak Alena sangat baik," kata Vano tersenyum ramah.
Dua orang tuh saling bercakap-cakap dengan akrab, dan mulai membicarakan kegiatan organisasi yang mereka ikuti.
Kyla sediri, tiba-tiba merasa dirinya obat nyamuk.
Karena tidak mengerti tentang apa yang mereka berdua bicarakan.
Apakah sebaiknya dirinya mulai ikut organisasi saja?
Namun, terlalu malas untuk mengikuti hal-hal semacam itu.
Kyla mencoba untuk mencari topik pembicaraan.
"Sepertinya organisasi yang kalian ini cukup menarik?"
"Ya, ya, tentu saja kamu juga ada baiknya ikut organisasi juga," kata Alena.
"Hahaha... Mungkin aku akan memikirkannya,"
Kyla tetap mencoba ikut dalam percakapan, terutama ingin berbicara dengan Vano itu, namun sayangnya Vano tidak banyak berbicara dengannya, dia malah lebih banyak berbicara dengan Alena.
Kyla, yang awalnya sedikit tertarik dengan Pria itu entah kenapa merasa kecewa karena diabaikan seperti ini.
Diam-diam, Kyla menatap kearah pria itu, yang saat ini sedang menatap kearah Alena, dan dari tadi cara dia berbicara, seolah mencoba menarik perhatian Alena.
"Ah, benar tempo hari Aku habis pergi berlibur, kebetulan aku membawa beberapa oleh-oleh, awalnya aku ingin menghabiskan nya sebagai camilan, tapi karena Kak Alena disini, ini buat Kakak saja, Kakak suka coklat bukan?"
Alena menatap kota coklat itu,
"Astaga, memang sangat menyukai coklat, terima kasih atas oleh-olehnya,"
"Sama-sama, Kak Alena. Aku minta maaf pada Kyla, karena tidak bisa memberimu oleh-oleh karena aku hanya membawanya satu, mungkin lain kali kita bertemu aku akan memberimu oleh-oleh,"
Kyla yang mendengar itu hanya bisa berkata,
"Tidak masalah sama sekali, toh kita baru saling kenal,"
Kyla merasa jika Pria itu, berkata padanya seperti itu hanya demi basa-basi semata.
Astaga, dilihat tentang bagaimana dia bahkan tahu hal-hal yang Kak Alena sukai apakah dia mencoba mendekati Kak Alena?
Namun Kyla segera menatap kearah Kakaknya itu yang sepertinya, sangat tidak sadar jika dirinya didekati.
Emm, Kyla memang sedikit tahu jika Alena itu, memang sedikit tidak peka.
__ADS_1
Tapi apakah tidak apa-apa membiarkannya seperti ini?