Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 24: Kamu Milikku


__ADS_3

Hari-hari segera berlalu dalam sekejap, ini adalah hari ketiga dimana Alena tidak melihat Sean berangkat ke kampus.


Jadi rasanya ketika memasuki kelas hari-hari terasa sangat damai untuk Alena karena tidak lagi melihat sosok yang menyebalkan itu.


Sesi diskusi kelompok pun berjalan dengan baik tanpa gangguan dari Sean.


Alena diam-diam menikmati sesi damai ini dengan senang hati.


Hanya saja dirinya memang sedikit terganggu tentang, Sean yang sakit.


Kira-kira kecelakaan macam apa yang dialami oleh pria itu sampai-sampai pertunangannya sempat dibatalkan.


Apakah itu sesuatu yang cukup parah?


Kecelakaan yang mungkin membuat dia gagar otak mungkin?


Alena mulai menggalang-gelengkan kepalanya merasa percuma mengkhawatirkan orang sialan itu dan kenapa pula dirinya harus khawatir?


Hanya sedikit fakta bahwa saat ini, Sean adalah Suaminya, dan suaminya sedang sakit, Hal inilah yang membuat Alena terganggu.


Bukankah paling tidak, karena dirinya adalah Istrinya, minimal tahu tentang keadaannya bukan?


Untungnya saat sesi kumpul anggota kelompok, saat ini sedang membahas soal penyakit Sean.


"Sebenarnya Sean kenapa? Aku merasa sedikit sepi tidak melihat dia yang biasanya selalu brisik itu,"


Salah anggota kelompok lainnya menjawab,


"Aku dengar dia tergelincir di kamar mandi, yang membuat kepalanya terbentur atau sesuatu, hampir membuat dia gagar otak, juga Aku dengar Kakinya di gips segala, karena retak saat jatuh,"


Alena diam-diam mendengarkan percakapan itu merasa cukup terkejut juga setelah mendegar soal kondisi Sean, yang sepertinya itu cukup parah.


Mendengar hal itu anggota kelompok lain juga menunjukkan ekspresi terkejut.


"Astaga, bagaimana bisa tergelincir di kamar mandi menyebabkan hal-hal separah itu?"


"Tapi itu memang cukup masuk akal, Aku pernah dengar seseorang yang tergelincir di kamar mandi bisa sampai gagal otak dan meninggal, Aku kira Sean cukup beruntung hanya terkena beberapa lecet kecil,"


"Tulang sampai retak begitu dan kepala berdarah kamu bilang hanya lecet kecil?"


Salah satu anggota kelompok yang merasa penasaran lalu segera bertanya,


"Dan lagi dari mana pula kamu mendengar gosip itu?"


"Ah, tentu saja dari Sean sendiri, aku sempat berkirim pesan dengannya dan dia menceritakan keadaannya namun dia sudah baik-baik saja sekarang kalian tidak perlu khawatir,"

__ADS_1


Alena entah kenapa merasa cukup lega setelah mendengar Sean baik-baik saja, lalu karena sebuah rasa penasaran, Alena keceplosan bertanya,


"Lalu, sampai Kapan Sean tidak masuk kampus?"


Sekarang semua mata di anggota kelompok itu menatap ke arah Alena, jelas merasa sangat terkejut kenapa Alena tiba-tiba menjadi tertarik dengan pembicaraan soal Sean, mereka kira gadis itu sangat membenci Sean.


Alena yang ditatap itu jelas masa cukup malu lalu segera mulai membuat alasan,


"Apa? Aku hanya ingin menikmati hari-hari damaiku tanpa melihat wajahnya jadi tentu saja aku ingin tahu sampai kapan dia tidak datang ke kampus, setidaknya saat dia tidak ada di kampus aku benar-benar bisa menikmati waktuku,"


"Pffff.... Alena, jika Sean tahu kamu berkata seperti itu dan suka dia sakit seperti itu dia pasti akan marah,"


"Aku tidak peduli apakah dia marah, yang jelas aku merasa sangat damai ketika aku tidak melihat wajah,"


Mereka saling bercakap-cakap dengan asik, sambil menikmati tugas.


####


Di sisi lainnya, saat ini Sean yang berada di rumah sakit tentu saja merasa sangat bosan, apalagi dengan dirinya yang harus pura-pura kepalanya sakit dan pakai retak kaki segala, gips palsu benar-benar sangat merepotkan dan menganggu.


Jelas, ini semua adalah hal-hal yang direncanakan oleh Ibu Sean, agar orang-orang tidak curiga tentang hal apa yang sebenarnya terjadi.


Karena jika ada orang luar yang tahu tentang bagaimana Sean mencoba menyakiti dirinya sendiri, jelas itu bukan hal yang baik.


Sean sendiri hanya menuruti kata-kata mamanya itu dan begitulah akhirnya sekarang dirinya harus pura-pura sakit seperti ini.


Sean yang bosan itu mulai menelepon salah satu temannya dan mulai mengobrol, salah satu temannya itu mulai bercerita beberapa hal yang dia dengar di kampus.


Tentang Alena yang ternyata cukup senang melihat Sean sakit dan tidak perlu ke kampus jadi tidak perlu melihat wajah menyebalkan Sean lagi.


"Apa kamu bilang? Gadis sialan itu berbicara seperti itu tentangku?"


'Itu benar sekali kamu harus melihat bagaimana dia tertawa ketika mengatakan itu dan ingin melihat hari-hari damai tanpa melihat wajahmu,'


Sean jelas saja merasa sangat kesal setelah temannya itu bercerita hal-hal semacam itu.


Sialan Alena itu, Alena mau bagimanapun masih Istrinya, namun gadis itu malah menikmati keadaan dirinya yang sakit ini.


Apa-apaan itu, bukankah Alena itu harusnya khawatir soal keadaan Suaminya?


Atau sebenarnya gadis itu sebenarnya diam-diam senang karena pertunangan antara dirinya dan Neila dibatalkan sementara?


Sungguh gadis yang aneh.


Sean yang merasa terlalu malas untuk memikirjan itu akhirnya memutuskan untuk mematikan telepon dan berniat untuk istirahat.

__ADS_1


Sean mulai berbaring dan memejamkan matanya.


Namun sayangnya itu tidak bertahan lama, karena Sean segera membuka kembali matanya.


Kali ini, ekpresinya sedikit berubah, dan 'Sean' mulai memegangi kepalanya yang di perban, perlahan-lahan mulai melepaskan perban palsu itu.


Setelah itu, mula melepaskan gips palsu yang ada di kakinya.


"Sungguh, Sean benar-benar sangat hebat dalam berakting pakai acara pura-pura sakit di kepalanya dan retak tulang, jadi membuatku report ingin bertemu Alena saja,"


Kemudian, pemuda itu segera menatap ke arah ponsel yang ada di meja, yang sudah menunjukkan hampir sore.


Ini adalah saat Alena hampir selesai Kuliah, waktu di mana mereka berdua berjanji bertemu.


Pemuda itu lalu segera melepaskan selang infus di tangannya, pelan-pelan, agar tidak banyak darah yang keluar.


Karena, jika Alena tahu dirinya sakit ini akan merepotkan.


Pemuda itu juga segera mengambil barang-barang di laci di bagian bawah, dimana sebelumnya dirinya meletakkan barang-barangnya yang sudah di siapkan sebelumnya.


Pemuda itu, segera menuju ke arah kamar mandi, mulai menganti pakaiannya.


Pemuda itu juga segera memakai sarang tangan untuk menutupi luka di tangannya, juga jam tangan untuk menutupi perban di tangannya.


Langkah terakhir, mengeluarkan sebuah kacamata tebal, dan merias sedikit rambutnya agar menutupi sebagian wajahnya.


Merasa riasannya sudah cukup bagus pemuda itu segera keluar dari sana dan mulai menyelinap keluar dari rumah sakit setelah memastikan, sebelumnya bilang pada Bodyguard di luar, agar tidak ada orang yang boleh masuk karena dirinya sedang istirahat.


Ya, pemuda itu segera keluar lewat jendela dan langsung memesan sebuah taksi untuk menuju ke kampus.


Sambil menatap jam, pemuda itu berkata dengan tidak sabar.


"Alena... Sebentar lagi kamu akan segera menjadi milikku, tidak... Kamu memang sudah menjadi milikku," katanya sambil tersenyum sambil menatap keluar jendela, memikirkan bahwa sebentar lagi dirinya akan menyatakan perasaannya.


Ya, dan Alena akan memberikan jawabannya, jika Alena juga menyukainya.


Alenanya....


Miliknya satu-satunya...


Kemudian tidak lama sambil pemuda itu berhenti di depan kampus, segera dirinya buru-buru untuk memasuki kampus, mencari kearah perpustakaan berada.


Dan benar saja, saat ini ada Alena di perpustakaan, namun sayangnya saat ini gadis itu bersama dengan seorang Pria.


Pemuda itu ingat, bukankah itu Mahasiswa Junior bernama Vano?

__ADS_1


Sialan, beraninya orang itu mendekati Alenanya...


Ini jelas tidak bisa di biarkan, Alena hanya miliknya, tidak boleh ada yang berani mendekati atau mengambil Alenanya....


__ADS_2