
Saat ini di salah satu ruang pemeriksaan di rumah sakit, Sean mulai terbangun dari pingsannya.
Hal pertama yang dirinya rasakan begitu dirinya bangun adalah rasa sakit di pergelangan tangannya.
Dirinya juga menjadi bingung menatap sekeliling ke arah sebuah ruangan putih yang terlihat tidak familiar, seperti sebuah kamar rumah sakit.
Sean, lalu mulai mencoba bangun namun merasakan kepalanya sangat pusing dan tangannya terasa sangat menyakitkan.
Sean lalu segera menatap kearah tangan kanannya yang saat ini tengah di perban, terlihat masih ada sedikit darah yang terlihat disana, menandakan bahwa luka itu belum benar-benar sembuh dan darah merah masih sedikit keluar.
Melihat semua itu tentu saja Sean menjadi sangat bingung terutama ketika tidak ada seorangpun yang ada di sekitarnya.
Ingatannya hilang begitu dirinya membaca sesuatu di kaca yang ada di kamar mandi, sesuatu yang ditulis dengan sangat buruk dari tetesan-tetesan darah.
Namun itu masih bisa dibaca dengan sangat jelas saat itu.
Sean tentu saja masih teringat kata-kata di kaca itu.
'Batalkan Pertunangan Hari ini, atau kalau tidak, aku yang akan menghentikannya sendiri,'
Itu adalah sebuah permintaan tidak itu lebih seperti sebuah perintah yang sangat buruk hampir menyerupai sebuah ancaman.
Awalnya, Sean kira itu hanya sebuah omong kosong belaka, namun melihat saat ini dirinya berada di sebuah rumah sakit ternyata tulisan yang ada di kaca itu benar-benar dibuat menjadi nyata oleh dirinya yang lain.
Dirinya berada di rumah sakit, tentu saja Pesta Pertunangan itu batal.
Namun apa yang terjadi berikutnya jika pesta untuk bantal?
Sean bahkan tidak berani memikirkan konsekuensi yang mungkin terjadi.
Tepat ketika Sean sedang berpikir itu pintu ruangan itu segera dibuka oleh seorang wanita.
Tatapan Sean bertemu dengan tatapan marah dari Ibunya, Isabella.
__ADS_1
Namun hal pertama yang Sean denger, bukan nata kekhawatiran dari wanita itu, yang merupakan Ibunya itu, namun sebuah kemarahan.
"Sean! Coba jelaskan padaku kekacauan apa yang kamu buat sampai-sampai kamu terluka seperti ini? Apakah kamu sekarang menjadi gila?"
Sean yang ditanya itu masih diam karena tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Ibu Sean yang tidak segera mendapatkan jawaban dari Putranya itu, segera menamparnya dengan keras.
"Sean! tidakkah kamu tahu seberapa malu keluarga kita karena pertunangan mu batal? Ayahmu jadi sangat kecewa padaku dan dia mulai marah-marah padaku! Apakah kamu senang melihatku menderita seperti ini dan disalahkan oleh semua orang?"
Sean yang mendapatkan tamparan itu hanya bisa pasrah dan menunduk selalu segera berkata dengan pelan,
"Maaf."
Namun ucapan maaf itu jelas tidak diterima oleh Ibunya, dan malah Sean mendapatkan sebuah tamparan lagi.
"Maaf kamu bilang? Kamu pikir itu cukup untuk menebus kesalahannya kali ini? Apa kamu itu tidak bisa menjadi seorang anak yang begitu patuh yang bisa membuatku bangga?"
"Maaf, Mama. Sungguh, aku tidak berniat merencanakan hal ini,"
"Maaf, Maaf! Apakah hanya itu yang bisa kamu katakan? Aku benar-benar tidak mengerti denganmu! Juga kamu lakukan dengan melukai dirimu sendiri seperti itu! Apakah kamu benar-benar ada kehilangan kewarasan mu? Sudah bilang padamu sebelumnya untuk pergi ke tempat konsultasi! Kamu tidak mendengarkanku?"
"Aku sudah..."
"Kamu tidak tahu hal apa yang aku alami! Aku harus menyimpan semua kekacauan yang kamu buat ini! Jika Ayahmu sampai tahu, kekacauan yang kamu buat, apa pendapat yang dia miliki? Apalagi setelah tahu jika Putranya sudah tidak waras?"
Sean mendengarkan semua caci maki itu tanpa merubah ekspresinya sedikitpun, seolah-olah hal semacam ini sudah hal yang biasa sejak dirinya muda.
"Sungguh, tidak bisa kak kamu hanya menjadi putra ku yang sempurna yang selalu bisa aku banggakan? Kenapa kamu musti memiliki cacat kepribadian semacam ini? Kamu itu benar-benar sangat tidak berguna,"
Sean masih diam, dan sekali lagi, hanya bisa berkata lagi,
"Maaf...."
__ADS_1
Namun setelah kata-kata itu keluar dari mulut Sean, Isabella hanya mendapat Putranya itu.
"Cukup! Aku tidak mau mendengar kata-katamu lagi! Setelah hari ini kamu tidak boleh menunjukkan kesalahan sedikitpun terutama di depan Ayahmu! Jangan sampai ada orang yang tahu tentang penyakit yang kamu miliki ini! Terutama Ayahmu, atau semua orang lainnya, juga hal-hal yang kamu lakukan di kamar mandi,"
Lalu setelah mengatakan hal-hal itu, Isabella segera pergi keluar dari kamar rawat itu meninggalkan Sean sendirian, tenggelam dalam lautan pikirannya.
Sean sendiri, tidak mengerti kenapa hal hal ini terjadi.
Dan kenapa hal-hal menjadi kacau...
Kenapa dirinya yang lain, harus keluar di saat yang tidak tepat dan mengacaukan semua ini?
Apa nanti yang akan dirinya katakan pada Ayahnya?
Apakah Ayahnya juga akan marah dan kecewa padanya sama seperti Ibunya?
Hal-hal itu jelas.
Mungkin dirinya hanya akan mendapatkan sebuah pukulan atau cambukan lain dari Ayahnya...
Tidak!
Dirinya tidak boleh seperti ini terus.
Sean mulai mencoba untuk menenangkan dirinya, mulai mencoba untuk memikirkan lagi apa yang terjadi...
Keinginan dari dirinya yang lain..
Jelas bukan hanya pembatalan pertunangan...
Namun apa?
Sean benar-benar tidak memiliki petunjuk soal ini.
__ADS_1