Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 42: Kemarahan


__ADS_3

Alena sore itu, menikmati makan dengan santai di Apartemen Sean.


Aslinya ketika makan malam itu berlangsung tidak ada satupun dari keduanya yang berbicara hanya fokus makan dan tidak ada yang berbicara.


Mungkin karena memang tidak ada yang bisa dibicarakan?


Sean yang merasa tidak nyaman dengan kediaman itu segera mulai membuka percakapan Setelah dia selesai makan.


"Jadi sejak kapan?"


Mendengar pertanyaan Sean, Alena segera meletakkan sendoknya, dan berkata,


"Apa yang sejak kapan?"


Sean sedikit menggaruk kepalanya karena bingung harus berkata atau bertanya dari mana.


"Sejak kapan 'kita' memiliki hubungan?"


Alena jelas tahu, apa yang di maksud itu, soal hubungan antara dirinya dan Xavier.


Sean benar-benar tidak tahu?


"Mungkin sejak kita masih di sekolah menengah,"


Ekpersi Sean segera menunjukkan keterkejutan ketika mendengar hal-hal itu.


Masa SMA, ada beberapa kenangan buruk disana, juga ada beberapa kenangan buruk disana.


"Sudah begitu lama, bagaimana kita bertemu?"


"Apakah itu sebuah perpustakaan?"


Sean yang mendengar itu hanya segera mengangguk.


"Jadi begitu. Lalu, sejauh mana hubungan itu?"


Alena yang dari tadi merasa diinterogasi itu jelas merasa tidak nyaman.


"Sejauh mana? Sejauh itu, kenapa kamu harus bertanya Kalau kamu sudah tahu sejauh mana itu?"


Sean yang mendapatkan jawaban ketus itu segera berkata dengan cemberut,


"Sejauh kamu ingin memiliki anak denganku? Toh kita sudah menikah entah bagaimana,"


Alena yang mendengar itu, segera berkata dengan kesal,


"Berhentilah bicara omong kosong,"


"Aku hanya bertanya karena ingin tahu oke? Lalu, kenapa kamu melakukannya setelah semua? Aku merasa, kamu bukan tipe yang seperti itu," kata Sean lagi dengan canggung.


Alena memutuskan untuk segera membereskan piringnya, karena tidak lagi ingin menjawab pertanyaan Sean.


Alena segera mengambil Tas miliknya yang dia letakkan disampaignya, disana ada ponsel Alena, Yang sepertinya dari tadi dalam mode diam, namun ada begitu banyak telepon di sana.

__ADS_1


Dari Kakaknya Julio?


Ada begitu banyak telepon sampai-sampai, Alena tiba-tiba memiliki firasat buruk.


Dan benar saja, ketika Alena membuka salah satu pesan dari Saudara Kembarnya itu, ekpersi Alena segera buruk.


'Mama tahu soal Pernikahanmu dan Sean, Dia baru saja menemukan surat nikah mu, sebaiknya kamu segera pulang dan jelaskan sendiri aku benar-benar pusing untuk menghadapi kemarahan, Mama,'


Alena yang membaca pesan itu jelas menjadi panik sekali.


Sean yang sedang membereskan meja, menatap Alena yang sekarang wajahnya terlihat pucat.


"Ada apa?"


Alena segera membereskan barang-barangnya dan berdiri,


"Aku harus segera pulang secepatnya ada hal-hal gawat yang terjadi,"


Sean tiba-tiba memiliki firasat buruk juga.


"Apa?"


Alena tidak tahu harus berkata apa namun segera mengatakan yang sejujurnya.


"Mamaku menemukan Buku Nikah kita,"


Ekpersi Sean segera buruk, dan menjadi binggung soal apa yang akan terjadi.


Terutama, mengigat Pernikahan mereka tidak hanya di atas kertas sekarang, karena sudah sampai sejauh ini, mereka sudah melakukan malam pertama mereka, walaupun Sean merasa tidak melakukannya, namun dirinya yang lain.


"Aku akan pulang dan mengurusnya, kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya,"


Alena mengatakan itu, namun sebenarnya dia juga cemas.


"Mari aku akan mengantarmu untuk menghemat waktu itu jelas harus segera diurus,"


Alena tidak menolak hal itu, karena memang buru-buru dan terlalu lama jika harus menunggu taksi segala.


Siapa yang tahu, jika hal-hal di Rumah menjadi gawat.


####


Sean menurunkan mobil di depan Rumah Alena, tiba-tiba merasa gugup ketika melihat Rumah Besar itu.


Ya, Sean tidak berani untuk masuk lagi pula memang ke sini Hanya Untuk mengantarkan Alena.


"Aku Tidak perlu masuk bukan?"


Alena yang baru saja turun dari mobil dan mendengar pertanyaan itu segera berkata,


"Tidak perlu, Jika kamu masuk hanya akan menjadi kekacauan,"


"Oke, aku mengerti, semoga semuanya berjalan baik, Jika kamu membutuhkan sesuatu kamu bisa menelponku,"

__ADS_1


Alena sebenanya juga takut, namun mau bagaimana lagi, dia pada akhirnya cepat atau lambat akan melalui ini semua, sejak dirinya memutuskan untuk bersama dengan Xavier atau Sean.


Hanya saja tidak mengira ini akan secepat itu.


Namun bagaimana dirinya menjelaskan hal ini kepada Mamanya?


Jelas, Alena merasa tidak ada yang baik membicarakan soal Sean yang memiliki kelainan kepribadian ganda itu, itu bukanlah sesuatu yang bisa disebarkan kepada siapa saja.


Alena yang melamun itu, tidak menyadari jika dirinya sudah sampai di ruang tamu.


Ya, ini masih sore tentu saja Papanya belum pulang dari kantor. Itulah kenapa Alena buru-buru pulang akan sangat gawat jika Papanya sudah pulang, pasti akan menjadi hal yang lebih buruk.


Di Rumah Tamu, ada Emelin yang saat ini memiliki ekspresi marah, dan Julio yang duduk di sofa sambil menunduk seolah takut memikirkan apa yang terjadi.


"Mama..." Kata Alena gugup ketika melihat ekspresi Mamanya itu.


"Coba jelaskan apa yang terjadi,"


Alena tidak tahu harus bercerita dari mana Jadi dia hanya menceritakan tentang bagaimana dia bisa menikah dengan Sean. Emm, dirinya tengelam dan Sean menyelamatkannya, dan membawa ke penginapan, kemudian di sergap warga.


Awalnya, Alena tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi Bagaimana dirinya ada di penginapan bersama Sean, namun setelah Xavier menjelaskan semuanya menjadi logis sekarang.


Itu benar-benar hal yang tidak disengaja lagi pula dirinya diselamatkan.


"Kenapa kamu tidak menceritakan hal-hal sepenting itu pada kami?"


Alena yang mendengar itu segera bingung namun langsung menjawab,


"Aku... Aku merasa bahwa awalnya hari ini tidak perlu diceritakan karena, kami berdua akan bercerai,"


"Alena! Pernikahan bukan untuk mainan! Dan lagi dari semua orang Kenapa bisa-bisanya kamu menikah dengan Sean itu? Bukankah kamu tahu dia dari keluarga mana?"


"Aku tahu itu, namun apa yang bisa Aku katakan? Hal-hal sudah terjadi,"


Emelin, sejujurnya tidak tahu harus berkata atau bersikap seperti apa, jelas kemarahan karena merasa dibohongi oleh putrinya itu masih membuat hatinya tidak senang.


"Baik, Kalau begitu kamu cepat bercerai saja seperti kata-katamu,"


Alena yang mendengar itu, segera berkata,


"Aku... Aku tidak bisa bercerai dengannya,"


"Kenapa? Hah? Bukankah kamu yang bilang itu hanya pernikahan paksa?"


Alena mencoba mengatur nafasnya untuk bisa bicara hal yang kurang lebih jujur dari dalam hatinya.


"Aku mencintai Sean, dan tidak ingin bercerai dengannya,"


Julio yang dari tadi menunduk bahkan yang paling heboh karena saking kagetnya.


Karena baru tadi pagi, Julio mendegar kata-kata Alena yang menyebutkan, 'Jangan berbicara pada Iblis itu!!'


Sungguh, apa sebenarnya yang telah berubah dari seharian ini?

__ADS_1


"Kamu menyukai Sean? Bagaimana bisa?"


Alena yang di tanya itu hanya diam, karena merasa bingung harus memberikan jawaban seperti apa.


__ADS_2