Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku

Menikahi Tuan Muda Psikopat Musuh Keluargaku
Episode 41: Keraguan


__ADS_3

"Sialan, Sakit!" Kata Sean marah karena baru saja di tendang Alena sampai jatuh dari tempat tidur, karena sempat memaksa mendekati Alena.


"Rasakan itu!" Kata Alena kesal, tidak menyukai bagaimana sikap menyebalkan Sean.


Sean yang jatuh di lantai saat ini mencoba untuk berdiri, mungkin karena Sean tidak menyadari bahwa dirinya tidak memakai apapun dia hanya berdiri di depan Alena begitu saja, jadi semua bagian tubuhnya jadi terekspos oleh Alena.


Alena yang menatap tubuh indah dan mengairahkan itu, sesuatu yang belum lama ini di nikmati, hanya bisa menutup matanya dengan ekspresi malu lalu berbicara dengan gugup,


"Kamu... Kamu jangan berkeliaran seperti itu, cepat pakai bajumu kamu! Dasar tidak tahu malu!!"


Sean lalu menatap ke arah tubuhnya yang saat ini tidak memakai sehalai baju apapun, menjadi sedikit panik lalu mulai menarik selimut, jelas selimut itu adalah satu-satunya yang menutupi tubuh Alena, Alena memegangnya dengan kencang tidak membiarkan selimut itu direbut oleh Sean.


"Sialan! Alena selimutnya!!"


"Kamu itu yang sembarangan!!"


"Bagaimana Aku menutupi tubuhku jika selimutnya kamu pakai?"


"Itu terserah kamu saja, yang jelas segera ditutupi daripada menunjukkanku pemandangan yang sangat menjanjijikan itu,"


Mendegar itu, Sean segera berubah menunjukkan ekspresi kemarahan dan kekekalan dan berhenti menarik selimut Alena, dia lalu malah segera naik ke tempat tidur, menarik tangan Alena yang menutupi matanya dan berkata,


"Menjijikan katamu? Bukankah kamu baru saja bersenang-senang dengan tubuh ini? Kamu sudah melihat segalanya pula! Apalagi yang membuatmu malu dan sampai merasa seperti itu ketika melihat tubuhku?"


Alena yang mendengar itu wajahnya segera menjadi panas dan memerah karena apa yang dikatakan oleh pria yang ada di hadapannya benar, tidak ada bagian tubuh dari pria yang ada di hadapannya itu yang belum pernah dirinya lihat dan sentuh.


Alena juga bisa melihat di beberapa bagian tubuh Sean, ada beberapa tanda yang dirinya buat, begitu pula Alena menyadari jika di tubuhnya ada tanda yang Xavier buat, rasanya terasa sangat canggung dan aneh.


Dirinya jelas melakukannya dengan Pria yang ada di hadapannya itu namun rasanya seolah sedikit berbeda karena kepribadian lain yang melakukannya?


Namun itu adalah tubuh Sean setelah semua.


"Diamlah! Itu jelas sangat sangat berbeda!"


Mungkin Sean yang marah, dia lalu segera mendorong Alena agar berbaring di tempat tidur, membiarkan dirinya untuk berada di atas tubuh gadis itu, lalu segera memberikan sebuah ciuman.


Alena jelas segera mengigit bibir Sean, membuat Sean segera melepaskan ciuman itu.


"Sialan, jadi ternyata kamu suka bermain kasar?"


"Lepaskan! Brengsek!!" kata Alena mencoba memberontak.


"Aku tidak akan melepaskanmu, sampai membuatmu hamil anakku,"


"Sialan! Jaga bicaramu!"


"Apa? Bukankah kamu duluan yang mulai? Kalian bermain tanpa pengaman kan? Bagaimana jika ada sesuatu yang tumbuh di dalam sini? Kamu tidak memikirkannya?" kata Sean sambil memegang bagian perut Alena.


Alena sebelumnya merasa cukup ceroboh dan buru-buru sampai tidak memikirkan hal-hal itu, dan ketika memikirkannya, ekpresi Alena menjadi rumit.


Sean melihat ekpresi rumit itu, lalu segera duduk dan bangun dari posisinya, melepaskan Alena dan berkata,


"Sudahlah lupakan saja, jika terjadi sesuatu segera hubungi Aku, jangan hanya memendamnya sendiri,"

__ADS_1


Sean lalu mulau mengabil celananya di lantai dan memakainya, terlihat hendak pergi dari kamar itu.


Alena yang mendegar kata-kata Sean, jelas merasa sangat kegat, mulai berpikir, apakah Sean baru saja menghawatirkan keadaan dirinya?


Bahkan walaupun, bukan Sean yang memulai ini?


Perasaan Alena jadi rumit.


Tiba-tiba, kata-kata Xavier muncul dalam benaknya,


'Sean tidak seburuk yang kamu kira,'


Sean yang hendak pergi dari kamar itu baru saja menyadari jika itu ternyata adalah kamar di apartemen miliknya.


Tatapannya segera menatap Alena lagi,


"Tunggu, ini Apartemenku? Bukankah kamu yang harus pergi dari sini Alena?"


Ekpresi Alena segera menjadi buruk, Sean...


Benar-benar sosok yang sulit untuk dimengerti apakah dia baik atau buruk.


"Aku juga akan segera pergi dari sini terlalu malas untuk berada di sini lama-lama," tepat setelah Alena mengatakan itu, perut Alena berbunyi terlihat sekali kelaparan karena tidak makan dari siang.


Alena segera menunjukkan ekspresi malu.


Sean yang menyadari itu tidak tertawa hanya segera berkata dengan ekspresi pasrah,


Alena belum sempat menolaknya namun pria itu sudah pergi keluar dari kamar itu Alena menatap kepergiannya dengan ekspresi rumit.


Sean akan memasak untuknya?


Dan benar saja, ketika Alena sudah selesai mandi dan menuju ruang makan sudah ada beberapa masakan di meja makan Yang sepertinya dibuat dengan buru-buru.


Namun dari aromanya sudah sangat menggugah selera.


"Kamu yang memasak ini?"


Sean yang baru saja meletakkan salah satu piring di meja makan hanya berkata dengan ekspresi dingin.


"Itu benar aku sudah membuatkan ini repot-repot jadi duduklah dan habiskan semuanya,"


"Aku cukup terkejut tuan muda sepertimu bisa masak,"


"Aku ini sebenarnya cukup Mandiri, masak bukan hal yang sulit untukku, aku cukup ahli memasak setelah semua aku sudah pergi ke dapur sejak aku berusia empat tahun,"


Sean terlihat bangga ketika mengatakan itu.


Alena jujur saja menjadi terkejut ketika mendengar itu, juga merasakan masakan Sean, benar-benar terasa sangat enak seperti seseorang yang sudah berpengalaman untuk memasak selama bertahun-tahun.


Alena jadi ingat cerita Xavier, Sean hidup miskin sebelum memasuki Keluarga Dirgantara.


Namun dia sudah mulai memasak saat masih berusia 4 tahun?

__ADS_1


Seberapa susah hidupnya dulu?


Alena merasa sedikit iba dengan kehidupan pria yang ada di depannya, dan melihat dia yang menyiapkan masakan untuknya seperti ini.


Hati Alena entah kenapa merasa hangat terutama setelah makan masakan hangat yang ada di depannya ini.


Dirinya benar-benar tidak mengerti Sean...


Namun tetap saja, Alena masih benci padanya, mengigat dulu Sean pernah mencoba meelakakan Kakaknya Alex sampai masuki jurang.


Hal itu dilakukan oleh pria yang ada di depannya dan bukan oleh orang lain sesuatu yang jelas tidak bisa dimaafkan dengan mudah.


Alena begitu pusing ketika kembali mengingat kejadian-kejadian itu.


####


Di sisi lainnya, saat ini di kamar Alena ada Ibu Alena yaitu Emelin, awalnya dia memasuki kamar putrinya itu untuk mencari salah satu barang miliknya yang Alena pinjam, namun mana tahu begitu dia mengeledah barang-barang Alena, dia menemukan sesuatu yang tidak pernah dirinya percayai.


"Ini... Ini sebuah surat nikah?"


Emelin menatap sebuah buku nikah dan sebuah kalung yang ada di tangannya dengan ekspresi sangat kaget terutama setelah membaca isi buku nikah itu yang tertulis nama putrinya, Alena Smith dan Pria yang ada di buku nikah itu adalah seseorang yang benar-benar lebih mengejutkan lagi.


"Sean Xavier Dirgantara? Ini bukankah anak Isabella sialan itu? Sial, Alena jelas harus menjelaskan semua ini,"


Kemarahan jelas ada di wajah Emelin saat ini, lalu ketika Emelin membaca lagi surat itu dia menemukan fakta menarik lain, wali nikah Alena.


"Julio??"


Emelin yang marah itu, segera ke kamar sebelah dimana kamar Julio berada.


Putranya itu, saat ini sedang memainkan ponselnya dengan asik, dan kaget ketika ibunya tiba-tiba masuk ke dalam.


"Mama? Ada apa?"


Emelin lalu segera menunjukkan buku nikah yang ada di tangannya.


"Julio!! Coba jelaskan ini!!"


Wajah Julio yang melihat buku nikah Alena itu segera menjadi pucat.


Julio kena marah Emelin, dan begitu takut, jadi dia segera mencoba menelepon Alena, namun Alena tidak juga menjawab.


Sial, bagaimana ini?


Julio benar-benar menjadi panik tentang bagaimana cara menjelaskan semua ini hal-hal ini benar-benar sangat menyebalkan karena dirinya harus terlibat.


"Hah, Alena tidak menjawab? Sepertinya aku harus mendiskusikan ini dengan Papa kalian,"


Wajah Julio segera menjadi lebih pucat.


"Mama, aku mohon jangan ceritakan ini dulu pada Papa biarkan Alina pulang dulu dan berbicara dengannya dulu,"


"Kamu pikir masalah ini masalah sepele? Sejauh mana hubungan Alena dan Sean itu?"

__ADS_1


__ADS_2