
Alena yang baru saja mendengar semua cerita itu, sejujurnya masih bingung sebaiknya dirinya harus merespon seperti apa berkata lebih jujur dari pada semua logika yang Alena miliki.
Alena merasa jika dirinya tidak boleh hanya asal percaya dengan kata-kata pemuda yang ada di hadapannya.
Namun Alena yang mendegar cerita itu segera menagis, ya dirinya cukup merasa iba dan sedih dengan kisah masa lalu Sean yang terlihat cukup menyedihkan itu namun hanya sebatas itu.
Hal yang lebih membuat dirinya sedih adalah sebuah kenyataan bahwa orang yang dirinya cintai tidak lebih dari sesuatu yang kira-kira tidak ada.
Ini hanyalah bagian dari keperibadian lain yang Sean miliki, terlebih lagi ini bukan kepribadian utama hanya sebuah kepribadian tambahan lainnya.
Sesuatu yang benar-benar terlihat seperti sebuah khayalan dan sesuatu yang tidak nyata.
Alena sendiri tidak begitu mengerti soal penyakit mental seperti Multiple Personality Disorder, salah satu penyakit yang salah satunya karena trauma.
Alena bisa sedikit mengerti, kenapa Sean bisa terkena penyakit semacam itu mungkin karena trauma masa kecil yang dimilikinya dan dia yang di besarkan di Keluarga yang tidak begitu baik.
Mungkin hal-hal bisa memburuk dan membuat dia bisa memiliki kepribadian lain, dan kepribadian lain itu muncul di depannya dalam bentuk Xavier.
Pertemuan mereka berdua yang tidak disengaja, dan cinta yang ada di dalam dirinya yang tumbuh pada pemuda yang ada di depanya itu.
Alena mulai bertanya pada dirinya sendiri apa yang dirinya sukai dari pemuda yang mudah di depannya?
Mungkin itu sikap dan kepribadian yang dia miliki?
Ya, benar-benar sesuatu yang bertolak belakang dengan Sean yang dirinya benci.
Namun justru inilah yang benar-benar membuat semuanya menjadi rumit.
Xavier bukanlah sesuatu yang benar-benar ada, yang benar-benar ada adalah Sean, itu adalah sebuah fakta yang tidak bisa diubah.
Dirinya mencintai seseorang yang tidak ada.
Dan seseorang dirinya cintai ini bisa menghilang begitu saja, karena mau bagaimanapun juga dia bukanlah yang asli, yang asli adalah Sean yang Alena kenal.
Air mata tidak bisa untuk tidak tumpah.
"Lena, kamu jangan menangis seperti itu, aku tidak tahan melihatmu menangis seperti ini jika kamu marah-marah padaku,"
Alena yang mendengar kata-kata itu hatinya dipenuhi dengan rasa keputusan lalu segera berkata,
"Aku masih tidak mengerti... Hal-hal ini bahkan masih tidak bisa aku pahami... Siapa sebenarnya orang yang aku cintai? Siapa kamu Xavier?"
Pemuda yang ada di hadapan Alena lalu segera terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu dan segera berkata dengan penuh keyakinan.
"Alena, orang yang kamu sukai adalah Aku, Aku juga bagian dari Sean. Ada beberapa fakta penting yang mungkin akan kamu lupakan, yang ada di hadapanmu ini, Sean Xavier Dirgantara, Suamimu, Lena... Kamu masihlah Istriku,"
Alena jelas dikejutkan dengan sebuah fakta yang tiba-tiba muncul itu.
Ya, pada kenyataanya, secara hukum Pemuda yang ada di hadapannya ini masih cukup mengejutkan adalah Suaminya, mereka sudah menikah sebelumnya.
__ADS_1
Jadi siapa yang Alena nikahi?
Itu keperibadian lainnya, namun tetap seperti yang pemuda dihadapannya itu katakan, ini adalah tubuh Sean Xavier Dirgantara, pada dasarnya masih orang yang sama.
Namun Alena masih merasa dirinya tidak bisa menyukai sosok 'Sean' itu.
"Lena, aku tahu kamu binggung, bagaimanapun juga aku telah banyak berbohong padamu, namun percayalah padaku, Aku sejujurnya sangat mencintaimu, mungkin begitu juga dengan diriku yang lain."
"Kamu jangan berbicara omong kosong, bahkan walaupun aku mempercayai bahwa kamu kepribadian dia yang namun Sean yang biasa Aku kenal, sangat membenciku, dia bahkan sudah punya calon tunangan,"
"Tepat sekali, namun itu hanya calon bukan? Aku tidak pernah membiarkan mereka berdua bisa bertunangan, karena sejujurnya Alena, tubuh ini hanya akan menjadi milikmu, ini akan tetap hanya menjadi Suamimu,"
Ada senyuman misterius ketika Xavier mengatakan itu, Alena sekali lagi memiliki keterkejutan di dalam dirinya.
Alena masih mencoba mencerna hal-hal yang barusan dirinta tahu.
"Tunggu... Kamu... Jangan memulai hal-hal omong kosong seperti itu,"
Xavier lalu mulai menghela nafas terlihat pasrah dengan sesuatu lalu memegang kedua pundak Alena.
"Lena, mau bagaimana lagi? Aku pada dasarnya tidak ada, aku juga memiliki waktu yang cukup terbatas bisa muncul seperti ini, dan aku bisa menghilang kapan saja jadi setidaknya selama aku masih sadar aku hanya ingin membuat 'Tubuh' ini tidak menjadi milik siapa-siapa, selain kamu,"
Alena baru saja diingatkan dengan sebuah fakta sedih lainnya, lalu segera bertanya,
"Kamu bisa menghilang?"
"Aku rasa, Sean sudah tahu semuanya dan mungkin dia akan berusaha lebih keras agar aku tidak pernah muncul lagi, lagipula kamu juga sudah tahu kenyataannya aku pikir mungkin kamu tidak ingin bertemu denganku lagi, ini seperti aku kehilangan alasan untuk tetap ada bukan?"
Ada kata-kata penuh kesedihan ketika Xavier mulai mengatakan hal-hal itu, namun dia tetap melanjutkan perkataannya,
"Sejujurnya, alasan kenapa aku kembali muncul setelah sekian lama itu adalah kamu, hari itu ketika Aku melihatmu hampir tengelam, diriku yang hampir memudar dan hilang dari Sean ini, tiba-tiba memiliki sebuah keinginan, untuk bisa melihatmu lagi, menghabiskan lebih banyak waktu berdua denganmu dan aku rasa keinginanku ini sudah terwujud, sudah tidak ada lagi hal-hal yang aku inginkan,"
Xavier mengatakan itu sambil tersenyum seolah-olah itu adalah kata-kata selamat tinggal.
Alena yang tiba-tiba mendengar itu segera menjadi dipenuhi dengan kemarahan,
"Setelah semua kebohongan yang kamu buat dan semua hal yang telah kamu lakukan padaku seperti ini, kamu lagi-lagi ingin menghilang seperti dulu? Apakah kamu tidak pernah memikirkan soal perasaan yang aku miliki? Aku bahkan masih sulit untuk menerima semua ini namun lagi-lagi kamu ingin lari dari tanggung jawab dan menghilang apakah menurutmu itu masuk akal?"
Xavier yang tiba-tiba mendengar nada kemarahan itu segera menemukan ekspresi terkejut mungkin karena dirinya bingung harus menanggapi seperti apa.
"Namun apalagi yang bisa Aku lakukan? Aku bahkan bukanlah sesuatu yang benar-benar ada, kamu membenci Sean, tubuh ini. Tidak ada masa depan untuk hubungan kita atau cinta yang aku miliki padamu, dan aku benar-benar tidak tahu sampai kapan aku bisa tetap bertahan dan bisa muncul di depanmu, semuanya juga terasa sulit untukku,"
"Kamu lagi-lagi hanya memikirkan perasaanmu bagaimana menurutmu perasaanku saat ini?"
Xavier hanya segera bertanya lagi dengan ekspresi heran,
"Aku rasa kamu membenciku sekarang?"
Alena lalu segera memberikan tamparan kepada pemuda yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
Ya, karena semakin Alena memikirkannya, Alena menjadi semakin marah padanya.
Seseorang yang muncul dalam hidupnya secara tiba-tiba selalu menghilang begitu saja tanpa jejak, ini bukan yang pertama namun ingin akan menjadi yang kedua ketika pemuda yang ada di hadapannya itu berniat untuk menghilangkan sekali lagi.
Dari semua hal ini akhirnya Alena sadar, di balik rasa marah dan kebencian yang dirinya miliki karena merasa dibohong ternyata rasa cinta yang dirinya miliki lebih besar kepada pemuda yang ada di depannya itu.
Menghilang katanya?
Alena jelas tidak bisa menerima fakta menyedihkan itu.
"Aku sangat ingin bisa membencimu, namun ternyata aku tidak sanggup, aku terlalu menyukaimu hingga memikirkan bahwa kamu menghilang membuat hatiku begitu sakit, Xavier kenapa kamu bisa begitu jahat padaku?"
Alena kembali menangis lebih banyak setelah mengatakan itu sambil memukul-mukul kecil pemuda yang ada di depannya, untuk melampiaskan rasa sedih, kemarahan dan rasa frustasi yang dimilikinya.
Xavier lalu mulai menarik Alena dalam pelukannya, seolah-olah baru saja merasakan perasaan frustasi yang sama, dia juga segera mulai menagis.
"Lena... Lalu apa yang bisa aku lakukan menurutmu? Aku tidak berdaya dan tidak bisa melakukan apapun, aku bukanlah seseorang yang benar-benar ada, Aku tidak pernah bisa mengikatmu denganku, Aku tidak pernah bisa memilikimu,"
Alena menerima pelukan itu dan balas memeluknya, lalu segera membuat sebuah keputusan.
"Tapi Aku bisa memilikimu, kamu bisa Aku buat menjadi milikku,"
Kata-kata yang jelas sekali membuat Xavier binggung.
"Lena... Maksudmu apa?"
"Tubuh ini, Sean Xavier Dirgantara, saat ini adalah Suamiku secara Sah, dan aku akan memastikan untuk membuat tubuh ini tetap menjadi milikku selamanya, dan menjadi Suamiku, jadi kita berdua tetap akan selalu bersama,"
Xavier benar-benar merasa cukup kaget ketika mendengar kata-kata itu tidak pernah mengira gadis yang ada di pelukannya akan mengatakan sesuatu yang begitu berani.
"Aku pikir kamu membenci Sean,"
"Ya, itu benar."
"Lalu kenapa?"
"Karena aku merasa tidak memiliki pilihan lain selain melakukannya? Karena aku ingin bersama denganmu tidak ada pilihan selain mengambil hal-hal ekstra,"
Mengambil hal-hal ektra, maksudnya Sean, dua orang itu benar-benar memahami apa maksud dari kata-kata itu.
Pelukan itu segera dilepaskan dan keduanya mulai saling menatap satu sama lain.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
Xavier bertanya dengan nada penasaran kepada gadis yang ada di depannya ini.
Alena lalu tersenyum dan berkata dengan berani,
"Mari, lakukan Malam Pertama Kita,"
__ADS_1