Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir

Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir
#21. Maria selalu berprasangka buruk


__ADS_3

Tengah malam perut Vina sakit sekali. Sedari tadi perutnya terasa begitu keroncongan sangat lapar rasanya.


Karena begitu laparnya, sampai tidur pun terasa sulit terpejam.


"Ayolah perutku, sedikit bertoleransi lah kepada ku. Sabarlah menunggu besok pagi. Itu adalah waktunya untuk mengisi perut, kalau sekarang benar-benar tidak bisa", Vina berusaha membujuk perutnya yang sedari tadi terasa melilit karena laparnya.


Berulang kali Vina berusaha terpejam, agar hati tidak kepikiran untuk makan. Tetapi memang sangat sulit. Berulang kali juga membolak-balikkan bantal, tetap tidak juga bisa terlelap.


"Pa, papa... tolong buka pintunya. mama terkunci di kamar mandi. Malah mati lampu lagi. Pa ..papa tolong buka pintu", terdengar suara teriakan Maria.


Vina mencoba memfokuskan pendengaran nya.


"Barangkali hanya perasaanku saja, atau aku salah dengar" gumam Vina dalam hati


"Pa... papa...tolong buka pintu, mama terkurung di kamar mandi ni", teriak Maria semakin kencang.


Kali ini suara teriakan itu begitu jelas terdengar karena semakin kencang dan terasa nyata. Barulah Vina tersadar kalau suara teriakan itu adalah teriakan Maria yang minta tolong untuk dibukakan pintu.


Vina pun langsung lari secepatnya ke arah asal suara tersebut. Ternyata Maria telah terkurung di kamar mandi dengan posisi lampu kamar mandi yang tidak menyala.


Vina pun buru-buru langsung membukakan pintu.


"Ibu kenapa bisa terkurung seperti ini", tanya Vina bingung.


"Lama sekali sih membuka pintu nya, aku sampai ketakutan terkurung di dalam. Kamu ya Vin, yang menutup pintu dari luar!, belum pernah ada kejadian seperti ini.


Setelah kamu datang barulah ini terjadi. Kamu sengaja ya meneror aku!. Kamu yang menutup pintu terus kamu yang tiba-tiba datang, bak seperti pahlawan. Kamu pikir aku tidak tahu muslihat busuk kamu!", Maria langsung menuduh Vina.


"Ibu kenapa malah menuduh Vina?, Vina tidak tahu apa-apa, justru Vina datang setelah mendengar suara teriakan ibu!", Vina memberi pembelaan.


"Hallla...Mana percaya ibu. Sudahlah, malas ibu melihat muka kamu", Maria berlari ke kamar dengan tergesa-gesa, sekilas Vina memperhatikan baju Maria basah pada bagian bawah. "Apa ibu mertua ngompol setelah merasa ketakutan", pikir Vina geli tersenyum sendiri.


Vina sejenak berpikir apa sebenarnya yang terjadi, mengapa ibu mertua terkurung sendiri?.


Tiba-tiba muncul si hantu Mala dari balik pintu sambil senyum-senyum.

__ADS_1


"Kamu pasti ya, yang telah mengurung ibu mertua di dalam kamar mandi, dan juga yang mematikan lampu", Vina langsung menuduh si hantu Mala.


"He...he...he..", hantu Mala cengingisan.


"Iya Vin, habisnya aku kesal banget. Maria terus membentak-bentak dan menuduh kamu yang tidak-tidak", ucap hantu Mala kesal.


"Tuh kan, benar kataku. Aku yang di tuduh ibu mertua melakukannya. Siapa lagi coba pelakunya, karena di rumah ini hanya ada mertua dan aku. Pasti lah pak Steven tidak melakukannya menurut Maria", ucap Vina datar.


"Maafkan aku Vin. Aku terlalu kesal melihat tingkah jahat Maria", hantu malah terlihat merasa bersalah.


"Ya sudahlah mau bilang apa lagi. pasti ibu mertua masih ketakutan saat ini", ucap Vina sambil senyum-senyum dan segra masuk ke kamarnya.


Hantu Mala mengikuti Vina dari belakang, dan ikut masuk ke dalam kamar Vina.


Tidak beberapa lama di dalam kamar. Krokkkkkk...terdengar suara perut Vina yang kelaparan.


"Kamu lapar Vin", tanya hantu Mala menebak, karena suara perut Vina yang keroncongan jelas sekali terdengar.


"Iya Kemarin aku hanya makan 2 kali sehari, karena ketika makan siang aku ketiduran. Ternyata ibu mertua membuat peraturan, kalau lewat jam makan yang di tentukan.


Jatah makan pada saat itu hangus. Tidak boleh lagi makan, apabila ketahuan makan, maka terhitung jam makan berikutnya", Vina memberitahu.


"Kamu yang sabar ya Vin, Mudah-mudahan suatu saat Maria menyesal atas rasa kikirnya selama ini", ucap hantu Mala geram.


"Aku lanjut istirahat ya, aku ingin sejenak melakukan ibadah. Rasa penat dan jenuh yang kualami, mudah-mudahan hilang setelah melakukan ibadah", Vina pun bersiap-siap dan hantu Mala langsung keluar dari kamar Vina.


****


Empat belas hari berlalu, Radit datang dari luar kota.


Seperti biasa Radit dan Maria berpelukan erat dan cipika-cipiki. "Bukannya mencari istrinya sendiri, malah ibu mertua yang di cari", Vina merasa risih.


"Radit-radit, istri kamu itu Vina bukan mama kamu. Ini malah kamu terlihat mesra dengan mama kamu, bukannya dengan istri", Steven meledek Radit.


Radit melepaskan pelukannya dan langsung menyerahkan tas kotor nya kepada Vina dan langsung rebahan di depan tv, yang merupakan ruang keluarga untuk rebahan dan santai-santai.

__ADS_1


Setelah balik dari kamar mandi, Vina melihat ibu mertua dan Radit sedang asik mengobrol sesekali mereka tertawa kecil dan berbicara sambil senyam-senyum.


"Asik sekali mereka, padahal sama aku istrinya sendiri Radit tidak pernah bicara seenak dengan ibu mertua", gumam Vina dalam hatinya.


"Bang mandi dulu, biar segar", ucap Vina menyuruh Radit.


"Iya dit, sana pergi mandi dulu", Steven mendukung Vina.


Radit melirik kepada ibu mertua, mencoba meminta pendapat nya. Maria pun mengangguk mengiyakan dengan cemberut. Radit pun segera pergi ke kamar mandi.


Vina langsung masuk ke kamar bermaksud menyediakan pakaian bersih Radit.


Radit masuk ke kamar setelah mandi.


Radit merasa bernafsu sekali begitu melihat Vina ada di kamar, kesempatan baik itu langsung di pergunakan Radit, "Bebas gangguan, tidak ada yang mengganggu. Lagian suara ******* mereka pun pasti tidak akan kedengaran sampai ke ruang keluarga", gumam Radit.


Tidak berlama-lama Radit langsung mengeluti tubuh Vina. Vina pun tidak menolak, kemarin pun Vina merasa tanggung karena Radit langsung muncrat. Kesempatan ini tidak mau disia-siakan Vina.


Masing-masing pun sangat bernafsu dan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Mereka pun langsung lelah sejenak rebahan di tempat tidur.


Vina pun menggunakan kesempatan ini untuk berbicara lebih dalam kepada Radit "Bang, boleh tidak Abang memberikan uang nafkah kepada ku, tidak kepada ibu mertua. Masak iya aku tidak mempunyai uang pegang.


Lagian aku berharap kita bisa mandiri, mempunyai rumah sendiri tidak menumpak di rumah orang tua. Ketika anak-anak kita lahir kelak, biaya pendidikan nya darimana, apa harus minta kepada ibu juga. Apa selama nya rumah tangga ini akan terus dalam kendali ibu", Vina berbicara dengan pelan.


"Nanti aku kasih tahu Ibu ya", Radit bicara seadanya.


"Pastilah ibu tidak akan menyetujuinya", Vina cemberut.


"Nanti aku kasih tahu alasan kamu kepada ibu, aku tidak bisa tiba-tiba tidak memberi kepada ibu. ibu pasti marah. Makanya aku harus tanya ibu dulu", Radit memberi penjelasan.


"Sebenarnya penghasilan ayah dan ibu kamu apa sih", Vina ingin tahu, mengapa sampai gaji Radit pun harus ibu yang pegang.


"Ibu dulu mempunyai usaha toko, tetapi bangkrut. Untuk cari aman sisa uang ibu di gunakan untuk memberi pinjaman dengan bunga rendah kepada tetangga saja. Dan kupikir pelanggan ibu lumayan banyak", Radit memberitahu profesi Maria.


"Ibu kan sudah mempunyai pendapatan sendiri, mengapa harus pegang gaji Abang", Vina mencoba memberi gambaran.

__ADS_1


"Sudahlah Vin, nanti aku kasih tahu ibu ya", Radit meninggalkan Vina menuju ruang keluarga.


Vina pun merasa tidak puas dan kesal tidak ditanggapi Radit "Sedikit-sedikit tanya ibu, benar-benar anak mami", gumam Vina kesal dan melempar bantal ke lantai.


__ADS_2