Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir

Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir
#44. Vina berkenalan dengan Beni


__ADS_3

"Vin, Boleh kah aku bicara?", tanya Tuti.


"Ada apa sih kak, kenapa seperti sungkan begitu. Bicara saja lah kalau mau bicara. Kayak kita baru ketemu kemarin deh!", Vina bingung Tuti begitu sungkan bicara pada Vina.


"Begini Vin, aku ada Abang kandung yang sudah separuh baya. Sudah lama menjadi duda. Tetapi anaknya semua sudah menikah, hanya anak yang paling bungsu yang masih sekolah setara SMA. Kamu jangan takut Vin, Abang saya ini menduda karena istrinya telah meninggal dunia, bukan karena bercerai", Tuti memulai obrolannya.


"Terus apa hubungannya kakak menceritakan kisah hidup Abang kakak kepada saya?", Vina tanda tanya merasa bingung.


"hmmmm. Iya-iya tidak ada hubungannya...", Tuti cengingisan.


"Tapi....Vin. Maksud saya, Abang saya kan sudah menduda sudah lama, maksudnya agar di hari tua Abang saya, ada yang menemani dan merawatnya di kala sakitnya, saya ingin menjodohkan kamu dengan Abang saya. Kamu mau tidak?", Tuti mencoba menjodohkan Vina dengan Abang kandungnya.


"Maaf kak, saat ini saya tidak kepikiran untuk mencari suami baru. Saya ingin fokus merawat dan menjaga Clara, saya berharap Clara nantinya bisa sekolah tinggi. Sehingga kehidupan nya bisa lebih baik dari saya", Vina menolak tawaran Tuti.


"Vin, kamu kenalan saja dulu sama Abang saya ini. Kalau cocok silahkan lanjutkan hubungan kalian kejenjang pernikahan. Kalau tidak cocok, tidak usah di paksakan. Kalian sudahi saja hubungan kalian", Tuti memberi solusi.


"Ya sudah kak, kalau memang begitu. Tetapi kakak jangan banyak berharap ya, Jangan kakak sakit hati kalau misalnya kami tidak bisa lanjut ya, hubungan kita juga jangan jadi tidak enakan. Karena memang saya belum berniat untuk berumah tangga", Vina tegas dan tidak memberi harapan kepada Tuti.


"Iya Vin. Kamu tenang saja. Jangan khawatir, hubungan kita akan tetap baik kok", Tuti menyakinkan Vina.


"Kalau begitu saya besok akan menyuruh Abang saya datang kesini. Kamu siap-siap dan bersedia kan bertemu dengan Abang saya?" Tuti ingin tahu.


"Iya kak, saya bersedia", Vina menyetujui keinginan Tuti.


"Tidak apalah di coba, nanti menolak terus malah tidak enak hubungannya nanti dengan kak Tuti", pikir Vina dalam hatinya.

__ADS_1


****


Keesokan harinya Beni datang ke rumah Tuti.


"Eh abang, sudah datang rupanya. Sebentar kakak tunggu saja disini. saya panggil Vina dulu ya", Tuti mempersilahkan Beni, Abang kandungnya duduk sembari Tuti memanggil Vina dari samping rumah nya, karena sekarang Vina tinggal beberapa rumah dari rumah Tuti.


"Iya Tuti. Sebenarnya saya merasa tidak percaya diri. Dan tidak yakin kalau Vina akan menerima saya. Karena saya sudah tua. Siapa juga yang mau sama duda tua seperti saya", Beni merasa tidak percaya diri di jodohkan dengan Vina.


"Sudahlah bang, jangan jadi tidak percaya diri begitu. Harus percaya diri dong dan semangat. Kalau Vina tidak mau ya tidak apa-apa. Kita pun tidak memaksakan Vina kan. Apa salah nya di coba dulu", Tuti memberi semangat dan dukungan kepada abangnya, Beni.


"Saya mau memanggil Vina dulu ya, Abang jangan pergi dulu. Abang harus berjuang, jangan menyerah dulu sebelum berjuang", Tuti menyakinkan Beni. Beni pun hanya manggut-manggut tanda setuju perkataan Tuti.


Tuti pun pergi meninggalkan Beni dan bermaksud untuk memanggil Vina untuk bertemu dengan Beni.


Tidak beberapa lama Tuti pun datang dengan membawa serta Vina. Clara dititipkan dengan di tetangganya dan bermain bersama anak tetangga.


Tetapi setelah berbicara banyak. Beni orangnya terbuka, perhatian dan mengayomi. Beni banyak bercerita tentang mengapa istrinya meninggal dan perjuangannya untuk merawat istrinya yang sudah lama sakit-sakitan.


Perjuangan Beni untuk menyekolahkan anak-anaknya dan mengawinkan anak-anaknya. Beni juga sudah lama menduda, karena masih ingin memperjuangkan anak-anaknya.


Jauh sekali dengan sifat Radit yang tidak bertanggungjawab terhadap istri dan anak-anaknya.


Vina menjadi simpati dan tertarik, bahwa Beni adalah sosok suami idaman. Dari Beni bersaudara pun, Beni bercerita kalau mereka mempunyai saudara yang terbilang sukses dan mempunyai anak yang sukses pula.


Dan Beni bersaudara pun mempunyai tanah yang luas di kampung. Beni juga berharap kelak akan tinggal di kampung saja, agar hidup lebih tenang, jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota.

__ADS_1


Dikota Beni berprofesi membuka warung berjualan minuman, teh, kopi, susu dan mie goreng maupun mie kuah. Warung Beni merupakan warung tongkrongan para bapak-bapak, dan pemuda, buka mulai siang hingga larut malam.Tergolong laris, sehingga Beni sanggup menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.


"Vin, Abang sudah banyak bercerita kepada kamu, mengenai keluarga abang. Terserah kamu apa mau lanjut atau kita sudahi hubungan kita sampai disini saja.


Abang tidak memaksa kamu Vin. Tidak usah kamu merasa tidak enakan baik kepada saya maupun kepada Tuti. Kamu tidak harus memberi jawaban sekarang Vin.


Atau kita sebagai teman saja dulu. Agar kamu bisa mendalami sifat Abang dan yakin mau berumah tangga dengan Abang. Begitu pun tidak apa-apa Vin", Beni memberitahu keinginannya kepada Vina.


"Iya bang, Kita saling mengenal saja dulu. Saya pun ingin Clara bisa menerima Abang. Dan apakah anak-anak Abang juga bisa menerima saya sebagai ibu sambung mereka", Vina memberi keputusan.


"Baiklah kalau begitu Vina, Abang senang mendengarnya. Setidaknya kamu masih memberi harapan kepada Abang", Beni bersemangat dan penuh percaya diri untuk lanjut untuk saling mengenal.


"Kamu sendiri. Mengapa kamu menjanda?, apakah suamimu telah meninggal dunia?", tanya Beni ingin tahu.


"Saya malu untuk menceritakan kisah hidup saya bang", Vina menolak bercerita.


"Tidak apa-apa Vin, mengapa kamu harus malu. Kalau kita nantinya berumah tangga memang harus menerima kekurangan dan kelebihan pasangan kita. Jangan ada yang ditutup-tutupi, sehingga menimbulkan masalah atau salah paham", Beni memberi gambaran.


"Suami saya pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali atau mencari tahu akan kabar kami selama 3 tahun lebih.


Suami lebih memilih hidup dengan orang tua nya daripada hidup bersama istri dan anaknya. Ibu mertua juga tidak menganggap saya sebagai menantunya dan Clara sebagai cucunya.


Saya hanya dianggap sebagai pembantu yang tidak di bayar. Ibu mertua sangat pelit dan perhitungan.


Saya memilih pisah dari ibu mertua, ternyata taktik mertua setuju, agar akhirnya bisa membujuk dan merayu suami untuk memisahkan saya selamanya", Vina bercerita dengan raut wajah sedih dan hampir menitikkan air mata.

__ADS_1


"Tidak apa kalau kamu mau menangis, menangis lah Vin. Karena itu akan sedikit mengurangi sakit hatimu dan beban mu", Beni menghibur Vina.


__ADS_2