Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir

Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir
#39. Radit tidak pernah kembali


__ADS_3

Vina pun mencoba menghubungi Deni, Abang iparnya. Karena Deni adalah sesama supir di tempat Radit bekerja.


Tut....Tut ...tut...


Tidak diangkat. "Mungkin lagi sedang membawa kendaraan makanya tidak di angkat. Tunggu lah nanti setelah 30 menit lagi atau ketika jam makan siang. Mungkin bang Deni sudah tidak sibuk", pikir Vina dalam benaknya.


Vina pun melanjutkan aktifitas nya sembari menunggu waktu tengah hari akan menelepon Deni.


Vina mencoba menebak-nebak apa yang akan dikatakan oleh Deni. "Bagaimana kalau bang Deni mengatakan kalau Radit, tidak akan kembali lagi menjadi supir dan berharap aku mau serumah dengan ibu mertua?", pikir Vina berandai-andai.


"Kalau ibu mertua berjanji untuk berubah sikap tidak apalah, aku mau kok kembali serumah dengan ibu mertua", pikir Vina menambahi.


"Sudahlah berandai-andai yang tidak pasti membuat kepala jadi pusing", gumam Vina pasrah atas apa nanti yang akan di katakan Deni.


Tut....tut...Tut ..


"Halo", ucap Deni dari ujung telepon.


"Bang ini Vina, Apa kabar bang", ucap Vina memberitahu dan mencoba berbasa-basi memulai obrolan.


"Iya Vin, ada apa?", tanya Deni penasaran dan ingin tahu maksud Vina menghubunginya.


"Bang, Vina ingin tanya mengenai bang Radit, apakah Abang tahu mengapa Radit tidak bekerja lagi?", tanya Vina mengungkapkan maksudnya menghubungi Radit.


"Iya Vin, Abang sudah tahu kalau Radit sudah tidak bekerja selama hampir 2 bulan, Radit pernah menghubungi Abang.


"Radit minta maaf kepada kamu, Radit terbuka kalau ibunya tidak suka kepada kamu. Ibunya tidak ingin Radit jauh darinya, dan ibunya juga bilang, lebih baik mencari istri untuk Radit yang tidak banyak menuntut.

__ADS_1


Lagian kamu melahirkan anak perempuan yang berarti akan menambah pengeluaran biaya hidup, sedangkan ibu Radit ingin anak laki-laki.


Radit tidak di izinkan lagi jadi supir, takut Radit akan kembali lagi kepada mu. Radit membuka toko grosir khusus menjual sembako dan jajanan di depan rumahnya.


Radit ikhlas kamu menikah lagi dengan pria lain Vin", begitu kata Radit kepada Abang.


Abang menyesal dan minta maaf ya Vin, kemarin telah memaksa mu menikah dengan Radit, sekarang rumah tangga mu menjadi berantakan dan tidak jelas. Abang berharap kamu menemukan jodoh yang baik, pengertian dan mempunyai pekerjaan yang tetap dan lumayan " Deni merasa bersalah dan menyesal karena Deni yang telah menjodohkan Vina dengan Radit.


Deni tadinya berharap Vina akan bahagia karena Radit anak orang kaya dan anak satu-satunya dari kedua orangtuanya. Ternyata Deni salah, sekarang sangat menyesal telah menjodohkan Vina.


"Bang, mengapa bukan Radit sendiri yang langsung mengatakan nya kepada Vina?", Vina tidak terima Radit tidak menyampaikan yang sebenarnya kepada Vina.


"Radit tidak berani berkata yang sebenarnya kepada kamu Vin, Sebenarnya Radit sayang sama kalian, tetapi Radit pun tidak ingin mengorbankan perasaan Ibunya, dan dianggap anak yang tidak berbakti kepada orang tua", Deni memberitahu.


"Tetapi seharusnya Radit sedikit banyak bicara kepada Vina bang, bukan sembunyi seperti itu. Itu namanya pengecut", Vina merasa kesal dan marah Radit tidak bersifat gentleman.


"Terimakasih bang, Abang telah memberi tahu kenyataannya. Setidaknya Vina pun tidak berharap lagi Radit akan datang.


Vina tidak tahu harus bagaimana mencari pekerjaan dengan membawa Clara. Kalau kembali ke kampung Vina malu bang. Itu sama saja Vina mencoreng muka Keluarga. Biarlah Vina akan terus berusaha menjalani hidup di kota", Vina memberitahu segala keluh kesah nya.


"Vin, besok kamu datanglah ke kantor, Abang ada titip sedikit uang untuk bantu-bantu mencukupi kebutuhan kamu dan Vina. Tetapi kamu sendiri tahu kan, Abang tidak bisa memberi kepada mu terus menerus uang. Abang pun ada kebutuhan lain, dan Sari sebentar lagi akan melahirkan", Radit memberi tahu kondisi keuangan rumah tangga nya.


"Iya bang, Vina mengerti. Vina pun tidak mungkin terus berharap kepada pemberian Abang. Vina akan berusaha mencari pekerjaan. Apapun itu akan Vina kerjakan asal kan halal dan tidak mencuri", Vina memberitahu rencananya ke depan.


"Bagus itu Vin, Abang senang kamu bersemangat dan tidak berputus asa. Hanya fokus terhadap masalah. Kamu benar, bahwa kita harus fokus untuk menyelesaikan masalah itu. Bukannya terus menerus bersedih dan berputus asa", Deni senang Vina tidak berputus asa dan pasrah menjalani hidup.


"Iya bang. Terimakasih atas bantuan Abang, salam untuk kak Sari ya bang", Vina menutup teleponnya.

__ADS_1


Setelah mendengar semua apa yang dikatakan Deni. Tangis Vina pecah. Tidak menyangka mimpi yang di rajutnya, akan terkoyak dan tidak terangkai dengan baik.


Sekarang tidak berharap Radit akan kembali kepada nya. Vina pun merasa benci kepada Radit, karena tidak bisa mementingkan istri dan anaknya, yang merupakan darah nya sendiri. Vina merasa kesal.


"Sudahlah tidak usah mengharapkan pria yang tidak berguna seperti itu. Selalu berlindung dibawah ketiak ibu.


Sekarang Vina hanya berharap, Vina mendapatkan pekerjaan. Sesungguhnya simpanan Vina masih bisa menutupi kebutuhan untuk beberapa bulan ke depan.


Tetapi bagaimana untuk bulan berikutnya, dan sekolah Clara. Vina merasa takut memikirkan itu semua.


Sudahlah pasrah dan jalani saja dengan ihklas. Mudah-mudahan Tuhan berkenan membukakan rezeki, sehingga kehidupan nya ke depan bisa lebih baik", pikir Vina dalam benaknya.


bertambah lagi Satu Kesedihan Vina dan tidak akan ada penyelesaiannya. Vina sedih melihat Clara sekecil ini, sudah tidak bisa mendapatkan sosok ayah.


Padahal sosok Ayah begitu dekat dengannya selama ini, tiba-tiba pergi menghilang dan pasti tidak akan pernah mendatangi Clara.


Bagaimana aku akan memberi jawaban kalau Radit, ayahnya tidak akan pernah kembali lagi", pikir Vina semakin tidak bersemangat dan penuh ketakutan dalam menjalani hari-harinya kelak.


****


Vina berusaha memejamkan matanya untuk tidur terlelap. Badan ini rasanya begitu letih, mata pun rasanya ingin tidur, tetapi mengapa sulit sekali terpejam.


Dipikiran nya sekarang memikirkan pekerjaan apa yang bisa dilakukannya. Vina takut untuk berjualan karena takut rugi dan tidak laku. Karena tetangga sebelahnya sudah berjualan jajanan.


"Aku akan mencari pekerjaan di area pasar saja, mungkin bisa menjaga warung orang, atau membersihkan bawang dari kulit arinya atau memetik tangkai cabe.


Pekerjaan disana boleh dilakukan dengan membawa anak. Tapi aku pun harus pindah mencari kontrakan baru yang dekat dengan pasar.

__ADS_1


Tidak mungkin aku harus menunggu sampai sekarat dulu. Barang-barang ini pun akan kujual, membawa barang akan membutuhkan ongkos yang lumayan besar nantinya. Biarlah aku hanya membawa alas tidur dan perlengkapan makan saja", pikir Vina dalam benaknya.


Vina pun akhirnya bisa memejamkan matanya. Mungkin karena sudah terlalu lelah menangis seharian.


__ADS_2