
Maria mau tidak mau harus mengerjakan pekerjaan rumah dengan rasa kesal.
"Uhhh, bikin tambah pengeluaran saja. Harusnya tidak perlu ada pengeluaran, ternyata harus malah membeli test pack", Maria terus saja menggerutu ketika terpaksa harus membeli test pack untuk memastikan kehamilan Vina. Vina pun pergi ke sebuah apotek, tidak begitu jauh dari rumahnya.
"Bang, beli test pack 1, berapa?", tanya Maria ingin tahu.
" Ada yang murah, ada yang agak mahal dan ada yang paling mahal. Ibu mau test pack yang mana Bu?", tanya pemilik apotek menghampiri Maria.
"Memangnya harga nya berapa an bang, dari yang termurah hingga yang paling mahal", Maria penasaran.
"Yang paling murah itu seharga 4000, yang menengah 12.000 sampai 20.000 yang paling mahal bisa puluhan ribu. Tetapi hasilnya di jamin 100% akurat", pemilik hotel memberitahu.
"Emang yang paling murah dengan harga 4000 tidak bisa dipastikan akurat bang?", Maria penuh selidik.
"Bisa sih Bu, tetapi terkadang barangnya rusak dalam perjalanan ketika pengiriman barang", pemilik apotek menyakinkan Vina.
"Ya sudah bang, saya pilih test packnya yang harga yang paling murah saja. Untuk apa membeli yang mahal-mahal, itu pemborosan namanya", ucap Maria menggerutu.
"Memangnya ini untuk siapa Bu", pemilik apotek bicara asal.
"Untuk menantu saya", balas Maria.
"Oh, ini test packnya Bu. Pakainya besok pagi saja Bu, ketika baru bangun tidur, agar hasil yang di dapat bisa lebih akurat", pemilik apotek menyerahkan sebuah test pack kepada Maria.
"Oh begitu ya bang, Terima kasih bang atas informasi, saya permisi dulu ya", Maria meninggalkan apotek.
Sesampainya di rumah Maria terus saja menggerutu entah apa yang diucapkan nya Steven cuek saja, "Apalagi memang yang di gerutu Maria, pasti semua mengenai pengeluaran uang saja", pikir Steven dalam hatinya, dan terus cuek kepada Maria seolah-oleh sibuk melakukan kesibukannya.
Karena Maria tidak henti-hentinya menggerutu, Steven pun mencoba bertanya kepada Maria "Apaan sih ma, dari tadi mengerutu terus!", Steven penasaran dan ingin tahu.
"Ini, gara-gara membeli test pack aku harus capek-capek ke apotek, dan terpaksa harus keluar uang deh jadinya", ucap Maria cemberut.
"Memangnya berapa an sih harganya, Bu?, sampai marahnya tidak habis-habisnya", Steven merasa penasaran.
"4000 pak", ucap Maria.
"Iya ampun ma, cuma 4000 saja mama merasa keberatan. Malah dilihat dari marahnya yang tidak habis-habis, seperti mengeluarkan ratusan ribu bahkan jutaan saja", Steven menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
"4000 lumayan loh pa. Dengan uang 4000 sudah dapat membeli sebuah sabun mandi", Maria tidak mau kalah.
"Mama...mama. Perhitungan nya luar biasa. Untuk menantu bahkan calon cucu mama sendiri saja perhitungan nya minta ampun" Steven menambahi.
"Terus, mama sudah tanya cara pemakaian test pack itu?", tanya Steven.
"Sudah pa, sebaiknya di gunakan setelah bangun pagi. Agar hasilnya lebih akurat", Maria memberi penjelasan
"Baiklah kalau begitu, besok mama yang ajari Vina", Steven memberitahu.
****
Keesokan harinya, Vina bangun pagi seperti biasanya. Vina ingin melakukan aktifitas dan rutinitas untuk memberesi rumah, walaupun kondisinya masih lemah.
Mendengar Vina sudah bangun, Maria tahu dari suara air yang mengalir di wastafel, karena Vina bermaksud untuk mencuci piring.
"Vina ini alat test untuk mengecek kehamilan kamu, sebaiknya lansung kau gunakan, karena akan lebih akurat bila digunakan ketika bangun pagi", Maria menyerahkan test pack tersebut.
"Bagaimana cara menggunakan ibu?", tanya Vina ingin tahu.
Setelah beberapa menit hasilnya akan tampak berupa garis dua, atau garis 1. Apabila harus satu artinya kamu tidak hamil, dan bila garis dua itu tandanya kamu hamil", ucap Maria memberi penjelasan.
"Baiklah Bu", Vina pun segera mengambil test pack tersebut dari tangan Maria.
Vina berpikir, Mudah-mudahan aku positif hamil. Mungkin dengan hamilnya aku, ibu mertua akan berubah tidak perhitungan lagi dengan ku dan tidak membentak-bentak aku", pikir Vina dalam hatinya.
Setelah melakukan semua apa yang diperintahkan Maria, Vina pun segera melihat hasil dari test pack tersebut. "Ternyata aku hamil", gumam Vina dengan wajah penuh keceriaan.
Vina keluar dari kamar mandi, dengan penuh penasaran Maria datang menghampiri Vina.
"Bagaimana hasilnya Vin", Maria langsung mengambil paksa test pack yang di pegang Vina, sebelum Vina menjelaskan nya.
"Kamu jangan bahagia dulu, sekarang kamu memang hamil. Tetapi kamu harus melahirkan anak laki-laki, kalau anak perempuan itu sama saja menambah pengeluaran untuk biaya hidupnya", Maria dengan tegas dan lantang berbicara.
"Maksud ibu apa sih, Vina tidak mengerti", Vina sangat sedih dan terkejut mendengar ucapan Maria yang menurut Vina sangat tidak pantas.
"Maksud ibu, Anak yang kamu kandung ini harus laki-laki, agar tidak perlu lagi menambah anak, dan itu sudah cukup sebagai penerus marga.
__ADS_1
Tetapi kalau yang lahir perempuan Ibu tidak mau terima, karena sama saja akan menambah biaya hidup karena sudah bertambah anggota keluarga yang baru", Maria bicara dengan tegas.
Vina kesal dengan apa yang baru saja diucapkan Maria. Vina langsung masuk ke kamarnya setelah selesai membereskan pekerjaan rumah.
*****
Kebetulan Maria tidak ada di rumah, sedang pergi menagih utang ke tetangga, karena profesi Maria adalah sebagai pemberi pinjaman uang kepada tetangga.
Vina keluar kamar bermaksud untuk sarapan, karena Vina merasa malas sarapan bersama Maria.
"Kamu sehat Vin?", Tanya Steven ramah dan lembut.
"Sudah agak mendingan Pak", balas Vina ramah, karena bagi Vina sifat Steven dengan Maria sangat bertolak belakang.
Vina sangat menghormati Steven karena Steven selalu membela Vina di depan Maria, tetapi tetap pasrah atas keputusan Maria. Karena keputusan Maria di rumah itu sudah keputusan mutlak.
"Ini Vin, simpanlah baik-baik, mungkin suatu saat nanti kamu akan sangat membutuhkan nya ini sebagai uang jaga-jaga kamu Vin", Steven menyerahkan uang beberapa lembar uang merah kepada Vina.
"Tidak usah pak, Vina tidak ada pengeluaran karena semua ibu mertua yang memenuhinya", Vina merasa segan.
"Tidak apa-apa Vin, untuk jaga-jaga kamu nanti di kemudian hari, kamu simpan baik-baik. Cepat ambil dan simpan Vin. Nanti ibu mertua kamu malah melihatnya dan marah besar", Steven menyerahkan uang tersebut kepada Vina, Vina pun langsung mengambil dan menyimpannya di saku celananya.
"Terimakasih banyak pak, bapak sangat baik sekali kepada Vina", ucap Vina dengan perasaan tidak enak hati.
"Sebenarnya pak, ada yang ingin Vina sampaikan dengan bapak mengenai Ibu Mala", Vina sejenak terdiam.
"Mala, darimana kamu mengenal Mala Vin?", tanya Steven penuh kebingungan.
"Vina bisa melihat ibu Mala hadir di rumah ini pak, dan ibu Mala sudah banyak cerita mengenai bapak dan Maria", Vina memulai pembicaraan.
"Serius kamu Vin, bisa melihat mahkluk astral!", Steven masih belum percaya.
"Iya pak, sebelumnya sih tidak bisa, tetapi setelah bertransmigrasi ke dunia lain, Vina jadi bisa melihat mahkluk astral. Dan mahkluk astral yang penasaran tidak jarang meminta Vina untuk menyampaikan keinginan mereka kepada keluarga nya", Vina cerita tentang kemampuan nya.
Steven sejenak langsung menarik nafas dalam-dalam. Apa sebenarnya yang ingin Vina ceritakan. Dan apa saja yang telah Mala ceritakan kepada Vina. Steven merasa sangat penasaran dan ingin tahu.
Terima kasih Buat semua kakak-kakak yang sudah mampir dan memberi likenya. Kalau bisa tinggalkan komen, sebagai inspirasi, saran agar novel ini bisa menjadi lebih baik lagi, dan tentunya juga sebagai penyemangat buat saya sebagai author.❤️❤️💪💪🥰🥰😍😍
__ADS_1