
"Aku memiliki buktinya. Kamu mempunyai teman seorang perawat yang bekerja di Rumah Sakit Harapan Indah kan!.
Dari teman kamu itulah racun itu kamu dapatkan. Satu hal lagi ternyata saya bangkrut itu kamu yang menyebabkannya, kamu telah menyetor kepada teman kamu itu.
Sebagai bayaran atas racun yang kamu beli. Pantasan saya curiga mengapa sering sekali kamu kehilangan uang ketika berbelanja. Kamu selalu beralasan di rampok lah, di maling orang lah ketika belanja sembako.
Ternyata uang itu untuk membayar teman kamu, sebagai bayaran atas racun yang kamu beri kepada Mala.
Kurang ajar kamu Maria, tega sekali kamu, padahal kamu selalu di anggap adik oleh Mala.
Bodohnya lagi aku telah percaya atas bujuk rayu mu, dan percaya begitu saja semua perkataan mu yang menjelek-jelekkan Mala kepada ku.
Sekarang juga kamu akan saya laporkan ke kantor polisi. Supaya kamu mendapatkan balasan atas segala kejahatan yang telah kamu perbuat", Steven menakut-nakuti Maria.
"Pa, jangan laporkan aku ke polisi. Aku bersalah, aku khilaf, aku minta maaf atas segala yang telah ku perbuat", Maria menangis sesegukan sambil berlutut di kaki Steven memohon-mohon.
Maria sebenarnya akting pura-pura mengakui kesalahannya, dalam hatinya berpikir "Mengapa Steven tahu semuanya, siapa kah sebenarnya yang memberi tahu kepada Steven.
Tidak mungkin Vina, Vina baru datang ke rumah ini kurang lebih 4 bulan yang lalu. Tetapi siapa lagi kalau tidak Vina tidak ada siapa-siapa lagi di rumah ini selain Vina", Maria pusing memikirkannya.
"Ayo ke kantor polisi, aku tidak Sudi hidup bersama dengan seorang pembunuh dan mempunyai istri seorang pembunuh sadis seperti mu", Steven berusaha menarik paksa Maria untuk keluar.
"Pa, ku mohon maafkan aku. Kita mempunyai anak pa, bukankah keinginan papa sangat ingin mempunyai anak. Radit tidak bisa hidup tanpa aku, apa kata Radit bila tidak melihat ibunya", Maria berusaha mencari-cari alasan agar Steven luluh.
"Aku juga tidak Sudi mempunyai anak jahat seperti Radit. Kamu telah salah mendidik Radit, Radit kamu ajarkan memperlakukan istrinya dengan semena-mena. Padahal kamu seorang wanita. Dimana sifat keibuan kamu dan rasa kemanusiaan mu", Steven tetap kokoh menyerahkan Maria ke kantor polisi.
"Vina...Vina...Tolong bujuk ayah mertua kamu vin, agar tidak melaporkan ibu ke kantor polisi", Maria memanggil-manggil Vina.
Vina keluar kamar mendengar Maria menjerit-jerit minta tolong kepadanya.
"Pak, tolong maafkan ibu Maria, ibu Maria telah minta maaf dengan tulus. Mudah-mudahan dengan kejadian ini ibu mertua belajar dari pengalaman masa lalu dan mau berubah dan bersikap lebih baik lagi", Vina menyakinkan Steven.
__ADS_1
"Kalau tidak karena Vina yang memohon kepada ku, aku tidak Sudi memaafkan mu. Padahal Vina selama ini kamu sakiti, harusnya Vina senang kamu di penjara.
Karena kalau kamu di penjara tidak ada lagi yang akan menyakiti nya. Tetapi Vina tidak menginginkan itu, karena Vina sayang dan ingin suatu saat kamu berubah menjadi lebih baik", Steven luluh.
"Iya pa, mama minta maaf atas semua kejahatan dan kesalahan yang mama perbuat kepada papa dan kepada Vina. Mama berjanji tidak akan mengulangi nya lagi dan akan berubah menjadi lebih baik lagi ke depannya", Maria bersujud memohon-mohon kepada Vina dan Steven.
"Iya bu, Vina memaafkan ibu dengan senag hati", Vina tersenyum dan berusaha mendirikan Maria untuk berdiri karena sedari tadi sujud memohon di kaki Vina.
"Kali ini papa akan memaafkan mama dengan satu syarat. Mama jangan membentak-bentak papa dan Vina.
Vina tidak boleh sendirian mengerjakan pekerjaan di rumah ini, mama harus ikut bantu-bantu. karena Vina sedang hamil, lagian pekerjaan di rumah ini tidak berat-berat amat kan.
Dan terakhir Radit jangan mama perlakukan seperti anak kecil lagi, dan gaji Radit biar Vina yang mengelolanya dan mengatur nya", Steven menjelaskan semua syarat yang harus dipatuhi Maria.
Dengan berat hati Maria pun menyetujui syarat yang diberikan Steven daripada masuk penjara pikirnya dalam benaknya.
"Vina pergilah istirahat, kamu pun perlu istirahat banyak. Karena kandungan kamu masih muda, dan sangat berisiko keguguran kalau terlalu capek dan mengangkat beban yang berat-berat", Steven memberi arahan kepada Vina. Vina pun segera berlalu meninggalkan Steven dan Maria.
Dengan muka masam Maria hendak masuk ke kamarnya.
Papa masih kesal terhadap semua perbuatan jahat mama kepada Mala. Kalau bukan karena Vina, papa tidak akan memaafkan mama.
Kita lihat perubahan mama selanjutnya, kalau masih seperti biasanya. Mama akan terus tidur di luar, atau bahkan akan papa usir dari rumah ini", Steven menakut-nakuti Maria.
"Papa, papa jahat", Maria berusaha membujuk Steven.
"Lebih jahat mama yang telah menghilangkan nyawa Mala" Steven ketus dan langsung meninggalkan Maria di ruang keluarga.
Dengan kesalnya Maria terpaksa harus tidur di ruang keluarga dengan ditemani nyamuk-nyamuk
****
__ADS_1
Sebulan berlalu, sikap dan tingkah laku Maria berubah seratus delapan puluh derajat.
Maria tidak berani lagi membentak, bahkan menyuruh Vina dengan kasar. Daripada salah salah di mata Steven, Maria cenderung yang mengerjakannya sendiri, agar terlihat berubah di mata Steven.
Radit pun tidak berani lagi bermanja-manja dengan Maria, harus bersikap biasa, tidak seperti anak kecil yang merengek-rengek.
Dan yang paling utama, gaji Radit sudah diberikan sepenuhnya kepada Vina, sekarang Vina yang mengatur dan mengelola nya untuk menutupi kebutuhan di rumah.
Vina pun sudah merasa istri yang seutuhnya nya, Vina bisa menabung untuk keperluan hidup dan pendidikan anak di masa mendatang.
Agar Steven luluh dan mau sekamar lagi dengan Maria. Maria pun selalu menggoda Steven. Datang tengah malam masuk ke kamar Steven dengan berpura-pura ketakutan karena mimpi buruk.
Maria pun akhirnya menggoda Steven dengan pelukan dan rabaan mesra dan nakal pada bagian sensitif Steven.
Karena sudah lama tidak berhubungan suami-istri, akhirnya Steven pun tidak tahan dan langsung bernafsu untuk segera mengeluti tubuh Maria.
Maria pun akhirnya diizinkan kembali tidur sekamar dengan Steven.
****
Tibalah waktu nya bagi Vina untuk melahirkan anak. Ternyata Vina melahirkan seorang anak perempuan. Bagi Steven dan Radit kelahiran anak mereka tidak masalah, Baik laki-laki maupun perempuan sama saja.
Tetapi beda dengan Maria, Dari raut wajah Maria sebenarnya Vina tahu, kalau Maria tidak senang. Tetapi Maria tidak berani menunjukkan sikap tidak enak. Maria pun terpaksa harus mau menerima cucunya, merawatnya selama masa nifas Vina.
Ternyata sifat Radit tidak sejahat ibu Maria, Radit sebenarnya pintar mengurus istri dan anaknya.
Semasa pasca melahirkan selagi Radit di rumah, dan memang sebagai bentuk perhatiannya kepada istri dan anaknya Radit mengambil cuti 3 hari agar bisa merawat dan menemani Vina.
Radit selalu membantu dan menuntun Vina apabila ingin ke kamar mandi. Radit juga terkadang mengganti popok dan memandikan anaknya.
Semua itu dilakukan Radit dengan penuh keceriaan. Begitu juga Steven, senang sekali melihat perubahan Radit.
__ADS_1
Vina sangat senang mempunyai suami seperti Radit, "Ini adalah buah dari sebuah kesabaran, walaupun dulu seperti tidak ada cahaya dalam rumah tangga nya.
Ternyata terang itu akhirnya menghampiri rumah tangga Radit dan Vina. Vina merasa bersyukur dan berharap kehidupan rumah tangganya bisa langgeng hingga maut memisahkan", pikir Vina dalam hatinya dengan penuh pengharapan dan rasa bersyukur.