
Setelah Clara sampai di rumah.
Clara terus memikirkan perkataan Ilham. Atas segala perhatian dan cinta Ilham, Clara sangat mencintai Ilham. Terlebih Clara pernah disakiti oleh pria yang seiman, tetapi pria itu lebih memilih wanita lain, bahkan sebelum mereka putus.
Clara sangat kecewa atas kekasihnya yang selingkuh kala itu. Hingga sekarang, Clara yang hampir menutup diri pada semua pria. Tetapi Ilham mampu menunjukkan, bahwa tidak semua laki-laki tukang selingkuh.
Ilham selalu setia, bahkan sangat perhatian, dan sangat menghargai wanita. Karena Clara menurut Ilham adalah menggambarkan sosok dari ibunya dan adik perempuannya. Jadi harus dihargai dan dihormati menurut Ilham.
Makanya Clara sangat mencintai Ilham. Tetapi jurang ini, yaitu perbedaan keyakinan.
"Ahhh", Clara mengacak-acak rambutnya.
"Aku adalah anak pertama dari kedua orang tua ku. Anak pertama biasanya akan menjadi contoh dan panutan dari adik-adiknya. Apabila aku berpindah keyakinan. Maka adik-adik ku akan meniru aku.
Pasti orang tuaku akan sangat kecewa kepadaku. Kedua orang tua ku akan merasa asing dan lama-lama akan menjauhi aku", pikir Clara dalam hatinya dengan sangat resah dan takut.
Clara pun memutuskan untuk berbicara melalui via telepon kepada Vina. "Biarlah ibu saja yang menyampaikan kepada ayah, mudah-mudahan ibu bisa memberi pengertian kepada ayah", pikir Clara dalam benaknya.
Tut...Tut...Tut...
Tidak di angkat, kemudian Clara berusaha menghubungi sekali lagi.
Tut...Tut....tut..
"Halo Clara, maaf nak. Ibu ketiduran tadi. Jadi tidak mendengar panggilan telepon kamu. Ada apa nak?", Vina sangat penasaran dan ingin tahu.
"Bu, ada sesuatu yang ingin Clara omongin kepada ibu. Clara berharap ibu bisa memahami nya, dan memberi pengertian. Ibu dengarkan dulu perkataan Clara dan jangan memotong nya ya", Clara tegas memberitahu.
__ADS_1
"Apa itu nak. Seperti nya kamu seperti mengatakan hal yang sangat penting", Vina semakin penasaran.
"Ibu benar. Ini adalah hal yang sangat penting. Begini Bu. Clara ada mengenal laki-laki di Jakarta. Menurut Clara orangnya pengertian dan sangat baik kepada Clara dan orang tuanya. Bahkan laki-laki itu yang menyuruh dan menasihati banyak hal kepada Clara untuk selaku memberi kepada ibu dan adik-adik" Clara diam dan tidak meneruskan pembicaraan nya.
"Bagus dong Clara. Kalau memang dia adalah laki-laki yang baik menurut kamu, yah ibu pikir laki-laki itu cocok jadi teman hidup kamu Clara!", Vina memberikan pendapat.
"Iya Bu, Memang Ilham sangat cocok di jadikan teman hidup. Tetapi Bu, Ilham berbeda keyakinan dengan Clara", Clara memberitahu Vina dengan agak pelan.
Vina pun terdiam dan sedikit berat untuk memberikan pendapat. Karena Vina sangat berharap seluruh anak-anaknya tidak berbeda dengannya.
"Karena banyak hal yang harus berbeda nantinya dan pasti akan terasa canggung bila duduk bersama bahkan makan bersama bila kelak Clara pulang ke kampung halaman", gumam Vina pusing.
"Di kampung masih mayoritas beragama Kristen, pastilah mereka akan menyalahkan aku, telah salah mendidik anak", pikir Vina dalam benaknya.
"Tetapi yang paling tahu sifat dan sikap laki-laki pilihan Clara adalah Clara. Bagaimana mungkin aku memaksakan keinginanku, sedangkan yang menjalani rumah tangga nya kelak adalah Clara sendiri akhirnya. Aku tidak bisa turut campur. Yang bisa kulakukan hanya memberi nasihat, bila Clara sudah menikah", Vina berpikir dalam benaknya.
"Kalau Ilham yang berpindah keyakinan bagaimana nak?, apa kata Ilham?", Vina ingin tahu pendapat Clara.
"Ilham tidak mau Bu, karena Ilham sangat takut untuk murtad, Ilham mengatakan istri yang harus mengikuti suami, bukan suami yang mengikuti istri", ucap Clara memberitahu.
Sejenak Vina terdiam "Nak, memang Ilham menurut kamu adalah sosok laki-laki yang baik?, karena yang paling tahu sifat dan sikap Ilham adalah kamu. Ibu tidak kenal. Apakah kamu yakin kalau Ilham adalah laki-laki yang baik dan pengertian dan tidak tempramental?", Vina menanyakan sosok Ilham berulang kali.
"Clara sangat tahu sifat Ilham Bu, memang Ilham adalah laki-laki yang baik dan pengertian", Clara menyakinkan Vina.
"Terserah kamu nak, kalau memenag menurut kamu sifat Ilham boleh diandalkan sebagai suami yang baik. Ibu tidak bisa memaksakan kehendak ibu, sebenarnya ibu sangat berat dan tidak setuju. Tetapi kamu yang paling tahu dan paham sifat Ilham. Ibu tidak bisa memaksa kamu Clara", Vina berat memberikan keputusan.
Clara tahu pasti Vina sangat berat menyetujui kalau Clara pindah keyakinan.
__ADS_1
"Baiklah Bu, Terima untuk tanggapan ibu. Seandainya Clara berpindah keyakinan, apakah ibu dan adik-adik akan menjauhi Clara", suara Clara sedikit bergetar.
"Jangan kamu berpikiran seperti itu nak. Ibu tidak akan menjauhi kamu, ibu akan tetap menganggap kamu seperti Clara yang dulu. Bukan sebaliknya nak, kamu nantinya nanti yang ibu takutkan akan jauh dari keluarga. Mungkin Suami mu kelak akan membatasi hubungan kamu dan keluarga mu", Vina tegas.
"Tidak Bu, Ilham sudah mengatakan itu sejak awal. Kalau dia tidak akan membatasi hubungan ku dengan keluarga ku, bahkan Ilham. Mengatakan keluarga ku bebas datang dan aku bebas memberi semampu aku", Clara menyakinkan Vina.
"Oh. Baguslah kalau begitu. Ibu menyerahkan segala keputusan nya hanya kepada kamu Clara. Itu terserah kepada kamu, Ibu tidak bisa memaksakan mu", Vina pasrah.
"Baiklah Bu kalau begitu pendapat ibu. Terimakasih banyak Bu, Clara minta maaf tidak bisa menjadi anak yang baik dan anak yang penurut. Clara sayang sama ibu, bapak dan adik-adik.
Sampaikan salam dan maaf Clara ya Bu, untuk semua keluarga. Dan kuharap masalah Clara ini tidak membuat beban dan sakit hati buat bapak dan ibu. Ibu dan bapak sehat-sehat ya. Kumohon ibu harus tetap s hat dan jaga kesehatan", Clara terus menangis dan segera menutup teleponnya.
Clara pusing dan tidak bisa menemukan jawabannya, Clara bermaksud berdoa dan menumpahkan segala isi hatinya. Clara sujud menyembah dengan penuh khusyuk sambil menangis Clara mencurahkan semua.
"Tuhan sesungguhnya aku sangat takut untuk meninggalkan Mu. Tuhan ampunilah aku, aku sungguh tidak tahu apa yang telah kuperbuat.
Aku juga tidak bisa memungkiri perasaan ku terhadap Ilham, bahkan pengalaman ibuku dalam memilih teman hidupnya. Maafkan lah aku bila salah memilih. Aku akan berpaling dari Mu Tuhan. Aku memilih untuk berpindah keyakinan.
Tolong berikan petunjuk kalau aku telah memilih jalan yang salah. Bila aku meninggalkan Mu Tuhan, kumohon jangan murka dan meninggalkan aku. Tolong berikan petunjuk Mu", Clara menangis sejadi-jadinya.
Clara telah selesai berdoa, entah mengapa air mata Clara terus tumpah dan mengalir terus ke pipinya. Sehingga Clara langsung tertidur karena sangkin lelah nya terus menangis.
****
Ku..ku...ru..yuk...
Clara mencoba bangun, karena mendengar suara Kokok ayam jantan yang terus saja berkokok, seolah memberitahu kalau ini sudah pagi dan waktunya untuk bangun.
__ADS_1
Dengan sangat malas Clara mencoba bangun dari tempat tidur nya dan hendak melakukan aktifitas nya untuk memberesi rumah, karena Clara tinggal di rumah Abang tirinya. Tidak enak Clara harus santai-santai. Clara sudah terbiasa melakukan rutinitas untuk memberesi rumah sebelum berangkat kerja.