Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir

Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir
#22. Vina mual-mual


__ADS_3

Vina pun sangat malas untuk keluar dari kamarnya, Vina memilih untuk di kamar saja, dan rebahan di tempat tidurnya.


Ternyata di ruang keluarga Radit langsung memberi tahu keinginan Vina, agar Vina saja yang memegang gaji Radit.


"Bu, boleh tidak gaji Radit diserahkan kepada Vina. Karena kan kami pun harus memikirkan masa depan anak-anak kami nantinya. Tidak mungkin kami hanya bergantung kepada ibu dan ayah", Radit berbicara dengan pelan.


"Apa, Vina ingin agar gaji kamu diserahkan kepadanya!. Enak, saja dia. Tinggal enak-enakan di rumah. Terus nanti gaji kamu di kirimin ke ayah dan kakaknya.


Ibu tidak mau, gaji kamu tetap harus diberikan kepada ibu. Biar ibu yang mengatur untuk keperluan anak-anak kamu nantinya.


Memangnya siapa Vina, kamu lebih percaya kepadanya. Dia itu orang lain, yang sifatnya belum kita kenal. Setelah mengumpulkan uang dari hasil gaji kamu, pasti Vina akan kabur meninggalkan kamu.


Tidak usah kamu percaya bujuk rayu Vina. Kamu harusnya lebih percaya apa yang ibu katakan", Maria bicara dengan suara keras dan penuh emosional.


Radit pun malah mendukung perkataan Maria dengan manggut-manggut tanda setuju atas perkataan Maria.


Steven mendengar perkataan Maria "Ya ampun ma, sampai kapan kamu harus berprasangka buruk kepada Vina. Maksud mama, Vina itu mama anggap sebagai pembantu di rumah ini.


Ingat ma, pembantu saja di gaji. Apa ada mama memberi gaji kepada Vina, mama hanya membentak dan berlaku tidak adil kepada Vina.


Sudahlah mama, biarkan Vina yang mengelola gaji Radit, agar mereka bisa menjadi rumah tangga yang mandiri. Bukankah itu bagus, Vina berpikiran luas ke depan. Seharusnya mama bisa mendukung anak-anak untuk maju dan lebih baik.


Anggaplah Vina sebagai anak kandung mu, ma. Memang kenyataannya begitu kan, Vina adalah menantu mama, istri Radit anak kandung mama sendiri.


Hargai dan hormati Vina, yang rela berpisah dengan keluarganya dan mau ikut suami dan mertuanya, padahal kamu hanya membentak dan sangat tidak menghargai Vina.


Padahal Vina sudah rela dan ikhlas mengurus dan mengerjakan segala pekerjaan di rumah ini", Steven berbicara dengan panjang lebar.


Tetapi Maria bukannya menyadari kesalahannya dan terbuka pikirannya. Malah memotong pembicaraan Steven "Jangan mulai lagi deh Pa, Mama malas berdebat dan ribut dengan papa", Maria pun lagi-lagi langsung meninggalkan Steven dan Radit di ruang keluarga.

__ADS_1


Steven hanya bisa geleng-geleng kepala, pusing memikirkan istrinya yang susah sekali diberi pengertian.


"Radit, kamu harusnya lebih mengerti perasaan istri kamu. Bukan lebih mementingkan perkataan ibu kamu. Keluarga kamu itu nantinya adalah anak dan istri kamu. Kalau kamu mau memberi kepada ibu kamu, tidak apa-apa, tetapi nafka istri kamu pun perlu. Jangan kamu nanti jadinya menyesal di kemudian hari", Steven menasihati Radit.


Radit hanya diam saja, tidak berani menentang apa yang telah diputuskan Maria. Radit lebih takut perkataan Maria daripada Steven yang ayahnya sendiri.


***


Tiga bulan pernikahan Radit dan Vina telah berlalu, tingkah laku dan sikap Maria tetap sama saja, sering marah-marah dan membentak Vina untuk melakukan pekerjaan rumah.


Begitu juga Radit, tetap saja memberi semua gajinya kepada Maria. Vina pun tidak pernah mempunyai uang di tangan, makan makanan di pinggir jalan pun Vina tidak pernah. Bahkan untuk membeli bedak dan pakaian pun Vina juga tidak pernah.


Hari-hari nya dilalui dengan tidak bersemangat, bosan, dan jenuh. "Apakah aku harus bertahan dalam rumah tangga ini, kalau aku pergi meninggalkan Radit kemana aku harus pergi?.


Aku juga tidak boleh egois, bagaimana kak Sari dan ayah pasti mereka akan merasa malu kalau aku bercerai dan tinggal bersama mereka", pikir Vina dalam hati.


Pertanyaan itu menjadi simalakama bagi Vina.


"Mengapa aku ini, sedari tadi aku merasa mual dan pusing. Tubuh ini terasa lelah dan sangat tidak bertenaga", gumam Vina sambil berusaha merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah selesai sarapan pagi.


Radit pun sudah seminggu di perjalanan ke luar kota, artinya seminggu lagi Radit baru akan tiba di rumah. Apakah aku harus menahan kan rasa sakit ini, kalau minta uang untuk berobat ke ibu mertua pasti tidak akan diberikan.


Vina pun hanya pasrah dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur "Mudah-mudahan rasa mual dan lelah ini akan hilang dengan sendirinya dengan beristirahat", pikir Vina dalam benaknya.


Setelah beristirahat beberapa jam, Vina terbangun dan menilik jam dinding yang berada di kamarnya. Waktu menunjukkan, waktunya untuk makan siang.


Vina pun keluar dari kamar, takut ibu mertua nanti malah menyimpan semua jatah makan, karena sudah lewat waktunya untuk makan siang.


Setelah berada di meja makan, tiba-tiba Vina merasa mual, Vina pun langsung berlarian ke arah kamar mandi uuuu...ak....uuuuaaakk ...uuu.aaak

__ADS_1


Entah mengapa Vina merasa tidak berselera untuk makan.


Vina duduk lemah di salah satu bangku meja makan. Maria dan Steven datang bermaksud untuk makan siang juga.


"Mengapa Vin, sakit kamu. Mengapa kamu pucat sekali?", tanya Steven dengan penuh khawatir.


"Ellleh.. Paling-paling juga akting, agar tidak melakukan pekerjaan rumah. Iya kan Vin ", tanya Maria langsung menyela perkataan Steven.


"Tidak Bu, ini Vina benaran sakit. Dari tadi Vina merasa pusing, mual dan perasaan ingin selalu muntah" Vina memberikan penjelasan.


"Itu mungkin hanya masuk angin biasa, minum air hangat sana. Jangan sering sakit-sakitan, tidak usah memboroskan uang untuk berobat. Cari uang sekarang susah", Maria berusaha perhitungan kepada Vina.


"Ma, periksakan lah ke dokter. Kalau Vina sakit kan mama juga yang repot. Semua pekerjaan rumah pasti mama nantinya yang menyelesaikan nya", Steven menakut-nakuti Maria.


"Mama tidak mau, ayo makan pa. Nanti keburu selera makan ku hilang", Maria langsung menyendok nasi ke piring nya.


Tiba-tiba Vina pun kembali ke kamar mandi bermaksud untuk muntah Uuuuaaakk..... Uaaaakkk.


"Apa mungkin Vina hamil ma, senang dong kalau Vina hamil. berarti papa akan segera menimang cucu", Steven tersenyum bahagia.


"Jangan sembarangan ngomong pa," Maria cemberut, "Berarti akan tambah pengeluaran lagi di rumah ini karena ada anggota keluarga baru, dan biaya persalinan Vina bila tiba waktunya untuk melahirkan kelak", gumam Maria cemberut.


Vina pun keluar dari kamar mandi dengan perasaan lemas, Vina tidak berselera untuk makan dan bermaksud untuk rebahan di tempat tidur nya.


"Vin, di paksa makannya. Walaupun terasa mual dan ingin muntah. Kalau isi perut kamu kosong, kamu akan sakit dan semakin ingin mual. Ma, berkorban lah sedikit, mama bawa Vina ke rumah sakit atau klinik terdekat", Steven menyarankan.


"Bagaimana haid kamu Vin, apa kamu telat?, nanti mama beli deh test pack untuk mendeteksi kehamilan dari apotek supaya lebih pasti. Tidak usah berobat, buang-buang uang saja. Nanti juga akan hilang dengan sendirinya", Maria tidak mau rugi.


"Makan lah sedikit saja Vin, supaya kamu ada tenaga", Steven menasihati Vina.

__ADS_1


Vina pun langsung menyendok nasi ke piringnya dan memaksa makan siangnya untuk segera di habiskan dan ingin langsung pergi rebahan.


"Tidak usah di cuci piringnya, pergilah istirahat nanti Maria yang akan membereskan semuanya", ucap Steven menolak Vina, karena Vina masih berusaha untuk mencuci piring setelah selesai makan.


__ADS_2