Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir

Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir
#36. Vina memulai hidup baru di kota besar.


__ADS_3

"Abang berangkat dulu ya, Vin. Jaga diri kalian baik-baik", Radit pamit dan memeluk Vina.


"Hati-hati di jalan ya Pa--pa", ucap Clara manja sambil mencium tangan Radit. Radit pun beranjak dan segera meninggalkan Vina dan Clara di rumah kontrakan.


"Ayo kita jalan berkeliling sekitar sini, untuk melihat warung, untuk nantinya belanja sehari-hari. Clara pun mengangguk dengan riang "hore kita jalan-jalan ", ucap Clara girang.


Atau kita tanya warga sekitar, dimana cari angkutan yang menuju pasar, kalau kita membeli makanan yang siap saji, ibu tidak akan bisa menghemat. Untuk itu ibu perlu membeli perlengkapan dan peralatan dapur seperti memasak, piring, sendok dan termasuk alas tidur.


Ibu akan mencicilnya satu persatu. Mudah-mudahan rezeki papa lancar dan kita doakan papa terus lancar dan sehat-sehat ya nak", Vina memberitahu Clara dan menceritakan kondisi ekonomi dan selalu bersyukur atas berkat dan rezeki yang diberikan melalui Radit.


*****


Vina pun memberanikan diri untuk keluar rumah, Vina harus mengingat kemana arah bergerak agar tidak tersesat.


"Ternyata letak warung sangat dekat. Hanya beberapa rumah ke kanan dari kontrakan, terus berjalan maka akan menemui simpang Tiga.


Masuk ke arah kanan disitu ada warung grosir menjual berbagai kebutuhan beras, gula, minyak dan termasuk jajanan, sayur, ikan dan bumbu-bumbu dapur", pikir Vina dalam benaknya bersyukur tidak terlalu jauh jaraknya dengan kontrakan nya.


Vina pun mampir dan membeli beberapa kebutuhan pokok yang penting, "Bu, beras 5 kg, gula 1kg, bubuk teh 1 bungkus, garam, mie instan, dan telur", pesan Vina kepada pemilik warung, karena Vina belum memiliki kompor masak.


Beruntung kemarin teman Radit memberi rice cooker bekas yang masih menyala dan masih bisa dipakai, walaupun tutupnya terbuka hampir putus. Jadi masak air panas dan nasi masih bisa disiasati.


Setelah membungkus dan melengkapi semua permintaan dari Vina, pemilik warung menyerahkan bungkusan nya kepada Vina.


"Berapa totalnya semua belanjaan saya Bu", ucap Vina ramah sambil mengambil bungkusan dari tangan pemilik warung.


"Totalnya 95.000 Bu, oh iya adek warga baru ya, saya tidak pernah melihat adek?", tanya pemilik warung ingin tahu.

__ADS_1


"Iya Bu, saya warga baru, baru datang kemarin. Saya tinggal di Bojong 2, perkenalkan nama saya Vina dan ini anak saya", Vina memperkenalkan dirinya.


"Oh begitu. Saya Bu Ijah. Nanti kalau ada perlu boleh bertanya kepada saya ya dek Vina", ucap Bu Ijah ramah.


"Oh iya Bu Ijah, saya mau ke pasar untuk membeli perlengkapan piring dan kompor masak kira-kira saya naik angkutan berjalan ke arah mana Bu Ijah?", tanya Vina.


"Berjalan saja ke kanan terus, terus saja sampai bertemu jalan besar, disitulah menunggu angkutannya. Tidak usah menyebrang, kalau menyeberang nanti malah ke arah kebun binatang", Bu Ijah mengajari Vina.


"Oh iya dek Vina, ini ada piring plastik, cangkir, dan sendok serta mangkok dan gayung, masih layak pakai. Lumayan untuk menghemat biaya pengeluaran.


Maklum dek Vina akan membutuhkan banyak pengeluaran untuk membeli semua perlengkapan dan peralatan yang masih harus di penuhi", Bu Ijah merasa berempati, karena Bu Ijah tahu lokasi tempat kontrakan Vina adalah Bojong 2, lokasi khusus kontrakan 1 kamar.


Vina merasa bersyukur ternyata di daerah asing, yang tidak ada hubungan kekeluargaan, begitu banyak orang baik yang merasa kasihan kepadanya. "Tidak apa-apa, masih bagus dan layak pakai, lumayan untuk mengurangi pengeluaran" pikir Vina dalam hati dan langsung menerima dengan senang hati pemberian dari Bu Ijah.


"Terimakasih banyak Bu", Vina sampai terharu sambil menitikkan air mata.


"Saya sangat terharu, ibu sangat baik kepada saya. Padahal kita baru saja bertemu dan berkenalan.


Padahal kemarin waktu tinggal serumah dengan ibu mertua, Ibu mertua selalu jahat dan menganggap Vina sebagai pembantu dan selalu berprasangka buruk kepada Vina", Vina menceritakan kisah hidupnya.


"Tidak usah segan-segan Vin, terkadang begitu lah hidup. Berbuat baik saja kepada orang, karena suatu waktu perbuatan baik kita akan kembali dengan sendirinya kepada kita", Bu Ijah memberi nasihat.


Vina hanya bisa manggut-manggut mengiyakan atas perkataan Bu Ijah. "Benar kata Bu Ijah, selama ini memang, Vina tidak pernah membantah, selalu patuh dan menuruti saja apa yang diperintahkan Maria kepada nya", gumam Vina dalam hatinya.


"Baiklah Bu, terima kasih atas semua perhatian dan pengertian ibu. Saya permisi dulu ya Bu", Vina pamit setelah memberikan uang pembayaran atas sembako yang dibelinya. Vina dan Clara pun beranjak meninggalkan warung Bu Ijah dengan rasa syukur dan bahagia.


Vina kembali ke arah rute perjalanan menuju rumahnya. Tidak terlalu susah mengingat nya karena memang tidak terlalu jauh.

__ADS_1


Vina meletakkan semua barang belanjaan nya dan menyusun barang-barang pemberian dari Bu Ijah.


Sejenak Vina berpikir, perlengkapan apa lagi yang perlu untuk dibeli.


"Aku harus membeli dan melengkapi apa yang penting dan paling utama sekarang, setidaknya besok aku tidak usah kemana-mana lagi", pikir Vina dalam hatinya, berencana akan kembali pergi ke pasar setelah selesai makan siang dan sebentar istirahat menidurkan Clara. Karena Clara harus tidur dulu agar tidak kelelahan dan tidak rewel.


Setelah Clara bangun, Vina pun bersiap-siap untuk pergi ke pasar. Vina pun berjalan ke arah warung Bu Ijah, karena menurut perkataan Bu Ijah dari arah warungnya berjalan kekanan terus dan terus hingga menemukan jalan besar.


"Ternyata benar pikir Vina setelah menemukan jalan besar", tadinya Vina sempat merasa pesimis dan mengira sudah tersesat.


Tidak terlalu lama menunggu, angkutan pun datang menghampiri Vina setelah Vina memberi apa-apa untuk berhenti.


Sampailah Vina di pasar dan langsung menemui toko yang khusus menjual perlengkapan yang dibutuhkan Vina.


Setelah tawar-menawar, akhirnya disepakati lah harga nya, pemilik toko pun memberi potongan harga kepada Vina karena tahu asal kampung Vina, sebenarnya Vina tidak mengenalnya lagi.


Tetapi pemilik warung itu mengenal saudara dan tetangga Vina yang berada di kampung. Sehingga memberikan potongan harga atas barang yang dibeli Vina.


"Sungguh banyak orang yang telah berbaik hati kepadanya satu harian ini, Vina sangat bersyukur dan merasa yakin dengan orang tidak dikenalpun kita bisa berhubungan baik, asal saling menghargai dan menghormati.


Vina pun optimis, ingin berjuang hidup di kota, dan berharap besok akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, begitu juga harapannya terhadap Clara putri semata wayangnya.


Walaupun Clara mendapatkan image buruk mengenai neneknya. Vina pun akan memberi pandangan suatu hari kelak ibu mertua nya akan berubah dan menerima mereka akan hidup berbahagia .


Tadinya Vina merasa takut hidup di kota besar, atas image dan pandangan orang lain yang didengar selama ini yang


mengatakan "Sekejam-kejamnya ibu tiri, lebih kejam ibu kota". Kata-kata Itu sudah tertanam didalam pikiran Vina selama ini.

__ADS_1


Tetapi sekarang Vina akan menyingkirkan perkataan itu dan mengubahnya menjadi "Kehidupan kota akan memberi kemakmuran baginya", Vina optimis dan bersemangat.


__ADS_2